MasukPendar cahaya dari tiga layar monitor berukuran besar menyinari wajah tegas Ethan Vance di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi.Dua piringan data baru yang diserahkan oleh Marcus beberapa saat lalu sudah terhubung sempurna ke dalam sistem komputer pelacak miliknya.Deretan angka-angka transaksi keuangan yang sangat rumit bergerak cepat di layar, memperlihatkan alur pengeluaran dana besar dari Sinclair Group.Setiap lembar dokumen hasil rincian bank yang berhasil diretas menunjukkan sebuah kenyataan mengerikan yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun.Beatrice Rosewood tidak hanya mencuri uang dari Yayasan Kasih Sinclair, tetapi juga secara sistematis menguras rekening operasional perusahaan suaminya.Dengan memanfaatkan posisinya sebagai istri sah Arthur Sinclair yang memegang wewenang pengawasan proyek sosial, Beatrice menyisipkan belasan perusahaan cangkang buatan.Perusahaan-perusahaan bayangan itu selalu memenangkan tender pengadaan barang dan jasa fiktif untuk p
Rintik hujan tipis mulai membasahi dedaunan cemara di sekeliling dinding batu vila terpencil di lereng perbukitan itu.Marcus berdiri bergeming di atas dahan pohon tua, menyesuaikan jarak fokus lensa kamera khusus beresolusi tinggi di tangannya.Pendar cahaya lampu gantung bernuansa emas dari dalam ruang tamu vila memancar terang melintasi kaca jendela besar yang gordennya setengah terbuka.Di dalam ruangan serba mewah itu, Beatrice Rosewood duduk berdekatan di atas sofa kulit hitam bersama Hector Sterling, saingan terberat suaminya.Wanita paruh baya itu tertawa renyah, menyandarkan kepalanya yang bersanggul rapi ke bahu tegap Hector tanpa canggung sedikit pun.Hector merangkul pinggang Beatrice dengan mesra, melingkarkan lengan kokohnya seraya menyesap segelas anggur merah bernilai puluhan juta rupiah.Tangan kiri Beatrice mengelus lembut pipi Hector, memperlihatkan keintiman hubungan terlarang yang sudah terjalin rapi di belakang Arthur Sinclair.Kilatan rana kamera di tang
Jemari tangan kokoh Ethan menekan tombol kibor dengan cepat, membentangkan bagur alur aliran dana yang ditarik tunai dari Yayasan Kasih Sinclair.Uang tunai satu miliar rupiah yang ditarik rutin oleh Beatrice tiap bulan ternyata hanyalah separuh kecil dari puncak gunung es kecurangan wanita itu.Tim retas khusus Ethan berhasil membongkar transaksi berlapis yang menggunakan belasan rekening cangkang di negara-negara suaka pajak karibia."Lihat ini, Marcus. Beatrice tidak cuma menyuap Hector Sterling menggunakan uang tunai dari yayasan," pangkas Ethan dengan suara dingin yang menusuk."Dia sudah menguras dana cadangan keluarga Sinclair secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun terakhir ini," sambung sang penguasa Vance Group.Marcus memiringkan kepalanya, menatap deretan angka bertuliskan mata uang dolar Amerika Serikat yang tercantum di layar komputer ganda tersebut.Setiap kali aset Sinclair Group melakukan akuisisi atau penjualan properti besar, ada komisi fiktif sebesar lima
Pintu vila terdorong terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya bertubuh tinggi besar berambut klimis putih yang mengenakan kemeja sutra abu-abu.Marcus membelalakkan matanya yang tajam, memperbesar jarak fokus lensa kameranya untuk memastikan identitas pria yang menyambut kedatangan Beatrice tersebut.Raut wajah pria di layar kamera itu membuat rahang Marcus mengeras kaku sewaktu mengenali sosok yang teramat sangat familiar di dunia bisnis ibu kota.Pria itu adalah Hector Sterling, pemilik Sterling Capital sekaligus musuh bebuyutan Arthur Sinclair yang pernah mencoba menghancurkan bisnis Sinclair Group sepuluh tahun lalu.Perseteruan berdarah antara Arthur dan Hector sudah menjadi rahasia umum di kalangan konglomerat, bahkan hampir membuat keluarga Sinclair bangkrut total di masa lalu." Hector Sterling?" bisik Marcus dengan nada heran yang tertahan di tenggorokan seraya terus membidikkan lensanya.Beatrice melangkah turun dari mobil perak, langsung memeluk hangat tubuh Hector
Mobil perak itu berbelok ke arah kiri, melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan utama kota yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan siang hari.Marcus menyalakan mesin sedan hitamnya tanpa menimbulkan suara bising, lalu menginjak pedal gas pelan untuk menjaga jarak aman lima puluh meter di belakang target.Ia mengikuti mobil perak milik Beatrice yang terus melaju melewati pusat pertokoan mewah, menjauhi area bisnis yang biasa dikunjungi wanita sosialita itu.Mobil mewah Beatrice berbelok masuk ke dalam kawasan bank swasta nasional yang memiliki fasilitas layanan khusus nasabah kaya di kawasan selatan kota.Marcus menghentikan mobilnya di tepi jalan, memperhatikan melalui kacamata hitamnya saat Beatrice turun dari mobil dengan membawa tas kulit besar berwarna cokelat.Wanita setengah baya itu melangkah cepat masuk ke dalam pintu kaca bank, didampingi oleh seorang pengawal pribadi yang bersiaga menjaga ketat sekelilingnya."Kenapa dia harus mengambil uang tunai secara la
Layar komputer lipat di meja kerja Marcus memancarkan pendar cahaya kebiruan yang menerangi ruangan kantor serba gelap.Laporan arus kas bulanan Yayasan Kasih Sinclair terbuka lebar di layar monitor, menampilkan ratusan baris transaksi bernilai miliaran rupiah.Pria bertubuh tegap kepercayaan Ethan Vance itu menyipitkan matanya yang tajam, menyusuri deretan angka transaksi yang baru saja ditarik oleh tim pelacak keuangan mereka.Satu baris pencairan dana tunai berulang dalam nominal fantastis menarik perhatian Marcus secara mendadak.Setiap tanggal lima belas dan tiga puluh, ada aliran uang masuk sebesar lima ratus juta rupiah yang ditarik tunai secara konsisten dari rekening utama yayasan sosial tersebut.Nama penanggung jawab akhir untuk transaksi pencairan tunai itu tertera sangat jelas atas nama Beatrice Rosewood, Nyonya Sinclair yang sah.Marcus menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulit hitam, mengetukkan ujung jarinya ke atas permukaan meja dengan ritme terat
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be







