แชร์

Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat
Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat
ผู้แต่ง: Moore

Bab 1

ผู้เขียน: Moore
Aku memegang tespek kehamilan. Dengan penuh sukacita, aku berniat mencari London untuk berbagi kabar baik tentang kehamilan tak terduga ini, tetapi tanpa sengaja aku justru mendengar berita yang menghancurkan hatiku.

Sebulan yang lalu, kakak London tewas dalam sebuah perkelahian bersenjata. Posisi pewaris mafia terpaksa jatuh ke tangan London.

Ibu London memohon dengan getir agar Sharon tetap tinggal. "Aku sudah kehilangan satu putra. Aku nggak bisa kehilangan menantu perempuanku juga. Kamu harus meninggalkan keturunan untuk Keluarga Tahir!"

Sebulan kemudian, Sharon benar-benar hamil. Selama ini, aku selalu mengira anak yang dikandungnya adalah anak mendiang kakak London, tetapi tak pernah kusangka ternyata itu adalah darah daging London!

Kepalaku berdengung, sama sekali tak mampu menerima kenyataan kejam ini.

London masih memperingatkan ibunya, "Anak ini adalah anak peninggalan kakak! Kalau aku menikahi Sharon, jangan pernah menyebut hal ini di depan Lillian lagi. Dia bisa marah."

Ibu London mengiakan dengan enggan. Matanya penuh ketidakpuasan. "Kamu begitu menyukai perempuan yang nggak bisa melahirkan anak untukmu itu? Kamu hampir saja hancur di tangannya!"

"Kalau bukan karena aku diam-diam memberimu obat dan membuatmu tidur dengan Sharon, Keluarga Tahir sampai sekarang nggak akan punya pewaris!"

Suara London dingin ketika memotong ucapannya, "Masalah obat itu, aku bisa nggak mempermasalahkannya. Meskipun Sharon mengandung anakku, hanya Lillian yang akan menjadi istriku!"

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Setelah mengangkat telepon, ekspresinya berubah. "Sharon nggak enak badan. Aku akan bawa dia ke dokter dulu."

Melihat London yang pergi tergesa-gesa, ibunya tersenyum lega. "Masih bilang nggak suka Sharon. Lihat saja betapa gugupnya dia. Jelas hatinya sudah benar-benar tergerak!"

Aku bersandar di dinding, memaksa diri tetap tenang, tetapi tangan yang menggenggam tespek itu gemetar hebat.

Akal sehat memberitahuku bahwa berpura-pura tidak tahu adalah pilihan terbaik. London tidak akan pernah membiarkanku mengetahui hal ini. Jika aku berpura-pura tidak tahu, aku akan tetap menjadi istri bahagia yang disayangi London.

Namun, aku tak akan pernah bisa melakukan itu. Kebenaran yang terungkap membuatku sesak napas. Aku berjalan pergi dengan sempoyongan, tanpa mengusik siapa pun.

Sejak tiga tahun lalu, ketika orang tuaku tewas dalam sebuah perkelahian bersenjata, London menjadi satu-satunya keluargaku.

Aku melepaskan hak waris atas Keluarga Joman demi menikah dengan London dan sempat mengira dia adalah sandaran terkuatku. Namun, dia mengkhianatiku.

Aku menelepon sekretaris lama ayahku. Setelah kedua orang tuaku meninggal, seluruh aset Keluarga Joman dikelola oleh sekretaris itu. Dia memiliki kesetiaan mutlak kepada ayahku.

"Tiga hari lagi, aku akan meninggalkan London dan kembali ke Keluarga Joman. Sembunyikan semua jejak keberadaanku."

Sekretaris itu bertanya dengan terkejut, "Kenapa? London sangat mencintaimu. Kalau dia nggak bisa menemukanmu, dia bisa jadi gila."

Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman pahit. "Nggak lagi. Dia akan punya istri baru dan akan segera menjadi seorang ayah. Sebentar lagi dia akan melupakanku."

Sekretaris itu terdiam. Sesaat kemudian, dia menghela napas.

"Aku benar-benar nggak nyangka London pada akhirnya akan mengkhianatimu. Tapi jangan sedih. Segala sesuatu milik Keluarga Joman adalah milikmu. Tiga hari lagi, aku akan merapikan semuanya dan menyerahkannya langsung ke tanganmu!"

Aku baru saja hendak mengucapkan terima kasih ketika tiba-tiba dari belakang terdengar suara rendah London. "Siapa yang akan jadi ayah?"
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 10

    Willen memelototi London dengan marah dan memakinya, "Dua tahun ini, Lillian sama sekali nggak mau mengingat masa lalu, bahkan berharap nggak pernah mengenalmu!""Kamu berhubungan dengan dua wanita sekaligus, bahkan mengurungnya di ruang bawah tanah yang gelap dan lembap, hampir membunuhnya dan anaknya! Berani sekali kamu datang mencarinya sekarang!"Wajah London sangat suram. Setiap kalimat Willen menusuk hatinya dengan kejam. Rasa malu dan tertekannya tak punya tempat untuk dilampiaskan. Dia meraung dan mengayunkan tinju ke arah Willen.Namun, dia meremehkan Willen. Tumbuh di antara kilatan pisau dan bayangan pedang, dalam beberapa gerakan saja Willen sudah memukulinya hingga setengah mati, membuatnya meringkuk kesakitan di lantai.Willen sudah lama ingin menghajar London. Kali ini, London sendiri yang datang mencari masalah. Willen begitu bersemangat hingga tak mau berhenti. Akhirnya, aku yang menghentikannya, "Willen, cukup."London mengangkat kepala. Matanya berbinar. "Lillian, ka

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 9

    Kabar bahwa Keluarga Joman diambil alih oleh seorang wanita menyebar ke seluruh Itari.Berbagai kekuatan mulai bergerak, ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyelidiki kekuatan kami yang sebenarnya. Hanya Black Ende yang tidak menunjukkan reaksi apa pun.Seluruh mafia Itari tahu bahwa pemimpin Black Ende telah menjadi gila. Sejak istrinya tewas dalam kebakaran, dia memenjarakan istri kakaknya dan menyiksanya, bahkan membuatnya kehilangan seorang anak.Peristiwa itu mengguncang keras Black Ende. Bawahan mantan ketua bertarung dengan para pendukung London. Kini, Black Ende terjerumus dalam perang saudara.Ibu London pun terkena strok karena terlalu sedih dan sekarang harus tinggal lama di sanatorium.Saat Willen membawa kabar itu kembali, dia terus mengamatiku dengan hati-hati. Namun, aku hanya bersandar dengan tenang di kursi, membicarakan urusan pekerjaan dengannya.Setelah urusan selesai dibahas, Willen tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Nona ... eh, Lillian, apa di hatimu masih

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 8

    Setelah diselamatkan oleh Willen dan dibawa kembali ke Caserto, karena gejolak emosiku terlalu besar, malam itu juga aku mengalami demam tinggi.Aku tak sadarkan diri selama sehari semalam, bahkan hampir kehilangan anakku.Willen terus menemaniku. Matanya memerah karena kurang tidur, wajahnya tampak letih.Setelah aku terbangun, dia bercanda padaku, "Nona, kalau kamu masih nggak sadarkan diri, aku akan membawa orang untuk meratakan wilayah London!"Dia membenci London karena telah mengecewakanku dan mencelakaiku hingga seperti ini.Aku menggeleng pelan, berkata dengan lemah, "Nggak perlu. Mulai sekarang aku dan dia nggak akan punya hubungan apa pun lagi. Anggap saja sebagai orang asing."Willen terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Semuanya sesuai keinginan Nona saja.""Panggil aku Lillian." Aku menatapnya, dengan keras kepala menunggunya mengubah panggilan.Willen segera mengalah. Dengan suara yang hampir tak terdengar, dia memanggil namaku.Aku memperlihatkan senyuman tulus. "

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 7

    Setelah keluar dari rumah sakit, London kembali ke vila yang telah hangus.Belum genap tujuh hari, dia seolah-olah menua sepuluh tahun. Pakaian yang dikenakannya pun tampak longgar di tubuhnya.Vila itu tetap dibiarkan seperti semula. Semua orang dilarang masuk. Dia ingin menangani sendiri jasadku.Pintu ruang bawah tanah yang runtuh segera dibersihkan, hanya menyisakan sebuah lubang hitam pekat.London menahan kesedihan, berjalan masuk ke ruang bawah tanah itu selangkah demi selangkah.Tiba-tiba, dia berhenti. Di dekat pintu yang tidak terbakar habis, dia memungut sepotong kertas yang tersisa. Itu adalah surat perjanjian cerai yang hanya tersisa satu sudut karena terbakar.Pupil London menyempit. Seluruh tubuhnya terpaku di tempat. Dia teringat pada hari itu, Lillian pernah mengeluarkan sebuah dokumen dan menyerahkannya ke tangannya. Mungkinkah sejak lama Lillian sudah berniat bercerai darinya?"Nggak mungkin! Lillian sangat mencintaiku, mana mungkin dia ingin bercerai denganku!" Lond

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 6

    Ambulans membawa beberapa orang yang terluka ke rumah sakit. Ibu London bergegas datang. Saat melihat London yang terluka parah, dia tak kuasa menahan tangis."Anakku, terimalah kenyataan. Lillian sudah meninggal! Di dalam ruang bawah tanah itu, mustahil ada orang hidup. Berhentilah mencarinya!"Setengah lengan London mengalami luka bakar parah, dibalut perban tebal. Dia seperti kehilangan jiwanya, duduk terpaku di ranjang rumah sakit.Ternyata rasa terbakar oleh api begitu menyakitkan!Lillian yang biasanya tergores pisau buah saja akan berteriak kesakitan, bagaimana mungkin bisa menahan penderitaan seperti itu?Jika bukan karena dia mengurung Lillian di dalam, Lillian tak akan mengalami rasa sakit seperti itu.Penyesalan terus-menerus menggerogoti hati London, membuatnya tersiksa setiap saat.Sharon membawa sekeranjang buah ke rumah sakit untuk menjenguk London. Dia mengenakan gaun putih bersih, tepat menutupi perutnya yang sedikit membulat, tampak polos dan cantik.Saat mengetahui L

  • Tak Ada Maaf Bagi Pengkhianat   Bab 5

    Saat api mulai tak terkendali dan menyebar, London sedang menemani Sharon di kamar melakukan pendidikan janin.Ketika kepala pelayan datang melapor, London masih memasang wajah tidak puas dan menegur, "Hanya masalah kecil seperti ini saja nggak bisa ditangani sendiri? Tim pengawal yang kubayar mahal setiap tahun itu cuma bisa makan gaji buta?""Tapi ...." Kepala pelayan berkeringat deras, terus-menerus menyeka dahinya dengan saputangan."Tapi Nyonya masih di ruang bawah tanah. Api terlalu besar. Orang-orang kita sama sekali nggak bisa masuk untuk menyelamatkan ....""Apa katamu?" Ekspresi London berubah drastis. Di tengah panggilan Sharon, dia berlari ke arah ruang bawah tanah dengan terhuyung-huyung."Bos, jangan lakukan hal bodoh! Api di dalam terlalu besar, mustahil masih ada orang hidup!"Namun, London sama sekali tidak mendengar, bersikeras hendak menerobos masuk ke kobaran api.Untung kepala pelayan sigap, mati-matian menarik London yang hendak menerjang lautan api."Lepaskan aku

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status