INICIAR SESIÓNBu RT mencengkram erat lehernya dengan kuat saat pentol bakso itu masuk ke dalam kerongkongannya. Matanya mendelik ke atas dan bergumam tidak jelas. “Ughh!! Ughh! Ughh!!” “Eh tolongin si Bu RT! Nanti dia metong!” seru Bu Dewi panik saat melihat Bu RT keselek pentol bakso. Bimo lagi-lagi kembali menghela nafas panjang. Dia melepaskan pelukannya dari Bu Dewi sebelum berpindah memeluk pinggang gemuk Bu RT dari belakang dan memberikan tekanan disana beberapa kali sampai akhirnya pentol bakso itu berhasil dikeluarkan. Wajah Bu RT yang semula membiru kini berangsur-angsur menghilang dan kembali ke warna kulit aslinya. “Hos…hos…hos…h-hampir saja aku mati,”gumam Bu RT dengan nafas terengah-engah. Setelah berhasil menyelamatkan wanita gemuk itu, Bimo mengajak semua anggota keluarganya untuk masuk ke dalam rumah. ***Sampai saat ini belum ada tanda-tanda kalau Baby Kesya akan berubah menjadi dewasa sama seperti Kenzo. Dia terus meminta pada Tiara dan anggota keluarganya yang lain untuk
Hari ini adalah hari pernikahan Kenzo dan Lilis. Pernikahan ini diselenggarakan tertutup di sebuah gereja dan dihadiri oleh beberapa keluarga inti saja. Lilis tampak cantik dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih tulang yang memiliki belahan dada rendah yang memperlihatkan sebagian bukit kembar montoknya. Wajahnya juga terlihat sangat cantik saat dirias full make-up, namun tidak terlihat menor. Bimo mengantarkan Lilis masuk beriringan ke dalam Gerema bersamanya. Lilis memegang tangannya dengan wajah gugup. Padahal ini bukanlah pernikahan pertama wanita itu. Di depan altar, Kenzo terlihat tampan dan gagah dengan mengenai setelan tuxedo rapi, senada warnanya dengan gaun yang dikenakan oleh Lilis. Begitu mereka tiba di depan altar, Bimo menyerahkan sebelah tangan Lilis kepada Kenzo. Kenzo meraih tangan Lilis dan membawanya naik ke atas altar bersamanya. Di hadapan Kenzo dan Lilis, seorang pastor tengah berdiri seraya tersenyum menatap mereka berdua dan memegang sebuah buku
Semua orang tersentak kaget saat melihat Kenzo menahan tangannya Lilis. Sella sampai ikut berdiri dengan tatapan tak percaya. “Kenzo?! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu menahan janda gatal ini?!” “Aku sudah jatuh cinta pada Mbak Lilis. Mau dia janda atau gadis, aku akan tetap menikah dengannya,” ucap Kenzo membuat semua orang terkejut saat mendengarnya. “APA?!” semua orang kaget saat mendengar pernyataan Kenzo barusan, kecuali Bimo. Bimo menepuk bahu putranya itu dengan bangga.”Bagus putraku. Kamu adalah pria sejati karena berani mengungkapkan perasaanmu. Papa benar-benar bangga padamu.” Kenzo mengangguk.”Mbak Lilis adalah wanita yang baik, perhatian, dan penyayang. Terlebih lagi jepitannya sangat mantap meskipun dia sudah janda beranak satu. Tidak ada alasan lain untuk menolak menikahi wanita secantik dan semontok dia.” “A-apa yang baru saja dikatakan oleh Kenzo tadi? D-dia sudah celap-celup dengan Lilis?!” tanya Sella terbata-bata dengan wajah syok. “Bimo, apa itu benar? L
“Baik Pa,” Kenzo menuntun keperkasaannya masih sudah membesar dan membengkak menuju ke goa kenikmatan Lilis yang sudah basah. Setelah itu, Kenzo perlahan mendorong pinggulnya hingga seluruh batangnya amblas ke dalam liang senggama Lilis. “Ahhh… Papa!! Milikku terjepit di dalam punya Mbak Lilis!” pekik Kenzo seraya mendongak ke atas dan memejamkan matanya erat. “Ouhhh gede banget punya Tuan Muda! Rahimmu terasa penuh!” Lilis ikut memekik penuh kenikmatan, matanya terbelalak dan berkaca-kaca saat lubangnya yang berdenyut itu disumpal oleh sosis gemuknya Kenzo. Kedua tangan Bimo yang tadinya membuka kedua paha Lilis kini berpindah meremas kedua gundukan bukit kembarnya yang besar menantang. ”Maju-mundurkan pinggulmu secara perlahan putraku. Rasakan betapa sempit dan nikmatnya jepitan Lilis di dalam sana,” instruksi Bimo. “B-baik Pa,” Kenzo mulai mengayunkan pinggulnya maju-mundur seperti yang sudah diinstruksikan oleh Bimo sebelumnya. Awalnya gerakan itu terasa kaku dan lambat, na
Bimo mencengkram dagu Lilis hingga kepala wanita itu mendongak saat menatapnya. Dipandanginya bibir tebal Lilis yang tebal sedikit terbuka, seolah mengundang dirinya untuk segera melesakkan batangnya ke dalam sana. ”Tentu saja, Lilis. Kamu pikir aku bisa tenang melihat milikku menegang seperti ini setelah menyaksikan permainanmu?” ucap Bimo bergairah seraya menekan dan mengusap bibir tebal Lilis yang masih berlumuran cairan putranya. Tanpa perlu diperintah dua kali, Lilis langsung merangkak mendekati Bimo. Janda montok itu menyeringai saat memegang keperkasaan monsternya Bimo dengan satu genggaman tangan. ”Dengan senang hati, Tuan Besar…” ucap Lilis sebelum melahap ujung keperkasaan Bimo. “Ssssshhh!” desis Bimo seraya merem melek menikmati kehangatan dan kelembutan bibir Lilis membungkus erat miliknya, walau baru seperempatnya saja. Lilis menggerakkan kepalanya lebih lincah dari sebelumnya saat melahap milik Kenzo. Lidahnya yang licin dan lunak menari-nari melingkari urat-urat
Lilis terlihat tercengang saat mendengar permintaan dari Bimo. “A-apa?! Memerah batang Tuan Muda? Apa Tuan Besar tidak salah bicara?!” “ADUHH! SAKIT PA!! LATO-LATOKU RASANYA INGIN PECAH!” pekik Kenzo kesakitan. Bimo mencengkram baju Lilis dan kembali memohon untuk yang terakhir kalinya.”Tolong Lilis, bantu perah batangnya Kenzo sekarang sebelum miliknya meledak. Kita tidak punya banyak waktu lagi.” Lilis mengangguk kaku.”Baiklah Tuan Besar, saya akan memerah batangnya Tuan Muda sekarang. Ayo Tuan Muda, kita ke dalam.” Janda montok itu menuntun Kenzo untuk masuk ke dalam rumah, sementara Bimo mengekor dari belakang. Lalu mereka bertiga masuk ke dalam kamar Lilis. Setelah menutup rapat pintunya, Lilis menyuruh Kenzo duduk di sisi ranjang. Kemudian Lilis menggelung rambut panjangnya ke belakang sebelum bersimpuh di antara kedua kakinya Kenzo. “Ughh!! Sakittt!!” ringis Kenzo untuk yang kesekian kalinya. Lilis meraba kedua paha Kenzo dengan tatapan lapar.”Tenang Tuan Mu







