LOGINTheresa (Tessa) Adams learns that the source of one’s happiness can also be the source of one’s deepest pain. The death of the Luna was a devastating loss to the Blue Moon Pack. More so to the Alpha Gabriel Adams, the most feared amongst the nine alphas of the nine different packs. Tessa and the rest of the pack had to watch with dismay as her father and their alpha became more wolf than man, became ruthless and cold-his own way of coping with the pain of losing his mate. The moon goddess finally provided a miracle, a woman, a new Luna, the alpha fell madly in love with the widowed Luna of the Moon River Pack (Melissa Terrence). But what happens next leaves Thesa wondering if the moon goddess had played a cruel joke on her, for her mate just had to be Melissa Terrence’s oldest son, her own step brother, and the alpha of the Moon River Pack, Damon Terrence. Will Tessa sacrifice her own happiness for her father’s?
View More"Siapa lagi yang mau pesan? Ini ada berlian murah, model terbaru!" suara Rita sebagai bendahara dalam arisan grup Rumpis dengan membuka kotak perhiasan berwarna merah beludru sebesar kotak kue. Ia memperlihatkan sebuah kalung bermata berlian.
Aku duduk diam, di sudut ruangan rumah Nora sebagai ketua arisan Rumpis. Aku hanya memandang teman-teman arisan yang berusaha mencoba perhiasan secara bergantian. "Halo Jeng Neni, pengantin baru nggak ingin membeli perhiasan terbaru?" tanya Rita tersenyum memandang Neni. Neni yang merasa terpanggil tersenyum segera mengarahkan pandangannya ke arah Rita. "Maaf Bu Rita, suami saya sudah membelikan hadiah," ucapnya dengan sopan dan melontarkan senyum khas. Aku tersentak saat mendengar percakapan antara Rita dan Neni. Hatiku bertanya-tanya hingga berpikiran menanyakan pada Ratih yang duduk di sebelahku. "Lho Bu, apa Mbak Neni menikah? Kapan? Kok saya nggak diundang?" Ratih mengernyit kan dahinya menatapku dengan gugup. "Ooo iya Jeng, tapi memang Jeng Neni tidak menyebar undangan, ia nikah diam- diam. Hanya ibu-ibu yang mengetahui saja yang datang." Aku bingung, seribu pertanyaan singgah dalam pikiranku. Dengan tak taunya aku dalam pernikahan Neni yang merupakan teman dekatku. Serta tak ada pemberitahuan ataupun undangan padaku. Padahal ibu- ibu arisan tau, akulah orang yang paling dekat dengan Neni dibanding ibu- ibu arisan lainnya. Apalagi setiap kali ada teman yang ingin mengadakan acara, pasti diposting di dalam grub w******p. Mereka dengan antusias merundingkan pakaian apa yang harus mereka kenakan nanti? Warna yang sama atau tidak? Di mana harus berkumpul? Tapi kenapa di grub juga sepi tanpa ada pemberitaan. Nita juga begitu, padahal berangkat dan pulang arisan selalu bersama naik mobilku. Tapi Nita tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Rasa penasaranku muncul. Aku segera berdiri, melangkah mendekati tempat duduk Neni. Kebetulan di samping Neni ada kursi kosong. "Ya Allah Mbak, aku nggak tau kalau Mbak Neni menikah. Kapan Mbak? Aku kok nggak di undang?" Kuhempaskan tubuhku di atas kursi dan kugeser kursinya agak mendekat pada Neni. Neni tampak gugup, ia berusaha tersenyum membalas pertanyaanku. "Tidak apa-apa Mbak? Acaranya sederhana kok. Sebenarnya saya nggak mengundang siapa-siapa Mbak? Ibu-ibunya saja yang tiba-tiba datang!" ucap Neni yang usianya lebih muda dari usiaku. Dan masih dikaruniai anak satu perempuan yang baru berumur dua tahun. Ia menjanda satu tahun yang lalu sebab suaminya meninggal mendadak. Aku pun berkali-kali mengucapkan maaf. Dan hari ini juga aku berencana hendak ke rumahnya sekedar ingin menebus kesalahan dengan tidak hadirnya dalam pernikahan Neni. Namun Neni menolaknya secara halus dengan alasan ia hendak pergi bulan madu ke Bali. Akupun menyadari hal itu. Yang menjadi ganjalan hatiku. Neni begitu baik sama aku. Bahkan waktu aku punya hajatan khitanan Jenar anakku, ia merelakan utuk bermalam di rumahku selama dua hari untuk membantuku menyiapkan acara itu hingga selesai. Akupun sering berbagi kebahagiaan menceritakan Mas Bram yang sangat memperhatikan aku. Dan Neni juga menyanjung kesetiaan Mas Bram. Pikiranku tetap tak enak. Hingga perjalan pulang otakku terus berpikir soal tidak taunya aku tentang pernikahan Neni. Nita yang duduk di sampingku saat di dalam mobilku, aku cerca dengan berbagai pertanyaan. "Bu Nita, kenapa Mbak Neni menikah gak memberitahuku? Padahal Mbak Neni itu sudah kuanggap seperti saudara sendiri." Nita menjawabnya dengan enteng. "Ya kapan- kapan Jeng Kinan bisa datang sendiri ke rumah Jeng Neni. Waktu masih panjang, gak usah terlalu dipikirkan." Aku mangut- manggut membenarkan ucapan Nita. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, dalam benakku merasakan kekecewaan yang mendalam. Dan bertanya- tanya tak diundangnya aku dalam acara penting. Padahal dua hari yang lalu Neni sempat chatingan sama aku. Tapi tak sedikitpun Neni menyinggung soal pernikahan. Bahkan Neni tak pernah menceritakan calon suaminya. Neni cenderung tertutup walau aku sama Neni sering ngobrol. Malahan aku sering mengajaknya ke restoran makan bersama dengan Mas Bram dan belanja bareng. Neni sudah seperti adikku sendiri sebab aku merasa tak punya saudara. Timbul rasa penasaranku dan ingin tau siapa suami Neni. Sebab selama ini Neni tak pernah membicarakan soal calon suaminya. "Suaminya Mbak Neni itu orang mana sih Bu, aku kok gak pernah dengar dia punya calon suami? Dia juga gak pernah cerita sama saya?" Nita yang hadir waktu acara pernikahan Neni dengan antusias menceritakan kalau suami Neni itu pengusaha muda yang sukses, orang terpandang. Duda tanpa anak walau usianya terpaut delapan tahun lebih tua dibanding usia Neni. "Tapi waktu ibu- ibu kesana, tidak bertemu suaminya. Suaminya kebetulan barusan keluar ada kepentingan keluarga," jelas Nita. Mendengar cerita dari Nita aku ikut merasa bahagia, bagaimanapun juga Neni aku anggap adikku. Aku tak mempunyai sedikitpun rasa kesal walau dalam pernikahannya aku tak diberitahu. Aku hanya bisa berpikir, Neni memang sengaja tak menyebar undangan atau memberitahu siapapun sesuai perkataannya tadi. "Ya, mungkin itu sudah jodohnya Mbak Neni. Aku juga turut senang Bu Nita?" ucapku dengan fokus mengendarai mobil. "Tapi dengar-dengar anak jeng Neni itu juga anak hasil dari suami yang sekarang lho, Jeng. Jadi sebelum suaminya meninggal Jeng Neni itu sudah selingkuh duluan!" "Ooh ya, benarkah itu Bu?" ucapku agak terkejut dan hampir tak percaya, Hingga sampai di rumah kata-kata Nita masih terngiang di telingaku. Cepat-cepat aku turun dari mobilku setelah kunci mobil aku serahkan Dodi satpam rumahku untuk memasukkan ke garasi mobil. Itu sudah menjadi kebiasaan Dodi. Langkah kakiku kupercepat masuk rumah, untuk menemui suamiku dan menceritakan tentang Neni. Aku tarik gagang pintu kamarku. Aku tau kalau suamiku sudah pulang sebab pertama aku masuk halaman rumah kulihat mobil suamiku sudah bertengger di halaman. "Lho sudah pulang, Sayang?" Tanya Bramasta suamiku yang mana aku memanggilnya mas Bram. Aku bengong saat melihat suamiku memasukkan pakaian ke dalam koper. Belum juga aku menjawab pertanyaannya. Berbagai pertanyaan aku lontarkan pada Mas Bram. "Mas mau kemana? Kenapa bawa pakaian banyak? Dan kenapa tidak memberitahu aku sebelumnya kalau Mas hendak ke luar kota?" Mas Bram tersenyum mendekati aku. Sebuah kecupan hinggap di keningku. "Aku harus ke Singapura Sayang? Ada acara mendadak, tentang perusahaan kita. Jadi aku tak sempat memberitahu kamu?" "Kenapa mendadak Mas? Bukankah kemarin hampir seminggu Mas Bram sudah pergi ke Surabaya? Kok bukan asistennya saja yang berangkat!" protesku dengan menghempaskan tubuhku ke pinggiran ranjang, kutunjukkan rasa kesalku di depan Mas Bram. "Nggak lama Say, cuma satu minggu. Kamu pesan apa?" rayu Mas Bram lembut, tangannya mengusap- usap rambutku. Aku hanya menggelengkan kepala. Aku percaya penuh kalau Mas Bram laki-laki setia. Ia juga perhatian sama Jenar putra satu-satunya. Apalagi apapun yang aku minta Mas Bram selalu menurutinya. "Mas, Mbak Neni menikah. Tapi kenapa gak memberitahu kita?" tanyaku memandang Mas Bram yang melangkah hendak ke kamar mandi dengan meraih handuk. Mas Bram tampak kaget. Ia memandangku. "Mbak Neni teman arisan kamu? Yang sering kamu ajak jalan- jalan itu?" "Iya?" jawabku singkat. Mas Bram hanya manggut- manggut tampak cuek. Ia melangkah masuk ke kamar mandi, tanpa merespon ucapanku. Pikiranku masih terbawa tentang Neni yang tidak mengundangku dalam pernikahan. Dalam hatiku sangat kecewa. Seribu pertanyaan terus bergelayut dalam otakku dengan meraba- raba mungkin aku ada salah dengan Neni. Namun pikiranku tak menemukan titik temu. Tiba-tiba terdengar dentingan ponsel chat masuk dari ponsel suamiku yang tergeletak di meja. Aku malas untuk merespon, paling dari teman bisnisnya. Toh aku jarang membuka ponsel Mas Bram. Menurutku itu sebuah privasi. Apalagi aku percaya penuh siapa Mas Bram, tak mungkin Mas Bram berbuat aneh- aneh. Namun tiba-tiba pikiranku berubah, rasa ingin tau dan penasaran untuk mengetahui siapa yang chat suamiku. Apalagi dengan keberangkatannya ke Singapura. Aku berdiri, kuraih ponsel mas Bram dan kubuka layar berwarna biru. Beruntung aku mengetahui kunci ponsel mas Bram hingga dengan mudah aku membuka ponsel mas Bram. "Andre?" gumamku, saat melihat nama yang tertera dalam ponsel itu. Aku mengenal Andre orang kepercayaan Mas Bram. Aku hendak meletakkan kembali ponsel Mas Bram. Sebab selama menikah aku tak pernah membuka isi ponsel Mas Bram. Namun baru saja ponsel hendak aku letakkan, sepintas aku melihat foto profil pada nomor ponsel Andre. Disitu tertera foto seorang wanita menggendong anaknya yang masih kecil. Aku berpikir sepertinya aku pernah tau profil ini. Rasa penasaran untuk membuka profil itu kembali menguak. Profil aku buka dan aku zoom hingga tampak jelas siapa pemilik nomor yang bernama Andre. Mataku terbelalak, jantungku berdetak kencang, saat melihat foto seorang wanita menggendong anak perempuan imut, lucu, cantik.LOVE HER NOTSelena gave him a dubious look. "Really?""Yeah. I didn't…. " He suddenly frowned."Where exactly did you find the rose?""In my bathroom." She answered somewhat confused."If you didn't drop it there, who did?" She wondered.Gabriel's jaw tightened and his eyes hardened."What?" She asked."I think I know who did it." He answered through gritted teeth."Are you going to tell me who it is?""No. I have to be very sure.""Alright. If you say so."They both fell silent and Selena thought of what to say next."Aren't you hungry? I made lunch."He ran his eyes along the length of her."I'm so damn hungry." He murmured. His brilliant blue eyes blazing.Selena swallowed as she felt the heat of his gaze. She tugged at the hem of her shirt."Do you want me to bring the food to your room or would you prefer to eat downstairs?" She asked slightly breathless."Honey, I can eat anywhere. Anytime." He answered.Selena felt the heat rise to her cheeks."You have to be more specific." Sh
THE PARENTS"Selena," Gabriel whispered.Selena found herself relaxing against him and had to bite back a moan.He bent his head and his lips brushed the side of her neck. "You have no idea how good you smell."She felt her knees buckle as Gabriel grazed her neck with his canines.He spun her around to face him.She let out a gasp as she gazed into his bright silver eyes."You're mine." He whispered into her ear. "Say it."He took her earlobe between his teeth and tugged gently.Selena moaned and her hold tightened on his arms."Say it Selena." He urged and sucked gently on her neck."I'm yours Gabriel," she moaned. "I'm all yours."Gabriel growled in satisfaction.She shivered as she felt his stubble graze the side of her face.His mouth was just a whisper away from hers.Her eyes fell closed in anticipation.Selena's stomach dropped in disappointment as she felt his chaste kiss on her forehead.She slowly opened her eyes. He was looking at her intently with his brilliant blues."Thi
THE NECKLACE OF TRANSITIONAsides their super strength, super speed and fast healing ability, werewolves are also known for their super hearing.But no matter how much Gabriel tried, he couldn't hear the conversation between his mate and Esmeralda.Even when he silently walked to the door of the room they were conversing in despite his parents disapproving stares.He looked at his parents in frustration. "Why can't I hear them?""The witch…" Nicholas said by way of explanation.Beatrice rolled her eyes. "Remember she said she wanted a private conversation." Beatrice reminded with emphasis on the word 'private'Gabriel paced the living room restlessly, occasionally returning the cat's evil stare.He was already considering going to pound on the door, when Esmeralda and Selena walked into the living room.His eyes ran through the length of Selena as though he was trying to confirm if the witch had done something to her."I'll take you to the siren's sea." Esmeralda announced."You want
"So what happened next?" Selena asked impatiently.Beatrice had paused, returning her full attention to the road.Nicholas and Gabriel had allowed her to be the one behind the wheel only because she was the only one who knew exactly where they were headed.They both also understood that Beatrice was particular about being so proper.She preached the full attention of the driver during the drive. No distractions whatsoever.This included no talking except when necessary.She only indulged Selena because she pitied the situation of her late friends' daughter."The Alkyaries had been so intent on ending our lives that they hadn't noticed the approach of the two fairies, Celeste and Abel— your parents." Beatrice continued."They worked their magic and voila! we were delivered."Goddess! They had looked so scary doing their thing that I thought they were like a higher level of predators who had come to destroy the competition in order to claim their prey." Beatrice chuckled."When we becam
ARRIVALGabriel woke up just in time to find his cousin and beta, Shawn Adams, holding up a bowl of water over his face. His eyes betrayed his intent and immediately clouded with disappointment when he discovered that Gabriel's eyes were open.They stared at each other for a full minute before Shawn b
Chapter Five Selena's eyes flew open as a mother's screams roused her from her deep slumber. The first thing she registered was the rolling blades of the ceiling fan so close to her face. She screamed in panic and landed with a thud on her bed. Her father appeared in the doorway alarmed by their
Chapter FourBeans and onions are of course healthy and meant to be eaten and not carefully picked out of one's food as Gabriel was presently doing. He couldn't help it. He had hated those two since childhood."Grandma, isn't an alpha supposed to eat all kinds of food to be healthy and strong?" Cla
Chapter ThreeWhen Selena came out of the changing room, Michael Knowles was there leaning against the wall waiting for her.He was kind and attractive with light blonde hair and baby blue eyes, yet Selena was still wary of him. Actually she was wary of anything that looked like a man."Please let
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.