LOGINJam makan siang telah lewat ketika mobil yang ditumpangi Yudha dan Vimala meninggalkan kawasan AG Group.
Tak banyak percakapan terjadi sepanjang perjalanan.Yudha sengaja membiarkan Vimala tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sementara Vimala terus memandangi gedung AG Group yang semakin lama semakin menjauh melalui kaca samping mobil.Pertemuan yang berlangsung tak sampai satu jam itu entah mengapa terasa begitu melelahkan.Ia mengembuskan napas panjang.“Om.”Pintu ruang meeting kembali terbuka.Semua kepala menoleh.Ratu masuk.Ryan langsung menatapnya.“Everything okay?”Ratu menarik kursinya.Meletakkan kedua tangan di meja.Kemudian mengangguk.“Yes.”“Sure?”Ratu menatap atasannya.Kali ini matanya sudah kembali berbeda.Tegas.Profesional.“I’m sorry for the interruption.”Ia mengambil remote.“Shall we continue?”Ryan memperhatikannya sesaat.Kemudian mengangguk.“Please.”Ratu berdiri.Slide pertama kembali muncul.Beberapa detik kemudian pintu terbuka lagi.Zyandru masuk.Tidak ada satu pun percakapan di antara mereka.Pria itu kembali ke kursinya.Ratu berdiri di depan layar.Ia menghindari menatap Zyandru.Tidak mau.“Good morning, everyone.”Kali ini suaranya mantap.“Let me restart.”Slide berganti.“Integrated Transit & Commercial Development bukan sekadar proye
Ratu berjalan cepat melewati lorong.Satu belokan.Kemudian berhenti di dekat emergency exit.Tangannya menekan dada.“Bodoh.”Ia menarik napas.“Bodoh banget.”Kenapa?Kenapa harus dia?Dari seluruh perusahaan di Indonesia.Dari seluruh orang di MG Group.Kenapa harus Zyandru?Ratu sudah menghindari AG Group.Memblokir nomor.Memblokir media sosial.Memilih pekerjaan baru.Mengisi kepalanya dengan proyek.Bahkan mulai bisa menjalani satu malam tanpa menangis.Lalu semesta melempar laki-laki itu tepat ke depan wajahnya.“Ratu.”Tubuhnya menegang.Suara itu lagi.Ratu menutup mata. “Jangan.”Langkah Zyandru berhenti beberapa meter di belakang. “Neng.”“Jangan panggil aku begitu.” Ratu menghardik.Zyandru terdiam.Ratu berbalik.Matanya sudah berkaca-kaca.Namun ekspresinya keras.“Aku enggak mau ngomong sama kamu.”Tidak ada lagi panggi
“Pak?”Suara seseorang menarik Zyandru kembali.Ia berkedip.Kemudian berjalan masuk.Setiap langkah terasa aneh.Terlalu berat.Namun wajahnya sudah kembali tenang.Profesional.Ia menyalami Executive Sponsor perusahaan partner.Direktur.Manager.Satu per satu.Sampai akhirnya—langkah Zyandru berhenti di depan Ratu.Keduanya berdiri berhadapan.Jarak mereka tinggal satu langkah.Untuk pertama kalinya sejak Swiss.Tidak ada Vimala di antara mereka.Tidak ada restoran.Tidak ada kebohongan mengenai klien.Namun justru sekarang cincin pernikahan di jari Zyandru terlihat begitu jelas.Mata Ratu jatuh ke sana.Satu detik.Kesalahan besar.Karena seluruh foto pernikahan itu kembali menyerbu kepalanya.Tangan mereka bertaut.Zyandru mencium kening Vimala.Menyuapinya.Berdansa.Tersenyum.Ratu segera mengangkat pandangan.Zyandru mengulurkan tangan.“Zyandru Gunadhya.”Formal.Seolah mereka belum pernah berbagi kehidupan.Ratu menatap tangan tersebut.Dul
Senin pagi datang terlalu cepat.Dan sejak membuka mata, Zyandru sudah tahu ada yang tidak beres.Biasanya perempuan yang tidur di sebelahnya akan menjadi orang pertama yang mengeluh ketika alarm berbunyi.Kadang menarik selimut.Kadang memukul lengannya.Kadang menyuruh Zyandru mematikan alarm padahal ponsel itu berada di nakas sisi Vimala.Pagi ini tidak.Vimala masih berbaring.Diam.Zyandru yang sudah duduk langsung menoleh.“Mala?”“Ya Zyan?”Suara itu lemah.Zyandru mengerutkan dahi.Tangannya otomatis menyentuh kening sang istri.Tidak terlalu panas.Namun wajah Vimala pucat.“Kamu kenapa?”“Enggak apa-apa.”“Jangan jawab enggak apa-apa kalau muka kamu kayak gini.”Vimala membuka mata perlahan.“Cuma agak lemas.”“Perut aman?”“Sedikit enggak nyaman.”Zyandru langsung turun dari tempat tidur.“Aku telepon dokter.”Vimala menangkap tangannya.“Zyan.”“Kita ke rumah sakit ya?”“Enggak usah.”“Mala.”“Serius aku enggak apa-apa.”“Kalau sakit harus d
Kalau beberapa bulan lalu seseorang mengatakan kepada Vimala bahwa suatu hari dirinya akan duduk bersama tiga sahabatnya sambil membicarakan kemungkinan untuk mempertahankan pernikahan dengan seorang Gunadhya, mungkin perempuan itu akan tertawa paling keras.Atau malah melempar orang tersebut menggunakan tas.Sebab dulu rencananya sangat sederhana.Menikah.Memenuhi syarat wasiat.Memastikan seluruh saham, aset, serta kepemilikan Wisnutama Natamanggala jatuh secara sah kepadanya.Setelah itu—Cerai.Selesai.Tidak ada cinta.Tidak ada keterikatan.Tidak ada cerita tentang hidup bersama sampai tua.Apalagi dengan keluarga Gunadhya.Musuh bisnis papanya.Namun sore ini, ketika Vimala duduk di sebuah private lounge restoran mewah bersama Anindya, Keisha, dan Marvelle setelah menghabiskan hampir tiga jam berpindah dari satu butik ke butik lainnya—rencana yang dahulu terdengar begitu mudah tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang berasal dari kehidupan orang lain.“Jadi?” Keish
Salah seorang direktur yang selama ini cukup dekat dengan Burhan segera menyambung.“Saya setuju.”Tatapan Zyandru berpindah kepadanya.“Pak Zyandru tetap bisa berada di steering committee. Tidak perlu menjadi Project Director langsung.”Direktur lain ikut berkata, “Secara governance juga lebih lazim seperti itu.”Burhan mengangguk. “Exactly. Direktur Utama cukup berada pada level keputusan strategis.”Zyandru belum menjawab.Ia hanya memainkan ujung pulpen beberapa kali.Kemudian bertanya tenang—“Kalau terjadi perubahan desain yang berdampak pada investasi dua ratus miliar dan keputusan harus diberikan hari itu juga, siapa yang tanda tangan?”Burhan menjawab, “Naik ke Direktur Utama.”“Berarti tetap ke saya.”“Iya, tapi—”“Kalau partner meminta keputusan saat rapat berlangsung?”“Bisa kita minta waktu.”“Berapa lama?”Burhan terdiam. “Satu hari?”Tidak ada jawaban.“Dua hari?”Ruangan mulai be







