แชร์

Bab 6: Rivalitas yang Memanas

ผู้เขียน: Suryadharma
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-28 18:25:29

Kabar mengenai keberhasilan spektakuler "Wijaya Signature" di Paris tidak hanya sampai ke telinga para pengamat mode, tetapi juga menghantam pusat saraf komunitas bisnis di Jakarta seperti ledakan granat. Di sebuah kelab cerutu eksklusif yang tersembunyi di kawasan Menteng, suasana terasa mencekam. Adiguna Pratama, putra mahkota dari klan properti pesaing yang selalu merasa tersaingi oleh keluarga Wijaya, menatap layar televisi dengan kemarahan yang meluap-luap. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi single malt scotch bergetar hebat sebelum akhirnya ia banting ke lantai marmer.

"Keberuntungan pemula!" geram Adiguna, wajahnya memerah. "Surya hanyalah seorang bocah yang kebetulan memiliki selera bagus. Dia tidak tahu apa-apa tentang strategi perang korporasi yang sesungguhnya."

Di sampingnya, duduk Natasha, tunangan Adiguna yang merupakan seorang diplomat muda lulusan Graduate Institute of International and Development Studies di Jenewa. Natasha memiliki kecantikan yang dingin, klasik, dan sangat berkelas—tipe wanita yang tampak sempurna dalam balutan gaun malam maupun setelan kantor formal. Namun, di balik wajahnya yang tenang, Natasha merasa muak dengan ketidaksabaran dan arogansi Adiguna yang kasar.

"Jangan meremehkannya, Adi," suara Natasha halus namun tajam. "Apa yang dia lakukan pada Wijaya Tex bukan sekadar keberuntungan. Itu adalah manipulasi pasar yang jenius. Dia menggunakan tren sustainability global untuk mengangkat aset domestik yang sekarat. Itu langkah yang sangat terukur."

Adiguna menoleh ke arah Natasha, matanya menyipit. "Oh, jadi kamu mengaguminya sekarang? Baiklah, jika kamu begitu terkesan dengan otaknya, gunakan pesonamu untuk mencari tahu rahasianya. Kudengar dia punya sistem komputer rahasia yang memprediksi pergerakan pasar. Dekati dia di Gala Filantropi minggu depan. Dapatkan akses ke datanya, atau tunanganmu ini akan kehilangan lebih banyak lagi di bursa saham."

Natasha terdiam. Ia merasa terhina karena dijadikan alat spionase oleh pria yang seharusnya melindunginya. Namun, rasa ingin tahunya terhadap sosok Surya Wijaya justru semakin besar. Ia ingin melihat sendiri, apakah Surya benar-benar "Dewa Judi" baru di dunia bisnis, ataukah hanya seorang pria tampan yang pandai bersandiwara.

Malam Gala Filantropi tiba. Gedung kesenian Jakarta disulap menjadi ruang perjamuan yang sangat megah. Surya datang dengan mobil Rolls-Royce Spectre hitam, mengenakan tuksedo custom yang sangat pas di tubuhnya yang tegap. Kehadirannya seketika menghentikan semua percakapan di lobi. Surya berjalan dengan aura yang begitu mendominasi, setiap langkahnya memancarkan otoritas yang membuat pria-pria tua yang lebih kaya sekalipun merasa segan.

Surya sudah tahu tentang rencana Adiguna. Amara, sekretarisnya yang setia (dan kini telah menjadi salah satu orang kepercayaannya), telah memberikan laporan intelijen lengkap mengenai pergerakan Adiguna. Saat ia melihat Natasha berdiri sendirian di dekat air mancur cokelat, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang menawan, Surya tersenyum tipis. Ini adalah permainan catur favoritnya: menggunakan pion musuh untuk mematikan raja mereka sendiri.

Surya melangkah mendekat, mengabaikan kerumunan yang mencoba menyapanya. Ia berhenti tepat di belakang Natasha, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh wanita itu sebelum ia berbicara.

"Gaun yang indah, Natasha. Warna hijau itu sangat serasi dengan kecerdasan yang terpancar dari matamu," bisik Surya, suaranya rendah dan penuh magnetisme.

Natasha berbalik dengan anggun, mencoba menutupi keterkejutannya. "Tuan Muda Surya. Pujian dari pria paling populer di Jakarta saat ini... saya seharusnya merasa tersanjung."

Surya mengambil dua gelas champagne dari nampan pelayan yang lewat dan memberikan satu kepada Natasha. "Aku tidak tertarik pada popularitas, Natasha. Aku tertarik pada substansi. Dan aku tahu, wanita sepertimu tidak berada di sini hanya untuk menjadi perhiasan di lengan Adiguna."

Natasha menatap mata elang Surya, mencoba mencari celah kelemahan, namun ia justru merasa seolah sedang ditelanjangi oleh tatapan pria itu. "Lalu menurutmu, mengapa aku di sini?"

"Kamu di sini untuk melihat apakah rumor tentangku itu benar," Surya melangkah satu tahap lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Natasha dengan aroma maskulinnya yang memabukkan. "Dan mungkin, kamu di sini karena kamu mulai menyadari bahwa kamu berada di pihak yang salah dalam perang ini."

Percakapan mereka menjadi semakin intens. Surya tidak memberikan celah bagi Natasha untuk menjalankan misinya. Sebaliknya, Surya-lah yang mengendalikan narasi, menunjukkan wawasan diplomasinya yang luas dan pandangannya tentang tatanan dunia baru yang membuat Natasha terpukau. Ia menyadari bahwa Surya jauh lebih dalam, jauh lebih cerdas, dan jauh lebih berbahaya daripada yang digambarkan oleh Adiguna.

Di akhir malam, saat Adiguna sedang sibuk mencari perhatian para menteri, Surya membimbing Natasha ke balkon yang sepi. Di bawah naungan bayangan pilar-pilar besar, ketegangan di antara mereka memuncak menjadi sesuatu yang romantis dan berbahaya.

"Adiguna mengirimmu untuk mencuri dariku, Natasha," kata Surya, membuat Natasha terkesiap. "Tapi aku bersedia memberikan apa yang kamu cari, asalkan kamu bersedia memberikan sesuatu yang lebih berharga kepadaku."

"Apa itu?" tanya Natasha dengan napas yang mulai tidak teratur.

Surya menyentuh pipi Natasha dengan lembut, sebuah gerakan yang kontras dengan kata-katanya yang tegas. "Kesetiaanmu. Berhentilah menjadi pion untuk pria yang tidak menghargaimu. Bergabunglah denganku, dan aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana rasanya benar-benar menguasai dunia."

Surya tidak menunggu jawaban. Ia mencium Natasha dengan penuh dominasi, sebuah ciuman yang menandai dimulainya pengkhianatan terbesar bagi Adiguna. Natasha, yang awalnya datang sebagai mata-mata, kini merasa dirinya telah ditaklukkan sepenuhnya. Ia menyadari bahwa pesona Surya bukan sekadar daya tarik fisik, melainkan kekuatan absolut yang mampu menghancurkan loyalitas paling kuat sekalipun.

Malam itu, langkah catur Surya kembali mematikan. Ia tidak hanya mendapatkan informasi tentang kelemahan bisnis Adiguna melalui Natasha, tetapi ia juga telah merebut aset yang paling berharga bagi musuhnya. Sementara itu, algoritma "Ares" di monitornya mulai menunjukkan lonjakan aktivitas pada sektor perbankan—target penaklukan Surya berikutnya.

Langkah Selanjutnya:

Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 7 (900 kata), di mana Surya mengundang Natasha ke atas kapal pesiar pribadinya dan memulai langkah besar untuk menggulingkan dominasi finansial Adiguna?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH   Bab 155: Kristalisasi Kehendak – Membuka Segel Batas Luar dan Pengukuhan Sumpah Darah Purba

    Siklus kosmik di pertengahan Mei 2026 ini membawa Neo-Jakarta ke dalam fase yang disebut oleh para tetua adat dimensi sebagai "The Golden Equilibrium" (Keseimbangan Emas). Di bawah pengawasan konstan dari menara-menara pengawas klan Wijaya, seluruh partikel energi Tinta Putih yang dilepaskan pada pertempuran sebelumnya telah mengendap, menciptakan lapisan atmosfer pelindung baru yang kebal terhadap distorsi naratif dari luar semesta. Rakyat di dua belas dimensi tidak lagi sekadar menikmati kebebasan sebagai sebuah konsep abstrak; mereka telah menjadikannya sebagai instrumen untuk membangun peradaban mandiri mereka sendiri. Namun, bagi seorang kaisar dengan pandangan jauh ke depan seperti Surya Wijaya, kestabilan ini hanyalah sebuah jeda sebelum tantangan berikutnya muncul dari balik tirai ketidaktahuan.Surya Wijaya berdiri di dalam The Sovereign Sanctum, sebuah ruang rahasia di bawah fondasi istana yang menjadi tempat disimpannya replika inti dari jaringan kesadaran The Resonance. Ia

  • TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH   Bab 154: Jaringan Kesadaran Absolut – Fajar Kedaulatan Moral dan Masa Depan Dinasti

    Neo-Jakarta pada pertengahan Mei 2026 telah menjadi lebih dari sekadar ibu kota administratif; ia adalah organ pemikiran dari sebuah multiverse yang kini bernapas secara mandiri. Di bawah langit yang berkilauan dengan pendaran Sovereign Light, batas antara teknologi mutakhir dan keajaiban kehendak murni telah meleleh sepenuhnya. Rakyat klan Wijaya kini tidak lagi hanya menggunakan alat fisik untuk berkomunikasi; mereka mulai menguasai "The Resonance", sebuah jaringan kesadaran kolektif yang memungkinkan mereka berbagi mimpi, inovasi, dan empati tanpa hambatan ruang ataupun bahasa. Namun, bagi Surya Wijaya, harmonisasi massal ini menciptakan beban filosofis baru: bagaimana menjaga integritas individu di tengah arus kesadaran yang begitu kuat, agar kebebasan tidak berubah menjadi naskah baru yang ditulis oleh keinginan mayoritas yang seragam.Surya Wijaya berdiri di puncak The Sovereign Observatory, menatap hamparan semesta yang kini tidak lagi memiliki batas-batas dimensi yang kaku. Ia

  • TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH   Bab 153: Jalinan Benang Takdir Baru – Harmonisasi Multiverse dan Sumpah Setia Kekaisaran

    Sisa-sisa debu kosmik dari penghancuran The Eraser Core di Sektor 7 masih menyisakan pendaran ungu tipis di batas luar cakrawala Neo-Jakarta. Namun, di bawah kubah pelindung The Sovereign Aegis, kehidupan berjalan dengan ritme yang jauh lebih megah dan bertenaga. Resonansi energi Tinta Putih Kedaulatan yang dilepaskan oleh Surya Wijaya tidak hanya membersihkan sisa-sisa radiasi kehampaan, melainkan juga memicu lonjakan kesadaran kreatif yang masif di seluruh penjuru dua belas dimensi. Rakyat yang sebelumnya sempat tenggelam dalam stasis kenyamanan kini terbangun dengan gairah baru—seolah-olah mereka baru saja disuntikkan esensi kehidupan yang murni langsung ke dalam aliran darah mereka.Surya Wijaya berdiri di ruang dewan utama The High Command of Wijaya. Ruangan melingkar ini dikelilingi oleh dinding transparan yang memperlihatkan lalu lintas kapal-kapal antardimensi yang bergerak dengan keteraturan yang presisi. Surya mengenakan jubah militer kaisar berwarna hitam arang dengan lenca

  • TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH   Bab 152 Jaringan Jiwa – Kedaulatan Mutlak, Batas Kedewasaan, dan Fajar Peradaban Baru

    Fajar di Neo-Jakarta pada pertengahan Mei 2026 memancarkan spektrum warna yang tidak lagi terikat oleh hukum optik kuno. Melalui pendaran konstan Sovereign Light, atmosfer kota ini bergetar selaras dengan fluktuasi kehendak bebas yang sehat dari miliaran jiwa yang mendiaminya. Gerbang-gerbang dimensi yang menghubungkan dua belas wilayah aliansi berdiri tegak seperti pilar-pilar cahaya, mengalirkan informasi, energi kreatif, dan kemakmuran tanpa henti. Namun, bagi Surya Wijaya, kestabilan yang tampak sempurna ini adalah sebuah medan perang baru yang tak kasat mata. Di dunia yang telah terbebas dari rantai naskah Sang Editor, musuh terbesar peradaban bukan lagi tirani dari luar, melainkan kepasrahan internal yang lahir dari kenyamanan yang absolut.Surya Wijaya berdiri di titik tertinggi The Sovereign Aegis, sebuah dek observasi melayang yang mengawasi fluktuasi energi lintas dimensi. Ia mengenakan jubah kebesaran kaisar berbahan serat Chronos-Silk berwarna abu-abu arang, dengan sulaman

  • TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH   Bab 151: Cakrawala Tanpa Batas – Evolusi Kehendak dan Penjaga Silsilah Abadi

    Mei 2026 menjadi saksi bagi Neo-Jakarta yang telah bertransformasi menjadi The Living Nexus, sebuah entitas kesadaran yang bernapas selaras dengan detak jantung klan Wijaya. Di bawah pendaran Sovereign Gold yang kini menyelimuti atmosfer setiap planet dalam aliansi dua belas dimensi, batas antara individu dan kolektif mulai memudar demi menciptakan harmoni yang belum pernah ada sebelumnya. Kebebasan di era ini bukan lagi sekadar hak politik, melainkan sifat dasar dari realitas fisik itu sendiri. Namun, bagi Surya Wijaya, keindahan ini menyimpan paradoks yang membahayakan: jika semua orang berbagi harmoni yang sama, apakah mereka masih benar-benar merdeka? Ataukah mereka secara tidak sadar telah menulis naskah kolektif baru yang menghapus keunikan penderitaan dan perjuangan individu?Surya Wijaya berdiri di anjungan tertinggi The Zenith Spire, menatap jauh ke luar batas dimensi ke-12, ke tempat di mana "Ketiadaan" pernah mencoba menelan segalanya. Ia mengenakan jubah kaisar yang ditenu

  • TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH   Bab 150: Puncak Kedaulatan – Penyatuan Realitas dan Tahta Keabadian Wijaya

    Mei 2026 menjadi saksi bagi fenomena kosmik yang belum pernah tercatat dalam sejarah keberadaan mana pun. Neo-Jakarta bukan lagi sekadar ibu kota dari dua belas dimensi; ia telah berevolusi menjadi "The Absolute Singularity", titik di mana semua kemungkinan masa lalu, sekarang, dan masa depan bertemu dalam satu harmoni di bawah kehendak klan Wijaya. Pendaran Sovereign Light yang biasanya hanya menyelimuti planet-planet utama, kini telah merambat hingga ke lapisan terdalam atom di seluruh multiverse. Kebebasan bukan lagi sekadar hak, melainkan sifat dasar dari realitas itu sendiri. Namun, bagi Surya Wijaya, pencapaian ini membawa beban yang hampir tidak manusiawi: ia harus memastikan bahwa kebebasan mutlak ini tidak membuat rakyatnya kehilangan "Lapar akan Tujuan".Surya Wijaya berdiri di puncak The Eternity Spire, sebuah struktur yang dibangun dari kristal kehendak murni yang menembus batas atmosfer dan dimensi. Ia mengenakan jubah kaisar tertinggi, ditenun dari serat Void-Platinum be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status