TUMBAL JANDA PERAWAN

TUMBAL JANDA PERAWAN

last updateLast Updated : 2026-10-12
By:  Dre LAUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Cari janda-janda perawan, maka kamu bisa kaya-raya dalam semalam!" Dihina dan dipermalukan keluarga istrinya, Bagas nekat menjual jiwa kepada Raja Gagak. Seketika, kekayaan dan kekuasaan membanjiri hidupnya. Namun, semua itu punya harga, ia harus terus memenuhi tumbal yang tak masuk akal. Jika menolak, nyawanya melayang! Jika menurut, siapa yang bisa menjamin ia tak akan kehilangan segalanya?

View More

Chapter 1

BAB 1.

"Sadar diri, Bagas!”

Gelegar suara Bu Ratna—ibu mertuanya— langsung menusuk indera pendengaran Bagas, membuat semua orang menoleh ke arahnya.

“Berapa uang yang kamu kasih, hah? Masih untung, aku kasih kamu makan ya, uang yang kamu kasih itu nggak seberapa! Uangmu nggak cukup buat beli beras, lauk, sayur!”

Suasana meja makan mendadak hening. Piring seng dibanting ke depan Bagas sampai bunyinya berdenting nyaring memekakkan telinga.

Di atas piring itu cuma ada dua biji ceker ayam pucat seperti dimasak asal-asalan, tanpa bumbu, dan tidak menggairahkan selera sama sekali. Kuahnya pun bening encer, tak ada aroma kaldu, seperti hanya diberi air saja.

“Sekarang harga bahan pokok mahal. Kamu pikir dengan uang yang kamu kasih, aku bisa masak steak wagyu, heh? Jangan banyak ngarep, Gas! Masih syukur, aku kasih kamu nasi lengkap sama lauknya. Aku ini mertua yang baik, kalau orang lain yang jadi mertua kamu, jangankan makan satu meja, ngelihat muka kamu aja udah muak! Dasar menantu nggak guna!”

Cacian, hinaan, dan kata kasar-kasar yang terlontar sudah bukan hal baru. Bagas sadar akan posisinya, tapi setiap manusia jelas memiliki batasan.

Bagas melirik sang kakak ipar, makanan di piring Nurdin beda, perbedaan itu bak bumi dan langit. Terbentang jelas, pilih kasih yang secara terang-terangan.

Di situ Nurdin, kakak iparnya yang berstatus pegawai negeri sipil menggunakan piring keramik penuh dengan potongan dada ayam goreng, montok berbumbu kuning gurih, lengkap pakai sambal terasi dan lalapan segar.

Bahkan aroma sedap menguar sampai ke indera penciuman Bagas, membuatnya menelan ludah. Air liurnya hampir tumpah sampai sang mertua kembali mengoceh.

“Makan tuh ceker!” hardik Bu Ratna sambil melirik sinis. “Makanan itu udah cocok dengan gajimu yang imut. Nggak usah banyak protes!”

“Kalau Nurdin ya jelas beda, Nurdin kan menantu kebanggaan keluarga, PNS gitu loh! Masa depannya jelas, gajinya jelas, tunjangan di hari tua juga ada! Pantes makan makanan enak. Nah kamu?” Tatapan Bu Ratna sangat menghakimi.

“Kamu itu cuma sopir ojol, gaji nggak nentu. Kadang bawa uang, kadang enggak, dan lebih seringnya bawa uang kecil. Udah hari-hari bau keringat, malu-maluin keluarga. Gitu kok masih ngarep makanan mewah. Ngaca, Gas!"

Bagas merapatkan bibir, tak membalas. Ia hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja sampai buku-buku jarinya memutih.

Jaket hijaunya yang pudar masih tersampir di sandaran kursi. Bagas memang hanya ojol, tapi setidaknya ia masih berkontribusi memenuhi kebutuhan rumah. Kadang mengisi token listrik, kadang membeli beras, kadang membelikan makanan kesukaan sang mertua untuk menyenangkan hati wanita paruh baya itu, tapi semua yang ia lakukan tidak pernah dianggap.

Pengorbanannya tak tampak, meski seharian ia memeras keringat, menembus panas dan debu jalanan demi mengumpulkan uang seratus lima puluh ribu untuk diserahkan ke rumah ini. Uang yang didapatnya dengan susah payah. Tapi tiap pulang, cuma hinaan yang terlempar tepat ke wajahnya.

Bagas menoleh ke samping, menatap Lina, istrinya. Berharap ada sedikit pembelaan atau rasa kasihan dari wanita yang sudah dua tahun ia nikahi itu. Bukankah selama ini ia sudah berusaha membahagiakan istrinya itu?

Namun, bukan pembelaan yang ia dapat, Lina malah melipat tangan di dada dan buang muka sambil mendengus mencibir. Seakan membenarkan semua hinaan itu.

"Nggak usah liat-liat aku kayak gitu, Mas!” sembur Lina tanpa sedikit belas kasih.

“Apa kata Ibu bener semua kok. Aku tuh sampai malu tiap kumpul keluarga sering dijadiin bahan gosip, Mas! Keluarga besarku sering ngerendahin aku karena aku nikah sama ojol!”

Bagas tersentak, tapi dia hanya diam. Jika istrinya merasa rendah karena pekerjaannya, lalu apa yang harus ia lakukan? Bagas sudah berusaha keras mencari pekerjaan lain, tapi menemukan pekerjaan itu tak semudah membalikkan tangan. Ada banyak kriteria yang harus dipenuhi, pendidikan tinggi, penampilan menarik, dan tetek-bengek yang lain.

“Mas Nurdin tiap bulan kasih Mbak Rika uang belanja berjuta-juta, beliin emas, ngajak jalan-jalan ke mal. Beli baju bagus tiap hari, beli kosmetik mahal, kalau mau beli apa-apa nggak usah mikir banyak hal. Nggak kayak aku!”

Lina meluapkan segala kekesalan yang mengendap. Hidupnya jauh lebih menderita, jauh lebih susah. Padahal ia tidak jelek-jelek amat, tapi sayang, nasibnya malah berjodoh dengan ojol. Suami yang tidak bisa memberinya kebahagiaan.

“Lah kamu? Apa yang kamu kasih?” Lina membuang napas kesal. “Cuma bisa bawa pulang uang nggak seberapa. Uang receh, lecek, bau bensin pula! Kalau tahu hidup sama kamu cuma makan ati begini, mending dari dulu aku minta cerai!"

"Lin... aku banting tulang dari subuh sampai malam juga demi kamu, demi makan kita sekeluarga," sahut Bagas pelan, menahan sesak yang membakar rongga dadanya. Menahan emosi dan perasaan rendah. Jika ia dihina oleh orang lain, Bagas masih sanggup menahannya, tapi ini istrinya sendiri.

"Halah, alasan basi!" potong Nurdin sambil mengunyah dada ayamnya santai, sengaja mengecap keras di depan Bagas. "Laki-laki itu dinilai dari isi dompetnya, Gas. Kalau cuma modal omong, modal kerja seadanya, ya tahu diri aja.”

Tawa sinis seketika pecah di meja makan. Bu Ratna, Lina, dan Nurdin saling berpandangan puas melihat Bagas terpojok tak berkutik.

“Harusnya kamu sadar diri, istri kamu nggak cuma butuh cinta, dia butuh perawatan, butuh pakaian bagus, kalau kamu nggak bisa ngasih itu semua. Itu tandanya kamu udah gagal jadi suami.” Nurdin mengulum senyum miring.

“Sekarang, nggak usah banyak omong. Makan tuh ceker, atau kalau gengsi, mending angkat kaki sana dari rumah ini!”

Bagas menatap dua ceker ayam di depannya. Rasanya bukan sekadar makanan sisa, tapi harga dirinya sebagai kepala rumah tangga yang diludahi habis-habisan. Ia merasa tidak dihargai.

Napasnya memburu. Bagas langsung berdiri sampai kursinya berderit keras. Perutnya yang tadi lapar, sekarang sudah kenyang karena hinaan dan caci maki.

“Kenapa? Mau ngambek kamu?!” bentak Bu Ratna melotot tajam. “Pergi sana sekalian bawa motor rongsokanmu itu! Malu-maluin aja. Motor butut kayak gitu dipake!”

“Cukup."

Bagas hampir kehilangan kendali, tapi dia masih bisa mengendalikan emosi.

Bagas melirik Lina, Bu Ratna dan Nurdin. Ia menyambar jaketnya, berbalik, lalu melangkah lebar keluar dari rumah tersebut tanpa menoleh lagi.

***

Bagas meminggirkan motornya di dekat emperan warung kopi pinggir jalan yang sudah sepi dan tutup.

Pria itu duduk di atas jok motornya yang robek, menatap jalanan gelap dengan napas sesak.

“Kenapa hidupku gini amat, ya?” gumam Bagas sambil memukul setang motornya pelan. Emosi, kecewa, dan rasa rendah diri bercampur menjadi satu.

“Aku memang bukan PNS, bukan pekerja kantoran, tapi bukan berarti mereka bisa nginjak-nginjak harga diriku sesuka hati!”

Hinaan dan cacian itu menghadirkan rasa putus asa dan dendam yang perlahan memenuhi dada, hingga di titik rendahnya, telinga Bagas tanpa sengaja mendengar obrolan santai dua bapak-bapak yang sedang berteduh di teras ruko kosong samping warung.

“Eh, pernah denger pesugihan tumbal di kaki Gunung Salak nggak?” bisik salah satu bapak dengan suara berat.

Bagas masih bisa mendengar suara itu meski samar-samar. Punggungnya tiba-tiba menegak, indera pendengarannya mendadak menajam.

"Yang dukunnya Mbah Jono itu, kan?" timpal temannya sambil mengisap rokok dalam-dalam.

"Iya, bener! Katanya bisa bikin cepet kaya mendadak dalam semalam tanpa perlu banting tulang kerja rodi. Tapi ya gitu, syarat tumbalnya ngeri... harus nyerahin janda perawan buat disetubuhi jin penunggunya."

Mendengar kata-kata itu, Bagas sempat tersentak. Dadanya berdegup kencang seakan ia tengah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya.

‘Kaya mendadak? Kalau aku kaya, bukankah aku bisa membalas mereka!?’

Namun, sedetik kemudian Bagas menggelengkan kepalanya keras-keras, dia pun segera mengusap wajahnya.

“Istighfar, Bagas... jangan gila,” gumamnya mengingatkan diri sendiri. “Hari gini nggak ada ceritanya dukun-dukunan!”

“Tapi gimana kalau itu beneran ada?!”

Bagas terdiam sejenak. Diam-diam hatinya tertarik, tapi akal sehatnya terus menahannya.

“Ah! Sial! Sadar, Gas! Sebajingan apa pun mereka menghina, jangan sampai memilih jalan yang salah. Itu musyrik dan jual jiwa ke iblis. Ingat, di atas langit, masih ada Tuhan, aku masih bisa cari rezeki halal buat buktiin ke Lina."

Bagas menarik napas panjang, berusaha menepis godaan sesat pesugihan itu. Meski hatinya penuh dengan kekecewaan, ia tak ingin mengambil jalan pintas. Ia masih memikirkan istrinya.

Bagas memutuskan untuk pulang ke rumah, berniat bicara baik-baik dengan Lina dan melupakan pertengkaran di meja makan tadi.

Namun....

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status