登入Suasana makan siang perlahan mulai lengang.Piring-piring utama sudah digantikan dengan dessert dan secangkir kopi hangat.Obrolan yang semula serius kini berubah ringan.Namun di tengah suasana itu, Vimala justru beberapa kali menguap sambil menutupi mulutnya.“Hoaam….”Marvelle yang duduk tak jauh darinya langsung melirik.“Buset… pengantin baru kok ngantuk?”“Aku juga enggak tahu, tadi malam aku susah tidur ….” Vimala mengucek pelan salah satu matanya. “Sekarang ngantuk banget.”Keisha memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik. “Loh… muka lo pucat.”“Iya ya….” Anindya ikut mengangguk.“Vim, lo sakit?”Vimala menggeleng pelan. “Enggak tahu….” “Tapi badan aku kok rasanya enggak enak.” “Terus….” Tangannya perlahan berpindah memegang perut. “Perut aku juga enggak nyaman.”Ucapan itu langsung membuat tante Zara A dan Zyandru saling pandang detik berikutnya Zyandru menoleh menatap Vimala. “Perut?”“Iya, perut aku engg
Menjelang siang, seluruh rombongan meninggalkan Kantor Urusan Agama.Sebuah restoran fine dining yang telah dipesan khusus oleh Yudha menjadi tujuan berikutnya.Suasana restoran cukup tenang karena satu area memang sengaja ditutup untuk acara keluarga.Meja panjang telah ditata rapi.Di bagian tengah duduk Zyandru dan Vimala sebagai pengantin baru.Di sisi kanan mereka ada ayah Kama dan bunda Arshavina.Sedangkan Davanka, Zevanya, Kanaya, Ryley, Kaluna, Satria, Arkana, Zara, Bi Tina, pak Yudha, Burhan, dan Robi menempati kursi lainnya.Di sisi lain ada ketiga sahabat Vimala.Hanya satu orang yang tidak ikut.Ghazanvar.“Aduh… aku ada meeting sama investor jam satu. Kalau enggak datang, nanti bisa dipecat sama kakek,” kata pria itu sebelum memisahkan diri.“Tapi nanti kita ketemu lagi ya Bang!” serunya sebelum benar-benar berpamitan.“Kamu itu kerjanya sedikit, alasannya banyak,” sahut tante Zara.“Mami… tolong jangan b
Suasana kembali hangat dan penuh tawa serta siulan.Satu per satu keluarga mulai mengucapkan selamat.Fotografer resmi KUA segera mengatur posisi.“Pengantin dulu.”Cekrek.“Pegang buku nikah.”Cekrek.“Saling pandang.”Cekrek.Tapi Vimala malah menjulurkan lidahnya dan Zyandru tertawa, momen itu diabadikan begitu natural dan sempurna.“Senyum sedikit, Kak.”Vimala berusaha tersenyum.Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Sesekali pandangannya kosong.Mungkin kembali mengingat Wisnutama.Mengingat mendiang mamanya.Zyandru menangkap perubahan kecil itu.Tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tangan Vimala lebih erat.Membuat Vimala kembali menoleh kepada Zyandru, sorot matanya tidak marah seperti tadi, lebih lembut, lebih teduh.Zyandru tersenyum, tatapannya seolah berkata, “Aku di sini.”“Foto keluarga Natamanggala,” kata sang photographer.Pak Yudha berdiri di samping Vimala.Bi Tina ikut bergabung.Burhan segera melangkah. “Ayo Robi.”“Iy
Tangis Vimala perlahan mulai mereda.Meski begitu, kedua matanya masih sembab.Zyandru belum langsung melepaskan pelukannya.Ia membiarkan istrinya mengatur napas lebih dulu.Zyandru memang begitu, hatinya lembut.Terlepas cinta atau tidak dan pernikahan ini untuk sementara atau selamanya, dia merasa prihatin dengan kondisi Vimala yang menikah tanpa dihadiri kedua orang tuanya.Barulah setelah Vimala mengangguk pelan, pria itu mengusap lembut sudut mata istrinya menggunakan ibu jari. “Sudah nangisnya?”Vimala mengangguk kecil. “Iya….” Kepalanya menunduk.“Yakiiin?”“Iyaaaa.”“Tadi nangisnya jelek.” Zyandru menggoda Vimala.Refleks Vimala mendelik. “Apa sih, orang lagi sedih jugaaa….”“Nah gini donk.” Zyandru tersenyum tipis. “Baru aku percaya kalau kamu beneran sudah baikan.”Beberapa orang di sekitar mereka ikut tersenyum melihat tingkah pasangan pengantin baru itu.Penghulu kemudian kembali membuka suara.“Kalau begitu kita lanjutkan prosesi penyematan cincin.”Ghaza
“Ini gaun mama kamu yang kamu bilang tempo hari?” Bunda bertanya sambil mengagumi terang-terangan gaun Vimala.“Iya Bunda.” “Waaah … cantik banget.”Vimala kembali tersenyum lalu menoleh menatap ayah Kama. Tiba-tiba beliau mendekat, tangannya terangkat kaku lalu mengusap-ngusap puncak kepala Vimala juga dengan gerakan kaku.Mereka tak bicara tapi tatapan Vimala tampak seperti sedang merindukan papanya.“Mala ….” Zyandru akhirnya berjalan mendekat.Pria itu berhenti tepat di depan calon istrinya.Tatapan mereka bertemu beberapa detik.Tak ada satu pun yang berbicara.Hingga akhirnya Zyandru tersenyum kecil.“Kamu cantik.”Pipi Vimala langsung memerah.“Kamu juga tampan ….” Vimala menimpali. Hanya untuk bersikap sopan di depan kedua orang tua Zyandru.“Baru sadar?” Zyandru tampak jumawa.“Iya. Biasanya kamu jelek.” Zyandru menghela napas panjang.Semua orang yang mendengar seketika tertawa.“Mulut k
Beberapa saat kemudian…Vimala menuruni anak tangga dengan hati-hati.Gaun putih peninggalan mendiang mamanya masih dibungkus robe satin agar tidak kotor sebelum akad.Riasan mahakarya MUA terbaik kota Jakarta membuat wajahnya tampak semakin cantik bak putri kerajaan.Ketiga sahabatnya berjalan di belakang sambil terus memotretnya.“Cantik banget, Vim ….”“Perawan ting-ting ini.”“Putri kerajaan Spanyol malah kalah.”“Iiihhh … apaan siiiii.” Vimala risih sendiri.Belum sempat mereka sampai ke ruang makan, suara mobil berhenti di halaman terdengar dari luar.Bi Tina melongok melalui jendela.“Pak Burhan datang.”Tak lama kemudian pintu utama terbuka.Burhan masuk lebih dulu dengan senyum yang jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu.Di belakangnya menyusul Robi mengenakan setelan jas abu-abu.“Pagi, Mala.”“Pagi, Om.” Vimala tersenyum manis.Burhan menghampiri sambil memperhatikan penampilan Vimala







