LOGINKepergian Burhan dan Robi dari MG Group seharusnya membuat beban di pundak Zyandru berkurang. Seharusnya. Setidaknya ia tidak lagi harus memikirkan seseorang yang mencoba merebut perusahaan Vimala dari dalam. Tidak ada lagi permainan politik yang setiap saat dapat membuat kewenangannya dibekukan. Tidak ada lagi rapat komisaris darurat yang memaksanya membagi perhatian antara Jakarta dan kamar rumah sakit di Swiss. Namun kehidupan sepertinya belum berniat memberi Zyandru kesempatan untuk bernapas panjang. Karena setelah satu masalah selesai—pekerjaan lain tetap menunggu. Dan yang paling banyak menyita perhatian adalah proyek Integrated Transit & Commercial Development yang sedang dikerjakan MG Group bersama perusahaan tempat Ratu bekerja. Proyek itu terlalu besar untuk dibiarkan berjalan tanpa pengawasan direksi. Apalagi beberapa minggu terakhir terlalu banyak gangguan terjadi. Masalah utility relocation. Perubahan sequencing. Perselisihan commercial. Keterlambatan
“Vimala memang pemilik MG Group.” Ia berhenti. “Dan dia menunjuk saya memimpin perusahaan ini.”Burhan hendak berbicara.Zyandru tidak memberinya kesempatan.“Saya President Director MG Group. Selama mandat saya masih berlaku, saya bertanggung jawab atas operasional, manajemen, perlindungan aset, dan orang-orang yang bekerja di dalamnya sesuai kewenangan perusahaan.”Ia menatap komisaris.“Untuk tindakan yang memerlukan persetujuan organ perusahaan, saya minta persetujuan diberikan sekarang berdasarkan bukti yang sudah diverifikasi Legal dan Internal Audit.”Ketua komisaris mengangguk perlahan.Itulah perbedaannya.Zyandru tidak mengklaim mempunyai kekuasaan tanpa batas hanya karena menjadi Direktur Utama.Ia menggunakan kewenangannya—dan meminta organ perusahaan menjalankan kewenangan mereka.Dengan cara itu, Burhan tidak punya celah prosedural untuk membatalkannya nanti.Zyandru kembali menatap layar.“Saya merekomendasik
Pukul tiga lewat dua belas menit waktu Swiss.Ponsel Zyandru bergetar.Nama Davin muncul di layar.Ia menggeser icon berwarna hijau agar tidak membuat Vimala terjaga.Zyandru keluar kamar sebelum menjawab. “Ya, Vin?”Suara Davin terdengar berbeda. “Dapet, Zyan.”Zyandru langsung sadar sepenuhnya.“Dapet apa?”“Bukan satu.” Davin menarik napas. “Banyak.”Mereka menemukannya bukan dari satu tempat.Justru itulah yang membuat bukti tersebut sulit dibantah.Davin mendapatkan rekaman approval dan perubahan dokumen internal.Davanka menemukan hubungan antara dua perusahaan vendor dengan beneficial owner yang terhubung kepada orang kepercayaan Burhan.Sementara tim yang diminta Arkana melakukan forensic review terhadap transaksi lama menemukan pola pembayaran yang selama bertahun-tahun tersembunyi di antara kontrak konsultasi, reimbursement proyek, dan vendor fee.Salah satunya membawa mereka kembali kepada satu nama.
Malam itu Davin tidak pulang cepat.Pukul sebelas malam Jakarta, lampu ruang kerjanya di MG Group masih menyala.Ia mempunyai satu keuntungan yang tidak dimiliki Burhan.Akses.Bukan akses ilegal.Melainkan akses yang diberikan Direktur Utama untuk melakukan internal review bersama Internal Audit, Legal, dan Corporate Security.Masalahnya, Davin tahu dirinya tidak bisa mempercayai terlalu banyak orang.Karena mereka belum tahu seberapa jauh jaringan Burhan masuk.Ia baru saja membuka satu rangkaian approval lama ketika ponselnya berbunyi.Davanka.Davin segera menjawab.“Malam Pak.”“Vin, tadi siang Zyan telepon gue.”Davin bersandar punggung lega. “Akhirnyaaa.”“Dia bilang lo lagi sendirian ngurus kekacauan MG Group.”“Enggak sendirian banget.” Davin melirik tim yang bersamanya.“Anggap aja sendirian.”Davin tertawa kecil.Davanka Gunadhya tidak banyak berbicara.Sebagai anak pertama ayah Kama dan bunda Arshavina, karakter pria itu berbeda dari Zyandru.Jika Zyand
Swiss tidak menyambut mereka dengan keajaiban.Tidak ada udara pegunungan yang tiba-tiba membuat Vimala merasa lebih sehat.Atau pelayanan rumah sakit terbaik yang mampu mengubah keadaan hanya dalam semalam.Dan tidak ada kabar mengenai kehamilan yang seketika mengembalikan keinginan hidup perempuan itu.Tiga hari setelah tiba, kondisi Vimala justru memburuk.Tubuhnya semakin lemah karena asupan yang sulit dipertahankan. Mual dan muntah masih datang. Nyeri perut muncul dalam gelombang, membuatnya beberapa kali meringkuk sambil mencengkeram selimut.Tim yang dipimpin Profesor Keller melakukan evaluasi menyeluruh bersama gastroenterologist, maternal-fetal medicine specialist, ahli nutrisi, serta dokter yang memantau kehamilannya.Tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan keadaan Vimala tanpa harapan.Justru sebaliknya.Mereka menjelaskan bahwa Crohn’s dapat dikendalikan, kehamilannya bisa dipantau, terapi dapat disesuaikan, kebutuhan nutrisi bisa dibantu, dan banyak peremp
Helikopter telah dipersiapkan untuk membawa mereka menuju bandara.Dari sana, private jet milik AG Group akan menerbangkan Vimala ke Swiss dengan pendampingan medis.Sementara tim rumah sakit menyiapkan proses transfer, Zyandru keluar sebentar dan menelepon Davin.“Vin.”“Gimana Mala?”“Dia hamil.”Sunyi.Kemudian—“HAH?”Zyandru menjauhkan ponsel dari telinga.“Enggak usah teriak.”“LO SERIUS?”“Iya.”“Anjir…”“Davin.”“Sorry. Sorry. Terus kondisinya?”Wajah Zyandru kembali serius. “Masih enggak bagus. Gue harus bawa dia ke Swiss malam ini.”Davin pun berhenti bercanda.“Oke.”“Gue butuh bantuan.”“Apa?”“Siapkan video call terbatas.”“Siapa aja?”“Direksi utama, corporate secretary, Pak Huda kalau masih available, dan Burhan.”“Sekarang?” Mata Davin membulat terkejut.“Iya sekarang.”“Lo mau umumkan remote arrangement?”“Iya.”“Oke. Kasih gue sepulu







