Mag-log in"Pak Reyhan, apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda ucapkan?"
Petugas berwajib menatap Reyhan dengan pandangan serius. Ruangan itu kini dilingkupi keheningan yang mencekam. Semua orang menahan napas, tidak percaya dengan keputusan gila yang diambil oleh sang CEO muda.
"Saya sadar sepenuhnya," jawab Reyhan, suaranya terdengar sangat tenang, datar, namun sarat akan ketegasan seorang pria yang tidak akan menarik kembali kata-katanya. Dia berdiri tegap, menghalangi tubuh Malikha dari jangkauan siapa pun. "Malikha tidak bersalah. Dia hanya melakukan apa yang saya perintahkan. Jika ada hukum yang dilanggar, maka sayalah yang harus menanggung akibatnya."
"Mas... tidak, Mas! Jangan lakukan ini!" jerit Malikha dari belakang punggung Reyhan.
Air matanya tumpah ruah, membasahi seluruh wajahnya. Dadanya terasa seolah dihantam gada besar hingga hancur berkeping-keping. Sisi rapuh Malikha terguncang hebat; dia tidak pernah menyangka bahwa pria yang biasanya sedingin es dan begitu mengagungkan posisinya, kini rela menjatuhkan harga diri dan kebebasannya ke dalam jurang kehancuran demi melindunginya.
Ibu Karina yang melihat situasi itu langsung tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. Meski target awalnya adalah Malikha, menyeret Reyhan langsung ke dalam penjara adalah pencapaian terbesar yang jauh melampaui ekspektasinya. Takhta CEO yang selama ini dia incar kini kosong begitu saja.
"Petugas, Anda sudah mendengar pengakuannya sendiri secara langsung," sahut Ibu Karina dengan nada mendesak, memanas-manasi keadaan. "Hukum tidak memandang jabatan. Jika dia sudah mengaku sebagai dalang di balik dokumen palsu dan penggelapan dana ini, silakan proses sesuai aturan!"
Petugas berwajib mengangguk tegas. Salah satu dari mereka melangkah maju, mengeluarkan sepasang borgol besi dari pinggangnya. Bunyi dentingan besi yang dingin itu menggema di ruangan, menyayat hati Malikha yang mendengarnya.
"Berdasarkan pengakuan Anda, Pak Reyhan Al-Fahri, Anda kami tahan atas dugaan kasus penggelapan dana perusahaan. Silakan ikut kami ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujar petugas tersebut sembari mengunci borgol besi itu di kedua pergelangan tangan Reyhan.
KLIK!
Suara kunci borgol itu terdengar seperti vonis mati bagi Malikha. Dia mencoba merangsek maju, mencengkeram lengan jas Reyhan dengan erat, menolak untuk melepaskannya. "Tidak! Jangan bawa suami saya! Dia berbohong, Pak! Dia tidak melakukan apa-apa! Tolong lepas..."
"Malikha," potong Reyhan lembut.
Pria itu membalikkan tubuhnya yang terborgol, menatap Malikha untuk terakhir kalinya sebelum dibawa pergi. Tidak ada ketakutan di dalam sepasang mata legam milik Reyhan. Yang ada hanyalah tatapan hangat, teduh, dan penuh ketenangan sebuah tatapan yang mempertegas bahwa dia tidak menyesali pengorbanannya.
"Jaga dirimu baik-baik. Percayalah pada Mas," bisik Reyhan begitu halus, tepat di depan wajah Malikha.
Detik itu juga, saat petugas menarik tubuh Reyhan untuk melangkah keluar ruangan, sesuatu di dalam dada Malikha bergejolak hebat. Rasa tidak terima dan tidak tega berkecamuk menghancurkan seluruh ketenangannya. Pikiran Malikha langsung melayang pada semua kebaikan Reyhan selama ini. Pria itu sudah berulang kali menyelamatkan hidupnya. Reyhan yang berani datang sebagai pahlawan di rumahnya, berdiri sebagai perisai hidup yang melindunginya dari amukan ibu tiri, bahkan tanpa ragu melunasi utang besar keluarganya agar dia bebas dari tekanan.
Bagaimana mungkin sekarang dia membiarkan pria yang telah mengembalikan martabat hidupnya itu diseret ke penjara atas fitnah yang memakai namanya? Rasa bersyukur yang teramat besar berbaur dengan rasa bersalah yang mencekik tenggorokannya. Malikha benar-benar tidak sanggup melihat Reyhan menanggung hukuman dingin di balik jeruji besi demi dirinya.
"Mas Reyhaaan!" tangis Malikha pecah, histeris menembus koridor lantai eksekutif saat melihat punggung tegap Reyhan digiring pergi oleh para petugas, dikerumuni oleh jepretan kamera wartawan yang mendadak muncul di lobi atas arahan Ibu Karina.
Malikha jatuh terduduk di lantai koridor yang dingin. Tubuhnya bergetar hebat, lemas tak bertulang. Di dalam genggaman tangannya yang gemetar, dia meremas selembar kertas yang sempat dia ambil dari tas kerjanya tadi robekan kertas kontrak pernikahan mereka. Kertas yang awalnya menjadi simbol batasan dan jarak di antara mereka, kini justru terasa seperti pisau yang mengiris-iris nadinya, mengingatkannya bahwa dia harus segera bergerak membalas budi pria itu.
Ibu Karina berjalan melewati Malikha yang sedang menangis tersedu-sedu, lalu berbisik dengan nada mengejek yang sangat kejam. "Menangislah sepuasmu, Malikha. Suamimu tidak akan pernah keluar dari penjara itu hidup-hidup. Permainan ini... sudah selesai."
Malikha mendongak dengan mata memerah penuh air mata, menatap Ibu Karina dengan dada yang sesak oleh rasa benci dan dendam. Dia sendirian sekarang, suaminya ditahan, dan musuh mereka sedang tertawa di atas takhta. Bagaimana nasib Reyhan di balik jeruji besi? Dan apa yang akan dilakukan Malikha dengan robekan kertas kontrak di tangannya untuk membalas dendam?
Langkah kaki Reyhan terasa sedikit lebih ringan saat melangkah keluar dari halaman rumah keluarga besar. Pengumuman dimajukannya rapat pemegang saham luar biasa memang seperti vonis mati bagi kariernya, tetapi respons tenang yang ia tunjukkan di hadapan para paman setidaknya berhasil menahan gelombang prasangka buruk yang lebih parah.Di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke rumah lama pinggiran kota, Malikha duduk di sampingnya. Ia melirik suaminya dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga."Mas Reyhan luar biasa tadi," tutur Malikha lembut, memecah keheningan di antara mereka. "Mas berhasil mengendalikan ego dan tidak terpancing provokasi Om Burhan. Cara Mas menerima pembekuan itu dengan adab yang tinggi justru membungkormu mulut orang-orang yang menuduh Mas tidak objektif."Reyhan tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang sembari menatap jalanan di depannya. "Aku tidak akan bisa melakuka
Pagi hari di halaman samping rumah keluarga Al-Fahri terasa begitu mencekam. Pertemuan keluarga besar yang mendadak digelar oleh Om Burhan tidak bertempat di ruang rapat kantor pusat, melainkan di kediaman senior keluarga. Keputusan ini diambil secara cerdik untuk menciptakan tekanan sosial yang kuat dari sanak saudara, sekaligus menghindari pengawasan publik.Reyhan dan Malikha berjalan berdampingan memasuki ruangan. Tatapan dingin dan bisik-bisik miring dari para paman, bibi, serta sepupu langsung menyambut kehadiran mereka. Malikha menggenggam jemarinya sendiri di depan gamisnya, mencoba menata debaran dada sembari mempertahankan adab dan ketenangannya. Di sampingnya, Reyhan melangkah dengan rahang yang mengeras, berusaha menahan amarah yang bergolak di dalam batin."Terima kasih sudah datang, Reyhan, Malikha," panggil Om Burhan dari ujung meja kayu panjang, tersenyum dengan raut prihatin yang dibuat-buat di hadapan belasa
Surat panggilan sidang pleno darurat yang terpampang di layar gawai membangkitkan badai baru sebelum fajar menyingsing. Tanpa menunggu pagi, Reyhan langsung menggunakan akses akun pimpinan senior miliknya untuk menahan draf keputusan pencopotan permanen tersebut melalui portal resmi yayasan. Namun, harapan itu hancur berantakan dalam hitungan detik. Layar gawai hanya menampilkan pesan merah tebal: Akses Ditolak. Kewenang Hak Asah Anda Telah Dinetralkan oleh Sekretariat Komisaris.Reyhan mendengkus kasar, melempar gawai itu ke atas meja kayu hingga berdentang nyaring. "Sistem portal pimpinan sudah mengunciku keluar, Malikha! Om Burhan mencabut seluruh hak akses eksekutifku sebelum sidang pleno bahkan dimulai besok pagi. Ini bukan lagi ancaman, ini pembantaian wewenang secara sepihak!"Malikha yang berdiri di dekat lemari pendingin segera menghampiri suaminya. Wajahnya tet
Pintu depan tertutup pelan, meninggalkan keheningan tebal setelah kepulangan Pak Maman. Saksi kunci yang paling mereka harapkan telah mundur karena termakan narasi palsu Om Burhan. Kekalahan itu memukul telak benteng pertahanan mental Reyhan. Di ruang tengah rumah lama, pria itu duduk di lantai berbingkai karpet tipis, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa kayu dengan tatapan kosong.Malikha berjalan dari arah dapur membawakan segelas air putih hangat. Ia menaruh gelas itu di meja kecil, lalu ikut duduk bersila di atas lantai, menjaga jarak beberapa jengkal dari suaminya demi memelihara adab dan kesantunan yang anggun."Mas Reyhan, minum dulu," panggil Malikha dengan nada bicara yang begitu lembut, mencoba mengurai ketegangan yang membeku di wajah sang suami.Reyhan meraih gelas tersebut, jemarinya bergetar pelan. Suara seraknya memecah keheningan. "Aku gagal lagi, Malikha. Satu-satunya saksi ku
Suasana pagi di rumah lama pinggiran kota terasa begitu menenangkan saat mentari menembus celah jendela. Di meja makan kayu, Malikha baru saja menuangkan teh hangat ke cangkir Reyhan. Namun, ketenangan privat itu mendadak terusik ketika Hendra datang membawa lembaran draf cetakan dari grup komunikasi internal yayasan Al-Fahri."Ada apa, Hendra?" tanya Reyhan, menghentikan gerakannya yang hendak menyesap teh.Hendra menunduk ragu, lalu meletakkan lembaran draf tersebut di atas meja. "Mohon maaf, Pak Reyhan, Bu Malikha. Om Burhan dan tim dewan baru saja memublikasikan narasi resmi mengenai alasan pembekuan jabatan Anda. Pesannya dikemas sangat halus, seolah-olah dewan sedang berusaha menyelamatkan reputasi keluarga."Reyhan mengambil kertas itu dan membacanya. Wajahnya perlahan memerah, rahangnya mengetat menahan amarah yang meletup. Dalam narasi tersebut, Om Burhan tidak menggunakan kata tuduhan kr
Malam beranjak hangat di rumah lama pinggiran kota. Sebuah lampu gantung menyala temaram di atas meja kayu sederhana, menerangi dua piring nasi goreng telur buatan Malikha. Aroma bumbu tumis yang harum memenuhi ruang makan kecil itu, menggantikan atmosfer kaku yang biasa menyelimuti meja rapat Al-Fahri."Mas Reyhan, dicoba dulu," tutur Malikha lembut sembari menarik kursi kayu untuk duduk di hadapan suaminya. Ia tetap menjaga jarak dan adab kesantunan yang anggun, menatap Reyhan dengan binar mata yang Teduh.Reyhan memegang sendoknya, lalu menyuapkan porsi kecil ke dalam mulutnya. Sebuah senyuman tulus yang sudah lama menghilang akhirnya terbit di wajah pria itu. "Masakanmu selalu punya cara untuk menenangkan pikiranku, Malikha. Di sini, tanpa gelar CEO dan riuk-piuk kantor pusat, rasa makanannya justru jauh lebih nikmat.""Alhamdulillah jika Mas menyukainya," balas Malikha dengan rona merah tipis
Ruang pemeriksaan di lantai eksekutif terasa sedingin es. Malikha duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Di hadapannya, bukan lagi sekadar auditor internal, melainkan dua orang petugas berwajib berseragam lengkap yang sengaja didatangkan oleh kubu Ibu K
Ketenangan yang baru saja dirasakan Malikha di lantai lima tidak bertahan lama. Di lantai paling atas gedung pencakar langit ini, sebuah badai yang jauh lebih besar dan merusak sedang dipersiapkan untuk menghancurkan hidupnya dan juga Reyhan.Ibu Karina, salah satu petinggi perusahaan sekaligus mus
Ketegangan di ruang tamu rumah sederhana itu membuat dada Malikha terasa sesak. Di hadapannya, sang ibu tiri bersama saudara tirinya menatap dengan pandangan menuntut yang begitu dingin."Jangan egois, Malikha! Keluarga kita sedang terlilit utang besar. Menikah dengan pria pilihan Ibu adalah satu-s
Bertahun-tahun terlilit hutang, disiksa ibu tirinya hingga Ia lelah bekerja dan terpojokkan ketika semua utang itu akhirnya menumpuk. Ketika semuanya perlu dibayarkan segera, Malikha tidak pernah menyangka Ia sepasrah ini.Ia akan melakukan suatu hal gila dengan bosnya sendiri demi kepentingan masi







