LOGINPertanyaan konyol yang terlontar dari bibir Christian menggantung di udara, mengendap bersama aroma pekat alkohol yang menusuk hidung. Tiffany membeku di tempatnya berdiri, pandangannya terpaku pada sepasang mata pria di depannya yang sarat akan keserakahan. Suara riuh musik pesta dan denting gelas di sekeliling lobi mendadak samar, terbias oleh gemuruh hening yang menyengat telinganya.Dalam hitungan detik, kesadaran Tiffany seolah terlempar menembus lorong waktu, ditarik paksa menuju kegelapan masa lalu yang amat mengerikan.Bayangan ruang kerja yang berantakan berputar liar di dalam kepalanya, memutar kembali adegan kehidupan pertamanya yang teramat kelam. Bau anyir darah yang kental seolah mendadak menyeruak kembali, memenuhi indra penciumannya dengan rasa mual yang luar biasa. Di sana, di atas lantai kayu dingin yang tergenang cairan merah pekat, tubuh Christian terbaring kaku tak bernyawa dengan lubang peluru di pelipisnya.Di kehidupan itu, Christian adalah sosok suami yang
Christian menaikkan sudut bibirnya, memamerkan senyuman miring yang memperlihatkan kebingungan emosinya. Pria itu menyandarkan bahunya agak miring, membiarkan tubuhnya makin mengurung posisi Tiffany di sudut meja bar minuman. Pandangannya bergerak liar, meneliti dari puncak rambut Tiffany yang ditata rapi hingga lipatan gaun satin biru malam yang membalut tubuh anggun wanita itu.Tiffany menatap Christian dengan sepasang mata bening yang membeku. Tidak ada rasa takut di raut wajahnya, hanya kejijikan yang teramat pekat melihat tingkah mantan tunangannya tersebut."Kenapa kamu malah membahas soal menyedihkan, Tiffany?" bisik Christian dengan suara serak yang berat oleh efek alkohol. "Kamu tidak tahu seberapa menderitanya hidupku setelah mengambil keputusan konyol beberapa waktu lalu.""Aku sama sekali tidak tertarik mendengar penderitaanmu, Christian," sahut Tiffany tajam tanpa membuang waktu. "Geser badanmu sekarang."Christian menggelengkan kepalanya seraya terkekeh pelan, tawa
Christian makin merapatkan tubuhnya, memotong sisa udara di antara mereka hingga aroma alkohol murahan bercampur keringat dingin menyengat hidung Tiffany. Tangannya yang gemetaran mempererat cengkeraman pada meja bar, seolah kain kasmir dan kayu tebal itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh pingsan. Matanya yang merah berkilat ganjil, menyapu seluruh kurva wajah Tiffany yang terpapar sorotan lampu kristal lobi.Tiffany tidak menunjukkan retakan kecil pun di wajahnya. Ia tetap memegang kaki gelas sampanye dengan stabil, membiarkan dinginnya kaca mendinginkan tangannya yang siap melayang ke pipi pria di depannya."Singkirkan badanmu, Christian," desis Tiffany dengan nada sangat datar, suara yang cukup pelan agar tidak memancing keributan, tapi cukup tajam untuk mengiris harga diri.Christian terkekeh pelan, tawa pendek tak berjiwa yang terdengar menyedihkan di tengah denting musik klasik pesta. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, membiarkan helai rambutnya yang acak-a
Tiffany berbalik dengan gerakan anggun sewaktu mendengar suara parau yang sangat dihafalnya itu. Bola matanya membelalak tipis ketika mendapati Christian Ashford berdiri persis di hadapannya. Pria itu tampak sangat berantakan secara emosional. Tatanan rambutnya yang biasa rapi kini acak-acakan, kemeja putih mewahnya tak terkancing sempurna di bagian leher, dan sepasang matanya yang merah memancarkan ketidakstabilan emosi yang teramat mengerikan.Aroma tajam alkohol murah menguar sangat kuat dari napas Christian, menekan indra penciuman Tiffany dalam jarak yang begitu dekat.Tiffany menarik napas pendek seraya mempertegas tatapan matanya. Ia menyembunyikan rasa terkejutnya di balik raut wajah yang membeku dingin. Kakinya secara refleks melangkah mundur untuk menciptakan jarak aman dari pria yang tampak tidak terkendali itu.Namun, pinggulnya langsung menyenggol tepian keras meja bar minuman berbalut kain kasmir yang membentang lebar di belakang tubuhnya.Ruang gerak Tiffany mendad
Chloe mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula pesta dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi kepanikan luar biasa. Rasa nyeri di lengan atasnya seolah meluap begitu saja, tergeser oleh ketakutan hebat yang mulai merayap naik memenuhi dadanya. Ia memegangi bagian bawah gaun merah hatinya yang kaku, melangkah setengah pincang di antara sela-sela tamu VIP yang sedang asyik bercengkerama.Pria yang beberapa menit lalu berdiri kaku di sampingnya kini telah menghilang tanpa jejak.Chloe tahu betul tabiat buruk suaminya jika sedang dipengaruhi oleh alkohol dan emosi yang tidak stabil. Christian bukanlah tipe pria yang bisa berpikir jernih saat harga dirinya dihantam telak di depan umum. Ketakutan Chloe makin menjadi-jadi sewaktu ia menyadari bahwa keheningan di sekitar pilar tempat mereka berdiri tadi menyimpan pertanda berbahaya.Ia memutar tubuhnya perlahan, menembus kerumunan ibu-ibu sosialita yang sedang tertawa kencang menyaksikan penampilan musik.Mata Chloe menyisir seti
Lantunan melodi biola yang mengalun lembut bercampur pekat dengan denting gelas kristal dan gelak tawa para pengusaha papan atas di aula utama Hotel Grand Palace. Tiffany Sinclair berdiri dengan posisi tubuh rileks di samping meja bar berlapis kain kasmir putih, memegang kaki gelas berkilau yang berisi sampanye dingin berbusa halus. Gaun satin biru malam yang membungkus ketat tubuh rampingnya menangkap pantulan cahaya lampu gantung raksasa, memancarkan pesona luar biasa yang membuat beberapa pandangan pria berjas mahal terus mencuri lirikan ke arahnya.Ia mengambil satu sesapan kecil sampanye, merasakan kehangatan rasa alkohol yang menjalar lembut menembus tenggorokannya yang sedikit kering.Irama musik klasik yang dibawakan oleh kelompok pemusik di panggung utama terasa begitu menenangkan jiwa, menghapus sisa kekakuan yang sempat hinggap saat berpapasan dengan Chloe tadi. Tiffany membiarkan dirinya menikmati ketenangan sejenak, memiringkan kepalanya sedikit sembari mengamati kilau
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be







