LOGINHal ini benar-benar tidak bisa ditoleransi oleh Kevin. Amarah di dadanya hampir membakarnya hidup-hidup.Kevin nyaris tidak bisa menahan diri untuk menghancurkan ponselnya, tetapi begitu teringat bahwa dia masih harus mengirim video kepada Raisa, Kevin pun menahan dorongan itu.Bravi!Jangan sampai aku menemukanmu!Aku pasti akan membunuhmu!Kevin mengembalikan ponsel ke Aruna.Aruna mengirim video itu kepadanya.Kevin kemudian meneruskannya ke Raisa.Kurang dari satu menit, Kevin menelepon Raisa, dan berkata, "Video sudah kukirim, sudah lihat belum?"Raisa menjawab, "Sudah."Kevin memicingkan matanya, dan berkata, "Bayi kita sangat lucu, kan?"Raisa berkata, "Anakku tentu saja lucu."Kevin berkata, "Raisa, itu anak kita, dan mewarisi setengah gen dariku!"Raisa menangkap amarah dalam suara Kevin, lalu berkata, "Kau kenapa lagi? Mereka masih kecil-kecil, kau malah berebut perhatian di depan bayi itu denganku?"Kevin terpaksa menenangkan diri, lalu berkata, "Raisa, aku hanya merindukanm
Aruna yang menanggung tekanan besar, bertanya, "Pak Kevin, bagaimana dengan video yang diminta Bu Raisa?"Begitu memikirkan Raisa, hati Kevin akan terasa tercekik. Jika … jika skenario terburuk terjadi, yaitu Raisa mengetahui segalanya dan pasti akan mencari Bravi, maka lebih baik kalau dia menahan wanita itu di sisinya.Biarkan Raisa selamanya tak bisa lepas dari genggamannya, dan Bravi tidak akan pernah bisa mencapai apa yang diinginkannya ....Kenapa dia sampai terdesak ke titik ini?Kevin sebenarnya sudah mulai berubah ke arah yang lebih baik, dia tidak ingin bertindak seekstrem itu.Tetapi, justru Bravi yang mendorongnya ke tepi jurang. Kevin benar-benar tak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya.Aruna semalaman tidak tidur, dan sampai sekarang sarafnya masih tegang. Dia terpaksa mengingatkan lagi, "Pak … Pak Kevin, bagaimana dengan video yang diminta Bu Raisa?"Kevin saat ini agak sulit berkonsentrasi. Dia memijat keningnya kuat-kuat, berusaha menenangkan dirinya sedikit.Masalah
Suara Kevin terdengar sedikit serak, seperti tidak nyaman karena begadang dan sakit tenggorokan.Dia menambahkan, "Tunggu sebentar, aku agak lelah sekarang."Raisa berkata, "Di mana pengasuh mereka? Biar mereka saja yang mengirimkan." Percakapan yang seharusnya normal entah bagaimana justru membuat Kevin marah. "Apa aku nggak boleh merekamnya sendiri? Aku ingin menjadi ayah yang baik, merawat mereka dengan baik, merekam mereka, memangnya nggak boleh? Kenapa kau cerewet sekali?"Raisa menjawab, "Kevin, apa kau gila? Memangnya aku sudah salah apa padamu?"Kevin menghela napas dalam. "Pokoknya, tunggu saja aku kirimkan padamu, jangan minta ke orang lain."Setelah menutup telepon, Kevin menatap orang yang berlutut di depannya untuk melapor dengan ekspresi dingin.Panggilan Raisa mengganggu laporan anak buahnya, tetapi Kevin sudah mendengar semuanya dengan jelas.Dia hanya merasa sulit percaya.Setelah anak buahnya selesai berbicara, Kevin terdiam selama beberapa detik, lalu ekspresi wajah
"Kenapa kau berterima kasih padaku?" tanya Rey bingung, alisnya sedikit mengerut.Sebenarnya, kegilaan Bravi bahkan lebih menakutkan dan mengintimidasi. Lagipula, seseorang yang berani menyakiti dirinya sendiri tidak akan peduli pada orang lain.Bravi berterima kasih padanya karena kata-kata Rey telah menyadarkannya.Mungkin orang-orang di sekitar Bravi selalu mengikuti perintahnya dan tidak pernah berani berspekulasi tentang isi pikirannya. Bahkan jika mereka menebak pun, belum tentu akurat.Rey sebagai pihak ketiga dapat melihat semuanya dengan jelas, jadi hanya dengan beberapa kalimat santai, Bravi sudah bisa memahami alasan perpisahannya dengan Raisa.Dia memang sudah seharusnya berterima kasih kepada Rey.Dan, untuk alasan spesifiknya, Bravi tidak bermaksud menjelaskan pada Rey."Dalam sepuluh menit, Richard akan menghubungimu, dan memberitahumu bahwa ada seorang sesepuh di keluargamu yang mengalami kecelakaan, dan kau harus segera pulang." Dia mengucapkan kata-kata itu dengan na
Rey adalah orang yang sangat berwawasan, dia bisa melihat segala sesuatu dengan jelas.Bahkan dengan kepribadian Kevin yang buruk sehingga kebanyakan orang tidak akan bisa bergaul dengannya, tetapi Rey justru bisa, karena dia tahu bagaimana mempertahankan posisi dan batasannya sendiri.Namun yang paling utama adalah karena Rey cerdas sejak usia dini, terampil dalam hubungan interpersonal, dan memiliki kecerdasan emosional yang sangat tinggi. Jika mau, dia bisa saja membina hubungan dekat dengan sangat baik.Lagipula, dia suka menjadi orang yang memberi dan mahir menciptakan suasana santai dan hangat, dia mampu merasakan dan menyebarkan kebahagiaan.Sebaliknya, Bravi dan Kevin masing-masing memiliki masa kecil yang tragis dan mengerikan, sehingga membuat kepribadian mereka cacat dalam hal berinteraksi dengan orang lain.Oleh karena itu, Rey bisa memahami semuanya dengan sempurna.Wajah Bravi langsung pucat pasi.Setiap kata yang diucapkan Rey menusuk tepat ke hatinya, dan membuatnya sem
Pada akhirnya, semua itu hanyalah bentuk rasa kasihan pada dirinya sendiri.Sungguh menggelikan.Bravi merasa pusing dan pandangannya terasa kabur, gelombang rasa sakit dan amarah yang luar biasa melandanya. Jika saja dia secara aktif mengungkapkan cintanya saat masih bersama Raisa, bukankah Raisa akan memiliki kepercayaan diri untuk bersamanya, bahkan menikah dengannya?Sebaliknya, ketika anak-anak itu muncul, Raisa langsung mundur karena rasa takut.Bravi terus berpikir di mana letak kesalahannya, dan sekarang dia akhirnya mengerti.Tetapi, semua ini baru dia sadari setelah putus.Perpisahan mereka adalah akibat yang harus dia tanggung.Sama seperti Kevin yang baru menyadari bahwa dia menyukai Raisa setelah bercerai.Bravi mengira dia dan Kevin sangat berbeda, tetapi ternyata mereka sama-sama bodoh!Bravi menggertakkan gigi, sama sekali tidak tahan dengan kebodohannya sendiri. Bagaimana mungkin dia baru menyadari semua ini setelah beberapa bulan putus?Memang benar, Bravi tidak perna
Ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak dapat diterima, dari menyadari keberadaannya hingga benar-benar menerimanya, dibutuhkan sebuah proses.Jika seseorang mahir dalam menipu diri sendiri, proses ini dapat berlangsung lama.Sejak awal, setelah mengetahui Raisa dekat dengan Bravi, Kevin hanya men
Winny benar-benar berpikiran terbuka. "Lagipula, aku bukan pacar resminya. Bagi Bobby, aku ini cuma mainan untuk mengisi waktu. Pria itu nggak pernah mencintaiku. Aku cuma patuh menjalani tugas, anggap saja sedang kerja, jadi putus pun nggak masalah. Setelah kami berpisah nanti, dia cuma jadi satu h
Raisa mengajak Dina ke ruangannya dengan isyarat mata.Begitu Raisa berbalik, ekspresi Dina langsung berubah.Berlagak sekali dia!Sialan!…Di ruangan Raisa.Raisa duduk di sofa, memberi isyarat agar Dina duduk di seberangnya.Dina jelas merasa tidak nyaman dengan sikap Raisa yang mendominasi.Baga
Riani meliriknya. "Apa sudah ada janji?" Dina langsung berbohong, "Aku adiknya Raisa, apa perlu janji?" Riani berkata, "Bu Raisa sedang rapat, Anda harus menunggu. Tapi saya nggak bisa memastikan identitas Anda, jadi tolong beri tahu saya nama Anda agar saya bisa melapor kepada Bu Raisa." Dina be







