MasukTetapi, sekarang Bravi justru menggunakan cara menculik anak-anaknya untuk memaksa Raisa kembali ke sisinya.Padahal masih ada cara yang lebih baik, kenapa harus dengan cara yang sulit diterimanya?Hati Raisa sangat lelah. Dia tidak ingin lagi menebak-nebak apa yang sebenarnya dipikirkan Bravi. Raisa hanya ingin melihat anak-anaknya, baik Bravi maupun Kevin tidak penting baginya!Tapi Rey bersikap jujur dan terbuka seperti ini, tidak memberinya tekanan apa pun. Apa pun yang dia pikirkan, Rey akan menuruti. Raisa menyukai hubungan seperti ini, karena tidak merepotkan, tidak ribet, dan tidak ada banyak masalah.Dia akan segera menemui Bravi untuk berhadapan langsung dan menuntut anak-anaknya. Jika ada satu orang di sisinya, Raisa akan punya lebih banyak keberanian."Oke."Raisa meninggalkan area perkotaan. Di sini tidak ada kamera pengawas dan batas kecepatan, jadi Raisa langsung memacu mobilnya.Rey mengira Raisa mengemudi secepat itu karena sangat khawatir pada anak-anak. Dia memegang
Melihat Raisa sudah tahu soal anak-anak, Richard pun memutuskan untuk jujur, "Bravi bilang akan memberitahumu setelah kau selesai dinas. Karena kau sudah tahu, nggak ada lagi yang perlu kusembunyikan darimu."Lalu dia mulai mengeluh tentang Bravi, "Raisa, kalau aku tahu lebih awal, aku pasti akan menghalanginya untukmu. Tapi aku berhasil atau nggak, itu lain cerita."Richard tampak kesal karena terpaksa membantu perbuatan jahat, lalu dengan wajah serius meminta maaf, "Raisa, kalau kau marah padaku, pukul atau maki aku saja, tapi aku benar-benar nggak tahu bagaimana semuanya bisa berkembang seperti ini. Aku sudah tanya Bravi, tapi dia nggak mau bicara apa-apa .…"Saat Richard terus mengoceh, raut wajah Raisa semakin muram.Rey menyuruh Richard segera diam.Richard merasa bersalah dan tidak berani berkata banyak. Ini mungkin aib terbesar dalam hidupnya. Selama ini Richard selalu setia pada teman-temannya. Dulu bahkan berjanji pada Raisa bahwa jika ada masalah, dirinya pasti akan datang k
Rey merebut ponsel Richard, dan saat berbicara dengannya, keduanya sudah saling bertukar kode rahasia.Mungkin Rey tahu Raisa akan segera menemukan Bravi, dan Raisa juga tahu kecerdasan emosional Rey yang tinggi, bahkan jika dia mengucapkan kalimat aneh, Rey akan segera menyadarinya, dan memang begitu adanya, mereka sangat kompak.Raisa langsung melacak lokasi Richard melalui panggilan telepon itu, lokasinya ada di Jerona. Raisa pun berpikir untuk terbang ke sana menemui Rey, sekaligus menghubungi Bravi untuk menanyakan dengan jelas soal pengawasan itu.Namun, saat hendak berangkat, Raisa menyadari ada sekelompok orang lain yang juga mengawasinya.Karena insiden Bravi, Raisa meningkatkan kewaspadaannya dan segera mencurigai sesuatu. Awalnya mengira itu masih Bravi, tapi ternyata Kevin.Raisa benar-benar tidak mengerti Kevin.Mereka berdua sedang bersama-sama mengasuh anak, kenapa masih mengirim orang untuk mengawasinya? Apa sebenarnya yang ingin dilakukan Kevin? Apa dua anak itu masih
Raisa tahu dari Rey bahwa dirinya diawasi, dan pada hari itu juga dia mulai menyelidiki informasinya.Raisa memiliki keahlian teknis yang mumpuni dan merupakan peretas kelas atas. Untuk memperoleh informasi, selama peralatannya memiliki daya komputasi yang memadai, dia bisa menemukan petunjuk dari lautan informasi dengan sangat cepat. Sekalipun pihak lawan menyembunyikannya dengan sangat baik, Raisa tetap dapat menghubungkannya dengan rekaman pengawasan lain untuk menganalisisnya.Dari rentang geraknya sejak tiba di Kota Suaga untuk urusan dinas, Raisa menemukan banyak rekaman pengawasan yang tumpang tindih, lalu menulis program kompleks agar sistem menganalisisnya secara otomatis, dan tak lama kemudian Raisa menemukan beberapa petunjuk.Dengan melacak lebih jauh ke belakang, Raisa berhasil mengidentifikasi orang tersebut.Itu adalah Bravi.Selama beberapa bulan setelah Raisa memutuskan hubungan dengannya, Bravi terus memantau setiap gerakannya.Tak heran jika saat Raisa berjalan sendi
Wajah Bravi tampak beku dan sangat dingin, lalu berkata, "Kau bisa tanya sendiri pada Pak Adit, apa kau bisa merebut anak-anak dari tanganku."Beban dan tekanan dari kalimat itu begitu nyata, hingga Adit merasa Bravi ini benar-benar gila, dan itu adalah jenis kegilaan yang membuat orang tidak berdaya.Karena dia kebal terhadap apa pun, sekeras dan sehina apa pun kata-kata yang dilontarkan padanya tidak membuatnya bergeming. Tidak ada rasa puas sama sekali, yang ada hanya keputusasaan dan rasa frustasi yang mendalam. Inilah yang benar-benar disebut tidak berdaya.Orang tanpa kelemahan itu sangat menakutkan. Adit benar-benar merasa urusan ini sudah tidak ada harapan.Setelah memikirkannya, Adit menoleh ke Kevin, tak tahu apakah Kevin masih akan tetap bersikeras?Sebenarnya sudah tidak bisa memaksakan lagi, kan? Wajah Kevin yang pucat pasi menunjukkan bahwa dia juga menyadari hal itu, memang sudah tidak ada jalan lagi.Namun tiba-tiba, Kevin mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah
Begitu pintu mobil terbuka, Kevin langsung turun.Adit segera menyusul keluar, diikuti oleh beberapa rombongan mobil di belakangnya. Para pengawal yang mengenakan setelan jas pun turun satu per satu, membuat suasana di sekitar menjadi dingin dan mencekam.Kevin melihat Bravi yang duduk di kursi belakang melalui kaca depan. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Bravi mencium Raisa secara paksa.Kevin sama sekali tidak bisa menahannya, saat itu wajahnya memerah karena amarah. Dan sekarang, Bravi telah merebut anak-anaknya. Seharusnya Kevin merasa lebih marah, tapi kali ini, dia justru ingin melihat ekspresi asing di wajah Bravi.Setelah mengenal Bravi selama bertahun-tahun, baru setelah Bravi merebut anak-anaknya dan berencana membesarkannya hingga dewasa, Kevin seolah baru pertama kali melihat Bravi yang sesungguhnya, dan seolah tidak pernah benar-benar mengenalnya di masa lalu.Perasaan ini sungguh mengerikan. Jika tidak memahami musuh, itu berarti dirinya berada dalam bahaya. Kevin sa
Namun Bravi tidak berbicara, dia malah menggunakan tangan yang tidak menahan Raisa untuk mengelus pipinya.Raisa secara naluriah menegang, napasnya menjadi lambat.Bravi menundukkan kepalanya, bibir tipisnya menempel di leher Raisa. Mata pria itu terpejam, bulu matanya yang tebal dan panjang sedikit
Setelah Raisa mengucapkan kata-kata itu, Bravi tidak menunjukkan reaksi apa pun. Memanfaatkan kesempatan itu, dia melanjutkan, "Di helikopter, aku bilang setelah semuanya selesai, aku akan mencarimu, kan? Itu bukan untuk menjelaskan apa yang terjadi sama Kevin, atau untuk menjelaskan siapa Pak Ardan
Tetapi sekarang, yang Bravi inginkan hanyalah mencium Raisa.Ciuman itu awalnya intens, lalu lembut, kemudian kembali penuh gairah.Pikiran Raisa sampai kosong karena ciuman itu, dia hampir tidak bisa bernapas. Lututnya cedera, dan dia tidak berani bergerak sembarangan, sehingga dia tidak punya pili
Jadi, bahkan untuk Raisa sendiri, seperti yang dikatakan Suri, hasil akhirnya adalah mereka akan tetap bersama.Ledakan emosi Kevin hari ini membuatnya takut, dan kemunculan Bravi membuat jantungnya berdebar kencang. Tiba-tiba Raisa menyadari bahwa karena mereka akan bersama cepat atau lambat, sebai







