Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin jelas seiring ia mendekat, suara yang dulu sangat ia kenali dan pernah menjadi bagian dari dunianya. Begitu ia sampai di ambang pintu ruang keluarga, pemandangan itu menyambutnya tepat seperti lima tahun lalu.Arthur Sinclair duduk di kursi kebesarannya, wajahnya yang mulai dipenuhi guratan usia tampak tegang dengan dahi berkerut dalam. Di sampingnya, Beatrice, ibu tirinya, sedang menyesap teh dengan anggun, namun matanya yang tajam tidak pernah lepas dari dokumen-dokumen bisnis yang berserakan di atas meja. Chloe duduk di sofa tepat di depan ayahnya, memilin ujung gaun tidurnya dengan ekspresi yang sengaja dibuat gelisah dan manis."Akhirnya kamu turun juga, Tiffany," ujar Arthur dingin,
Read more