LOGINMereka sampai di Jakarta menjelang sore.Apartemen Ratu berada di sebuah kawasan mixed-use modern tidak terlalu jauh dari kantor barunya.Fasilitas tempat tinggal itu diberikan perusahaan untuk jajaran manajerial tertentu yang direkrut dari luar kota atau luar negeri.Apartemen Bagas juga berada di kawasan yang sama.Bukan gedung yang sama.Namun perjalanan antara keduanya hanya sekitar sepuluh menit.“Ke tempat aku dulu?” tanya Ratu.“Iya … aku bantuin bawa barang.”“Enggak usah. Ada OB yang bisa aku suruh.”“Aku tahu.”“Ya sudah, sampai depan lobi aja.”“Aku mau lihat unit kamu.”Ratu melirik curiga.“Kamu mau inspeksi?”“Iya.”“Ih … siapa Anda?”“Orang yang dititipin sama bapak kamu lo.”Ratu langsung mendengus. “Gaya banget.”Namun dia tidak melarang.Setelah proses administrasi selesai, mereka naik ke lantai unit Ratu.Apartemennya cukup luas.Dua kamar.Ruang keluarga.
Sekitar setengah jam kemudian mereka akhirnya berpamitan.Bagas memasukkan seluruh koper Ratu ke bagasi SUV miliknya.Ibu memeluk putrinya cukup lama.“Kalau capek, pulang aja.”“Iya.”“Jangan dipaksain.”“Iya.”“Makan yang benar.”“Iyaaa.”“Sering-sering telepon Ibu.”“Iya, Bu.”Bapak hanya berdiri di samping dengan senyum kecil.Begitu Ratu mendekat, pria itu merengkuh putrinya.“Selamat memulai hidup baru.”Ratu terdiam.Kalimat itu sederhana tapi entah kenapa mengenai sesuatu di dalam dadanya.Ia tersenyum.“Iya, Pak.”“Bikin Bapak sama Ibu bangga.”Ratu mengangguk.“Pasti.”Kemudian bapaknya beralih menatap Bagas.“Titip Ratu.”Ratu langsung protes.“Bapak! Aku sama dia beda apartemen.”Bapaknya tertawa.“Memangnya Bapak bilang tinggal bareng?”Bagas ikut tertawa.“Siap, Pak.”Ratu mendelik kepadanya.“Jangan sok siap.”“Aman, Pak. Kalau dia nakal saya balikin ke Lembang.”“Bagas!” seru Ratu dengan mata melotot.Tawa kembali pecah.Dan beberapa m
Senin pagi sebentar lagi akan datang.Sebuah pagi yang sejak beberapa minggu terakhir berusaha Ratu tunggu sekaligus hindari.Hari pertama bekerja.Hari ketika hidup yang selama bertahun-tahun dipersiapkannya di New York benar-benar dimulai.Dan mungkin—hari pertama dirinya belajar menjalani kehidupan yang sama sekali tidak lagi memiliki Zyandru di dalam rencana masa depannya.Sebuah koper besar sudah berdiri di teras rumah.Dua koper lain berada tak jauh darinya.Ratu sendiri duduk di ruang keluarga dengan pakaian santai, rambut panjang dikuncir rendah, sementara ibunya berkali-kali memeriksa barang bawaan sang putri seolah Ratu hendak kembali pergi ke Amerika selama dua tahun.“Kamu bawa obat?”“Bawa, Bu.”“Vitamin?”“Ada.”“Setrika?”Ratu langsung mendongak.“Ibu… di apartemen ada setrikanya.”“Kalau enggak ada gimana?”“Ya Beli ah, jangan kaya orang susah.”“Rice cooker?”“Ada furnished kitchen.”Ibunya mengernyit.“Furni apa?”Ratu tertawa.“Sudah lengkap, B
Rapat berakhir hampir dua jam kemudian.Begitu beberapa orang mulai berdiri dari kursi, Vimala masih duduk.Seolah masih mencerna semuanya.Zyandru merapikan dokumen.Lalu berdiri.Baru satu langkah—tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh Vimala.Tanpa peduli masih ada orang.Tanpa peduli komisaris.Tanpa peduli direksi.Kedua lengannya langsung melingkari pinggang Zyandru. “Terima kasih.” Dia mendongak.Zyandru sempat terkejut.Kemudian tersenyum.Tangannya membalas pelukan itu.“Makasih buat apa?”Vimala mendongak.Matanya sedikit berkaca-kaca.“Karena kamu milih MG Group.”Zyandru mengusap punggungnya.“Kamu senang?”Vimala mengangguk berkali-kali. “Senang banget.”Zyandru tersenyum lagi.“Aku juga.”Vimala langsung diam.“Kamu juga?”“Iya.”“Bener?”“Iya.”Senyum Vimala seketika merekah.Lebih lebar.Lebih cerah.Dan untuk beberapa detik—s
Rapat dimulai tepat pukul sembilan.Kali ini suasananya jauh lebih formal.Selain jajaran direksi dan komisaris—Vimala juga hadir.Yudha juga berada di sana.Kehadiran keduanya langsung memberi bobot berbeda.Tidak ada lagi pembicaraan informal.Tidak ada asumsi.Semua yang diputuskan hari ini akan memiliki konsekuensi hukum dan struktur perusahaan.Zyandru duduk di ujung meja.Vimala di samping kirinya.Yudha duduk sedikit lebih jauh.Bella berdiri di belakang.Burhan dan Robi berada di sisi lain.Salah seorang komisaris utama membuka rapat.“Pak Zyandru.”Zyandru menoleh.“Tiga hari sudah lewat.”“Ya.”“Kami menunggu keputusan Bapak.”Semua mata tertuju kepadanya.Ruangan menjadi hening.Zyandru tidak langsung menjawab.Ia melihat satu demi satu wajah di depannya.Kemudian menatap Vimala sebentar.Vimala tidak memberi kode.Tidak mengangguk.Tidak memin
Sekitar satu jam kemudian mereka turun ke lantai bawah.Vimala sudah mengenakan dress warna lembut dan blazer tipis.Rambutnya dibiarkan jatuh lurus.Sedangkan Zyandru sudah kembali dalam setelan formalnya.Begitu pintu utama terbuka, sebuah mobil sedan mewah hitam telah menunggu.Bella berdiri di sampingnya.Seperti biasa.Profesional.Rapi.Tablet di tangan.“Pagi, Pak.”“Pagi.”Bella lalu menoleh kepada Vimala.“Pagi, Bu.”Vimala tersenyum tipis.“Pagi.”Tipis sekali.Dingin.Zyandru melirik.Bella tidak bereaksi.Sudah terbiasa.Ia bahkan langsung membukakan pintu belakang.“Silakan.”Vimala masuk lebih dulu.Zyandru menyusul.Begitu pintu tertutup, Vimala menoleh sedikit melalui jendela.Kemudian berbisik, “Sekretaris kamu rajin banget.”Zyandru menahan senyum.“Mala.”“Apa?”“Jangan mulai.”“Aku enggak mulai apa-apa.”“Tatapan kamu dari tadi.”“Kenapa tatapan aku?”“Galak.”Vimala mendengus. “Aku memang lahir begini.”Bella yang duduk di depan







