LOGINBelum sempat Bimo bicara, Mayang sudah lebih dulu menjawabnya.“Itu bukan ide yang buruk. Gimana Bimo? Kamu setuju kan?” tanya Mayang seraya memegang lengannya.Bimo sedikit berdehem pelan. “Baiklah kalau Mama maunya begitu. Ayo kita lakukan.” Kebetulan Sekar dan Ayu sudah balik ke rumah mereka masing-masing karena hari ini adalah hari Minggu. Jadi mereka tidak perlu khawatir jika kedua pembantu itu memergoki mereka nantinya.Mayang kini berpindah duduk di atas pangkuan Baskoro sementara Angel duduk di atas pangkuan Bimo.Baskoro memberikan remasan lembut di pantatnya Mayang yang semok.”Sudah lama aku tidak memasukimu, Mayang. Tempikmu benar-benar nikmat meskipun sudah beranak berkali-kali. Tidak kalah dengan perawan.” Mayang menggoyangkan pantatnya hingga gundukan kejantanan Baskoro masuk di belahan pantatnya. “Kamu pandai sekali bicara Baskoro. Tunjukan keahlian dari bibir manismu ini. Sambut lidahku, Sayang.” Baskoro tanpa ragu memajukan wajahnya dan memberikan ciuman panas dan
Jantung Bimo berdegup kencang saat para ibu-ibu yang mencuci tadi kembali memperhatikan mereka. “Eh Sekar! Kenapa kamu diem aja sih? Apaan yang anget dan enak?!” tanya Bu Siti lagi.“Ah itu aku nggak enak badan, badanku anget jadi Tuan Bimo mijitin aku deh. Enak banget pijatannya,” jawab Sekar ngasal.“Kalau nggak enak badan ngapain berendam di sungai Sekar! Cepatan keluar nanti kamu nambah sakit!” timpal ibu-ibu yang lain.Namun, Bimo belum puas menikmati jepitan tempik Sekar. Dia kembali menggoyangkan pinggulnya tanpa memperdulikan tatapan ibu-ibu disana. “OUHH TUAN! ENAK BANGET OUHH!!” pekik Siti tanpa tahu malu.“Wah, majikan kamu baik banget ya mau mijitin kamu di kolam. Bininya nggak cemburu lagi,” puji Bu Siti seraya melirik Mayang yang tak jauh dari mereka.“Saya senang melihat calon suami saya sangat memperhatikan pembantu. Namanya pembantu juga manusia juga toh ibu-ibu,” jawab Mayang ramah.“Sekar dan Ayu beruntung banget ya dapat majikan baik dan kagak cemburuan. Padahal
Hari kedua menikmati tempik Sekar dan Ayu yang sepet-sepet mampus memijat dan menelan batang Bimo hingga tetes terakhir. Kali ini mereka tidak genjotan di kamar melainkan di sungai.Kebetulan semua ibu-ibu sudah habis nyuci dan mandi. Jadi mereka bisa genjotan tanpa takut ketahuan warga. Mayang berjaga-jaga agar tidak ada orang yang memergoki mereka sambil merekam aksi Bimo menikmati dua lubang wanita desa secara bergantian di atas batu besar.“Gimana Bimo? Bagaimana rasa lembah madu mereka di sungai seperti ini?” tanya Mayang sambil melihat ke sekitarnya.“Rasanya lebih legit dan menjepit Ma,” jawab Bimo tanpa mengurangi kecepatan pompaan batangnya di dalam lubangnya Sekar sementara dua jari besarnya mengocok goa kenikmatan Ayu.“Ouhhh enak banget Tuan. Sodok terus!!” desah Sekar dan Ayu bersamaan.“Stttt, jangan kencang-kencang! Nanti ada yang dengar,”Bimo langsung merunduk, merapatkan dada bidangnya ke dada montok Sekar lalu membungkam bibir wanita itu dengan ciuman panasnya. Slrr
“Aduh gimana ini?! Ada Kang Didin datang ke Villa ini!! Aku lagi nggak pakai baju pula!!” seru Sekar panik.“Cepat kalian ke kamar dan pakai daster. Biar aku saja yang menemui suamimu di depan,” perintah Bimo.“Baik Tuan!” sahut Sekar dan Ayu sebelum ngacir ke kamar mereka masing-masing.Bimo meneguk minumannya sekali lagi sebelum bangkit lalu melangkah keluar dari Villa. Sesampainya di depan, dia melihat seorang pria berumur 40 tahunan, memiliki kulit sawo matang, tinggi sekitar 165 cm, berkumis agak tebal, dan tubuh agak berisi turun dari motor lalu berjalan menghampirinya.“Permisi Tuan, maaf mengganggu pagi-pagi. Saya kemari mau cari istri saya, Sekar,” ucap Kang Didin sopan.“Sekar masih ada di dalam nyuci piring. Sebentar lagi di keluar,” kilah Bimo dengan cepat.Tak lama kemudian Sekar datang lengkap dengan mengenakan daster batik terusan panjang di tubuhnya.“Kang Didin ngapain datang kemari?” Sekar hari Minggu baru balik ke rumah,” tanya Sekar seraya berjalan tergopoh-gopoh m
Kalau lubang satunya tersumbat mama ada lubang lain yang bisa digalih. Begitulah peribahasa yang cocok menggambarkan Bimo saat ini.Jepitan lubang wanita desa memang ada sepet-sepetnya dibandingkan wanita di kota. Mungkin karena mereka lebih rajin bergerak daripada rebahan, makanya lebih legit dan enak.Tiap kali mendorong pinggulnya, area lubang Sekar dan Ayu ikut masuk ke dalam menelan batangnya yang super besar. “OUHH TUAN!! GENJOT LEBIH KERAS!! HANCURKAN TEMPIKKU!!” pekik Sekar yang sudah kehilangan kesadarannya.“Bimo sepertinya kamu menikmati sekali punya mereka. Lihat lubang mereka sampai memerah dan makin lebar gara-gara kamu genjot terus tanpa henti Sayang,” bisik Mayang seraya memainkan lato-latonya yang piawai.“Iya Ma…tapi masih enakan Mama kok,” jawab Bimo dengan nafas memburu.“Mama sengaja nyari pembantu wanita desa yang tempiknya tembem. Biasanya semakin tembem semakin enak. Mereka juga bersih dan jarang main sama suami mereka. Bukit kembar mereka juga gede jadi bisa
Malam harinya Bimo sudah menunggu Mayang di atas ranjang. Dia hanya mengenakan sarung tanpa memakai celana dalam sama sekali.Ceklek Mayang masuk ke dalam kamar dengan mengenakan daster mini yang biasa dipakai oleh mama mertuanya itu di rumah. “Loh, Ma. Kenapa Mama cuma pakai daster?” tanya Bimo heran. Biasanya mama mertuanya itu pakai lingerie seksi jika ingin bercinta dengannya.“Maaf ya Bim, Mama semalam tiba-tiba datang tamu bulanan. Jadi kita gak bisa genjotan deh malam ini. Tapi…Mama punya kejutan lain buat kamu. Mama gak mau kamu kecewa selama berada disini,” Mayang menepuk tangannya beberapa kali seolah memberi kode pada seseorang.Tak lama kemudian, pintu kamar kembali terbuka lebar. Mata Bimo seketika terbelalak kaget saat melihat Sekar dan Ayu masuk ke dalam dengan mengenakan lingerie seksi menerawang berwarna merah dan pink.“Jadi Mana menyiapkan mereka berdua untuk memuaskanmu malam ini Bimo. Tenang saja, Mama masih gabung kok sama kalian. Sekar, Ayu ayo puasin Tuan sek







