เข้าสู่ระบบ
“Anak haram!”
“Pecundang!” “Sampah!” Sorot mata meremehkan dan kata-kata hinaan mengiringi langkah Shizi yang sedang berjalan sambil menanggung dua ember air di pundaknya dengan sebuah tongkat. Meski tubuhnya kurus, Shizi terus melangkah melewati jalan kecil di halaman belakang klan Song, mengabaikan cemoohan dari orang-orang di sekelilingnya. "Ternyata dia juga tuli, anak haram memang bodoh!" teriak seorang pemuda, disambut tawa rekan-rekannya. Shizi hanya melirik sekilas ke arah Song Ong, sang tuan muda klan Song, yang menjadi sumber suara itu. Shizi hanya mengepalkan tangannya dengan keras. Tapi ia tahu, melawan pun tak ada gunanya. Mengingat status Song Ong sebagai tuan muda klan Song dan anak emas klan, siapapun yang melawannya pasti akan menderita. "Seperti kata ibu, lebih baik diam dan abaikan saja perkataan mereka." Shizi merenung, "Song Ong semakin agresif semenjak ia melihat aku berjalan bersama nona Wang Suyi. Mungkin benar kata ibu, aku harus menjaga jarak untuk menghindari terus ditindasnya." Shizi yang mendengar segala hinaan itu memilih untuk tetap diam dan fokus mengangkut dua ember kayu setinggi setengah badannya. Ia berusaha keras menjaga agar air di dalam ember tidak tumpah dan membasahi jalan. Wajah dan tubuhnya yang dipenuhi keringat menunjukkan kelelahan yang ia rasakan, namun baginya itu masih lebih baik daripada kelelahan di hatinya. Dengan langkah perlahan, Shizi berusaha menjaga keseimbangan beban yang dibawanya. Tiba-tiba, dari arah belakang, Song Ong mendekat dengan senyum jahat dan menendang kaki Shizi, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Duaaakk…. Byuuur! “Arrggghh.” Shizi terjatuh dan terhempas ke tanah dengan keras, ember air yang dibawanya tumpah, membasahi tubuhnya sementara satu ember menindih tubuh kurusnya. Dari posisi terjatuhnya, ia menatap ke arah sumber suara teriakan. Matanya membulat saat melihat Song Ong juga terjatuh tak jauh dari tempatnya, yang membuatnya terkejut adalah melihat ember lain yang pecah dan pecahan kayunya menggores lengan kanan Song Ong, sehingga membuka luka di lengan tersebut. "Bajingan, dasar sampah! Kau melukaiku!" teriak Song Ong sambil mengerang kesakitan. Teriakan Song Ong sontak menarik perhatian. Kini belasan orang yang berada di kediaman klan langsung bergegas menuju ke arah sumber suara. Mereka semua menjadi gelisah melihat tuan muda kebanggaan klan mereka terluka dan segera menolong Song Ong yang memegangi lengannya yang berdarah. "Dia sengaja melukaiku, hajar dia!" teriak Song Ong dengan penuh emosi. Mendengar perintahnya, sekelompok pemuda yang bersamanya langsung bergerak. Mereka mengerubungi Shizi, melontarkan pukulan dan tendangan ke arahnya. Secara refleks, Shizi meringkuk, melindungi kepalanya dengan kedua tangannya—sebuah tindakan yang ia lakukan secara instingtif karena sering mengalami situasi serupa. Darah segar mulai mengalir dari mulutnya, luka dalam yang diterima memburuk, kulitnya memar dan luka terbuka muncul di seluruh tubuhnya akibat serangan bertubi-tubi dari anak buah Song Ong. “Hentikan….Hentikan! Tolong hentikan, putraku bisa mati!” Seorang wanita kurus berpakaian lusuh segera menerobos kerumunan pemuda yang sedang memukuli Shizi. Dengan berani, ia melindungi Shizi menggunakan tubuhnya sendiri. Para pemuda itu pun menghentikan pukulannya, lalu memalingkan pandangan mereka ke arah Song Ong, menunggu instruksi selanjutnya. "Singkirkan wanita itu! Si penjahat itu harus dihukum karena telah melukai saya dengan sengaja!" seru Song Ong dengan keras. Para pengikutnya segera menarik wanita kurus tersebut, yang ternyata adalah ibu Shizi, dengan kasar hingga ia tersungkur dan terlempar hingga menabrak tembok di belakangnya. Rasa terkejut dan ketakutan menguasai Shizi saat ia mendengar teriakan Song Ong. Detak jantungnya meningkat, matanya membulat ketika melihat ibunya terjengkang, kepala yang membentur tembok memuncratkan darah. Kemarahan dan ketakutan bercampur menjadi satu, memberinya kekuatan untuk mendorong orang-orang yang hendak memukulnya dan berusaha meraih ibunya. Baru saja Shizi hendak bangkit, Song Ong sudah tiba di sisi ibunya yang jatuh. Dari kejauhan, ia melihat ibunya, Chan Juan, merangkak perlahan ke arah Song Ong dan sujud di kakinya, memohon belas kasihan. "Tuan muda, tolong ampuni putraku. Ia pasti tidak sengaja," mohon Chan Juan dengan kedua tangan yang gemetar memegang kaki Song Ong. Namun, Song Ong hanya melihat Chan Juan dengan pandangan dingin. Tanpa kata, ia menepis tangan Chan Juan dengan kakinya, membuat ibu Shizi itu kembali tersungkur, kepalanya sekali lagi membentur tembok dengan keras. Song Ong memekik dengan suara yang menyayat telinga, nadanya dipenuhi amarah. "Minggir, wanita murahan! Jangan sentuh aku dengan tangan jijikmu itu!" Katanya sambil menghempaskan kaki kirinya. Ibu Shizi yang sedang mencoba bangkit dengan susah payah itu tak kuasa menahan tendangan ganas di perutnya, seketika tubuhnya terhempas ke tembok yang dingin. Shizi menatap dengan mata berkaca-kaca sambil melihat ibunya merintih kesakitan. Tepat saat itu, Chan Juan, terkapar dengan darah segar yang membasahi bibir dan keningnya, merembes akibat benturan keras ke tembok untuk ketiga kalinya. "Ibu!" teriaknya dalam keputusasaan, merentangkan tangannya mencoba meraih sang ibu. Para pengikut Song Ong segera menghampiri, mencegah Shizi dengan menerjang kakinya hingga ia jatuh ke tanah, terhimpit oleh tekanan berat pada punggungnya. Matanya terpejam karena sakit, tetapi terbuka kembali saat mendengar teriakan pilu sang ibu yang jatuh dan tergeletak tak bergerak. Kepanikan bercampur amarah terpancar dari wajah Shizi saat ia menatap Song Ong. "Keterlaluan kau, Song Ong! Jangan sakiti ibuku!" teriaknya, setiap kata terucap dengan kebencian yang membara. Song Ong hanya tersenyum jahat, menampilkan seringai keji yang membuat Shizi memuncak rasa sakitnya. Matanya yang tajam menatap Shizi, seolah-olah menikmati setiap detik penderitaannya. "Kau berani menyebut namaku?" cemooh Song Ong dengan nada merendahkan. Dia kemudian meludahi wajah ibu Shizi, sebuah tindakan yang memunculkan penghinaan mendalam. "Aku akan balas ini, Song Ong! Ini sumpahku!" Shizi berteriak, tatapannya tajam dan penuh tekad, meski tubuhnya masih terjepit dan terluka.Bab 268. Mengembangkan.Shizi menghabiskan waktu untuk melatih kekuatan tangannya secara fisik, terutama di bagian pergelangan tangan dan juga jari-jarinya.Setiap jari di tangannya diberikan pemberat khusus yang dibuat oleh Qin Zhu, dan di punggung tangannya ditempatkan sebuah cangkir yang diisi penuh dengan air. Dirinya diharuskan untuk menjaga agar cangkir air tersebut tidak tumpah setetes pun sembari menggerakkan satu persatu jarinya.Qin Zhu meminta Shizi berlatih seperti itu selain untuk menguatkan otot pergelangan tangan dan jarinya, hal itu bertujuan untuk melatih fokus dan kekuatan kedua bagian tubuhnya itu."Bagaimana pelatihannya?" tanya Ma Yi pada Qin Zhu."Seperti yang kau lihat, ia benar-benar fokus dengan setiap perintah yang kuberikan. Selain itu, kekuatan fisik pemuda ini memang telah sangat terlatih dengan baik.""Aku sendiri setelah dua belas bulan baru bisa menguasai teknik fisik dasar ini, sedangkan dia hanya dalam waktu setengah hari bisa melakukannya dengan sem
Bab 267. Meminta dan bantuan.Dua hari berjalan, Shizi menghabiskan waktu dalam perjalanan menuju kota Yaopin dengan mempelajari banyak hal mengenai Kekaisaran Li dari Li Mei dan Li Feng. Dari perjalanan tersebut, ia mempelajari banyak hal baru untuk memperkaya pengetahuannya, terutama mengenai situasi aliran putih dan aliran hitam yang ada di wilayah Kekaisaran Li.Kini, Shizi dan rombongannya menginjakkan kakinya di kota yang bernama kota Yaopin, di mana kota tersebut merupakan tempat makam kuno akan terbuka. Kota tersebut dinamakan kota Yaopin karena kota itu memproduksi pil-pil kelas bintang satu dan bintang dua untuk para cultivator dari klan dan para cultivator independen yang ada.Setelah melewati pemeriksaan, ia pun dengan mudah memasuki kota tersebut. Tampak di matanya banyak kultivator yang berlalu lalang untuk mencari pil, bertukar tanaman obat dan tanaman spirit hingga melakukan transaksi secara bebas. Tentunya hal itu dilakukan sebagai bentuk persiapan memasuki makam k
Bab 266. Burung kertas.Sambil menjaga saudara sepupunya menjalani pembaptisan, Shizi membuat persiapan untuk memasuki makam kuno berbekal informasi yang didapatnya dari Li Mei dan Li Feng.Ia membuat banyak pil dan talisman karena ia merasa akan memerlukannya di dalam sana, ia percaya dengan instingnya mengingat semua pertimbangan yang ada.Selesai membuat persiapan bersamaan dengan selesainya proses pembaptisan ranah dari Li Mei dan Li Feng. Keduanya langsung menghampiri Shizi dengan wajah berbinar.“Kakak!” ucap keduanya sambil menunjukan wajah sumringahnya.Shizi menelisik keduanya, “Tidak buruk,” ucap Shizi menilai ranah langit tingkat awal dan tingkat menengah yang kini kedua sepupunya miliki.“Kakak, Shizi. Pil yang kau beri benar-benar luar biasa! Kami naik ranah dua kali lipat lebih cepat dari seharusnya!” “Selain itu, kami merasa tulang kami pun lebih kuat dibandingkan sebelumnya, apa tidak masalah kau memberikan pil sebagus ini pada kami?” Seru Li Feng canggung.“Tidak ma
Bab 265. Kabar.Shizi tersenyum kecut setelah mendengarkan penuturan Li Mei dan Li Feng, bagaimana tidak? Ternyata mereka menaruh dendam padanya karena Zushi (kakek) mereka memberikan kabar palsu untuk keduanya.Yaa, sang kakek tidak menjelaskan asal usulnya pada kedua sepupunya itu, parahnya lagi, Li Xiong Fan mengatakan pada Li Feng dan Li Mei jika dirinya berniat untuk membuat mereka berdua kehilangan statusnya. Terlebih saat ini mereka berdua mendapat hukuman untuk berlatih di hutan sunyi sampai batas waktu yang ditentukan.“Aku hanya bisa mengatakan jika hal itu tidak benar adanya, entah apa yang ada di pikiran kakek tua itu sampai-sampai mengadu domba aku dan kalian,” jawab Shizi dengan tenang.“Sikap usil Zushi sudah kembali, dulu sewaktu kami masih kecil ia selalu melakukan hal ini pada kita! Aku tak menyangka jika sekarang sikap kekanak-kanakannya itu kembali lagi!” seru Li Mei dengan kesal yang langsung dibenarkan oleh Li Feng.“Meski begitu, ada baiknya juga ia melakukan ha
Bab 264. Sepupu.Shizi muncul di sebuah area yang berada di luar wilayah Wu Xing, dari yang sang kakek beritahukan, tempat ia muncul adalah portal rahasia yang biasa digunakan oleh Klan Chan yang letaknya berada di wilayah klan Li.Shizi menatap area hutan di sekelilingnya, dari informasi yang didapatnya, area hutan itu dinamakan hutan Sunyi . Tak hanya itu saja, ia mengingat candaan saudara kembar ibunya, Paman Chan Jian.“Jadi dulu ibu diam-diam pergi kemari hanya untuk bertemu dengan ayah, aku benar-benar tidak bisa membayangkannya!” ujarnya bermonolog mengingat kelakar para pamannya yang menceritakan masa muda kedua orangtuanya.Shizi segera menghilangkan pemikirannya, ia berjalan ke satu arah sesuai dengan informasi yang sang ibu berikan padanya.Hutan Sunyi, seperti namanya, hutan tersebut begitu sunyi dan tampak tenang. Namun, ia bisa merasakan bahaya yang mengintai dalam ketenangan tersebut.Di sisi lain, ia juga mencerna informasi yang disampaikan padanya dimana hutan sunyi s
Bab 263. Kembali.Chan Juan akhirnya mau tak mau mengizinkan Shizi untuk pergi dari Klan Chan, meski begitu ia tak langsung pergi dari sana karena ia merasa perlu untuk memastikan keadaan sang ibunda sampai sepenuhnya.Sambil menunggu, ia pun memanfaatkan waktu dengan mendapatkan ‘pelajaran’ dari kakek dan para pamannya. Mereka mengajari Shizi teknik khusus yang dimiliki setiap anggota Klan Chan yaitu teknik segel dan teknik teleportasi.Tentunya ia sangat tidak keberatan mempelajari hal itu karena ia yakin teknik khusus itu akan sangat bermanfaat untuknya.Dengan kemampuannya yang cepat dalam belajar membuatnya bisa mempelajari dasar dari kedua teknik tersebut dalam waktu dua hari. Dari sana Chan Long memberikan kitab kuno warisan pendahulu klan untuk dipelajari oleh Shizi.Sepuluh hari berlalu.Shizi menyelesaikan pelatihan singkatnya, dalam rentang waktu tersebut ia berhasil menyerap semua teori lanjutan yang diajarkan Chan Long dan dari kitab kuno milik klan Chan.“Cucuku, pantas







