Mag-log in"Buat Bravi, sudah sangat sulit menerima keberadaan dua anak itu. Ke depannya masih harus merasakan sakit hati. Kalau cuma sekadar rasa sakit sesaat, mungkin itu masih bisa ditanggung. Tapi anak-anak tumbuh butuh waktu bertahun-tahun, itu menjadi seperti racun lambat yang menyiksa berkepanjangan .… Itu terlalu berat buat Bravi. Pada akhirnya, yang tersisa dari hubungan ini cuma tubuh yang penuh luka, bahkan kenangannya pun akan terasa pahit.""Aku nggak bisa sekejam itu padanya, dan aku juga nggak sanggup. Jadi, yang terbaik adalah berpisah," kata Raisa sambil menatap Suri. "Apa kau paham maksudku Suri?"Tentu saja Suri mengerti. Semakin paham semuanya, semakin sakit hatinya, dia lalu berkata, "Kalian berdua benar-benar malang ... Pas kau bilang putus, apa Bravi berusaha mempertahankanmu?""Dia langsung setuju putus.""Nggak mungkin. Bravi kan sangat posesif padamu ...."Raisa tersenyum tipis dan berkata, "Dia begitu justru karena terlalu paham aku. Bravi tahu alasanku mau putus. Meski
Begitu kata-kata itu terucap dari bibirnya, Suri langsung mendorong pintu dan masuk, melihat lukisan Raisa.Sebagai seseorang yang sering mengunjungi pameran seni, Suri langsung terkesan oleh emosi yang terpancar dari lukisan itu. Sangat menakjubkan, bahkan pelukis yang cukup terkenal di pameran seni masih belum bisa menandingi Raisa.Raut wajah Raisa tetap tenang, tampak baik-baik saja, tetapi semua emosinya dipendam di dalam hati.Benar-benar orang yang keras kepala. Walaupun hatinya sangat sakit, dia tidak pernah membiarkan pekerjaannya tertunda. Rekan kerjanya hampir tidak menyadari apa pun. Untung saja Suri selalu memperhatikannya dan mengajaknya bersenang-senang atau minum untuk melepas penat. Kalau tidak, Raisa bisa bekerja mati-matian sampai kelelahan.Emosinya sudah buruk, jadi tubuhnya tidak boleh sampai jatuh sakit. Karena itu, akhir-akhir ini, Suri sering menemani Raisa.Namun, setelah melihat lukisan ini, kata-kata yang dia tahan selama berhari-hari akhirnya meluap. "Raisa
Raisa bahkan sudah tidak tahu lagi apa yang sedang dia katakan, "Aku ... aku sekarang ... nggak bisa sendirian ... kau, apa kau bisa datang menemaniku? Aku nggak tahan ... Suri, aku nggak tahan lagi, aku benar-benar, benar-benar nggak tahan. Tubuhku sakit sekali, seluruh badanku sakit, semuanya sakit, aku rasanya hampir mati ...."Ponselnya terlepas dari genggaman. Raisa terjatuh di lantai, bahkan tidak memiliki tenaga untuk terisak, sementara air mata mengalir diam-diam.Suri sebenarnya tidak tega meninggalkan Raisa, dan bahkan belum beranjak dari sana. Begitu menerima telepon dari Raisa, dia langsung berlari keluar dari mobil.Saat keluar dari lift, pintu rumah Raisa terbuka. Suri berlari masuk dan melihat Raisa tergeletak di lantai ruang tamu.Semangatnya hancur, wajahnya dipenuhi keputusasaan.Air mata Suri langsung mengalir deras. Dia segera mengangkat Raisa, mengusap pipinya dengan lembut sambil menenangkannya, "Nggak sakit kok, nggak sakit ...."Baru ketika melihat Suri, sorot m
Raisa mengatakan kepada rekan kerjanya bahwa dirinya sempat terserang flu, sehingga kondisinya sangat buruk. Beberapa hari terakhir ini dia bekerja tanpa henti. Kalau malam tidak bisa tidur, Raisa akan bangun dan bekerja, mungkin sambil menangis dan sekaligus membaca dokumen-dokumen yang rumit.Pekerjaan membuatnya menutup diri dari segala hal di luar. Namun, ketika Suri mengeluh, apa Bravi ingin putus sampai-sampai tidak peduli lagi pada kekasihnya? Raisa tetap diam. Dia tahu Suri menyadari sesuatu dan hanya mencoba mengujinya, tetapi masih tidak tega untuk membicarakannya.Selama seminggu ini dia tidak berhubungan dengan Bravi. Mereka tidak saling memblokir, dan mereka berdua pun memiliki teman-teman yang sama, sehingga sebenarnya mereka bisa saling menghubungi kapan saja. Namun Raisa tahu, beberapa hari awal adalah masa yang paling krusial. Begitu menghubunginya dan mendengar suaranya yang sangat familiar, beberapa hari yang susah payah dilalui itu akan runtuh sia-sia, dalam sekej
Angga sudah tidak tahan lagi melihatnya, lalu menarik lengan Bravi dan berkata, "Jangan begini."Bravi seolah disengat sesuatu, langsung menepis tangan Angga. Tatapannya menjadi dingin sambil berkata, "Jangan ikut campur."Bravi yang biasanya ramah dan lembut pada teman-temannya, kini tampak seperti orang yang berbeda, dingin dan menakutkan. Angga membeku di tempatnya. Melihat Bravi hendak melanjutkan, dia berkata dengan kaku, "Bravi, apa pun yang terjadi antara kalian, pasti ada cara untuk menyelesaikannya. Kalian sudah bersama begitu lama dan punya hubungan yang sangat baik. Kalian nggak akan putus begitu saja."Kata-kata Angga ternyata berpengaruh. Bravi menatap tangannya sendiri dan merasa sangat asing. Apa yang baru saja dirinya lakukan? Bahkan tindakannya sendiri pun tidak bisa dipahami. Astaga! Bravi tersenyum pahit. Dia mengerti sekarang, kepanikan telah membuatnya kehilangan ketenangan. Padahal Bravi sudah berjanji pada Raisa, namun sekarang masih bersikap seperti ini? Seharus
Bravi memiliki banyak properti, jadi pindah adalah hal yang wajar, dan Angga pun berpikir demikian. Namun, waktu pemberitahuannya saat dini hari, jadi terasa aneh.Baru setelah mendengar Bravi mengatakan bahwa dia akan pindah dari rumah Raisa, Angga baru menyadari keseriusan situasi tersebut.Angga memanggil empat orang pekerja, dia terpaku saat memasuki rumah.Rumah itu gelap, hanya ada cahaya redup lampu neon dari luar jendela. Bravi duduk sendirian di sofa dan tampak terpaku seolah menyatu dengan kegelapan.Angga menyalakan lampu, tetapi cahayanya terlalu menyilaukan. Bravi pun menutup mata dan menutupinya dengan tangan.Kemeja hitamnya terbuka dua kancing teratas, dan beberapa bagiannya tampak kusut. Ketika Bravi menurunkan tangannya, terlihat janggut tipis muncul di sekitar dagunya.Sebenarnya, penampilan Bravi tidak berbeda dari biasanya, tetapi suasana yang menyelimutinya terasa sangat mencekik dan ada aura kesedihan yang tidak biasa."Bravi, ada apa?" Angga memiliki firasat sam
Raisa terdiam, dia menoleh dan menatap ke luar jendela mobil. Seiring pemandangan berlalu dengan cepat, suasana hatinya perlahan-lahan kembali tenang.Dalam hal-hal besar, dia mulai terbiasa dengan Bravi yang membantunya. Tetapi untuk hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, Raisa masih belum terb
"Saya rasa hanya dengan cara itu bisa masuk akal," kata Raisa. Raisa melempar bola balik kepadanya.Dia merasa cukup puas dengan dirinya sendiri, karena berhasil membuat Bravi bingung untuk pertama kalinya.Dengan penampilan dan statusnya, dia tidak pernah kekurangan pengagum. Tetap melajang selama
Perasaan cemburu hanya pernah muncul sebentar sewaktu kecil, setelah itu dia tidak pernah lagi iri pada Kevin karena memiliki keluarga yang utuh.Namun, saat mendekati usia tiga puluh tahun, iri hati itu tiba-tiba kembali dengan dahsyat, meluapkan amarahnya. Ini adalah pertama kalinya setelah bertah
Rey tidak ingin menjadi orang seperti itu.Dia menenangkan diri sebelum keluar dari ruangan.Tampak Bravi sedang minum alkohol, dengan Raisa di sampingnya.Rasa tidak nyaman yang baru saja berhasil ditekannya kembali meluap. Dia tidak sanggup melihat lebih lama, lalu mengalihkan pandangan. Saat tat







