Share

49.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-11-03 04:43:02

"Mas Bagas! Kok malah melamun sih?!" sentak Sari seraya mengentakkan tumitnya ke lantai karpet beludru, kedua tangannya terlipat di bawah dada hingga aset kembar montoknya terangkat makin padat menantang.

Bagas tersentak dari lamunan masa lalunya. Cepat-cepat dia menurunkan tangan dari tepi meja jati, menekan gejolak aneh di dadanya sekaligus meredam hawa panas cincin akik hitam yang masih menyengat kulit.

"Duduk dulu, Sari," ucap Bagas berusaha tetap tenang, suaranya dibuat seberat dan sewib
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Pesugihan!   50.

    "Singkirkan tanganmu dari bajuku, Sinta," ucap Bagas dingin, menepis pelan jemari janda pirang itu dari kerah jasnya. Sinta tersentak mundur, mengerjapkan matanya menatap Bagas yang mendadak menjaga jarak. Namun, rasa mual kembali menghentak ulu hatinya. Ia membekap mulutnya sendiri seraya bertumpu pada tepi meja kerja, napasnya memburu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. "Mas... beneran, ini beda," bisik Sinta dengan nada tercekat, matanya menatap perutnya sendiri dengan rasa ngeri yang mulai merayap di balik rasa bangganya. "Rasanya... bukan cuma mual masuk angin biasa. Kayak ada sesuatu yang berdenyut kencang di dalam sini... dingin banget, Mas. Mas Bagas ngerasa juga, kan?" Bagas tidak menjawab, namun kedua matanya tertuju lurus pada perut rata wanita di hadapannya. Dari jarak sedekat itu, ia bisa merasakan aura tak wajar—hawa dingin menusuk yang sangat ia kenali dari cincin akik hitam di jarinya. Benih Raja Gagak itu benar-benar telah hidup, berakar di dala

  • Janda Pesugihan!   49.

    "Mas Bagas! Kok malah melamun sih?!" sentak Sari seraya mengentakkan tumitnya ke lantai karpet beludru, kedua tangannya terlipat di bawah dada hingga aset kembar montoknya terangkat makin padat menantang. Bagas tersentak dari lamunan masa lalunya. Cepat-cepat dia menurunkan tangan dari tepi meja jati, menekan gejolak aneh di dadanya sekaligus meredam hawa panas cincin akik hitam yang masih menyengat kulit. "Duduk dulu, Sari," ucap Bagas berusaha tetap tenang, suaranya dibuat seberat dan sewibawa mungkin layaknya pimpinan perusahaan besar. Sari melangkah ragu, lalu duduk perlahan di kursi kulit seberang meja direktur sambil meremas map lamaran di pangkuannya. Matanya yang teduh masih menatap Bagas dengan rasa takjub campur haru. "Mas Bagas beneran Direktur Utama di sini?" bisik Sari pelan, ada getaran halus di bibirnya. "Waktu lihat nama PT Gagak Ekspedisi di koran, aku nggak nyangka kalau pemiliknya itu Mas Bagas... teman kecilku dulu." "Dunia berputar cepat, Sar," balas Bagas si

  • Janda Pesugihan!   48.

    "Akhirnya... joniku kembali!" Pagi di hari keempat terbit dengan seberkas cahaya keemasan yang menembus kaca patri megah mansion Menteng. Di kamar mandi utama berlapis marmer pualam, Bagas berdiri di depan cermin wastafel besar dengan dada bergemuruh kencang. Perlahan, tangannya yang dingin meraba bagian bawah perutnya. Napas Bagas seketika tercekat lega. Daging itu kembali. Sensasi kebas dan hampa yang menyiksa selama tiga hari penuh telah lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh kejantanan utuh yang berdenyut kuat dengan hawa maskulin yang jauh lebih pekat dan kokoh dari sebelumnya. Cincin akik hitam di jarinya berkilat redup, seakan mengonfirmasi bahwa masa jeda gaib telah usai dan kekuatannya telah pulih sempurna. Bagas tersenyum miring menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan setelan jas bespoke arang gelap yang disetrika licin, menyembunyikan masa lalunya yang kelam sebagai mantan sopir ojol berpenghasilan pas-pasan. Namun, status barunya sebagai Direktur Utama PT Gagak

  • Janda Pesugihan!   47.

    Suara gedoran dan makian di luar gerbang utama mansion Menteng makin menjadi-jadi. Puluhan preman bayaran bersama kerabat keluarga Broto terus mengguncang teralis besi tempa, memuntahkan tuduhan bahwa kekayaan mendadak Bagas adalah hasil pesugihan iblis yang haram."Buka gerbangnya!" titah Bagas dingin kepada Hendrawan dan barisan satpam berbadan tegap.Krieeet...Daun gerbang besi perlahan membuka lebar. Rombongan orang-orang bayaran itu langsung merangsek masuk ke pelataran marmer dengan wajah beringas, dipimpin oleh paman Lina yang membawa sebilah tongkat kayu."Bagas! Dasar iblis pesugihan!" teriak pria paruh baya itu seraya menunjuk muka Bagas dengan mata melotot. "Keluarga kami tahu kamu cuma ojol gembel bau keringat! Kamu pasti miara tuyul atau nyembah jin buat ngedapetin rumah dan mobil ini! Kembalikan kehormatan Lina dan ganti rugi miliaran rupiah sekarang, atau kami ratakan tempat kotor ini!"Bagas melangkah maju tanpa gentar sedikit pun. Tatapannya sedingin es, menusuk luru

  • Janda Pesugihan!   46.

    Keringat dingin membanjiri pelipis Bagas, sementara tatapannya terpaku ngeri ke arah wajah Sinta yang mulai diliputi kebingungan. Setiap detik terasa bagai bilah pedang yang menggantung tepat di atas lehernya. Jika Sinta sampai mengetahui keanehan pada tubuhnya—atau lebih buruk lagi, jika ia terpancing nafsu dan melanggar pantangan Mbah Jono—kejantanannya akan musnah ditelan alam gaib untuk selama-lamanya."Mas Bagas? Kamu kok diem aja?" desak Sinta dengan kening berkerut dalam, tangannya yang lentik mulai meraba turun hendak memastikan keganjilan yang baru saja ia rasakan. "Tadi malam padahal perkasa banget... kenapa sekarang rata begini, Mas? Kamu pakai korset penahan atau gimana sih?"Melihat tangan Sinta yang kian mendekat ke area terlarang, Bagas langsung bertindak cepat didorong rasa panik yang membakar. Dengan gerakan menyentak, kedua tangannya mencengkeram bahu Sinta dan mendorong tubuh janda pirang itu mundur selangkah."Cukup, Sinta!" bentak Bagas dengan suara ditekan serend

  • Janda Pesugihan!   45.

    Bagas menatap manik mata Mbah Jono yang keruh namun memancarkan kilat dingin tak berperasaan. Kata-kata dukun tua itu bagaikan vonis gantung yang dipalu tepat di ubun-ubunnya. "Tiga hari... jangan mendekati wanita..." bisik Bagas dengan suara tercekat di tenggorokan, jemarinya mengepal di atas lutut hingga kukunya menancap ke telapak tangan. "Kalau saya melanggar, apa yang hilang tidak akan pernah kembali?" "Iblis tidak pernah bercanda dengan syaratnya, Bagas," potong Mbah Jono datar, membalikkan sebatang dupa kecil hingga serbuk apinya memercik merah. "Milikmu sedang dijadikan jaminan di alam gaib. Benih Raja Gagak yang kau tancapkan di rahim janda itu butuh waktu tiga kali putaran fajar untuk berakar sempurna menjadi janin iblis. Tubuhmu dikosongkan agar hawa nafsumu tidak merusak bibit neraka itu. Sekarang, pulang. Kunci dirimu di rumah pualammu sampai hari ketiga tiba!" Ketakutan Bagas kian menjadi-jadi saat ia meraba kembali bagian depan celananya. Masih rata. Masih hampa. Sen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status