LOGINRolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.
Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk, bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.
Di dalam sana, kemewahan bukan sekadar dekorasi, melainkan sebuah pernyataan. Lampu-lampu kristal menggantung rendah dari langit-langit, membiaskan cahaya keemasan di atas gelas-gelas sampanye dan wajah-wajah orang kaya yang tertawa dengan jenis kebebasan yang hanya bisa dibeli. Musik mengalun pelan, cukup rendah untuk membiarkan bisikan-bisikan berbahaya tetap terdengar oleh telinga yang perlu mendengarnya.
Belum juga Cane mencapai area bar, sesosok pria paruh baya membelah kerumunan ke arahnya. Marco, sang pemilik klub, dengan setelan jas licin yang tampak terlalu berusaha terlihat mahal. Senyum di wajahnya adalah jenis senyum yang hanya lahir dari kebiasaan; lebar, tulus kepada uang, dan tidak kepada siapa pun.
"Wah, selamat datang, Tuan Cane! Kehormatan besar bagi kami malam ini. Sudah terlalu lama Anda tidak berkunjung."
Marco mempercepat langkahnya sedikit, berusaha sejajar.
"Kebetulan sekali, saya sudah menyiapkan koleksi baru, banyak wanita muda yang cantik dan segar. Anda tinggal pilih, Tuan."
Cane tidak berhenti. Tidak memperlambat langkah, tidak menoleh ke arah deretan wanita yang dipamerkan di lounge seperti barang dagangan pilihan. Asap cerutunya mengepul tipis, memudar di belakangnya seperti jejak yang sengaja ia tinggalkan.
"Di mana mereka?"
Dua kata. Dingin dan bersih seperti bilah pisau.
Langkah Marco tersendat, namun ia cepat menyesuaikan ritme di samping Cane dengan sikap setengah membungkuk yang sudah menjadi refleksnya.
"Seperti biasa, mereka menunggu di The Sovereign Room, Tuan. Silakan lewat sini."
— ✵ —
Lorong privat itu sunyi, jauh dari denyut musik dan tawa di luar. Setiap langkah Cane bergema di atas lantai marmer yang dipoles hingga bisa memantulkan bayangan. Marco memandu di depan, membuka pintu kayu ek besar di ujung gedung dengan gerakan penuh hormat yang lebih mirip pertunjukan daripada ketulusan.
Ruangan di baliknya temaram. Aroma kulit, tembakau, dan wiski tua menyambut seperti tangan tak kasat mata. Di sofa panjang, Mateo menyandarkan punggungnya dengan nyaman, jemarinya memutar gelas kristal perlahan, gerakan seseorang yang sudah terbiasa menunggu tanpa merasa perlu terburu-buru.
Di sampingnya, Enzo tampak jauh lebih santai dari siapa pun yang seharusnya ada di ruangan ini. Lengannya melingkar di pinggang seorang wanita berpakaian minim yang tertawa pelan atas bisikan-bisikan yang ia desiskan ke telinganya. Ada sesuatu yang ceroboh dan disengaja dari cara Enzo menikmati malam, seolah ia ingin semua orang tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar serius, kecuali saat ia harus.
Begitu sosok jangkung Cane muncul di ambang ruangan, suasana itu bergeser. Tidak dramatis, hanya sebuah pergeseran halus, seperti suhu ruangan yang turun beberapa derajat.
"Kau terlambat, Cane," ujar Mateo dan Enzo nyaris bersamaan, masing-masing dengan seringai tipis di sudut bibir.
Cane tidak menjawab. Ia menarik kursi tunggal di seberang sofa, bukan memintanya, bukan merebut, hanya mengambilnya, seperti memang itu miliknya sejak awal. Ia duduk dengan cara yang membuat ruangan terasa menyempit. Punggung tegak. Satu pergelangan tangan bertumpu di lengan kursi. Tatapannya bergerak perlahan ke arah wanita yang masih bergelayut di leher Enzo.
Ia tidak berkata apa-apa. Tidak perlu.
Enzo menangkap tatapan itu dan terkekeh pelan. Dua tepukan ringan di pinggang wanita itu, kode bisu yang sudah dimengerti tanpa penjelasan. Tanpa sepatah kata pun, wanita itu bangkit, merapikan bajunya, dan melangkah keluar dengan terburu-buru.
Pintu tertutup rapat.
— ✵ —
Enzo meneguk sisa wiskinya, lalu mencondongkan tubuh ke depan dengan sikap yang kini jauh lebih serius, meski nadanya tetap santai.
"Bagaimana dengan berita pagi ini, Cane? Aku sudah memastikan rekaman itu terus mengalir di semua kanal berita utama. Mereka tidak akan bisa bernapas lega hari ini."
Ia melirik tablet di atas meja.
"Atau kau ingin aku pergi lebih jauh? Aku bisa mengatur acara khusus di TV nasional, menjadikan skandal ini tontonan publik yang paling menghancurkan. Mempermalukan mereka di depan seluruh negeri."
"Terlalu halus." Mateo mendengus sinis sebelum Cane sempat bicara, jemarinya mengetuk-ngetuk bibir gelas yang sudah kosong. "Mempermalukan orang lewat media adalah gaya pesolek sepertimu, Enzo."
Enzo memainkan lighternya di antara jari-jarinya, memutarnya pelan seperti orang yang sedang berpikir."oh ayolah Dia pasti sangat menikmati hadiah pagi ini. Walaupun Anniversary pernikahannya yang ke-32 masih seminggu lagi," kata enzo
Cane menyesap cerutunya dalam-dalam. Asapnya mengembang perlahan di udara, abu-abu, tenang, seperti kabut di atas sesuatu yang sudah terbakar habis.
"Tidak."
Suaranya rendah dan final.
"Itu sudah cukup. Rakyat akan membelok sendiri setelah berita ini tersebar cukup lama. Opini publik adalah senjata paling mematikan, sisanya hanya soal menunggu. Dan aku tidak pernah terburu-buru."
Ia menyandarkan punggungnya. Di sudut bibirnya, muncul sesuatu yang hampir tidak bisa disebut senyum, lebih tepatnya seringai tipis yang sarat dengan kemenangan yang sudah diperhitungkan jauh sebelum malam ini.
"Darius Barnard, si tua bangka itu…"
Cane menjeda kalimatnya, membiarkan nama itu menguap bersama asap di udara yang makin dingin.
Matanya menyipit sedikit.
"Lagi pula, di mana serunya jika dia tidak sempat menikmati setiap prosesnya, selagi dia masih punya waktu untuk meratapinya."
Mateo mengetuk gelasnya pelan.
"Dimitri tidak punya celah untuk membela diri. Unitku sudah mengamankan semua barang bukti sebelum pengacaranya sempat bangun tidur. Sekarang dia hanya tinggal menunggu Darius membuangnya seperti sampah."
"Dan Darius tidak punya pilihan lain."
Enzo memutar ponselnya di antara jari-jarinya.
"Begitu grafik elektabilitas Dimitri terjun bebas seperti yang kita lihat tadi, semuanya selesai."
Cane tidak mengangguk. Tidak tersenyum lebih lebar. Sorot matanya hanya bergeser sedikit, menuju titik di dinding yang kosong, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain di ruangan ini.
"Memang begitu seharusnya."
Suaranya turun menjadi hampir berbisik, seolah kata-kata itu tidak perlu diucapkan lebih keras untuk membuat seseorang tidak bisa tidur malam ini.
Keheningan menggantung sejenak di antara mereka bertiga.
"Minggu yang sangat panjang bagi seorang Darius Barnard," gumam Mateo akhirnya, nada rendahnya mengandung kepuasan yang tidak perlu disembunyikan.
Tidak ada yang menambahkan apa pun. Di ruangan temaram itu, di antara asap cerutu dan gelas-gelas yang sudah kosong, kehancuran seseorang telah diputuskan dengan cara yang paling tenang. Dan justru itulah yang membuatnya paling mengerikan.
jangan lupa komen
Mobil berhenti tepat di depan kantor polisi. Begitu petugas jaga di depan gerbang melihat pelat mobil yang terparkir, sikapnya berubah seketika, ia buru-buru berdiri tegak dan membungkuk hormat. Beberapa petugas lain yang kebetulan berada di halaman ikut menunduk, saling berbisik begitu menyadari siapa pemilik kendaraan itu.Enzo keluar dari mobil dengan tenang, seolah tak menyadari atau tak peduli dengan keributan kecil yang timbul karena kehadirannya. Ia berjalan ke sisi lain, membuka pintu, lalu tanpa banyak bicara mengangkat tubuh Elena dan menaruhnya di atas bahunya begitu saja."Turunkan aku! Bajingan, turunkan!" Elena meronta, tangannya memukul-mukul punggung Enzo, kakinya menendang ke udara. "Tolong! Ada yang bisa tolong aku, tidak? Pria ini menculikku!"Beberapa petugas yang berdiri di dekat pintu masuk hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing, seolah pemandangan seorang wanita diangkut di atas bahu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi serius, apal
Suasana di dalam kabin mobil terasa pengap, diisi oleh napas memburu dan ketegangan yang kian menumpuk. Elena sama sekali tidak tinggal diam. Tangan kanannya memang terikat erat oleh necktie ke pergelangan Enzo, tetapi tangan kirinya masih bebas bergerak leluasa.Tanpa suara, ia menyelipkan tangan itu ke dalam tas, meraba layar ponsel secara buta sementara matanya tetap lurus ke depan seolah tak terjadi apa-apa. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan darurat untuk Isabela, mengirimkan kabar bahwa dirinya tengah dibawa pergi menuju kantor polisi.Namun, Enzo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya mulai curiga saat melihat Elena mendadak terlalu tenang. Pria itu melirik sekilas ke samping dan mendapati pantulan cahaya kecil dari layar ponsel yang tersembunyi di balik tas.Tanpa aba-aba, tangan bebas Enzo terulur cepat dan merampas ponsel itu dari genggaman Elena. Tapi terlambat, layar ponsel menunjukkan status pesan telah terkirim."Kembalikan!" Elena berusaha m
Isabela sudah menghabiskan setengah pagi menunggu, dan begitu jam menunjukkan waktu yang cukup sopan untuk keluar rumah, Elena sudah lebih dulu berdiri di depan gerbang dengan kacamata hitam besar dan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan."Ayo, aku sudah bosan di rumah," ujar Elena, menarik lengan Isabela sebelum ia sempat protes. "Lagipula kau butuh jalan-jalan, anggap saja olahraga setelah drama makanan mahal dari bos seksimu itu.""Itu bukan drama," Isabela membela diri, meski pipinya sedikit memerah mengingat kotak makanan seharga delapan ratus real itu masih tersimpan rapi di atas lemari es rumahnya, seolah kotak kosong itu sendiri adalah bukti sesuatu yang tidak ingin ia akui."Terserah kau menyebutnya apa." Elena sudah membuka pintu mobil, melambai agar Isabela cepat masuk. "Yang jelas kita ke mall sekarang. Aku butuh cuci mata, dan kau butuh berhenti memikirkan dua laki-laki sekaligus.""Memikirkan dua laki-laki? Omong kosong. Dengarkan aku, aku hanya akan mencintai Theo
Konvoi keluar dari jalan tol dua puluh menit sebelum tengah hari, berbelok ke simpang tanpa nama yang hanya dikenali oleh mereka yang memang perlu mengenalinya. Jalan tanah, lalu pagar baja setinggi tiga meter berdiri di antara pepohonan, kawat listrik berkilau tipis di bagian atasnya. Pos jaga bergerak sekali, mengonfirmasi, dan pagar itu membuka tanpa suara.'Kawasan Fantasma.'Di dalam gerbang, sebuah truk kontainer besar baru saja berhenti di dekat gudang utama, mesinnya masih berdengung rendah. Beberapa pria berseragam tanpa identitas bergerak cepat di sekelilingnya, satu memberi aba-aba dengan tangan, yang lain menyambungkan derek portabel ke bagian atas kontainer. Rantai berdenting. Logam bergesekan dengan logam.Mobil Cane melambat, sejajar sesaat dengan truk itu sebelum berbelok ke jalur yang berbeda.Cane menatap ke luar jendela, tidak lama, hanya cukup untuk melihat tulisan samar di sisi kontainer yang sengaja dibuat tidak terbaca dari jarak jauh. Salah satu penjaga menoleh
"Biar kubantu." Cane ikut masuk, tubuhnya menutup pintu hingga orang-orang di luar tak bisa lagi melihat apa yang terjadi di dalam.Cane melihat Isabela yang masih sibuk mencari-cari di dalam mobil, alisnya bertaut bingung tak menemukan apa pun. Ia hanya menatapnya sejenak dalam diam, seolah menikmati betapa tidak sadarnya gadis itu akan apa yang akan terjadi berikutnya.Tanpa aba-aba, satu tangannya sudah menangkup tengkuk Isabela, jemarinya menyusup ke helai rambutnya dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk membuat gadis itu tak bisa menoleh ke mana pun selain padanya. Bibir mereka bertemu sebelum Isabela sempat mengeluarkan satu kata pun.Ciuman itu tidak lembut. Ada sesuatu yang lapar di dalamnya, seolah Cane sudah menahan diri terlalu lama dan kini tak berniat lagi bersikap sabar. Isabela mencoba mundur secara refleks, punggungnya menabrak sandaran kursi, tapi tangan Cane yang lain sudah melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat alih-alih memberinya ruang untuk lari.Napas
Elena baru saja menyalakan mobil ketika Isabela tiba-tiba mencengkeram lengannya, wajahnya berubah tegang seketika."Elena, kita harus cepat, gawat, ini gawat," ujar Isabela, suaranya nyaris panik tanpa sempat memberi penjelasan lebih lanjut."Aduh, ada apa denganmu, santai saja. Kau membuatku kaget." Elena menginjak gas sebelum sabuk pengaman Isabela sepenuhnya terkunci.Mobil melesat keluar dari area parkir dengan decitan ban yang membuat dua orang di trotoar menoleh kaget. Isabela mencengkeram pegangan pintu erat-erat, buku-buku jarinya memutih."Elena, pelan-pelan.""Kalau pelan-pelan, nenekmu bakal bertemu Presiden Cane sebelum kita sampai di sana." Elena membelokkan setir tajam ke kanan, menyalip sebuah angkutan umum lokal yang berhenti mendadak di lampu merah. "Tenang saja, aku sudah biasa."Isabela tidak yakin itu kalimat yang menenangkan.Di persimpangan berikutnya, sebuah motor memotong jalur mereka tanpa aba-aba. Elena membanting setir, ban berdecit keras, spion kiri nyaris
Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti
Pesan itu masuk diam-diam di antara percakapan yang sedang berlangsung.Cane membacanya sekali.Tidak dua kali.Ponsel itu ia letakkan kembali di atas lutut dengan gerakan yang terlalu tenang — tangan kanan rileks, jari-jari tidak menekan apa-apa, seperti pesan itu tidak lebih penting dari laporan
"Langit São Paulo mulai terasa lebih lembut ketika jarum jam perlahan merayap menuju waktu makan siang. Tanpa benar-benar sadar bagaimana langkah membawanya ke sana, Isabela kini sudah duduk di kursi rotan minimalis di sudut kecil Butik Lena.Tempat ini adalah ruang kreatif yang hangat. Lantainya m
Hari PertamaAlarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sa







