LOGINSaat masuk kuliah, Naya menjadi korban seorang pria brengsek yang membujuknya untuk mengambil foto-foto yang memalukan. Saat itu, dia belum memahami pengetahuan hukum, ditambah rasa malu yang sulit diungkapkan, membuatnya berada dalam keadaan yang sangat tertekan.Saat itulah Regina muncul.Seperti matahari yang bersinar terang, dia dengan cepat menangani pria brengsek tersebut, mengambil kembali video dan foto dari pria itu, dan menarik Naya keluar dari jurang keputusasaan.Kondisi Naya saat itu benar-benar parah, tidak punya energi sedikit pun. Kepribadian Regina yang tegas dan berani menjadi penyelamatnya.Naya selalu merasa Regina dikirim oleh langit untuk menyelamatkannya. Tanpa Regina, dia mungkin akan menderita depresi, jenis depresi yang tidak pernah benar-benar sembuh, apalagi bisa berakting.Seorang bintang film membutuhkan pengalaman hidup yang cukup untuk memahami karakter dalam peran. Pengalaman yang memicu gejolak emosi yang hebat memperkuat penampilannya, membuat Naya sa
Itu adalah ulang tahun pertama yang mereka lalui bersama.Akan menjadi sebuah kenangan yang indah....Di Centara Entertainment.Jadwal Raisa hari ini bertemu secara resmi dengan Naya.Hani terbukti sangat bisa diandalkan, dia bisa meyakinkan Naya yang selama ini belum pernah menandatangani kontrak dengan agensi perusahaan hiburan mana pun, sampai hampir mencapai tahap penandatanganan kontrak.Naya adalah klien potensial perusahaan. Sebagai pemimpin, Raisa tentu harus menemuinya secara langsung.Manajer Naya bernama Regina Kusuma, mereka berdua adalah alumni dari sekolah yang sama.Kalau Naya dikontrak, Regina juga ikut masuk ke perusahaan.Sikap Regina cukup ambigu, yang membuat Hani sedikit kesulitan.Naya sedang berlatih di lokasi syuting. Sesuai jadwalnya, pertemuan dijadwalkan jam tujuh malam di sebuah hotel dekat lokasi, semua sudah diatur lebih dulu oleh sekretaris Raisa, Riani.Mobil melaju pelan, Hani kembali menyinggung Regina, "Naya sangat percaya pada Regina dan sebagian be
Yumi tertegun sejenak, dia agak terkejut, bertanya pelan, "Kau juga nggak suka dia? Apa itu karena aku?"Nadia mengedipkan mata, menjawab ringan, "Tentu saja.""Bagus. Perusahaannya itu cuma abal-abal, baru berdiri. Mana bisa saingan sama Surya Gemilang. Kalau kau turun tangan, mereka pasti hancur!"Nadia menambahkan, "Itu perusahaan kecil. Kita nggak perlu repot-repot. Cukup rebut artis-artis dari perusahaannya saja sudah bisa buat bangkrut."Yumi tahu bahwa perusahaan hiburan menanggung biaya tinggi dalam membesarkan artis di tahap awal. Tanpa artis, mereka tidak bisa menyalurkan "produk" ke pasaran dan tidak akan menghasilkan keuntungan.Kalau Yumi membenci seseorang, dia akan membenci segalanya tentang orang itu, dan kebenciannya terhadap Raisa sangat dalam.Dia sudah menantikan hari ketika Raisa akan jatuh terpuruk seperti anjing yang jatuh ke kolam.Nadia mencoba menenangkan, "Yumi, jangan terlalu khawatir. Coba pikir, Raisa sudah pernah bercerai. Apa menurutmu ibunya Bravi akan
Yumi menerimanya dan minum beberapa teguk sebelum berseru dengan penuh kegelisahan, "Mereka cuma tetangga? Gimana bisa Raisa yang cuma sekretaris bisa tinggal di Kompleks Fulisan? Unit terkecil saja harganya hampir miliaran! Dari mana Raisa mendapatkan uang sebanyak itu? Nggak, itu bukan intinya! Intinya adalah gimana bisa mereka jadi tetangga! Terlalu gampang buat pacaran. Raisa pasti punya niat tersembunyi. Gimana kalau dia menggoda Bravi? Menurutmu, apa mereka bisa bersama?"Pikiran Yumi sekarang kacau balau, meluapkan segala pikiran yang terlintas di benaknya.Sementara Nadia tetap tenang meski Yumi terus meluapkan emosinya. Rambut hitam lurusnya yang panjang tampak seperti dewi yang murni, auranya memancarkan kelembutan. Dia adalah teman curhat yang sangat baik.Yumi menatap matanya yang hitam berkilau, suaranya bergetar, "Nadia, kalau kau nggak datang menemaniku, aku nggak tahu gimana harus bertahan di Haidon!"Yumi marah, "Sialan, bisa nggak sih Raisa mati saja. Kenapa dia menye
Bravi baru saja mendengar Raisa memanggil nama Kevin dalam mimpinya.Dia bahkan masih bermimpi tentang Kevin saat tidur?Apa Raisa pernah bermimpi tentang Bravi?Rasa takut masih tersisa di sorot mata Raisa. Baru setelah menyadari bahwa itu Bravi, rasa sesak dari mimpinya perlahan menghilang. Dia berkedip dan bergumam, "Sekarang jam berapa ... hmm ...."Bravi mendekat, langsung mencium bibirnya dan menghentikan kata-katanya. Setelah beberapa detik, dia melepaskan Raisa, tapi tidak menarik diri, malah menatapnya dari jarak dekat.Hati Raisa meleleh lembut. Dia bertanya pelan, "Kenapa?"Bravi menciumnya lagi, seolah ingin menyumbat kata-katanya. Tapi kali ini, saat Raisa merespons dengan penuh perasaan, Bravi menarik diri. Dia menyadari bahwa pria itu sengaja menggoda dirinya. Raisa berkedip, bertanya pelan, "Masih mau cium lagi?"Bravi menjawab dengan tindakan, tentu saja masih ingin melakukannya. Kali ini pria itu benar-benar serius.Raisa melingkarkan tangan di lehernya. Setelah b
Raisa membolak-balik berkas tersebut, Naya lulusan dari akademi seni ternama dan memiliki kualifikasi yang sangat baik, dia lalu bertanya pada Hani, "Pasti dia nggak kekurangan tawaran dari agensi, kan? Kenapa sampai sekarang belum tanda tangan kontrak?"Hani menjawab, "Dia memang belum punya agensi. Kemungkinan besar, perusahaan besar sudah nggak butuh tipe seperti Naya, kalau dikontrak pun nggak menjamin akan diberi sumber daya untuk mempromosikannya secara efektif. Kalau di perusahaan kecil nggak bisa kasih sumber daya yang dia mau."Raisa sangat terkesan dengan Naya. Pertama, Naya belum terikat kontrak, dan kedua, Raisa mengagumi ketegangan karakter yang dibawa artis itu dalam perannya. Nantinya, dia bisa memberinya banyak peran utama sebagai wanita tangguh. Seperti Derlin, Naya memiliki penampilan menawan dengan potensi yang besar. Raisa pun memerintahkan Hani secara langsung, "Dekati dia dan pastikan bisa dikontrak. Kalau negosiasinya sudah hampir selesai, baru aku turun tangan."







