登入Kevin menjawab, "Langsung rebut saja, sesederhana itu. Nggak ada lika-liku yang rumit antara aku dan Bravi."Adit berkata, "Bravi itu sudah nggak peduli dengan harga dirinya. Dia memaksa mau membesarkan anak-anakmu, mana mungkin kau bisa merebutnya semudah itu?"Kevin menyadari bahwa dia tidak takut pada sikap dingin Bravi atau kesulitannya yang tak diketahui orang, tapi takut kalau Bravi tidak tahu malu. Sebab, begitu Bravi mulai tidak tahu malu, Kevin justru tak berdaya.Namun, jika dipikirkan sebaliknya, Kevin juga sama tidak tahu malunya. Seandainya anak-anak tidak menjadi alatnya, sebenarnya Bravi pun sudah tak berdaya terhadapnya.Itulah sebabnya, dia sendiri yang sudah memaksa Bravi sampai pada langkah mencuri anak-anak.Hubungan antara Kevin dan Bravi benar-benar tak masuk akal.Tapi sampai pada titik ini, Kevin tidak menyangka karena terlalu banyak berada dalam posisi pasif, hal itu membuatnya benar-benar sangat marah!Begitu Kevin menemukan bukti bahwa Bravi yang melakukannya
Suara Rey terdengar, dan rasa gelisah aneh di hati Raisa pun mereda, membuatnya merasa jauh lebih tenang. Dengan suara yang dalam, dia berkata, "Aku juga sangat merindukanmu."Suara Rey bertanya dengan lembut, "Akhir-akhir ini kau lagi nggak senang ya?"Raisa tiba-tiba tertawa sinis, menatap layar komputer dengan tatapan dingin dan muram, lalu berkata, "Iya, aku lagi nggak senang.”Rey tersenyum lebih lembut lagi, suaranya pun semakin merdu dan menenangkan. "Tunggu aku. Aku segera datang menemanimu, dan pasti akan membuatmu bahagia lagi."Yang diinginkan Raisa memang sesederhana itu, seorang pria yang tidak memberinya tekanan apa pun. Tentu saja, dirinya dan Rey punya kecocokan yang entah dari mana asalnya. Dia menekankan, "Cepat, ya."Rey menyunggingkan sudut bibirnya dan berkata, "Tenang saja, demi membuatmu cepat bahagia, aku akan cari cara."Raisa berkata lagi, "Kalau kau butuh bantuan di sana, bilang saja padaku."Rey mengedipkan mata, lalu berkata, "Nggak masalah, kan aku sudah b
Bukan lagi membiarkan Raisa menebak-nebak dan merasakannya sendiri.Ini semua adalah pelajaran yang dipetik Bravi setelah mereka putus, dia harus berubah.Setelah bermain-main sebentar, Bravi merekam video bayi-bayi itu dengan ponselnya.…Kota Suaga, hari keempat Raisa dalam perjalanan dinas.Malam harinya, Raisa menerima telepon dari Richard yang langsung menyapanya dengan aksen Jerona yang kental, "Raisa, kau membuatku sangat kaget. Kau ternyata bersama Rey? Sejak kapan? Kenapa seleramu jadi seburuk ini? Kau pernah pacaran sama Bravi yang tampan, gagah, dengan latar belakang kelas atas, bagaimana bisa kau tertarik pada Rey?"Suara Richard penuh dengan keterkejutan dan keinginan untuk menasihatinya agar segera sadar, "Rey itu kan kupu-kupu, di mana-mana suka menggoda wanita, punya banyak pacar di luar sana, dan banyak temannya yang gay. Aku bahkan merasa dia menyukai pria dan wanita. Tanteku selalu khawatir Rey punya delapan atau sepuluh anak haram di luar sana, kau kok bisa jatuh ci
Perumahan Bukit Linvara terletak di kawasan wisata pinggiran barat kota. Karena area ini tidak tercantum di peta, maka tidak ada nama resmi, hanya menyebutnya secara sederhana sebagai Bukit Linvara.Luas seluruh bukit ini sangat besar, hampir seluruh tubuh bukit tersebut merupakan taman belakang kediaman megah ini. Taman ini dikelola oleh staf khusus, dan setiap sudutnya memiliki pemandangan indah yang mewah, jauh lebih indah dari taman umum. Belum lagi rumah kaca yang dibangun untuk mengembangkan ekosistem tropis, tempat ini bisa dianggap sebagai museum alam.Bangunan utama terdiri dari beberapa gedung, lengkap dengan fasilitas medis darurat, ruang steril yang memungkinkan dokter melakukan operasi pembedahan, serta berbagai obat-obatan. Selain itu, terdapat lapangan golf, lapangan tenis, kolam renang, dan berbagai fasilitas olahraga lainnya.Ada landasan helikopter dan landasan pacu pesawat khusus, serta lintasan balap melingkar di lereng bukit untuk balapan jika bosan. Di sini tidak
Begitu Bravi mengucapkan kata terakhirnya, terdengar suara berantakan dari ujung telepon, sepertinya ada banyak barang yang dilempar.Kevin pasti sudah marah besar, karena selalu ingin seluruh dunia berjalan sesuai keinginannya, tapi itu hal yang mustahil. Oleh karena itu, dia bertekad untuk mengendalikan segalanya. Begitu kehilangan kendali, Kevin pasti akan meledak.Bravi tidak terkejut.Raisa adalah titik lemahnya.Kevin bisa saja menggunakan kedua anak itu untuk menekan Raisa.Tapi anak-anak itu sekarang sudah tumbuh menjadi manusia seutuhnya, dan hal itu pun menjadi titik lemah Kevin.Bravi pun memiliki senjata paling ampuh untuk menghukum Kevin.Semua ini adalah sebab-akibat, dan Kevin seharusnya sudah memikirkannya.Bravi menutup matanya, bulu matanya yang lentik menutupi aura dingin dan ketajaman di sorot matanya.Dulu, saat masih kecil, Bravi berharap bisa berteman dengan Kevin. Saat terluka, dia tidak berani menangis, karena tahu tidak ada orang dewasa yang akan merawatnya.S
Tidak ada yang bisa lebih memahami satu sama lain selain Bravi dan Kevin, sehingga ketika mereka saling menyinggung luka lama, itu pasti sangat tepat sasaran.Ketika Kevin mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Bravi, suara-suara penghinaan yang dilontarkan ibunya, Monica, sejak kecil tiba-tiba memenuhi telinganya. Luka masa kecilnya langsung menyerang, dan Kevin kembali merasakan emosi terpendam dari masa kecilnya yang tidak bisa diluapkan. Pikirannya bahkan kosong beberapa detik sebelum akhirnya menyadari apa yang sebenarnya dikatakan Bravi."Bravi, kau benar-benar cari mati!"Setiap kata seolah meluncur dari sela-sela giginya, Bravi sudah merasakan amarah Kevin yang mendalam. Mengapa bisa seperti ini? Hanya karena dia mengekspresikan emosinya.Dulu dia jarang melakukan hal seperti ini, padahal sebenarnya sangat marah. Saat benar-benar murka, amarah itu sudah terpendam entah berapa lama.Bravi sekarang bersiap untuk berubah, tidak akan lagi menahan diri seperti dulu. Lagip
Hati Bravi terasa begitu sakit hingga wajahnya kaku, tatapannya sejenak membeku.Setelah memasangkan cincin, dia duduk tegak, menutup matanya.Bravi tidak ingin Raisa melihat apa pun di matanya.Sejujurnya, di kediaman Yuliardi tadi, dia ingin nekat bertindak.Tetapi, itu pasti akan menakuti Raisa.
Barisan demi barisan emas batangan hampir menumpuk seperti gunung kecil, namun itu belum selesai. Hesti kemudian membuka kotak lain yang juga penuh dengan emas.Stevi berkata, "Ini semua buatmu. Aku sengaja menyiapkan ini semua sebagai kejutan. Biar dibungkus dulu, nanti Bravi bantu bawa."Raisa ter
Raisa tahu kakek sedang melindunginya dan yakin akan dapat menepati janji-janjinya, tetapi kakek sudah lanjut usia. Kalau nanti ada masalah, bagaimana mungkin Raisa tega terus-menerus merepotkannya?Untungnya hari ini semuanya sudah selesai! Dan pada saat itu, Raisa tidak mungkin menolak.Dia menga
Raisa mengangguk. "Kami memang sudah seharusnya datang menemui Tante."Stevi benar-benar menyukai aura dingin dan angkuh Raisa. Meskipun dia sering meremehkan Bravi, tetapi anaknya memang tampan, dan banyak disukai gadis muda.Raisa berinteraksi dengan tenang di dekatnya, selain mungkin karena belum







