Share

BAB 6

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-06-18 12:13:22

Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.

Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk, bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.

Di dalam sana, kemewahan bukan sekadar dekorasi, melainkan sebuah pernyataan. Lampu-lampu kristal menggantung rendah dari langit-langit, membiaskan cahaya keemasan di atas gelas-gelas sampanye dan wajah-wajah orang kaya yang tertawa dengan jenis kebebasan yang hanya bisa dibeli. Musik mengalun pelan, cukup rendah untuk membiarkan bisikan-bisikan berbahaya tetap terdengar oleh telinga yang perlu mendengarnya.

Belum juga Cane mencapai area bar, sesosok pria paruh baya membelah kerumunan ke arahnya. Marco, sang pemilik klub, dengan setelan jas licin yang tampak terlalu berusaha terlihat mahal. Senyum di wajahnya adalah jenis senyum yang hanya lahir dari kebiasaan; lebar, tulus kepada uang, dan tidak kepada siapa pun.

"Wah, selamat datang, Tuan Cane! Kehormatan besar bagi kami malam ini. Sudah terlalu lama Anda tidak berkunjung."

Marco mempercepat langkahnya sedikit, berusaha sejajar.

"Kebetulan sekali, saya sudah menyiapkan koleksi baru, banyak wanita muda yang cantik dan segar. Anda tinggal pilih, Tuan."

Cane tidak berhenti. Tidak memperlambat langkah, tidak menoleh ke arah deretan wanita yang dipamerkan di lounge seperti barang dagangan pilihan. Asap cerutunya mengepul tipis, memudar di belakangnya seperti jejak yang sengaja ia tinggalkan.

"Di mana mereka?"

Dua kata. Dingin dan bersih seperti bilah pisau.

Langkah Marco tersendat, namun ia cepat menyesuaikan ritme di samping Cane dengan sikap setengah membungkuk yang sudah menjadi refleksnya.

"Seperti biasa, mereka menunggu di The Sovereign Room, Tuan. Silakan lewat sini."

— ✵ —

Lorong privat itu sunyi, jauh dari denyut musik dan tawa di luar. Setiap langkah Cane bergema di atas lantai marmer yang dipoles hingga bisa memantulkan bayangan. Marco memandu di depan, membuka pintu kayu ek besar di ujung gedung dengan gerakan penuh hormat yang lebih mirip pertunjukan daripada ketulusan.

Ruangan di baliknya temaram. Aroma kulit, tembakau, dan wiski tua menyambut seperti tangan tak kasat mata. Di sofa panjang, Mateo menyandarkan punggungnya dengan nyaman, jemarinya memutar gelas kristal perlahan, gerakan seseorang yang sudah terbiasa menunggu tanpa merasa perlu terburu-buru.

Di sampingnya, Enzo tampak jauh lebih santai dari siapa pun yang seharusnya ada di ruangan ini. Lengannya melingkar di pinggang seorang wanita berpakaian minim yang tertawa pelan atas bisikan-bisikan yang ia desiskan ke telinganya. Ada sesuatu yang ceroboh dan disengaja dari cara Enzo menikmati malam, seolah ia ingin semua orang tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar serius, kecuali saat ia harus.

Begitu sosok jangkung Cane muncul di ambang ruangan, suasana itu bergeser. Tidak dramatis, hanya sebuah pergeseran halus, seperti suhu ruangan yang turun beberapa derajat.

"Kau terlambat, Cane," ujar Mateo dan Enzo nyaris bersamaan, masing-masing dengan seringai tipis di sudut bibir.

Cane tidak menjawab. Ia menarik kursi tunggal di seberang sofa, bukan memintanya, bukan merebut, hanya mengambilnya, seperti memang itu miliknya sejak awal. Ia duduk dengan cara yang membuat ruangan terasa menyempit. Punggung tegak. Satu pergelangan tangan bertumpu di lengan kursi. Tatapannya bergerak perlahan ke arah wanita yang masih bergelayut di leher Enzo.

Ia tidak berkata apa-apa. Tidak perlu.

Enzo menangkap tatapan itu dan terkekeh pelan. Dua tepukan ringan di pinggang wanita itu, kode bisu yang sudah dimengerti tanpa penjelasan. Tanpa sepatah kata pun, wanita itu bangkit, merapikan bajunya, dan melangkah keluar dengan terburu-buru.

Pintu tertutup rapat.

— ✵ —

Enzo meneguk sisa wiskinya, lalu mencondongkan tubuh ke depan dengan sikap yang kini jauh lebih serius, meski nadanya tetap santai.

"Bagaimana dengan berita pagi ini, Cane? Aku sudah memastikan rekaman itu terus mengalir di semua kanal berita utama. Mereka tidak akan bisa bernapas lega hari ini."

Ia melirik tablet di atas meja.

"Atau kau ingin aku pergi lebih jauh? Aku bisa mengatur acara khusus di TV nasional, menjadikan skandal ini tontonan publik yang paling menghancurkan. Mempermalukan mereka di depan seluruh negeri."

"Terlalu halus." Mateo mendengus sinis sebelum Cane sempat bicara, jemarinya mengetuk-ngetuk bibir gelas yang sudah kosong. "Mempermalukan orang lewat media adalah gaya pesolek sepertimu, Enzo."

Enzo memainkan lighternya di antara jari-jarinya, memutarnya pelan seperti orang yang sedang berpikir."oh ayolah Dia pasti sangat menikmati hadiah pagi ini. Walaupun Anniversary pernikahannya yang ke-32 masih seminggu lagi," kata enzo

Cane menyesap cerutunya dalam-dalam. Asapnya mengembang perlahan di udara, abu-abu, tenang, seperti kabut di atas sesuatu yang sudah terbakar habis.

"Tidak."

Suaranya rendah dan final.

"Itu sudah cukup. Rakyat akan membelok sendiri setelah berita ini tersebar cukup lama. Opini publik adalah senjata paling mematikan, sisanya hanya soal menunggu. Dan aku tidak pernah terburu-buru."

Ia menyandarkan punggungnya. Di sudut bibirnya, muncul sesuatu yang hampir tidak bisa disebut senyum, lebih tepatnya seringai tipis yang sarat dengan kemenangan yang sudah diperhitungkan jauh sebelum malam ini.

"Darius Barnard, si tua bangka itu…"

Cane menjeda kalimatnya, membiarkan nama itu menguap bersama asap di udara yang makin dingin.

Matanya menyipit sedikit.

"Lagi pula, di mana serunya jika dia tidak sempat menikmati setiap prosesnya, selagi dia masih punya waktu untuk meratapinya."

Mateo mengetuk gelasnya pelan.

"Dimitri tidak punya celah untuk membela diri. Unitku sudah mengamankan semua barang bukti sebelum pengacaranya sempat bangun tidur. Sekarang dia hanya tinggal menunggu Darius membuangnya seperti sampah."

"Dan Darius tidak punya pilihan lain."

Enzo memutar ponselnya di antara jari-jarinya.

"Begitu grafik elektabilitas Dimitri terjun bebas seperti yang kita lihat tadi, semuanya selesai."

Cane tidak mengangguk. Tidak tersenyum lebih lebar. Sorot matanya hanya bergeser sedikit, menuju titik di dinding yang kosong, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain di ruangan ini.

"Memang begitu seharusnya."

Suaranya turun menjadi hampir berbisik, seolah kata-kata itu tidak perlu diucapkan lebih keras untuk membuat seseorang tidak bisa tidur malam ini.

Keheningan menggantung sejenak di antara mereka bertiga.

"Minggu yang sangat panjang bagi seorang Darius Barnard," gumam Mateo akhirnya, nada rendahnya mengandung kepuasan yang tidak perlu disembunyikan.

Tidak ada yang menambahkan apa pun. Di ruangan temaram itu, di antara asap cerutu dan gelas-gelas yang sudah kosong, kehancuran seseorang telah diputuskan dengan cara yang paling tenang. Dan justru itulah yang membuatnya paling mengerikan.

RAJJA-M

jangan lupa komen

| 5
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rose Mary
aku baca ulang kak... kasih bab yg banyak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • The Devil's Little Secretary   PENUTUP

    Halo, guys.Akhirnya sampai juga di bab terakhir, dan jujur aku masih agak nggak percaya. Novel ini resmi tamat.Soal bab bonus, aku putuskan nggak aku tulis ya. Komentar di bab bonus sebelumnya sedikit banget, kayaknya cuma satu orang doang yang mau wkwk, jadi aku tutup ceritanya di sini aja. Maaf kalau ada yang masih penasaran.Sekarang aku mau jujur sedikit. Karakter yang paling nggak aku suka di novel ini sebenarnya Isabela. Nggak tahu kenapa, ya nggak suka aja. Terus kenapa aku tulis? Aku nulis novel dari 2022, dan beberapa novelku sebelumnya nggak pernah tamat. Ini pertama kalinya aku bisa namatin satu novel, guys, wkwk. Dan yang lucu, hampir semua novelku karakternya sama kayak Bela. Tiap bikin novel baru, yang muncul lagi-lagi karakter kayak dia. Mungkin karena aku belum bisa menyelesaikan karakter ini, makanya dia terus terngiang-ngiang sampai aku kesal sendiri. Sekarang akhirnya dia selesai, dan rasanya lega banget.Sebenarnya di tengah jalan aku sempat mau nyerah, guys. Tapi

  • The Devil's Little Secretary   BAB 170

    Entah berapa lama waktu berlalu ketika Cane akhirnya menarik diri.Napas Isabela masih memburu, pipinya merah, rambutnya berantakan. Cane menurunkannya perlahan ke ranjang, duduk di tepinya, lalu mengambil kemeja yang tergeletak di lantai dan mengenakannya tanpa mengancingkan sebagian besar. Ponselnya bergetar lagi di nakas. Ia hanya membaca layarnya sekali.“Cane?” Isabela menarik selimut sampai ke dada, suaranya serak. “Kau mau ke mana?”“Ada yang harus kuselesaikan.”Isabela menoleh ke arah kaca. Siluet putih itu masih berdiri di sana, kecil dan basah di tengah halaman yang gelap.“Dia belum pergi,” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Cane, dia masih di bawah. Dia kehujanan. Aku ikut.”Ia sudah menyingkap selimut ketika tangan besar menahan bahunya.“Tidak.”“Tapi...”“Isabela.” Suara Cane tidak keras, tetapi tidak ada ruang untuk membantah. Ia menunduk dan mencium keningnya, singkat dan dalam. “Tetap di sini.”Ia berdiri, mengambil cerutu dari kotak kayu di meja samping tempat tidur, l

  • The Devil's Little Secretary   BAB 169

    Pukul tujuh lewat dua puluh menit malam, Bianca berdiri di depan cermin panjang di kamarnya dengan gaun putih gading yang sudah menempel sempurna di tubuhnya.Bordir mutiara di dadanya memantulkan cahaya lampu kristal. Ekor gaun panjang itu terhampar di lantai marmer seperti sungai susu. Rambutnya digelung rapi, kerudung tipis tersemat di puncaknya, dan bibirnya dipoles merah gelap yang sengaja ia pilih. Ia sedang berkabung, tetapi malam ini semua orang akan melihat bahwa Bianca Barnard tidak pernah kalah.Ia menatap pantulan dirinya lama sekali. Bertahun-tahun ia menunggu malam ini. Bertahun-tahun ia menelan penghinaan, menahan lidah, dan tersenyum pada orang-orang yang tidak layak menerimanya, semua demi satu pemandangan: Cane berdiri di ujung lorong, dan seluruh negeri menyaksikan.Dua hari lalu, Dante meneleponnya dengan suara datar seperti biasa. Presiden meminta pernikahan digelar malam ini, tertutup, dan disiarkan ke seluruh negeri tepat pukul sembilan, persis seperti yang ia mi

  • The Devil's Little Secretary   BAB 168

    Lonceng Katedral Sé berdentang sepuluh kali, rendah dan panjang, dan gemanya menyebar sampai ke ujung Praça da Sé yang pagi itu tidak boleh dilewati siapa pun.Pagar besi sudah dipasang sejak subuh. Mobil-mobil hitam berjajar di kaki tangga batu, dan pria-pria bersetelan gelap berdiri di setiap pintu dengan kedua tangan terlipat di depan. Di sisi kiri tangga, kru Grupo Rocha Mídia memasang kamera di atas tripod. Mereka hanya menerima satu instruksi. Rekam semuanya, tayangkan nanti.Di ruang samping di balik altar, Isabela berdiri menghadap cermin tua berbingkai kayu. Gaun putihnya sederhana, hanya renda tipis di sepanjang lengan, dan kerudungnya jatuh lembut sampai ke punggung. Setiap kali ia menarik napas, kain itu bergerak pelan seperti riak di permukaan air.Di belakangnya, ibunya merapikan ujung kerudung dengan jari yang tidak mau berhenti gemetar. Neneknya duduk di kursi kayu dengan saputangan di genggaman, dan Elena bersandar di dinding dengan senyum yang ia tahan sejak tadi.“Ib

  • The Devil's Little Secretary   BAB 167

    Cane menunduk, dan bibirnya tidak langsung menyentuh. Ia berhenti selebar satu helaan napas dari bibir Isabela, cukup dekat untuk berbagi hangat yang sama, cukup jauh untuk memberinya waktu. Waktu yang tidak Isabela pakai. Ia hanya berdiri di sana dengan mata setengah terpejam dan kepalan yang masih menggenggam kemeja itu.Ciuman pertama datang pelan, hampir ragu, seperti pria yang tidak percaya bahwa ia benar-benar diizinkan. Bibirnya menekan sekali, menarik diri sedikit, lalu kembali dengan kesabaran yang membuat lutut Isabela melemas lebih dulu sebelum ia sempat menolak.Tangan Cane naik ke sisi wajahnya. Ibu jarinya menyapu tulang pipi yang masih basah, menghapus sisa air mata, lalu menyelip ke belakang kepalanya dan menahannya di sana tanpa menekan. Di balik jendela balkon, tirai menggembung lalu mengempis. Di bawah sana ombak pecah di karang dan menarik diri, berulang, sabar.“Isabela.”Hanya namanya. Diucapkan rendah di antara dua napas, dengan nada yang belum pernah ia dengar d

  • The Devil's Little Secretary   BAB 166

    Lisboa pagi hari berbau roti panggang dan air asin.Isabela terbangun pelan, kesadarannya datang sepotong-sepotong. Suara ombak dari bawah jendela. Tirai putih yang menggembung lalu mengempis ditiup angin laut. Cahaya pagi yang sudah cukup tinggi jatuh pucat di lantai kayu, merayap sampai ke kaki ranjang.Ia menggeliat malas, menarik selimut sampai ke dagu, dan hampir terlelap lagi ketika hidungnya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.Asap. Hangat, pekat, sedikit manis, dengan ujung getir yang terlalu ia kenal.Matanya terbuka.Di ambang pintu balkon, seorang pria berdiri membelakanginya. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Bahunya lebar dan tegak, satu tangan terselip di saku celana, sementara tangan lainnya menahan cerutu yang ujungnya menyala merah di antara dua jari. Di hadapannya Lisboa terhampar di bawah cahaya pagi, atap-atap jingga yang bertingkat sampai ke sungai, kubah putih gereja, dan laut kebiruan di kejauhan. Asap cerutu naik pelan, lalu terbawa angin k

  • The Devil's Little Secretary   BAB 4

    Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"

  • The Devil's Little Secretary   BAB 3

    Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar

  • The Devil's Little Secretary   BAB 2

    Satu Tahun Kemudian — São PauloLangit tengah hari membentang terik di atas barisan gedung tinggi São Paulo, memantulkan cahaya putih menyilaukan pada kaca-kaca jendela yang seolah berpijar. Kota ini tidak membawa aroma laut seperti Rio—yang ada hanya wangi aspal panas, tajamnya kopi yang baru dise

  • The Devil's Little Secretary   BAB 1

    Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status