Langit masih diliputi semburat ungu ketika Xu Ming berdiri di tanah basah, napasnya menggantung dalam udara pagi yang dingin. Kedua tangannya mengepal, lalu perlahan membentuk segel dasar pelatihan napas.
"Tiga... dua... satu..." bisiknya.
Pukulan lurus dilontarkan ke batang kayu tua yang tergantung dengan tali rotan. BUK! Tubuh mungilnya terpental setengah langkah ke belakang. Telapak tangannya berdarah lagi.
Dari kejauhan, Nenek Hua muncul dengan langkah tertatih, membawa kantung obat. Rambutnya yang abu tersapu angin pagi saat ia menghela napas.
"Setiap pagi seperti ini… selalu saja tanganmu berdarah," gumamnya sambil membuka gulungan kain kasa.
Di sampingnya, Kakek Mozi bersandar pada tongkat bambu, matanya tetap tertuju pada Xu Ming.
"Anak itu keras kepala, ya?" komentar Hua sambil duduk di atas batu.
"Bukan hanya keras kepala," jawab Mozi, tersenyum kecil. "Tulangnya masih muda, tapi semangatnya… seperti baja tua yang telah ditempa ratusan kali."
"Kau juga yang menanamkan itu padanya, jangan lupa," kata Nenek Hua, meliriknya tajam. "Janji-janji mulukmu dulu itu yang membuat bocah itu menggenggam harapan seperti ini."
Mozi mengangguk, tatapannya menyusuri langit yang perlahan cerah.
"Kadang, janji kecil yang dijaga dengan sungguh-sungguh bisa menumbuhkan akar paling dalam."Xu Ming, yang masih di tempat latihannya, kembali duduk bersila. Mata terpejam, ia mulai mengatur napas. Tarik dalam, tahan, lalu hembuskan perlahan.
"Qi tak bisa dipaksa. Ia harus dijemput, seperti tamu agung," bisiknya, menirukan suara Kakek Mozi.
Ia mencoba membimbing hawa hangat di perutnya naik ke punggung. Tapi jalurnya terasa buntu. Napasnya memburu. Lagi-lagi gagal.
Mozi mendekat perlahan.
"Jangan tergesa, Ming. Jalur pengantar di sisi belum terbentuk. Biarkan Qi mencari jalannya sendiri."
"Maaf, Kakek... Aku hanya ingin cepat kuat."
"Menjadi kuat bukan soal cepat atau lambat," ujar Mozi sambil menghela napas. "Bahkan air pun bisa menembus batu, selama ia sabar menetes."
Nenek Hua ikut jongkok di sisi Xu Ming, mengusap luka di telapak tangannya.
"Nak," katanya pelan sambil membalut luka, "kau sudah ikut Nenek memetik herbal sejak kecil. Kalau suatu saat kau merasa jalan kesatria terlalu berat… menjadi alkemis pun bukan hal yang hina."
Xu Ming menoleh, keningnya berkerut sedikit.
"Nenek sungguh-sungguh mengatakannya. Dirimu telah menemani Nenek ke bukit hampir setiap sore mengenali daun pahit dari yang manis, membedakan akar tua dari yang busuk. Tanganmu cekatan, matamu tajam. Bahkan murid-murid dari kota belum tentu punya dasar sebaik dirimu."
Mozi terkekeh pelan.
"Jangan rebut cucu murid orang, Hua."
"Bukan merebut. Hanya bersiap jika jalan lain lebih sesuai," balas Hua sambil tersenyum tipis. "Lagipula, api penyulinganku masih menyala. Api Kalajengking Sutra yang ditaklukkan ayahku lima puluh tahun lalu. Ia mungkin bukan api primordial dari daftar bintang, tapi cukup kuat untuk menyuling pil pembuka meridian dan pil penerobos taraf 3."
"Yang dari Lembah Karang Merah itu?" tanya Mozi, mengangkat alis.
"Itulah. Ukurannya sebesar keranjang beras. Ayahku sempat terkena racunnya, tapi justru racun itulah yang jadi kunci agar api rohnya bisa diwariskan."
Xu Ming menatap mereka dengan mata besar, setengah kagum, setengah bingung.
"Kalau kau tak bisa membuka meridian dengan cara biasa, Nenek sendiri yang akan mengajarimu membuat pil," kata Hua, menepuk bahunya dengan lembut. "Kadang, satu pil bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa dibanding seribu tebasan."
Mozi mengangguk. "Tapi untuk sekarang, bersiaplah. Upacara pendewasaan tinggal beberapa hari lagi. Han Su dan para pemburu belum juga kembali."
"Masih di luar desa?" tanya Hua, suaranya merendah.
"Sudah tujuh hari. Mereka pergi ke Lembah Huoyan, mencari darah esensi monster."
"Huoyan... tempat itu tak ramah bukan," gumam Hua. "Apa mereka akan baik-baik saja?"
"Han Su membawa Tuan Fei dan dua kesatria taraf tiga. Seharusnya cukup..." Mozi terdiam sejenak. "...asal tidak ada kejutan."
"Jika darah esensi tak ditemukan, Kolam Yin-Yang tak akan berguna bagi anak-anak untuk membentuk Dao," kata Hua pelan. "Apa upacara akan dibatalkan?"
Mozi tak segera menjawab. Tatapannya jauh, menembus kabut yang menggantung di atas hutan timur. Suasana pagi yang tenang tiba-tiba terasa lebih berat, seolah alam pun menunggu sesuatu.
Tiba-tiba, suara teriakan anak-anak dari arah lereng bawah memecah keheningan pagi.
"Mereka kembali! Tim pemburu pulang!"
Langkah kaki terdengar tergesa-gesa. Beberapa warga desa keluar dari rumah mereka, menuruni jalanan berbatu yang mengarah ke lapangan tengah. Kehebohan mulai terasa, tanda-tanda bahwa sesuatu yang besar telah terjadi.
Mozi dan Hua saling pandang. Wajah Mozi yang biasanya tenang kini sedikit mengernyit, tampak heran.
"Cepat juga mereka kembali..." gumam Mozi, suaranya dipenuhi keheranan. "Apa yang mereka bawa?"
Tak lama, kerumunan di tengah desa mulai membesar. Xu Ming, yang sebelumnya duduk di sisi batu, ikut berdiri. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran, matanya mengikuti kerumunan yang bergerak cepat.
Di kejauhan, sosok Han Su terlihat. Jubahnya robek di beberapa bagian, tubuhnya terhuyung, tetapi tatapannya tetap tajam dan penuh tekad. Di belakangnya, empat pemburu lain menarik dua kereta kayu besar yang ditutup kain tebal. Beberapa warga desa mulai berbisik-bisik.
"Apa itu… tubuh monster?"
"Lihat ekornya… itu bukan binatang biasa!"
Han Su akhirnya berhenti di depan kepala desa, melepaskan napas panjang sebelum mengangguk hormat pada Mozi.
"Kami pulang… dan membawa yang kau minta, Kepala Desa," katanya, suaranya serak dan penuh keletihan.
Dengan isyarat tangan, kain penutup ditarik.
"Apa itu…?" seru salah seorang warga dengan terkejut.
Di kereta pertama, tergeletak bangkai Kirin Api Tanah, tubuhnya yang besar masih memancarkan percikan magma panas dari luka-luka yang mengerikan, meninggalkan bekas membara di tanah di bawahnya.
"Tunggu… apa aku tidak salah lihat?" gumam Mozi, matanya melebar. "Bukankah itu Kirin Api Tanah?" Ia melangkah lebih dekat, wajahnya penuh keheranan. "Tapi bagaimana bisa dia sampai di Lembah Huoyan?"
Di kereta kedua, bangkai Garuda Petir Angin tergeletak, tubuhnya penuh luka dan bulu-bulu petirnya tercabik-cabik. Meskipun mati, sedikit sisa energi petir masih terasa mengalir di udara di sekitar bangkai itu.
"Satu lagi, itu monster surgawi Garuda Petir Angin bukan!" Hua berkata dengan mata terbelalak. "Tapi… bukankah itu monster taraf lima?"
Mozi menatap kedua bangkai monster itu lama, seolah mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
"Dua sekaligus... Bagaimana bisa?" tanya Mozi, masih tak percaya. "Han Su... ceritakan padaku."
Han Su mengusap dahinya yang penuh debu dan darah kering, nafasnya berat.
"Tim pemburu saat itu tersesat di jurang terdalam Lembah Huoyan saat itu karena seminggu ini kami tak menjumpai monster taraf tiga atau diatasnya untuk upacara pendewasaan. Saat kami sampai tanpa sengaja, dua monster ini sedang bertarung memperebutkan sesuatu. Kami menunggu… lalu masuk saat mereka sama-sama sekarat."
Han Su mengusap dahinya yang penuh debu dan darah kering. Nafasnya berat, namun matanya berbinar seperti pria yang baru kembali dari dunia para dewa. “Kami hanya beruntung… atau mungkin, langit sedang membuka satu lembar takdir baru bagi desa kita.”
Ia mengangkat tangannya. Di atas telapaknya, berdenyut cahaya merah darah sebutir Benih Api, hidup dan bernafas. Udara di sekitarnya bergetar, dan aroma logam serta bunga liar memenuhi udara. Dalam benih itu, seolah langit dan bumi saling bertukar rahasia.
Hua menatap benih api itu lama. “Pak tua, dengan benih api ini. Bahkan alkemis terkenal sekte besar sekalipun pasti akan segera membunuhmu untuk merebutnya… Asal usulnya harus dirahasiakan, Pak Tua!” terangnya.
“Entah apa yang membuat dewa terbangun, dan membuatnya memberikan berkah sebesar ini pada Desa Kayu kita…” Pak tua Mozi mengangguk pelan lalu menoleh menatap Xu Ming.
Bersambung…
Upacara Pendewasaan di Desa Kayu adalah ritual sakral yang menandai awal perjalanan seorang anak di jalan kultivasi Dao. Dilaksanakan di Kolam Yin-Yang, upacara ini hanya bisa dilakukan setelah darah esensi monster tingkat tinggi diteteskan ke kolam, membuka jalur energi langit dan bumi. Setiap peserta akan menyatu dengan energi Dao, dan jika berhasil, meridian tubuh mereka akan terbuka—menandai pencapaian Taraf Pertama: Penempaan Tubuh Dao. Gagal berarti tertutupnya jalan kultivasi selamanya. Upacara ini bukan hanya ujian kekuatan, tetapi juga penentu masa depan bagi anak dan desanya.
Di dunia kultivasi, jarak antar tingkat bukan sekadar angka ia adalah jurang. Satu langkah kecil bisa memisahkan nasib manusia dan dewa. Seorang kultivator Taraf Empat puncak bisa memimpin sekte, menggetarkan sebuah negara. Namun begitu menembus Taraf Lima, dunia yang mereka pijak seolah berubah. Langit dan bumi merespons, Dao di sekitarnya menjadi tunduk. Apalagi Taraf Enam itu sudah merupakan makhluk langka di negeri tingkat rendah.Biasanya, seorang pendekar Taraf Enam tidak akan lagi membuang waktu di negeri kultivasi rendah. Mereka memilih pergi ke negara yang lebih tinggi, di mana energi Dao lebih padat, sumber daya lebih kaya, dan lawan lebih layak untuk mengasah diri. Maka dari itu, mendengar nama “Taraf Enam” di negeri seperti Kota Pembantaian adalah hal yang nyaris mustahil.Namun malam itu, di dalam tenda besar Camp Bayangan, sebuah rahasia yang tak seorang pun duga akhirnya terbongkar.Suasana menegang sejak Xu Ming mengucapkan kalimat itu.“Dia sebenarnya adalah seorang p
“Pendekar taraf lima lainnya?!” Suara berat Bai Simi pecah di dalam aula, matanya melebar, cambuk di tangannya bergetar tak terkendali.Kata-kata Xu Ming barusan bergema dalam pikiran semua orang yang hadir. Sesaat, udara di dalam ruangan seakan membeku. Bahkan napas berat prajurit pengawal di tepi aula terdengar jelas.Zhuge Liang menghentikan langkah mondar-mandirnya. Tubuhnya menegang, pupilnya menyempit. “Jadi bukan hanya Shi Tian, Lembah Moyan ternyata menyembunyikan satu lagi pendekar taraf lima?” gumamnya, suara rendahnya penuh ketegangan.Mo Lauzu menggeram, wajah tuanya berkerut semakin dalam. “Gila! Jika benar begitu, maka kekuatan kita selama ini sudah terlalu diremehkan. Kita semua tahu perbedaan puncak taraf empat dan taraf lima bukan sekadar satu tingkat.”Ketua Sekte Pengemis menambahkan dengan suara berat, tongkat bambu di tangannya menekan lantai. “melainkan jurang hidup dan mati. Bahkan mereka yang sudah bertahun-tahun di puncak taraf empat masih terjebak tanpa harap
Di atas langit, dua sosok masih bertarung sengit. Zhuge Liang, penguasa Kota Pembantaian, melayang dengan jubah berkibar, tombak peraknya menahan gempuran pedang hitam Shi Tian yang berlumuran aura iblis. Kedua pendekar itu seperti dewa perang yang saling mengiris langit. Xu Ming mendongak, pupilnya berkilat. Suara transmisinya menembus medan, langsung ke telinga Zhuge Liang.“Tuan Kota, kita sebaiknya mundur terlebih dahulu.”Zhuge Liang terperanjat, hampir kehilangan ritme serangannya. “Mund-mundur?!” serunya melalui transmisi. “Kenapa?! Kita belum kalah!”Xu Ming mengatupkan giginya, suaranya dalam dan penuh keyakinan. “Percayalah kepadaku, Tuan Kota! Saat ini, bertahan lebih lama hanya akan mengundang kehancuran. Aku punya cara untuk membalikkan keadaan, tapi kita harus mundur terlebih dahulu!”WHUUUMMMM!!! Langit berguncang saat Shi Tian menghantam dengan pedang hitamnya. Aura iblis meluap liar, melilit tubuhnya seperti kabut neraka. Tatapan matanya menyala buas, penuh amarah.“B
Whuushhh!!! Xu Ming menebarkan sayap naga es dan api dari manifestasi Dao-nya, tubuhnya melesat seperti anak panah. Lelaki tua itu menyilangkan tangan, melepaskan racun kental seperti kabut rawa, lalu menghantamkannya lurus ke dada Xu Ming. Duaarrr!!! Tubuh mereka berdua terpental bersamaan! Xu Ming menghantam pilar batu hingga retak, sementara lelaki tua itu menjejak lantai keras, meninggalkan bekas telapak kaki yang berasap korosif.Napas Xu Ming terengah, namun matanya masih bersinar tajam. Wajah lelaki tua itu pucat, keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Ia mendengus keras, dada naik-turun seperti tempa besi yang kehabisan arang.“Kau bajingan kecil!” lelaki tua itu meraung. “Bagaimana mungkin bocah sepertimu bisa mengimbangi Dao-ku?!”Xu Ming menyeringai bengis, meski darah menetes di sudut bibirnya. “Mungkin kau terlalu lama duduk menjaga reruntuhan ini, tua bangka. Sementara aku terus melangkah maju.”BOOMM!!! Aura keduanya meledak kembali, tapi kali ini lebi
Sha Bhu menggenggam pedang tembaganya dengan sisa tenaga. Lututnya bergetar, darah segar terus menetes dari mulutnya, matanya yang buram menatap kehancuran yang sebentar lagi menimpanya.“Sepertinya, sampai di sini aku…” gumamnya lirih.Namun, tepat saat pusaran racun itu hendak menghantam, udara berubah. SSHHHHHHH! Suhu mendadak anjlok. Bersamaan dengan itu, kabut racun yang mengamuk tiba-tiba melambat, lalu membeku. Kristal es putih kebiruan merebut setiap tetes racun dari udara, membalutnya dengan lapisan beku yang berkilau dingin. Desis korosif lenyap, diganti dengan suara retakan es yang merambat cepat di sepanjang pusaran racun.“Teknik Dao Taraf Pertama : Medan Pembekuan Ekstrem!” Suara muda itu bergema lantang, menyapu seluruh lorong reruntuhan.Salju turun perlahan, butir-butir putih melayang lembut, namun membawa tekanan Dao yang menusuk tulang. Seolah musim dingin pertama baru saja turun ke dalam gua magma yang penuh racun.Kabut hijau pekat itu, yang seharusnya menelan Sha
Cahaya merah muda bercampur hitam yang menyelimuti tubuh Xu Ming perlahan meredup, menyusut masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Nafasnya stabil, meridian di dalam tubuhnya berdenyut dengan kekuatan baru. Kesadarannya kembali penuh. Ia membuka mata. Pupil hitamnya kembali jernih, namun wajahnya masih menyimpan kebingungan setelah pengalaman terobosan barusan.Yang pertama ia lihat bukanlah naga purba, bukan pula ruang spiritual, melainkan sosok mungil yang berdiri di udara dengan kedua tangan bertolak pinggang—Bing-Bing. Rambut peraknya melayang indah, tapi tatapan matanya… seperti hendak memakan Xu Ming hidup-hidup.BRAK! Tinju mungil Bing-Bing menghantam kepala Xu Ming.“Kau selalu saja membuatku hampir mati ketakutan tiap kali kau mendapat ‘keajaiban’!” teriaknya dengan wajah merah padam. “Apa kau tahu betapa paniknya diriku saat melihatmu mendadak hilang kesadaran, pupilmu putih seperti boneka mayat, sementara tubuhmu hampir meledak karena lahar panas?!”Xu Ming meringis sambil meng