Home / Fantasi / Tabib Sakti Tak Terkalahkan / Bab 02. Melarikan diri.

Share

Bab 02. Melarikan diri.

Author: Zayn Z
last update Last Updated: 2024-07-02 08:23:04

Bab 02. Melarikan diri.

Di sudut gelap sel penjara klan Song, Shizi terduduk lemah, menyandarkan tubuhnya yang penuh luka dan darah mengering di dinding dingin. Rasa sakit di tubuhnya seolah menghilang, tertutupi oleh kekhawatiran mendalam tentang keadaan ibunya.

Pikirannya melayang pada kenangan terakhir yang buruk,melihat ibunya terjatuh tak berdaya saat Song Ong dan pengikutnya dengan brutal menghajarnya hingga pingsan.

Shizi menarik napas dalam-dalam, menatap jeruji besi yang menjadi penghalang antara dia dan dunia luar.

Bagi sebagian orang, sel ini adalah simbol dari kehilangan dan putus asa, namun bagi Shizi, sel ini adalah tempat perlindungan yang menawarkan jeda dari kekejaman Song Ong dan para anteknya.

Di sel sempit inilah, setidaknya, ia dapat bernafas tanpa rasa takut akan serangan mendadak yang selalu mengintai.

Shizi menatap dinding sel tempat barisan garis darahnya terukir.

"Empat puluh satu, sekarang empat puluh dua," ujarnya pelan, suaranya terbata-bata, sambil mengoleskan darah dari tubuhnya ke dinding.

Sudah puluhan kali dia berada di ruangan penjara klan Song ini, dengan keadaan yang tak berubah.

"Enam belas, umurku kini enam belas tahun," katanya lagi dengan suara lirih, menatap angka kecil yang dibuatnya dari darah di dinding sel.

"Selama itu pula ibu melindungiku... Bagaimana keadaan ibu sekarang?" gumamnya lirih.

Shizi terhenti dari lamunannya saat mendengar derap langkah kaki yang mendekat. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya, merangkak mendekati jeruji besi yang memisahkan ruangannya.

Tubuhnya yang lemah berusaha keras untuk berdiri, merapat dan menempel di jeruji, mata memicing mencoba mengenali sosok yang datang.

Seorang pria muda berjalan memasuki ruangan dengan wajah yang dingin. Shizi, meski dengan hati yang was-was, langsung mengenali dia. Song He, adik tiri dari Song Ong.

"Tuan muda He, tolong beritahu aku... bagaimana keadaan ibuku?" suaranya tergagap, penuh dengan kecemasan yang nyaris meneteskan air mata.

Walau Song He terkenal dingin, Shizi memiliki rasa hormat mendalam padanya, karena meskipun jarang, Song He telah menunjukkan kebaikan pada dirinya. Dari dia juga Shizi bertemu dengan Wang Suyi, teman baiknya kini.

"Aku sudah meminta seseorang membawa ibumu ke tabib di luar klan, tapi aku tidak tahu kondisi terkininya," ujar Song He dengan nada datar.

Shizi terhenyak, di tengah kekhawatirannya terhadap ibunya, ia benar-benar terkejut dengan perkataan Song He.

Sebelum Shizi sempat merespons, Song He melanjutkan, "Kakak tiriku telah melaporkan hal ini pada ayah. Selain itu, Song Ong telah menuduhmu mencuri koin emas miliknya."

"Tempat tinggalmu telah digeledah dan disana ditemukan kantong emas milik Song Ong di bawah tempat tidurmu. Atas dasar itu, telah diputuskan bahwa kau akan dihukum berat karena menyerang Song Ong hingga melukainya dan atas tindakan pencurian itu!"

“Kau akan dihukum lima puluh kali pukulan dengan tongkat, jika itu dilakukan dalam keadaanmu yang sekarang maka jelas kau akan mati karenanya!” jelasnya dengan datar.

Shizi tak bisa berkata, ia benar benar tak percaya jika Song Ong bertindak sejauh itu padanya.

Sedangkan Song He pun dalam diamnya ia melayangkan pikirannya pada suatu hal dimana apa yang terjadi pada Shizi pun ada andil dirinya di dalamnya.

Ya, Shizi mengenal dan dekat dengan Wang Suyi, gadis yang disebut-sebut sebagai yang tercantik di kota. Sudah lama Shizi berperan sebagai perantara, mengantarkan pesan dan barang kepada Wang Suyi yang menjadikan keduanya sebagai sahabat.

Tak hanya sahabat, Song He bisa melihat jika kedekatan keduanya menjadi berbeda karena kesamaan dalam pemikiran, rasa nyaman dan banyaknya pertemuan yang terjadi, sehingga rasa itu semakin menguat, seolah ada benang tak kasat mata yang terus mengikat  Wang Suyi pada Shizi.

Cring!

Song He bergerak gesit mengambil sesuatu dari balik jubahnya, tangannya memunculkan sebuah jarum akupunktur besar yang biasa digunakan pada kuda. Jarum itu berdenting saat mendarat di lantai tak jauh dari tempat Shizi berdiri.

Dari saku lainnya, ia mengeluarkan bungkusan kain kecil dan melemparkannya ke arah Shizi yang dengan tangkas menangkapnya.

Wajahnya datar namun mata Song He terlihat serius saat ia berbicara, “Aku sempat mendengar percakapan antara ibuku dan selir ayah—mereka berbicara tentang ayahmu. Katanya dia orang berpengaruh di kerajaan, aku sendiri tidak tahu kebenarannya.”

Nafasnya tersendat sejenak sebelum melanjutkan, “Dan asal-usul ayahmu, mungkin ada kaitannya dengan benda yang ada di tanganmu sekarang.”

Shizi membolak-balik bungkusan di tangannya, penasaran dan cemas.

“Benda ini,” lanjut Song He, suaranya lebih pelan, “aku ambil dari kamar ayahku ketika mereka tidak menyadari.”

Shizi tertegun, jelas itu hal baru untuknya karena ibunya sendiri tak pernah menceritakan apapun tentang ayahnya. Ia benar benar terkejut sampai tak tahu harus berbuat apa, yang ia lakukan hanya menatap bungkusan kain kecil di tangannya dengan perasaan campur aduk.

“Aku tidak bisa membantumu untuk keluar apalagi menyelamatkanmu jadi carilah cara untuk menyelamatkan hidupmu.” Ucap Song He sambil menunjukan raut wajah datar.

Song He akan berkata kembali namun tampak raut wajahnya menunjukan keraguan untuk menyampaikan hal tersebut pada Shizi, setelah berpikir sejenak ia pun membulatkan tekad untuk mengatakannya. 

“Hukumanmu akan dilaksanakan hari ini pada tengah malam,” ujarnya yang setelahnya Song He kemudian membalikan badannya dan berlalu dari tempat tersebut.

Melihat itu, segera Shizi angkat bicara.” Tuan muda, kenapa kau membantuku?!” tanya Shizi serius.

“Anggap saja kau berhutang padaku, karena kau berhutang maka kau harus membayarnya di kemudian hari. “

Song He membalikan badannya dan berjalan menjauh dari sel, baru berjalan beberapa langkah ia berhenti berkata tanpa kembali.

“Hanya orang hidup yang bisa membayar hutang, orang mati tidak bisa melakukannya!” Ujar Song He tanpa menoleh ke arah belakang dimana Shizi berada.

Shizi yang mendengar perkataan Song He pun langsung angkat bicara.

”Tuan muda, aku berjanji…. Aku berjanji jika aku keluar dari sini hidup hidup maka aku akan membalas kebaikanmu ini tuan muda!” seru Shizi diakhiri dengan membungkukkan badannya.

“Aku menunggu saat itu!” jawabnya singkat.

Song He kembali berjalan sambil berkata dalam hatinya. ”Jika apa yang dibicarakan ibu dan para selir benar, maka ada kemungkinan Shizi bisa kugunakan untuk membantuku kedepannya!” Batin Song He.

Song He pun segera berlalu, Shizi yang memperhatikannya hanya bisa melihat punggung Song He yang menghilang dari pandangannya setelah beberapa saat.

Setelahnya Shizi mulai berpikir dengan cepat, ia kemudian memasukan bungkusan kain kecil ke balik pakaian bawahnya. Dari sana ia segera mengambil jarum besar yang ada di lantai diluar sel.

Dengan susah payah ia meraih benda tersebut, setelah mendapatkannya segera ia gunakan jarum akupuntur hewan itu itu untuk mengakali gembok besar di luar sel yang menjadi kunci selnya.

“Aku harus melarikan diri dari sini…. Aku tidak akan bisa membalas dendam jika mati!“ Gumamnya pelan namun penuh tekad.

Dengan hati hati ia berusaha membuka gembok besar yang ada dengan jarum besar tersebut, dengan penuh perasaan ia berusaha mencari titik yang mengunci gembok sebesar telapak kakinya itu.

Klek!

Suara kaitan yang terlepas membuat senyum di wajah Shizi mengembang, dengan perlahan ia melepaskan gembok tersebut lalu menaruhnya di lantai. Dengan sekuat tenaga ia memaksakan diri untuk berjalan keluar.

Beruntung baginya karena sel klan Song selalu tidak dijaga, para penjaga dan pelayan di dalam klan lebih berfokus pada pengamanan dan pelayanan di kediaman utama sehingga sel di dalam clan tidak pernah dijaga.

Itu terjadi karena sangat jarang sekali anggota klan yang ditahan, hanya Shizi saja lah yang rutin menghuni tempat tersebut.

Dengan menggunakan sebuah tongkat kayu usang yang ada di lorong sel Shizi mulai berjalan, meski tertatih ia berusaha dengan cepat untuk keluar dari sana mengingat kebiasaan yang ada di dalam klan.

Dalam hatinya Shizi bersyukur sedari kecil ia melakukan banyak pekerjaan sehingga ia tahu seluk beluk kediaman klan dan rutinitas orang orangnya dimana hal itu kini membantu dirinya untuk bisa keluar dari penjara dan kediaman utama tanpa menemui banyak hambatan.

Dengan nafas berat dan langkah tertatih, Shizi memasuki gang sempit yang hanya ia yang tahu.  Jalan itu adalah jalan yang diketahuinya dan jarang dilewati oleh banyak pelayan.

Menyelinap di antara celah sempit rumah tua dan tembok pembatas klan, detak jantungnya semakin kencang. Tiba-tiba, sebuah teriakan memecah kesunyian.

“Gawat, begundal itu melarikan diri, cepat cari!” suara teriakan itu menggema seperti ledakan yang menyayat telinganya.

Shizi segera menekan tubuhnya lebih dalam ke dalam bayang-bayang, berharap bisa menghilang dari pandangan.

Desas-desus mulai terdengar, seakan setiap sudut klan tersebut kini hidup, bergerak cepat mencari keberadaan dirinya. Setiap detik terasa seperti sejam, ketakutan dan kecemasan memenuhi pikirannya.

“Aku harus bertahan hidup, aku tidak boleh ketahuan,” bisiknya dalam hati sambil berdoa agar bisa meloloskan diri dari pencarian ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mantap bah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tabib Sakti Tak Terkalahkan   Bab 268. Mengembangkan.

    Bab 268. Mengembangkan.Shizi menghabiskan waktu untuk melatih kekuatan tangannya secara fisik, terutama di bagian pergelangan tangan dan juga jari-jarinya.Setiap jari di tangannya diberikan pemberat khusus yang dibuat oleh Qin Zhu, dan di punggung tangannya ditempatkan sebuah cangkir yang diisi penuh dengan air. Dirinya diharuskan untuk menjaga agar cangkir air tersebut tidak tumpah setetes pun sembari menggerakkan satu persatu jarinya.Qin Zhu meminta Shizi berlatih seperti itu selain untuk menguatkan otot pergelangan tangan dan jarinya, hal itu bertujuan untuk melatih fokus dan kekuatan kedua bagian tubuhnya itu."Bagaimana pelatihannya?" tanya Ma Yi pada Qin Zhu."Seperti yang kau lihat, ia benar-benar fokus dengan setiap perintah yang kuberikan. Selain itu, kekuatan fisik pemuda ini memang telah sangat terlatih dengan baik.""Aku sendiri setelah dua belas bulan baru bisa menguasai teknik fisik dasar ini, sedangkan dia hanya dalam waktu setengah hari bisa melakukannya dengan sem

  • Tabib Sakti Tak Terkalahkan   Bab 267. Meminta dan bantuan.

    Bab 267. Meminta dan bantuan.Dua hari berjalan, Shizi menghabiskan waktu dalam perjalanan menuju kota Yaopin dengan mempelajari banyak hal mengenai Kekaisaran Li dari Li Mei dan Li Feng. Dari perjalanan tersebut, ia mempelajari banyak hal baru untuk memperkaya pengetahuannya, terutama mengenai situasi aliran putih dan aliran hitam yang ada di wilayah Kekaisaran Li.Kini, Shizi dan rombongannya menginjakkan kakinya di kota yang bernama kota Yaopin, di mana kota tersebut merupakan tempat makam kuno akan terbuka. Kota tersebut dinamakan kota Yaopin karena kota itu memproduksi pil-pil kelas bintang satu dan bintang dua untuk para cultivator dari klan dan para cultivator independen yang ada.Setelah melewati pemeriksaan, ia pun dengan mudah memasuki kota tersebut. Tampak di matanya banyak kultivator yang berlalu lalang untuk mencari pil, bertukar tanaman obat dan tanaman spirit hingga melakukan transaksi secara bebas. Tentunya hal itu dilakukan sebagai bentuk persiapan memasuki makam k

  • Tabib Sakti Tak Terkalahkan   Bab 266. Burung kertas.

    Bab 266. Burung kertas.Sambil menjaga saudara sepupunya menjalani pembaptisan, Shizi membuat persiapan untuk memasuki makam kuno berbekal informasi yang didapatnya dari Li Mei dan Li Feng.Ia membuat banyak pil dan talisman karena ia merasa akan memerlukannya di dalam sana, ia percaya dengan instingnya mengingat semua pertimbangan yang ada.Selesai membuat persiapan bersamaan dengan selesainya proses pembaptisan ranah dari Li Mei dan Li Feng. Keduanya langsung menghampiri Shizi dengan wajah berbinar.“Kakak!” ucap keduanya sambil menunjukan wajah sumringahnya.Shizi menelisik keduanya, “Tidak buruk,” ucap Shizi menilai ranah langit tingkat awal dan tingkat menengah yang kini kedua sepupunya miliki.“Kakak, Shizi. Pil yang kau beri benar-benar luar biasa! Kami naik ranah dua kali lipat lebih cepat dari seharusnya!” “Selain itu, kami merasa tulang kami pun lebih kuat dibandingkan sebelumnya, apa tidak masalah kau memberikan pil sebagus ini pada kami?” Seru Li Feng canggung.“Tidak ma

  • Tabib Sakti Tak Terkalahkan   Bab 265. Kabar.

    Bab 265. Kabar.Shizi tersenyum kecut setelah mendengarkan penuturan Li Mei dan Li Feng, bagaimana tidak? Ternyata mereka menaruh dendam padanya karena Zushi (kakek) mereka memberikan kabar palsu untuk keduanya.Yaa, sang kakek tidak menjelaskan asal usulnya pada kedua sepupunya itu, parahnya lagi, Li Xiong Fan mengatakan pada Li Feng dan Li Mei jika dirinya berniat untuk membuat mereka berdua kehilangan statusnya. Terlebih saat ini mereka berdua mendapat hukuman untuk berlatih di hutan sunyi sampai batas waktu yang ditentukan.“Aku hanya bisa mengatakan jika hal itu tidak benar adanya, entah apa yang ada di pikiran kakek tua itu sampai-sampai mengadu domba aku dan kalian,” jawab Shizi dengan tenang.“Sikap usil Zushi sudah kembali, dulu sewaktu kami masih kecil ia selalu melakukan hal ini pada kita! Aku tak menyangka jika sekarang sikap kekanak-kanakannya itu kembali lagi!” seru Li Mei dengan kesal yang langsung dibenarkan oleh Li Feng.“Meski begitu, ada baiknya juga ia melakukan ha

  • Tabib Sakti Tak Terkalahkan   Bab 264. Sepupu.

    Bab 264. Sepupu.Shizi muncul di sebuah area yang berada di luar wilayah Wu Xing, dari yang sang kakek beritahukan, tempat ia muncul adalah portal rahasia yang biasa digunakan oleh Klan Chan yang letaknya berada di wilayah klan Li.Shizi menatap area hutan di sekelilingnya, dari informasi yang didapatnya, area hutan itu dinamakan hutan Sunyi . Tak hanya itu saja, ia mengingat candaan saudara kembar ibunya, Paman Chan Jian.“Jadi dulu ibu diam-diam pergi kemari hanya untuk bertemu dengan ayah, aku benar-benar tidak bisa membayangkannya!” ujarnya bermonolog mengingat kelakar para pamannya yang menceritakan masa muda kedua orangtuanya.Shizi segera menghilangkan pemikirannya, ia berjalan ke satu arah sesuai dengan informasi yang sang ibu berikan padanya.Hutan Sunyi, seperti namanya, hutan tersebut begitu sunyi dan tampak tenang. Namun, ia bisa merasakan bahaya yang mengintai dalam ketenangan tersebut.Di sisi lain, ia juga mencerna informasi yang disampaikan padanya dimana hutan sunyi s

  • Tabib Sakti Tak Terkalahkan   Bab 263. Kembali.

    Bab 263. Kembali.Chan Juan akhirnya mau tak mau mengizinkan Shizi untuk pergi dari Klan Chan, meski begitu ia tak langsung pergi dari sana karena ia merasa perlu untuk memastikan keadaan sang ibunda sampai sepenuhnya.Sambil menunggu, ia pun memanfaatkan waktu dengan mendapatkan ‘pelajaran’ dari kakek dan para pamannya. Mereka mengajari Shizi teknik khusus yang dimiliki setiap anggota Klan Chan yaitu teknik segel dan teknik teleportasi.Tentunya ia sangat tidak keberatan mempelajari hal itu karena ia yakin teknik khusus itu akan sangat bermanfaat untuknya.Dengan kemampuannya yang cepat dalam belajar membuatnya bisa mempelajari dasar dari kedua teknik tersebut dalam waktu dua hari. Dari sana Chan Long memberikan kitab kuno warisan pendahulu klan untuk dipelajari oleh Shizi.Sepuluh hari berlalu.Shizi menyelesaikan pelatihan singkatnya, dalam rentang waktu tersebut ia berhasil menyerap semua teori lanjutan yang diajarkan Chan Long dan dari kitab kuno milik klan Chan.“Cucuku, pantas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status