Share

Bab 2

Author: Ayudia
Jika Kevin mengajukan gugatan cerai, sesuai kebiasaan, Raisa akan pergi keluar sebentar, lalu kembali dengan patuh dan berusaha membuatnya senang berkali-kali lipat.

Tidak pernah ada pengecualian selama ini.

Jadi, kali ini pasti juga sama.

Dan kali ini, mungkin karena sudah kehilangan anaknya.

Adapun soal anak itu...

Sorot mata Kevin memancarkan rasa jijik. Raisa tidak pantas melahirkan anak untuknya. Kehamilan itu hanyalah sebuah kecelakaan.

Sekarang anak itu telah tiada, dan itu justru lebih baik.

...

Perceraiannya akan disertai kompensasi sebesar seratus miliar.

Nomor rekening akan ikut disertakan dalam pengajuan perceraian.

Jika Raisa menandatanganinya tiga tahun lalu, dia tak perlu mengorbankan apa pun.

Namun, dalam tiga tahun terakhir ini, dia bukan hanya sudah menguras hati dan jiwanya, tetapi juga sudah merusak fungsi reproduksinya.

Ya sudahlah.

Menyesali semuanya hanya akan melelahkan hati dan tak membawa manfaat apa-apa. Tidak ada gunanya juga berkutat pada masa lalu. Hidup harus terus melangkah ke depan.

Selain itu, lebih baik punya uang daripada tidak.

Raisa mengambil kartu ATMnya dan naik taksi larut malam. Mobil akhirnya berhenti di pintu masuk apartemen eksklusif nomor 1.

Itu adalah kompleks apartemen mewah dengan harga minimum enam ratus juga per meter persegi.

Gedung apartemennya besar, dua rumah per lantai.

Satu atas nama Raisa.

Properti itu milik pamannya. Sejak kecelakaan ibunya, pamannya telah menetap di luar negeri dan mewariskan rumah itu kepadanya.

Raisa berpikir dia tidak akan pernah menggunakannya, tetapi hidup terkadang tak selalu sesuai rencana. Sekarang setelah bercerai, dia memiliki tempat tinggal yang sudah siap huni, jadi itu adalah hal baik.

Apartemennya ada di lantai atas unit satu, blok tujuh.

Raisa masuk sambil membawa kopernya.

Tadi sore, dia sudah menghubungi petugas kebersihan untuk datang dan membersihkan apartemennya. Dia pun melihat sekeliling ruangan yang terlihat bersih, tetapi rumah seluas hampir tiga ratus meter persegi itu tampak kosong.

Kalau dulu, Raisa pasti akan merasa sangat kesepian untuk tinggal sendirian di rumah sebesar itu.

Namun, setelah tiga tahun menghadapi sikap dingin Kevin, kini dia tidak takut lagi pada apa pun, dan hatinya tak pernah setenang ini sebelumnya.

Raisa merasa rileks dan sangat lelah. Setelah mandi dengan cepat, dia lalu berbaring dan tertidur.

Tapi mendadak suara alarm berbunyi.

Jam enam pagi, dia terbangun oleh suara alarm yang familier.

Nama alarm itu adalah [Membuat sarapan untuk suamiku].

Raisa langsung bangun.

Kevin biasanya sarapan jam delapan, tetapi karena dia sangat pemilih dan tidak suka makanan sederhana, jadi butuh satu atau dua jam untuk menyiapkan sarapannya.

Jika dia bersosialisasi hingga larut malam, Raisa akan merawatnya sampai hampir sekitar jam dua atau tiga pagi, dan dia tetap akan bangun pagi keesokan harinya.

Terkadang Kevin tidak menyentuh masakan yang telah disiapkannya dengan susah payah, dan makanan itu akan masuk ke tempat sampah dengan sia-sia.

Tetapi sekarang, dia tidak perlu lagi bangun pagi.

Tak perlu khawatir kalau kerja kerasnya akan disia-siakan.

Raisa menghapus alarm itu, memakai penutup mata, dan melanjutkan tidur.

Awalnya dia pikir tidak akan bisa tidur.

Namun, dia segera tertidur.

...

Jam delapan pagi, Kevin membuka matanya disertai sakit kepala yang hebat.

Dia akan mengalami sakit kepala keesokan harinya jika dia minum terlalu banyak dan tidak minum obat mabuk. Kevin terlalu lelah semalam dan lupa minum sup penawar alkohol.

Jadi sekarang dia terasa sangat tersiksa.

Namun, ada secangkir air panas di meja samping tempat tidur.

Kevin menggigit bibirnya dengan acuh tak acuh.

Dia kemarin pergi begitu buru-buru.

Apakah dia sudah kembali?

Setelah Kevin minum segelas air hangat, sakit kepalanya sedikit mereda, lalu dia mengirim pesan kepada Rey, [Aku menang taruhan.]

Rey terdiam dan merasa iri, lalu membalas, [Raisa memang nggak bisa bersikap tegas ya? Kamu semakin dimanja tanpa batas!]

Dia lanjut menulis dengan sebal, [Aku beneran nggak rela.]

[Sial, aku jadi semakin marah! Kevin, kenalin aku dengan wanita yang bisa mencintaiku sepenuh hati sepertinya. Aku juga pengen bisa ngerasain dicintai kayak gitu...]

Kevin menarik sudut mulutnya dan membalas, [Nggak usah macam-macam.]

Lalu dia melempar ponselnya dan bangkit untuk mandi.

Tapi setelah turun ke lantai bawah, dia tidak melihat sosok sibuk yang familiar.

"Di mana orang itu?" teriaknya dingin.

Bi Lia keluar dari dapur membawa sarapan dan berkata padanya, "Bapak sudah bangun, sarapan sudah siap!"

Kevin mengerutkan kening dan berkata, "Kok kamu, Bi?"

"Iya, Pak."

"Apa kamu yang menyiapkan air di kamar?"

Bi Lia mengangguk dan berkata, "Ibu semalam bilang kalau dia nggak ada di rumah hari ini, dan minta saya untuk datang lebih pagi."

Kevin hanya terdiam.

Melihat ekspresinya yang buruk, Bi Lia sedikit panik, "Silakan Bapak sarapan dulu..."

Kevin hanya berdiri di sana sebentar, lalu pergi sarapan dengan wajah cemberut.

Hasilnya, hanya ada segelas susu, dua potong roti panggang, sebuah telur dadar, dan sekotak kecil keju di atas meja...

Raisa biasanya membuatkan sarapan berupa aneka dimsum yang disajikan dengan indah, lengkap, dan berbeda setiap harinya.

Perbedaannya sungguh kontras.

Amarah yang baru saja padam, tiba-tiba menyala kembali.

Kevin bertanya dengan dingin, "Kamu cuma menyiapkan ini?"

Bi Lia ketakutan mendengar pertanyaannya, "Ma...maaf, Pak! Biasanya Ibu yang selalu masak, jadi saya nggak tahu selera Bapak."

"Kalau nggak tahu, ya telepon dan tanya!"

Bi Lia pun gemetar ketakutan, "Saya sudah menelepon Ibu, tapi nggak bisa tersambung..."

Kevin kembali terdiam.

Bagus sekali, Raisa!

Tetapi Kevin sama sekali tidak khawatir, Raisa pasti akan kembali cepat atau lambat.

Mungkin, dia akan pergi ke kantor untuk menghadangnya nanti siang.

Itu yang biasa dia lakukan.

Tapi hal itu sudah membuat Kevin kehilangan selera makan, jadi dia berbalik dan pergi.

Brak!

Dia membanting pintu dengan keras.

Bi Lia sontak terdiam kebingungan.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Dia buru-buru menelepon Raisa, tapi tetap tidak tersambung setelah mencoba beberapa kali.

Bi Lia jadi agak bingung, tapi kemudian dia menebak kalau mungkin Pak Kevin pasti meminta cerai lagi. Dulu, Raisa biasanya akan tetap bertanya tentang keadaan suaminya, dan ketika ada kesempatan, dia akan langsung pulang.

Ini pertama kalinya dia tidak menjawab telepon.

Bi Lia mengira Raisa mungkin telah belajar strategi tarik-ulur. Dia akan menjauh dari rumah untuk waktu yang lama, sehingga suaminya akan merasa kehilangan.

Baguslah!

Bagaimanapun juga, semua orang sudah tahu bahwa Kevin sama sekali tidak tertarik pada Raisa.

Lagipula, Kevin adalah pria yang luar biasa, dan ada banyak godaan di luar sana. Jika istrinya tidak berusaha lebih keras, bagaimana dia akan bisa memikat hatinya?

...

Pada hari Sabtu, Raisa tidak perlu pergi bekerja, jadi dia tidur sampai siang.

Dia tidak punya waktu untuk membeli bahan makanan, jadi dia hanya memesan makanan enak secara daring.

Setelah makan, Raisa menjelajah internet di forum-forum teknologi. Beberapa wajah yang dikenalnya telah menjadi pemimpin industri.

Tetapi dia tidak menemukan informasi tentang guru pembimbingnya.

Seingatnya, gurunya itu sedang sibuk dengan penelitian.

Yang paling diingat Raisa adalah tatapan gurunya yang sehangat tatapan ibu.

Namun, dia malah mengecewakannya...

Mata Raisa tiba-tiba memanas, dan setelah sempat ragu sejenak, dia menelepon seseorang.

"Suri, ayo kita ketemuan."

Suri Pahlevi adalah teman sekelas Raisa semasa kuliah. Dulu dia akan merasa senang menerima teleponnya.

Namun sekarang, dia tidak terlalu antusias.

"Aku mengajakmu ketemu sepuluh kali, tapi kamu malah menolakku sembilan kali. Meskipun aku temanmu, aku juga nggak suka melihatmu terus membuang-buang waktuku seperti ini."

Suri lalu berkata dengan dingin, "Kamu pikir lagi. Apa kamu yakin mau bertemu denganku?"

Raisa hanya fokus pada keluarganya setelah menikah.

Dia bukannya sengaja mengabaikan persahabatan mereka, tetapi tanpa sadar menjauh.

Suri telah meniti kariernya selama beberapa tahun ini. Perusahaan teknologinya telah muncul di media sosial dan menjadi pusat perrhatian publik. Kesenjangan dengan teman-teman lamanya semakin melebar. Raisa merasa tidak percaya diri lagi, jadi dia pun semakin jarang menghubunginya.

Raisa menarik napas dalam-dalam dan perlahan berkata, "Aku sudah bercerai."

Suri terdiam beberapa saat, lalu berkata singkat, "Kapan? Di mana?"

...

Raisa membawa surat pengajuan perceraian ke Kantor Catatan Sipil. Setelah menjalani masa jeda selama tiga puluh hari, dia akan dapat mengajukan permohonan surat cerai.

Urusannya sudah selesai sebelum jam tiga, jadi dia tiba duluan di kafe untuk bertemu dengan Suri.

Dia memesan secangkir kopi, meminumnya hingga setengah, lalu tiba-tiba genggaman cangkir kopinya semakin erat dan seluruh tubuhnya menegang.

Dia tidak menyangka akan bertemu Kevin dalam waktu kurang dari sehari.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
ian ian
7h6h7h77uw
goodnovel comment avatar
Intania
Nyimak aja guaa
goodnovel comment avatar
Evi Widayanti
kebanyakan narasinya, dialognya semenel
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tak Ada Kata Maaf Untuk Mantan Suami   Bab 543

    Saat fajar baru saja menyingsing dan masih pagi buta, Rey mengira Raisa tidak akan membalas dalam waktu dekat, atau bahkan mungkin tidak membalas sama sekali. Namun, saat dia menatap taman di luar jendela kaca besar dan sinar matahari pagi yang lembut sambil menyantap sarapan, Raisa langsung meneleponnya.Rey terkejut, hampir menumpahkan kopinya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat nama penelepon, ketegangan menguasainya. Dia meletakkan cangkirnya, menarik napas sejenak sebelum menjawab."Raisa?""Kau masih sama Kevin?"Itu memang suara milik Raisa. Rey menundukkan pandangannya.Apa Raisa bereaksi begitu cepat karena dia masih khawatir tentang Kevin?"Iya. Aku pergi menemuinya semalam. Kondisinya buruk, penyakit lambungnya kambuh," kata Rey menggesekkan jarinya bolak-balik di atas cangkir kaca. "Dia tiba-tiba demam tinggi semalaman. Dokter bilang daya tahan tubuhnya lemah, dan lukanya agak meradang, jadi demam semalaman... Apa kau mau datang ke sini?"Raisa bertanya, "Untuk apa ak

  • Tak Ada Kata Maaf Untuk Mantan Suami   Bab 542

    Kevin menggertakkan giginya, dan berkata, "Serahkan padaku? Apa Bravi pantas? Raisa itu wanitaku."Wajahnya pucat dan muram. "Rey, kau kenal dia, kau juga seharusnya mengenalku. Jangan terus bicara omong kosong begini, mengerti? Jangan coba-coba menyuruhku mundur."Rey menyadari Kevin sama sekali tidak bisa diajak berunding. Mungkin orang luar yang bisa melihat lebih jelas. Secara naluriah, obsesi Kevin terhadap Raisa tidak terlalu berkaitan dengan Bravi.Dari masa kanak-kanak hingga dewasa, pola pikir pasti berubah. Meskipun Kevin dan Bravi selamanya memiliki duri di antara mereka, tetapi apa itu benar-benar sepenting itu?Yang benar-benar tidak bisa diterima oleh Kevin bukanlah bahwa Bravi telah merebut Raisa, melainkan Raisa dengan sengaja memilih Bravi. Hubungan sebab-akibat telah berubah. Semuanya sudah berbeda.Rey mungkin segera menyaksikan pemandangan seorang bajingan tanpa hati tiba-tiba jatuh cinta. Apa ini akan terjadi pada Kevin?Sebenarnya Rey berharap hal itu tidak akan

  • Tak Ada Kata Maaf Untuk Mantan Suami   Bab 541

    Tatapan Kevin sangat dingin, dia berkata, "Apa maksudmu?""Raisa punya banyak kesempatan untuk menghubungi kakek tentang perceraian kalian, tapi dia nggak melakukannya. Raisa sengaja menunggu sampai seluruh Keluarga Yuliardi berkumpul untuk mengumumkannya. Apa kau belum sadar? Raisa sama sekali nggak memberimu kesempatan. Dia sudah sekejam itu, tapi kenapa kau masih bodoh mengejarnya? Kevin, setelah semua yang Raisa lakukan padamu, tapi kau masih nggak mau melepasnya. Bukannya itu artinya kau suka sama dia?"Kevin menyeringai dingin dan menjawab, "Suka atau nggak, itu nggak penting. Aku cuma mau Raisa kembali, menjalani hidup seperti dulu."Rey menghela napas, bertanya kembali, "Kalau gitu, kau mau bersaing sama Bravi? Gimana caranya? Mana mungkin dia akan membiarkanmu?"Wajah Kevin langsung muram, tangannya mengepal erat. "Pasti ada caranya."Dia tidak mungkin melepaskan Raisa, itu adalah suara terkuat dalam hatinya.Kevin masih belum bisa menerima fakta bahwa Raisa telah meninggalkan

  • Tak Ada Kata Maaf Untuk Mantan Suami   Bab 540

    Rey sudah melihat Raisa dan Bravi bergandengan tangan sambil makan. Dia sudah mengantisipasi kenyataan itu, tetapi masih tidak sepenuhnya yakin. Sekarang, semuanya sudah jelas.Tidak heran Kevin berada dalam keadaan seperti ini… Tunggu, bukannya Kevin tidak pernah menyukai Raisa, jadi mengapa dia bertindak seperti ini?Dia sepenuhnya memahami konflik yang tak terselesaikan antara Kevin dan Bravi. Kevin mungkin sebagian besar merasa marah, tetapi ada sedikit kepanikan di sorot matanya.Dia panik? Apakah dia jatuh cinta pada Raisa?Rey bertanya, "Luka-lukamu itu, apa karena Bravi?"Kevin menggertakkan gigi dan berkata, "Dia mau merebut Raisa dariku."Rey tanpa ampun menusuk titik terlemahnya. "Jadi, dia beneran berhasil? Barusan, kan? Kau melihat sendiri Raisa sama Bravi?"Kevin menghardik, "Diam!"Rey mendapatkan jawaban dari reaksinya. Kevin memiliki temperamen buruk, dan dia sudah terbiasa dengan hal itu. Rey dengan tenang menghiburnya, "Apa rencanamu selanjutnya?"Nada bicara Rey yan

  • Tak Ada Kata Maaf Untuk Mantan Suami   Bab 539

    Bravi masih khawatir tentang kejadian muntahnya Raisa dan apakah dia masih mengalami sakit perut.Raisa tidak bisa menghindar, jadi dia memeluk tangan yang menekan tubuhnya.Kulit di lengannya terasa kencang dan halus, sangat nyaman untuk disentuh."Gimana rasanya kalau aku menyentuhmu begini?" tanya Raisa penasaran.Bravi menekan lehernya dan berkata, "Suka banget."Seolah mendapat dorongan, Raisa terus menyentuhnya dengan berani.Kekuatan lengannya bagus, otot-ototnya mudah mengeras dengan sedikit usaha, sedikit melunak saat rileks, tetapi tetap terasa kencang dan padat.Dia mempertahankan kadar lemak tubuh yang sangat rendah melalui olahraga setiap hari, sehingga menghasilkan fisik yang kuat, berotot, dan estetis. Pinggangnya benar-benar bebas lemak, dia bisa merasakannya bahkan tanpa menyentuh bagian itu.Raisa perlahan bergeser ke arah pergelangan tangan, bersiap untuk meringkuk di telapak tangannya untuk tidur.Saat melewati pergelangan tangan, dia menyentuh benjolan panjang dan

  • Tak Ada Kata Maaf Untuk Mantan Suami   Bab 538

    Ketika Raisa menjadi sekretaris Bravi, dia harus bersikap sopan kepada bosnya itu. Bahkan sebagai teman, dia tetap harus bersikap sopan. Rian benar tentang satu hal, tidak peduli hubungan apa pun, Bravi selalu memegang posisi sebagai atasan.Misalnya, ketika berinvestasi di perusahaannya Rian, dia adalah investor, pemegang saham, dan Rian harus menghormati statusnya.Raisa menghormati Bravi dengan cara yang sama. Awalnya, dia sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan Bravi. Bravi emang baik, tetapi statusnya tetap harus diperhatikan. Siapa bilang wanita tidak memiliki keinginan untuk menaklukkan seseorang yang lebih kuat dari dirinya? Raisa memilikinya, dan dia cukup dominan ketika mencium Bravi.Bayangkan pria yang tak terjangkau ini dicium olehnya, dengan kepala tertunduk, sungguh luar biasa, baik secara fisik maupun mental.Namun kelemahan Raisa adalah kurangnya kekuatan. Keunggulannya hanya berlangsung singkat sebelum Bravi mengalahkannya.Bravi tampak sulit didekati, tetapi di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status