Mag-log inLisa Peterson opted out of her marriage when her husband's mistress; Marie Tanner claimed that her husband; Alexander Peterson, was responsible for her pregnancy. She got the divorce papers but her husband refused to sign them. That cold night when her husband refused to sign the divorce papers, she was pushed out of her limit. She walked out on him and she was preyed upon. It was the very first step that brought different people together to determine their fates. What happens when the fates of two friends are intertwined with a fraudster? Find out in this interesting novel.
view more“Dad, aku tidak mau dijodohkan! Usiaku masih 19 tahun, Dad!” Vintari berseru dengan cukup tinggi, menolak di kala ayahnya ingin menjodohkannya dengan anak dari teman baik ayahnya itu.
Robby menatap dingin Vintari. “Vintari, perjodohan ini sudah aku atur. Kau tidak bisa menolak. Lagi pula kenapa dengan usiamu masih 19 tahun? Menikah muda itu bagus. Saat anakmu nanti sudah besar, kau masih muda.”
Vintari melebarkan mulut dan matanya, menganga tak percaya akan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. “Come on, Dad. Jangan bercanda. Aku masih ingin menikmati hidupku. Aku belum mau menikah.”
Robby mendekat pada Vintari. “Vintari, keluarga Ducan banyak membantu kita. Daddy bisa menjadi ahli bedah senior dan mendapatkan gaji besar, karena tak luput dari kedekatan Daddy pada keluarga Ducan.”
Vintari menatap tak percaya ayahnya itu. Gadis cantik berusia 19 tahun itu rasanya hampir kehilangan kewarasannya. Vintari bahkan masih duduk di bangku kuliah. Tak pernah terbesit sedikit pun Vintari akan menikah muda.
“Dad, jadi maksudmu, kau menjualku sebagai bayaran atas bantuan Keluarga Ducan?” seru Vintari dengan nada kesal.
“Vintari, kau ini bicara apa. Kenapa berpikir seperti itu,” ujar Jenny—ibu Vintari—yang sejak tadi memang tak banyak bicara, karena membiarkan sang suami yang berbicara pada putrinya itu.
Robby menatap tajam Vintari. “Singkirkan pikiran konyolmu. Aku hanya memilihkan jodoh yang terbaik untukmu. Belum tentu di luar sana, kau mendapatkan pria yang baik, Vintari.”
Vintari mendengkus tak suka. “Aku tidak mau dijodohkan titik. Jangan paksa aku lagi. Kalau Daddy terus memaksa, Daddy saja yang menikah. Aku tidak mau menikah.”
“Vintari!” bentak Robby keras.
“Vintari, bicara yang sopan pada Daddy,” seru Jenny menatap tegas putrinya.
Vintari menatap kedua orang tuanya itu, menahan rasa kesal. “Aku tidak mau menikah muda. Jangan paksa aku!” Dia berlari pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
“Vintari Rivers berhenti! Kita belum selesai bicara!” teriak Robby dengan nada keras dan menggelegar, tetapi sayangnya tetap saja Vintari tak menghentikan langkahnya. Gadis itu malah berlari semakin cepat meninggalkan rumah.
Jenny memeluk lengan sang suami, menenangkan dari kemarahan. “Biarkan Vintari menenangkan dirinya. Dia butuh waktu untuk menerima semua ini.”
Robby mengembuskan napas kasar, dan memejamkan mata singkat, berusaha meredam kemarahan dalam diri.
***
Siang itu di kota Manhattan, Vintari melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Marah, kesal, kecewa telah melebur menjadi satu dalam diri gadis cantik itu, hingga membuatnya melajukan mobil di atas rata-rata.
“Shit! Menyebalkan sekali!” Vintari memukul stir mobilnya, dan kian menginjak pedal gas, guna kian melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Rasa marah dalam diri Vintari membuat gadis itu lepas kendali dalam melajukan mobil.
Napas Vintari memburu. Sepasang iris mata ambernya berkilat tajam. Namun, tiba-tiba tatapan Vintari terkejut melihat mobil sport berhenti mendadak di hadapannya. Refleks, gadis itu menginjak pedal rem begitu kuat. Namun…
Brakkk
“Ah, sial!” Vintari mengumpat di kala mobilnya menabrak mobil sport yang ada di hadapannya. Makian dan umpatan lolos dalam hati gadis itu. Entah, karma apa yang didapatkannya sampai membuatnya hari ini begitu sial.
Terpaksa, Vintari turun dari mobil, saat dia melihat sosok pria pemilik mobil yang dia tabrak pun turun dari mobil. Tak mungkin dirinya melarikan diri. Jika sampai melarikan diri, maka sama saja dengan menambah masalah baru.
Saat Vintari turun dari mobil, tatapan gadis itu menatap sosok pria tampan memakai kaca mata baca hitam melangkah mendekat padanya. Raut wajah Vintari sedikit gugup berhadapan dengan pria dewasa. Meskipun dirinya bukan lagi anak-anak, tapi sifatnya kerap masih terbilang gadis remaja.
“Apa kau tidak bisa mengemudikan mobilmu dengan baik?!” seru pria itu dengan nada tinggi dan keras. Dia membuka kaca matanya, memperlihatkan iris mata cokelat gelap tajam, namun penuh kharisma.
Beberapa detik, Vintari terhenyak akan iris mata cokelat gelapnya yang penuh dengan kharisma itu. Akan tetapi, buru-buru, dia menepis pikiran konyol yang ada di dalam pikirannya.
“Tuan, yang salah adalah kau, bukan aku. Kenapa kau berhenti mendadak? Kalau saja kau tidak berhenti mendadak, aku tidak akan menambrakmu,” kata Vintari keras kepala, tak ingin disalahkan.
Pria itu menatap dingin Vintari. “Apa matamu itu sudah tidak lagi berfungsi? Aku tidak berhenti mendadak. Kau yang tidak memiliki aturan dalam mengemudi!”
Vintari berdecak pelan. Sebenarnya, dia ingin kembali menjawab tapi gadis itu menyadari bahwa dirinya pun salah karena telah melajukan mobil dengan tanpa aturan. Jika CCTV di area jalan dibuka, pasti dirinya bersalah.
“Oke fine, aku salah. I’m sorry. Aku akan mengganti kerugianmu. Kau bilang saja berapa uang yang kau butuhkan untuk memperbaiki mobilmu?” seru Vintari yang enggan untuk memperpanjang masalah.
Pria itu menatap Vintari dari ujung rambut ke ujung kaki. “Gadis kecil, lebih baik kau simpan keangkuhanmu. Belum tentu kau mampu mengganti kerugianku.”
Vintari kembali berdecak. “Aku ini bukan gadis kecil lagi. Usiaku sudah 19 tahun! Cepat beri tahu aku, berapa kerugian yang harus aku bayar!”
Pria itu tersenyum sinis. “Alright, kalau kau memaksa, silahkan cek harga mobilku. Apa kau yakin mampu mengganti rugi?”
Vintari melirik mobil pria yang dia tabrak. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, guna memeriksa type mobil yang dia tabrak. Namun, seketika mata Vintari melebar melihat harga mobil dari mobil yang dia tabrak itu. Raut wajahnya memucat. Matanya memancarkan jelas kepanikan dan ketakutan.
“A-aku—” Lidah Vintari tiba-tiba saja kelu, tak mampu merangkai kata. Ucapan angkuhnya bagaikan es yang telah beku. Oh, shit! Vintari mengumpati nasib buruknya. Bukannya menenangkan pikiran, malah mendapatkan masalah baru.
Pria itu tersenyum meremehkan Vintari. “Lain kali tidak usah mengemudi, jika kau bodoh dalam mengemudi.” Lalu pria itu melangkah pergi meninggalkan Vintari.
“Hey! Berani sekali kau menghinaku bodoh!” Vintari kesal, dia langsung melepaskan heels-nya dan melempar ke punggung pria itu.
Langkah kaki pria itu terhenti saat heels Vintari berhasil mendarat di punggungnya. Dia mengambil heels Vintari, menatap gadis itu dengan tajam, lalu membuang jauh heels Vintari ke sungai yang kebetulan ada di sana. Tanpa merasa bersalah, pria itu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu.
Mata Vintari melebar. “Ya Tuhan, sepatuku! Akh pria sialan!” serunya dengan raut wajah kesal, dan mengumpati pria menyebalkan yang telah melempar sepatunya ke sungai.
When Benny woke up, it was morning. Light rays had filtered through the blinds and the room was sparingly illuminated. "Not too bad, I thought I was sealed away in some abyss," he grunted as he felt the comfy comforter and scanned the room. His eyes caught the remains of the intravenous fluid that was infused into him. It was discarded already. "What the heck is this place?" He thought. A silhouette fell into his line of vision. It was the back view of a man. "Who are you!? What do you want from me?!" Benny put up a bold front."I put up with you because you seemed to be a good man, but you crossed the line when you threatened me." Cole responded."Mr Clinton Cole?" Benny asked in astonishment. Cole turned around slowly and Benny shook slightly."You caused this?" Benny asked and touched the bandage wound around his head."It was an accident," Cole said and looked away.Benny heaved a sigh. He realized he just got entangled with a dangerous man. He needed to get out of this mess.
Lisa stirred awake. Her head ached badly and her body felt numb. She groaned faintly and opened her eyes slowly.Her eyes fluttered as she took in the seemingly familiar settings."This isn't my hotel room? Where the hell am I?" She thought and sprang up from her sleep.She hugged herself as the feeling of deja vu took over her. "Oh no! This isn't happening! Not again!" She fidgeted and threw the covers open to check herself.She heaved a sigh of relief and rushed off the bed. That was when she scanned the room. She squinted as realization dawned on her. Pieces of the day's events flashed through her head hazily and she groaned."My bedroom? No way!" Lisa yelled in horror. "I can't face Alex now... I haven't caught the culprit... I have to get out of here," she whimpered and dived for the door.The door swung open just as she placed her hand on the lock. She pulled back and Alex emerged. He was holding a cup of freshly prepared oat. "It's my recipe for a hangover," he said casually.
"Boss, I have Lisa's whereabouts," Benny said as he knocked at the door.Since Lisa's disappearance, it has become Alex's culture to lock himself in the anteroom attached to his office. Else, he was always out, drinking.Benny wasn't sure Alex heard him. He turned around and picked up his phone only to hear the door open up behind him.The forlorn look Alex had on dissipated. He rushed at Benny and pinned him to the wall."Where is she!?" He roared. Benny scoffed and regarded him, he looked unkempt and rough.Alex returned to his senses and withdrew slowly and said, "I am sorry… I was impulsive," please lead the way.****Jane locked her palms together and stared at the drink she had ordered. Things were clear but she was still uncertain. She was uncertain about her own actions.She'd thought it would be easy just like her mother had advised but she was almost close to tears again.She realized she loved Jeff and her heart still beat for him. Her action might be right but she was sure
Jane watched Benny leave and shuddered. Her thoughts were jumbled and she threw her hands up in the air weakly. She was going insane and she knew it.She was startled by her own profession earlier but she was more startled when Benny played along."You're a crazy bitch!" She screamed at herself and laughed hard as she sobbed. "Lisa is missing," she said hysterically and brought up her phone. She dialed Lisa's number but the line was not reachable. She stopped after the first trial and threw her phone on the sofa.She climbed up into her bed weakly and drew up the covers to her shoulders. "Jeff is going down tomorrow," she muttered incoherently and wrapped her arms around her pillow as she continued to weep.****"Cheers to a new bonding," Cole said to Benny and raised his glass for a toast."I don't drink," Benny said disgruntledly."A toast is the least... I mean, you interrupted my sleep," Cole said and sipped his drink."Jane said you wanted to talk. I am a busy man. I won't spare
"Lisa? Are you awake? You have some emails, I think you need to check them out. They are coming incessantly from the same email address," Alex said and rolled over to his side to hand over Lisa's phone to her. "What the heck? When did she leave," Alex said as he stared at the empty space beside him.
The day was still young and bright, Jeff got on his way to see his father. Although he intended to play along, he knew his silence meant there was fire on the mountain.He might be his father's only access into the Clinton's household but he knew his father must have had a plan B before taking him ou
It was dusk. Jane's eyes flicked open and she sprang up from her sleep. She sat up as a deafening sound had ended her sleep abruptly. "What the hell do you think you are doing!?" She yelled at the guard who had just kicked her door open. The guard did not bat an eyelid. Rather, he suddenly threw som
Despite the pain in her face and mouth, Lisa devoured her dinner like a hungry lion. She needed strength to carry out her enterprise. The pity party has ended and it was payback time.She checked through her purse and brought out an old phone she had picked up from her chest.She brought out the SIM c






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
RebyuMore