แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Moore
Tanganku yang menggenggam ponsel mengencang. Aku perlahan menutup telepon dan berbalik. Tatapanku bertemu dengan mata London yang sedikit tegang. Hatiku terasa perih dan getir.

"Temanku. Dia akan menjadi ayah .... Kamu ingin menjadi ayah?"

London tampak sedikit lega, lalu memelukku erat. "Nggak apa-apa, aku nggak terburu-buru."

Mulutku terasa pahit. Benarkah? Lalu, mengapa dia begitu tidak sabar Sharon hamil?

Tatapan penuh cinta di mata London masih sama seperti biasanya.

"Kehidupan berdua saja sebenarnya lebih indah. Aku sudah membeli tiket kapal pesiar untuk tiga hari lagi. Gimana kalau kita pergi keliling dunia?"

Rencana perjalanan yang digambarkan London sangat menarik, tetapi tiga hari lagi, aku akan meninggalkannya.

Aku perlahan mendorongnya, menahan kesedihan sambil bertanya, "London, gimana kalau aku lahirin anak untukmu?"

Tanganku perlahan mengusap perutku. Anak yang datang begitu tiba-tiba ini membuatku tak siap.

Meskipun aku sudah memutuskan untuk pergi, aku tak ingin menyembunyikan keberadaan anak ini. London adalah ayahnya. Dia berhak mengetahui kebenarannya.

Namun, London terdiam. Keraguannya membuatku seperti terjatuh ke dalam jurang es.

"Lillian, kita masih muda. Soal anak, nanti saja kita bicarakan."

Jantungku terasa terhimpit keras. Setelah terdiam lama, aku baru menjawab pelan, "Oke."

Karena anak ini tidak dinantikan oleh ayahnya, aku pun tak perlu mengungkapkan keberadaannya.

Aku akan membawanya pergi bersamaku. Meskipun tanpa ayah, dia tetap akan menjadi anak yang paling kusayangi.

London tampak lega. Dia merasa sudah mencapai kesepakatan denganku, lalu mengeluarkan sebuah kalung berlian yang indah dengan gembira.

"Saat aku melihatnya di balai lelang, aku langsung tahu kalung unik ini adalah milikmu." Dia menatapku dengan lembut dan mengenakan kalung itu di leherku dengan tangannya sendiri.

Saat bibirnya hendak menyentuh pipiku, pintu kamar tidur tiba-tiba didorong hingga terbuka dengan keras.

Sharon berdiri di luar pintu sambil memegangi perutnya. Wajahnya pucat. Ketika pandangannya tertuju pada kami, tubuhnya terhuyung lemah, seolah-olah akan pingsan.

Wajah London berubah. Dia mengambil langkah besar ke arah Sharon dan memeluknya.

Aku yang tak sempat menghindar terdorong jatuh olehnya. Lututku menghantam sudut meja dengan keras. Rasa sakitnya membuat air mataku langsung mengalir.

Namun, perhatian London sepenuhnya tertuju pada Sharon, bahkan tak sedikit pun pandangannya diberikan kepadaku.

"Kamu lagi hamil, kenapa keluyuran? Gimana kalau anaknya kenapa-napa?" Dia melindungi Sharon dengan hati-hati. Kelembutan di matanya menusuk mataku, membuatku bahkan mulai kesulitan bernapas.

Sharon bersandar di pelukannya, mencengkeram kerah bajunya erat-erat, berkata dengan suara tercekat, "Aku sendirian di kamar. Au sangat takut!"

London menenangkannya, lalu menatapku dengan sorot mata tak berdaya. "Lillian, kamu tahu, kehamilan Sharon kali ini sangat penting, nggak boleh terjadi apa-apa .... Aku akan mengantarnya istirahat. Sebentar saja ya."

Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk patuh.

Tatapan London menjadi semakin lembut. Dengan nada hangat, dia berkata kepadaku, "Kamu istirahatlah lebih awal. Setelah Sharon tenang, aku akan segera kembali menemanimu."

Begitu selesai berbicara, dia pun menuntun Sharon pergi dengan tergesa-gesa.

Di detik terakhir sebelum pergi, Sharon menoleh dan memberiku tatapan penuh tantangan. Merebut suamiku dariku tampaknya membuatnya sangat puas.

Kakiku tanpa sadar mengikuti mereka berdua. Mungkin tanpa melihat pengkhianatan London dengan mata kepalaku sendiri, aku tetap tidak akan bisa benar-benar menyerah dan pergi.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 10

    Willen memelototi London dengan marah dan memakinya, "Dua tahun ini, Lillian sama sekali nggak mau mengingat masa lalu, bahkan berharap nggak pernah mengenalmu!""Kamu berhubungan dengan dua wanita sekaligus, bahkan mengurungnya di ruang bawah tanah yang gelap dan lembap, hampir membunuhnya dan anaknya! Berani sekali kamu datang mencarinya sekarang!"Wajah London sangat suram. Setiap kalimat Willen menusuk hatinya dengan kejam. Rasa malu dan tertekannya tak punya tempat untuk dilampiaskan. Dia meraung dan mengayunkan tinju ke arah Willen.Namun, dia meremehkan Willen. Tumbuh di antara kilatan pisau dan bayangan pedang, dalam beberapa gerakan saja Willen sudah memukulinya hingga setengah mati, membuatnya meringkuk kesakitan di lantai.Willen sudah lama ingin menghajar London. Kali ini, London sendiri yang datang mencari masalah. Willen begitu bersemangat hingga tak mau berhenti. Akhirnya, aku yang menghentikannya, "Willen, cukup."London mengangkat kepala. Matanya berbinar. "Lillian, ka

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 9

    Kabar bahwa Keluarga Joman diambil alih oleh seorang wanita menyebar ke seluruh Itari.Berbagai kekuatan mulai bergerak, ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyelidiki kekuatan kami yang sebenarnya. Hanya Black Ende yang tidak menunjukkan reaksi apa pun.Seluruh mafia Itari tahu bahwa pemimpin Black Ende telah menjadi gila. Sejak istrinya tewas dalam kebakaran, dia memenjarakan istri kakaknya dan menyiksanya, bahkan membuatnya kehilangan seorang anak.Peristiwa itu mengguncang keras Black Ende. Bawahan mantan ketua bertarung dengan para pendukung London. Kini, Black Ende terjerumus dalam perang saudara.Ibu London pun terkena strok karena terlalu sedih dan sekarang harus tinggal lama di sanatorium.Saat Willen membawa kabar itu kembali, dia terus mengamatiku dengan hati-hati. Namun, aku hanya bersandar dengan tenang di kursi, membicarakan urusan pekerjaan dengannya.Setelah urusan selesai dibahas, Willen tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Nona ... eh, Lillian, apa di hatimu masih

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 8

    Setelah diselamatkan oleh Willen dan dibawa kembali ke Caserto, karena gejolak emosiku terlalu besar, malam itu juga aku mengalami demam tinggi.Aku tak sadarkan diri selama sehari semalam, bahkan hampir kehilangan anakku.Willen terus menemaniku. Matanya memerah karena kurang tidur, wajahnya tampak letih.Setelah aku terbangun, dia bercanda padaku, "Nona, kalau kamu masih nggak sadarkan diri, aku akan membawa orang untuk meratakan wilayah London!"Dia membenci London karena telah mengecewakanku dan mencelakaiku hingga seperti ini.Aku menggeleng pelan, berkata dengan lemah, "Nggak perlu. Mulai sekarang aku dan dia nggak akan punya hubungan apa pun lagi. Anggap saja sebagai orang asing."Willen terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Semuanya sesuai keinginan Nona saja.""Panggil aku Lillian." Aku menatapnya, dengan keras kepala menunggunya mengubah panggilan.Willen segera mengalah. Dengan suara yang hampir tak terdengar, dia memanggil namaku.Aku memperlihatkan senyuman tulus. "

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 7

    Setelah keluar dari rumah sakit, London kembali ke vila yang telah hangus.Belum genap tujuh hari, dia seolah-olah menua sepuluh tahun. Pakaian yang dikenakannya pun tampak longgar di tubuhnya.Vila itu tetap dibiarkan seperti semula. Semua orang dilarang masuk. Dia ingin menangani sendiri jasadku.Pintu ruang bawah tanah yang runtuh segera dibersihkan, hanya menyisakan sebuah lubang hitam pekat.London menahan kesedihan, berjalan masuk ke ruang bawah tanah itu selangkah demi selangkah.Tiba-tiba, dia berhenti. Di dekat pintu yang tidak terbakar habis, dia memungut sepotong kertas yang tersisa. Itu adalah surat perjanjian cerai yang hanya tersisa satu sudut karena terbakar.Pupil London menyempit. Seluruh tubuhnya terpaku di tempat. Dia teringat pada hari itu, Lillian pernah mengeluarkan sebuah dokumen dan menyerahkannya ke tangannya. Mungkinkah sejak lama Lillian sudah berniat bercerai darinya?"Nggak mungkin! Lillian sangat mencintaiku, mana mungkin dia ingin bercerai denganku!" Lond

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 6

    Ambulans membawa beberapa orang yang terluka ke rumah sakit. Ibu London bergegas datang. Saat melihat London yang terluka parah, dia tak kuasa menahan tangis."Anakku, terimalah kenyataan. Lillian sudah meninggal! Di dalam ruang bawah tanah itu, mustahil ada orang hidup. Berhentilah mencarinya!"Setengah lengan London mengalami luka bakar parah, dibalut perban tebal. Dia seperti kehilangan jiwanya, duduk terpaku di ranjang rumah sakit.Ternyata rasa terbakar oleh api begitu menyakitkan!Lillian yang biasanya tergores pisau buah saja akan berteriak kesakitan, bagaimana mungkin bisa menahan penderitaan seperti itu?Jika bukan karena dia mengurung Lillian di dalam, Lillian tak akan mengalami rasa sakit seperti itu.Penyesalan terus-menerus menggerogoti hati London, membuatnya tersiksa setiap saat.Sharon membawa sekeranjang buah ke rumah sakit untuk menjenguk London. Dia mengenakan gaun putih bersih, tepat menutupi perutnya yang sedikit membulat, tampak polos dan cantik.Saat mengetahui L

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 5

    Saat api mulai tak terkendali dan menyebar, London sedang menemani Sharon di kamar melakukan pendidikan janin.Ketika kepala pelayan datang melapor, London masih memasang wajah tidak puas dan menegur, "Hanya masalah kecil seperti ini saja nggak bisa ditangani sendiri? Tim pengawal yang kubayar mahal setiap tahun itu cuma bisa makan gaji buta?""Tapi ...." Kepala pelayan berkeringat deras, terus-menerus menyeka dahinya dengan saputangan."Tapi Nyonya masih di ruang bawah tanah. Api terlalu besar. Orang-orang kita sama sekali nggak bisa masuk untuk menyelamatkan ....""Apa katamu?" Ekspresi London berubah drastis. Di tengah panggilan Sharon, dia berlari ke arah ruang bawah tanah dengan terhuyung-huyung."Bos, jangan lakukan hal bodoh! Api di dalam terlalu besar, mustahil masih ada orang hidup!"Namun, London sama sekali tidak mendengar, bersikeras hendak menerobos masuk ke kobaran api.Untung kepala pelayan sigap, mati-matian menarik London yang hendak menerjang lautan api."Lepaskan aku

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status