“Kau yakin anak-anak itu siap?”
Suara Nenek Hua terdengar pelan, tapi tajam, saat ia menyusun gulungan daun pahit ke dalam mangkuk tembaga. Asap tipis mengepul, membawa aroma yang menusuk hingga ke paru-paru.
Kakek Mozi, berdiri di bawah pohon plum tua, tak langsung menjawab. Ia hanya menatap bocah yang duduk bersila di ujung pelataran altar batu. Xu Ming, diam, mata terpejam, napas lambat tapi berat, seperti menahan sesuatu di dalam tubuhnya.
“Tidak ada yang pernah benar-benar siap, Hua,” kata Mozi akhirnya. “Tapi jika bahkan tulang-tulang muda Desa Batu kita tak mampu menanggung kerikil pertama di kaki mereka ini, kita yang tua ini hanya bisa berdoa…”
Nenek Hua mendengus pelan. “Kau bicara seperti dewa, Pak Tua. Aku hanya ingin semua anak-anak ini menerobos dengan lancar. Termasuk Xu Ming... Aku sudah menganggapnya seperti cucuku sendiri. Aku hanya ingin dia menggenggam erat keinginannya, apa pun yang terjadi nanti.”
Keduanya mengangguk sepakat, lalu berjalan pelan menuju altar batu di depan Kolam Yin-Yang, bersiap untuk melakukan upacara pendewasaan. Altar Desa Batu telah dipenuhi warga. Sepuluh anak berdiri berjajar di tepi kolam, wajah-wajah mereka campur aduk antara tegang dan tak sabar. Di antara mereka, Xu Ming berdiri tegap, tak goyah, meskipun udara pagi itu membawa tekanan spiritual yang menusuk hingga ke sumsum.
“Kalian sudah siap?” Suara Kakek Mozi bergetar pelan saat memandang mereka. Angin pagi menyapu bau dupa dan darah esensi monster surgawi taraf lima dari Lembah Huoyan, hasil kerja keras tim pemburu yang hampir menewaskan mereka semua.
“Tuang setetes ke kolam,” ujar Kakek Mozi. “Satu saja cukup untuk membuka gerbang meridian.”
Nenek Hua melangkah ke sisi kolam. Ia membawa botol kecil berisi darah esensi monster surgawi taraf lima, cairan hitam kemerahan yang berpendar seperti lava padam. Hasil perburuan berdarah yang tak semua pemburu kembali darinya.
Saat tetes pertama menyentuh air, kolam bergetar ringan. Warna putih susu berubah menjadi pusaran yin dan yang berkilauan emas. Aura spiritual mengental. Beberapa warga sampai mundur selangkah.
Mozi mengangkat tongkatnya, lalu berseru, “Anak-anak Desa Batu! Hari ini, kalian akan menyelam ke dalam diri kalian. Menyentuh kekosongan... dan dari sana, membentuk Dao pertama kalian.”
Satu per satu, anak-anak masuk ke kolam. Airnya dingin, namun penuh kekuatan. Kolam Yin-Yang tak pernah seindah pagi itu. Cahaya lembut menari di permukaan. Energi spiritual dari darah esensi mulai mengubah air menjadi kabut bercahaya.
Xu Ming melangkah terakhir. Lututnya tak bergetar sedikit pun. Ia menatap air kolam yang berwarna putih susu dengan kilauan emas samar. Air menyentuh mata kakinya. Dingin, tapi bukan dingin biasa. Dingin yang menembus daging dan langsung menghantam inti jiwa. Ketika tubuhnya tenggelam perlahan, dunia menjadi sunyi.
Di dalam kolam, masing-masing anak memasuki alam spiritual mereka sendiri. Beberapa menggigil seperti diselimuti salju. Yang lain terbakar seperti bara. Sisanya merasa seperti melayang di ruang tanpa waktu.
Namun dari tengah kolam, sebuah getaran aneh muncul. Xu Ming tak bergerak. Tapi air di sekelilingnya mulai berdenyut. Gelembung-gelembung merah keemasan muncul dari bawah tubuhnya, naik ke permukaan.
Nenek Hua berdiri tiba-tiba. “Itu… bukan dari darah esensi monster.”
Mozi mengangkat tangan memberi isyarat diam. “Jangan ganggu.”
Lalu, ledakan pertama terjadi. Air mendidih, dan satu anak terhempas keluar dari kolam, tubuhnya terengah.
“Dia gagal?!” jerit ibunya dari barisan warga.
“Tidak,” kata Mozi yang langsung bangkit untuk menolong bocah tersebut. “Dia terlalu cepat. Meridiannya hanya terbuka satu. Tapi cukup. Dia akan bisa berkultivasi.”
Satu per satu, anak-anak lain muncul kembali. Napas mereka berat, namun mata mereka bersinar. Warga desa bersorak karena anak-anak mereka kembali sebagai calon ksatria. Semua anak sudah melakukan terobosan menjadi ksatria Taraf Satu, tersisa Xu Ming seorang, yang masih berada di tengah kolam tanpa ada tanda-tanda terobosan sedikit pun.
Namun air kolam yang semula tenang tiba-tiba mulai bergolak liar. Buih-buih merah muncul dari pusaran, mengandung panas seperti logam yang meleleh.
“Patriark!” seru Nenek Hua, wajahnya tegang.
Pak Tua itu menggertakkan gigi. “Itu… penolakan Dao!”
Langit menggelap. Awan berputar. Guntur menggema tanpa kilat.
Mozi melangkah ke tepi kolam. “Apakah darah esensi monster itu menolak mengaliri meridiannya?”
“Apakah Xu Ming akan gagal menerobos?” tanya Han Su, yang kini berdiri di sisi Mozi. Tadi ia sempat bersuka cita karena putranya berhasil menembus Taraf Satu.
“Dia mungkin saja tak hanya gagal,” jawab Mozi pelan. “Meridiannya bisa hancur. Atau lebih buruk... dia tak akan bisa berkultivasi.”
Di dalam air, Xu Ming merasakan tulangnya berguncang. Darahnya mendidih. Meridian di tubuhnya memaksa terbuka, namun Dao yang masuk terlalu padat. Terlalu murni. Ia menggigit bibir hingga berdarah. Tapi ia tidak berhenti.
“Gak… bisa… berhenti…” Xu Ming mengerang kesakitan.
Namun dalam penderitaan itu, tulang punggungnya bergetar hebat. Tiba-tiba, noda keemasan menjalar dari titik di antara jantung dan lambungnya, membasahi seluruh tulang belakang. Getaran keras seperti kayu tua diremukkan menggemuruh dari dalam tubuhnya.
Air kolam meledak ke atas, seperti ditinju dari bawah. Seketika itu juga, semburan air menyentuh langit. Kabut emas menyelimuti Xu Ming sendirian. Ia berdiri di tengah kolam kosong yang mendidih seperti kawah dewa.
Pilar cahaya perak keemasan menembus langit. Dari tengah pusaran itu, tubuh Xu Ming terlihat melayang. Tidak bergerak, tapi seluruh tubuhnya mendesis oleh uap Dao.
“Lautan jiwanya… terbuka!” teriak Nenek Hua, nyaris menjatuhkan botol darah esensi.
“Tidak…” Mozi menatap lebih dalam. “Dia... dia melompati tahap penstabilan jiwa. Dia... menyerap Dao mentah-mentah.”
“Dia... dia sedang... menembus Soul Tempering Dao - Taraf Kedua!!” jerit Hua, suaranya serak oleh takjub, matanya terbelalak.
“Tidak mungkin! Aku tidak salah melihat bukan?! Itu mustahil untuk melakukan dua terobosan dalam sekali waktu!” teriak Mozi.
Tubuh Xu Ming kini bersinar dalam dua warna: emas dan biru. Api dari tulangnya membakar setiap penghalang di jalur meridiannya. Delapan meridian utama terbuka sekaligus. Tapi bukan hanya itu, jiwanya bergetar, dan dari tubuhnya keluar pusaran emas. Tanda bahwa Lautan Jiwa mulai terbentuk. Darahnya sendiri menjadi sungai Dao. Ia tidak hanya menerobos Taraf Satu... ia sedang memaksa masuk ke Taraf Dua.
Semua orang berdiri. Detik berikutnya, seekor naga cahaya berwarna keemasan melayang di langit. Ia berputar sekali di atas kepala Xu Ming, lalu menghilang ke balik awan.
Mozi tertawa kecil, nyaris tak terdengar. “Cucumu memang bukan bocah biasa, Hua. Bayi kecil yang kau besarkan susah payah itu... dia akan menjadi orang hebat nantinya.”
Xu Ming melangkah ke tepi kolam. Ia membungkuk hormat.
“Kakek Patriark. Nenek Hua. Paman Han Su,” katanya dengan suara serak, namun dalam.
Semua menatapnya, dalam diam.
Bersambung...
SISTEM KULTIVASI: 10 TARAF DAO QI Taraf 1 : Body Tempering Dao - Penempaan Tubuh Dao (Tahap awal pembentukan Dao seseorang di jalan kultivasi. Penempaan tulang, otot, dan darah menggunakan energi alam sehingga Dao murni masuk ke dalam 8 titik meridian tubuh. Penciptaan Teknik dao taraf pertama, ciri khas dao tiap individu yang terbentuk) Taraf 2 : Soul Tempering Dao - Penempaan Jiwa Dao (Pemurnian jiwa, penstabilan tubuh dan jiwa melalui Teknik pernapasan hingga energi dao membasuh fondasi jiwa cultivator 100 kali hingga membentuk lautan jiwa (sea of souls). Pada tahap ini fondasi jiwa stabil dan seseorang dengan bakat alkimia dapat menempuh jalan penyulingan obat, karena telah mampu menahan tekanan spiritual saat proses penyulingan pil.)
Di dunia kultivasi, jarak antar tingkat bukan sekadar angka ia adalah jurang. Satu langkah kecil bisa memisahkan nasib manusia dan dewa. Seorang kultivator Taraf Empat puncak bisa memimpin sekte, menggetarkan sebuah negara. Namun begitu menembus Taraf Lima, dunia yang mereka pijak seolah berubah. Langit dan bumi merespons, Dao di sekitarnya menjadi tunduk. Apalagi Taraf Enam itu sudah merupakan makhluk langka di negeri tingkat rendah.Biasanya, seorang pendekar Taraf Enam tidak akan lagi membuang waktu di negeri kultivasi rendah. Mereka memilih pergi ke negara yang lebih tinggi, di mana energi Dao lebih padat, sumber daya lebih kaya, dan lawan lebih layak untuk mengasah diri. Maka dari itu, mendengar nama “Taraf Enam” di negeri seperti Kota Pembantaian adalah hal yang nyaris mustahil.Namun malam itu, di dalam tenda besar Camp Bayangan, sebuah rahasia yang tak seorang pun duga akhirnya terbongkar.Suasana menegang sejak Xu Ming mengucapkan kalimat itu.“Dia sebenarnya adalah seorang p
“Pendekar taraf lima lainnya?!” Suara berat Bai Simi pecah di dalam aula, matanya melebar, cambuk di tangannya bergetar tak terkendali.Kata-kata Xu Ming barusan bergema dalam pikiran semua orang yang hadir. Sesaat, udara di dalam ruangan seakan membeku. Bahkan napas berat prajurit pengawal di tepi aula terdengar jelas.Zhuge Liang menghentikan langkah mondar-mandirnya. Tubuhnya menegang, pupilnya menyempit. “Jadi bukan hanya Shi Tian, Lembah Moyan ternyata menyembunyikan satu lagi pendekar taraf lima?” gumamnya, suara rendahnya penuh ketegangan.Mo Lauzu menggeram, wajah tuanya berkerut semakin dalam. “Gila! Jika benar begitu, maka kekuatan kita selama ini sudah terlalu diremehkan. Kita semua tahu perbedaan puncak taraf empat dan taraf lima bukan sekadar satu tingkat.”Ketua Sekte Pengemis menambahkan dengan suara berat, tongkat bambu di tangannya menekan lantai. “melainkan jurang hidup dan mati. Bahkan mereka yang sudah bertahun-tahun di puncak taraf empat masih terjebak tanpa harap
Di atas langit, dua sosok masih bertarung sengit. Zhuge Liang, penguasa Kota Pembantaian, melayang dengan jubah berkibar, tombak peraknya menahan gempuran pedang hitam Shi Tian yang berlumuran aura iblis. Kedua pendekar itu seperti dewa perang yang saling mengiris langit. Xu Ming mendongak, pupilnya berkilat. Suara transmisinya menembus medan, langsung ke telinga Zhuge Liang.“Tuan Kota, kita sebaiknya mundur terlebih dahulu.”Zhuge Liang terperanjat, hampir kehilangan ritme serangannya. “Mund-mundur?!” serunya melalui transmisi. “Kenapa?! Kita belum kalah!”Xu Ming mengatupkan giginya, suaranya dalam dan penuh keyakinan. “Percayalah kepadaku, Tuan Kota! Saat ini, bertahan lebih lama hanya akan mengundang kehancuran. Aku punya cara untuk membalikkan keadaan, tapi kita harus mundur terlebih dahulu!”WHUUUMMMM!!! Langit berguncang saat Shi Tian menghantam dengan pedang hitamnya. Aura iblis meluap liar, melilit tubuhnya seperti kabut neraka. Tatapan matanya menyala buas, penuh amarah.“B
Whuushhh!!! Xu Ming menebarkan sayap naga es dan api dari manifestasi Dao-nya, tubuhnya melesat seperti anak panah. Lelaki tua itu menyilangkan tangan, melepaskan racun kental seperti kabut rawa, lalu menghantamkannya lurus ke dada Xu Ming. Duaarrr!!! Tubuh mereka berdua terpental bersamaan! Xu Ming menghantam pilar batu hingga retak, sementara lelaki tua itu menjejak lantai keras, meninggalkan bekas telapak kaki yang berasap korosif.Napas Xu Ming terengah, namun matanya masih bersinar tajam. Wajah lelaki tua itu pucat, keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Ia mendengus keras, dada naik-turun seperti tempa besi yang kehabisan arang.“Kau bajingan kecil!” lelaki tua itu meraung. “Bagaimana mungkin bocah sepertimu bisa mengimbangi Dao-ku?!”Xu Ming menyeringai bengis, meski darah menetes di sudut bibirnya. “Mungkin kau terlalu lama duduk menjaga reruntuhan ini, tua bangka. Sementara aku terus melangkah maju.”BOOMM!!! Aura keduanya meledak kembali, tapi kali ini lebi
Sha Bhu menggenggam pedang tembaganya dengan sisa tenaga. Lututnya bergetar, darah segar terus menetes dari mulutnya, matanya yang buram menatap kehancuran yang sebentar lagi menimpanya.“Sepertinya, sampai di sini aku…” gumamnya lirih.Namun, tepat saat pusaran racun itu hendak menghantam, udara berubah. SSHHHHHHH! Suhu mendadak anjlok. Bersamaan dengan itu, kabut racun yang mengamuk tiba-tiba melambat, lalu membeku. Kristal es putih kebiruan merebut setiap tetes racun dari udara, membalutnya dengan lapisan beku yang berkilau dingin. Desis korosif lenyap, diganti dengan suara retakan es yang merambat cepat di sepanjang pusaran racun.“Teknik Dao Taraf Pertama : Medan Pembekuan Ekstrem!” Suara muda itu bergema lantang, menyapu seluruh lorong reruntuhan.Salju turun perlahan, butir-butir putih melayang lembut, namun membawa tekanan Dao yang menusuk tulang. Seolah musim dingin pertama baru saja turun ke dalam gua magma yang penuh racun.Kabut hijau pekat itu, yang seharusnya menelan Sha
Cahaya merah muda bercampur hitam yang menyelimuti tubuh Xu Ming perlahan meredup, menyusut masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Nafasnya stabil, meridian di dalam tubuhnya berdenyut dengan kekuatan baru. Kesadarannya kembali penuh. Ia membuka mata. Pupil hitamnya kembali jernih, namun wajahnya masih menyimpan kebingungan setelah pengalaman terobosan barusan.Yang pertama ia lihat bukanlah naga purba, bukan pula ruang spiritual, melainkan sosok mungil yang berdiri di udara dengan kedua tangan bertolak pinggang—Bing-Bing. Rambut peraknya melayang indah, tapi tatapan matanya… seperti hendak memakan Xu Ming hidup-hidup.BRAK! Tinju mungil Bing-Bing menghantam kepala Xu Ming.“Kau selalu saja membuatku hampir mati ketakutan tiap kali kau mendapat ‘keajaiban’!” teriaknya dengan wajah merah padam. “Apa kau tahu betapa paniknya diriku saat melihatmu mendadak hilang kesadaran, pupilmu putih seperti boneka mayat, sementara tubuhmu hampir meledak karena lahar panas?!”Xu Ming meringis sambil meng