LOGINSuasana makan siang perlahan mulai lengang.
Piring-piring utama sudah digantikan dengan dessert dan secangkir kopi hangat.Obrolan yang semula serius kini berubah ringan.Namun di tengah suasana itu, Vimala justru beberapa kali menguap sambil menutupi mulutnya.“Hoaam….”Marvelle yang duduk tak jauh darinya langsung melirik.“Buset… pengantin baru kok ngantuk?”“Aku juga enggak tahu, tadi malam aku susah tidur ….” Vimala mengucek pelan salah satu matanya. “SBegitu pintu kamar resort tertutup, suasana berubah. Hanya ada keheningan. Dan justru karena terlalu sunyi, pikiran Vimala terdengar semakin berisik. Ia melepas sandal. Menaruh tas di meja. Kemudian tanpa banyak bicara berjalan menuju kamar mandi. “Aku mandi dulu.” Zyandru yang sedang membuka jam tangan hanya mengangguk. “Jangan lama-lama ya ini sudah malem.” “Iya.” Pintu tertutup. Vimala berdiri di depan wastafel. Menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak ada yang salah. Makeup-nya masih cukup bagus. Rambutnya sedikit berantakan karena udara malam. Bibirnya masih menyimpan warna samar. Namun matanya—matanya mengkhianatinya. Do you still miss her? Vimala memejamkan mata. Tidak. Sudah. Jangan dipikirkan. Ia sudah memilih percaya pada suaminya. Tadi di mobil bahkan dirinya sudah mengatakan dalam hati kalau semua yang Zyandru lakukan lebih penting daripada percakapan yang tidak sengaja didengarnya. Tetapi rupanya hati tidak selalu patuh k
Author Note : 18 Sep 2026 Teman-teman, maaf ada kesalahan publish di chapter sebelum ini. Tolong teman-teman baca lagi chapter sebelum ini “Wanita dari Masa Lalu Zyandru” yang sudah aku revisi agar tidak kehilangan momen dan ceritanya bisa dimengerti. *** Sepanjang lorong menuju ruang keluarga, Vimala tidak mengatakan apa-apa. Zyandru berjalan di sampingnya. Beberapa kali menoleh. Aneh. Istrinya yang biasanya mampu menghasilkan sepuluh kalimat dalam satu menit mendadak diam. “Kamu kenapa?” Vimala menoleh. “Kenapa apanya?” “Kok diam?” “Emmm… aku capek.” “Beneran?” “Iya, Zyan.” Zyandru mengangguk. Namun tidak sepenuhnya percaya. Keduanya masuk ke halaman belakang dan bertemu mereka. “Mau ke mana?” Vimala yang menjawab. “Ke resort, Kak. Aku ngantuk.” Kaluna mendekat. “Kok cepat banget?” Kaluna memeluknya. “Besok datang lagi.” Vimala mengangguk. “Besok pagi aku ke sini lagi kalau anak-anak sudah habis baterainya.” Kanaya tertawa. “Good luck. Besok
Barbecue party disiapkan di halaman belakang. Lampu-lampu kecil digantung memanjang di antara pepohonan. Meja kayu panjang dipenuhi makanan. Ada area grill besar yang sejak sore sudah dikuasai Satria dan beberapa staf rumah. Musik pelan terdengar. Udara Lembang mulai dingin. Di salah satu sudut halaman, api unggun kecil disiapkan dengan kursi-kursi rendah dan bean bag. Kaluna yang menjadi orang paling bahagia sekaligus paling sibuk malam itu berulang kali memprotes karena semua orang menganggap ulang tahunnya sebagai alasan untuk membuat pesta lebih besar dari yang dia inginkan. “Aku bilang makan biasa saja,” protes Kaluna. Kanaya yang baru keluar pun mendengkus. “Kalau keluarga kita bisa melakukan sesuatu secara biasa, itu baru aneh …,” ujarnya jutek seperti biasa. Davanka mengangkat gelas. “Setuju.” Satria datang membawa satu piring daging panggang. “Yang ulang tahun jangan banyak protes.” Kaluna tersenyum manja. “Kamu sama saja dengan mereka.” “Enggak don
Suara tawa anak-anak terdengar bahkan sebelum mobil yang membawa Zyandru dan Vimala benar-benar berhenti di halaman rumah Satria dan Kaluna.Vimala yang sejak tadi sibuk memperhatikan pemandangan di luar jendela langsung mengernyit.“Zyan … Itu suara anak-anaknya dari dalam rumah kak Luna?”Zyandru menoleh. “Kayaknya.”“Dari luar aja sudah kedengeran.”Zyandru tertawa kecil. “Aku sudah bilang, kan?”“Enam bocil kematian ya?”“Sekarang jadi delapan.”Vimala langsung menoleh. “Hah?”“Kamu lupa anak Kak Luna ada dua… kembar.”“Ya Tuhanaaaan. “Wajah Vimala mendadak seperti orang yang baru mengetahui akhir pekannya akan dihabiskan di taman kanak-kanak.Zyandru justru semakin tertawa.“Tenang aja… mereka punya Nanny satu-satu.” Maksud Zyandru menenangkan.“Aku tuh enggak benci anak kecil. Aku cuma…” Vimala berpikir mencari kalimat yang terdengar lebih sopan. “…kurang kompatibel dengan manusia yang volumenya enggak bisa diatur.”Zyandru langsung tertawa. “Kamu juga volumenya en
Pukul tujuh lewat empat puluh menit malam itu, bel apartemen Ratu berbunyi.Ratu yang baru selesai mandi berjalan menuju pintu.Tidak perlu mengecek monitor.Entah kenapa ia sudah bisa menebak.Benar saja.Bagas berdiri di luar sambil mengangkat paper bag.“Nasi Padang lagi?” tanya Ratu.Bagas terlihat tersinggung.“Enak aja.”“Terus?”“Chinese food.”“Kenapa?”“Biar hubungan kita sama kolesterol lebih internasional.”Ratu tertawa kecil. “Ya sudah masuk.”Bagas melepas sepatu.“Gimana?”“Apanya?”“Meeting dadakan tadi.”Senyum Ratu seketika berkurang.Bagas menangkap itu.Namun tidak bertanya lagi.Ia hanya membawa makanan ke ruang televisi. “Ya udah, makan dulu.”Beberapa menit kemudian mereka duduk di lantai seperti malam sebelumnya.Ada nasi.Ayam kung pao.Sapi lada hitam.Capcay.Dan dimsum yang ternyata dibeli Bagas terlalu banyak.“Kamu b
“Zyan.”“Hm?”“Aku bosan di rumah terus.”“Oh gitu.” Zyandru menimpali.“Bosan banget.”Zyandru mendongak menatapnya.“Banget banget banget.”Zyandru mengangguk sambil memotong makanan.Vimala menatapnya. “Zyan.”“Kenapa Mala?”“Kamu dengar aku enggak sih?”Zyandru baru mengangkat wajah. “Apa?”Vimala meletakkan sendok kesal. “Aku dari tadi ngomong.”“Aku dengar kok.”“Aku ngomong apa?”“Kamu bosan di rumah terus.”“Sebelumnya?”Zyandru berpikir. “Bosan banget.”Vimala melotot.Zyandru akhirnya tertawa. “Maaf.”Vimala kembali makan sambil cemberut.“Aku tadi diajak Anindya, Keisha sama Marvelle makan siang … tapi aku tolak.”“Bagus.” Sempat-sempatnya Zyandru mengangkat jempol.“Mereka mau datang ke sini aku tolak juga.”“Loh… kenapa?”“Mereka mau pakai gym.”Zyandru mengangkat alis. “Bukannya aku bilang boleh?”“Iya, tapi nanti aku ikutan.”“Mak







