تسجيل الدخولMobil sport berwarna hitam itu melaju mulus membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi cahaya lampu.Vimala beberapa kali mencuri pandang ke arah Zyandru yang sedang fokus menyetir.“Kamu sering makan di restoran yang akan kita datangi ini?” tanya Zyandru.Vimala mengangguk. “Sering.”“Sama siapa?” Zyandru mengerutkan kening.“Sama papa… kami sering ngedate berdua, bisa seminggu sekali atau sebulan sekali atau enam bulan sekali kalau papa sibuk banget… kalau enggak sempet ngedate, papa selalu beliin aku bunga sama ice cream… meski sebenarnya sekretaris junior yang beliin.” Tatapan Vimala menerawang merindukan sang papa.“Kalau dulu waktu masih ada Mama….” Kalimat Vimala menggantung.Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar. “Aku lupa….” Vimala menatap kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan.Vimala lupa, entah karena waktu itu dia masih terlalu kecil ketika sang mama berpulang atau karena memang ingin melupakan sakit hati atas kepergian sang mama.Zyandru meliri
Jam dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.Zyandru yang sejak berjam-jam lalu sudah terbangun menutup laptopnya.Selama Vimala tertidur, ia memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Sesekali pandangannya beralih ke sosok gadis yang masih terlelap di sampingnya.Napasnya teratur, wajahnya jauh lebih tenang sekarang.Pelan-pelan Zyandru menggeser anak rambut yang menutupi pipi Vimala.“Mala….”Tak ada jawaban.“Mala….”“Hmmm….” Vimala hanya menggeliat kecil lalu membalikan badan membelakangi Zyandru.Zyandru tersenyum geli. “Bangun.”“Hm … masih ngantuk ….”“Udah sore tahu.”“Mau tidur lagi….”“Enggak boleh.”“Kenapa iiiih, kamu ikut campur aja ….” Vimala menggerutu.“Oh tentu, aku suami kamu … aku akan selalu ikut campur hidup kamu.”“Eeeemmm ….” Vimala mengerang.“Ayo bangun, kita makan malam.”Kelopak mata Vimala terbuka sedikit. “Aku enggak laper.”“Aku sudah booking restoran.”Butuh beberapa detik sampai otak Vimala benar-ben
Suasana makan siang perlahan mulai lengang.Piring-piring utama sudah digantikan dengan dessert dan secangkir kopi hangat.Obrolan yang semula serius kini berubah ringan.Namun di tengah suasana itu, Vimala justru beberapa kali menguap sambil menutupi mulutnya.“Hoaam….”Marvelle yang duduk tak jauh darinya langsung melirik.“Buset… pengantin baru kok ngantuk?”“Aku juga enggak tahu, tadi malam aku susah tidur ….” Vimala mengucek pelan salah satu matanya. “Sekarang ngantuk banget.”Keisha memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik. “Loh… muka lo pucat.”“Iya ya….” Anindya ikut mengangguk.“Vim, lo sakit?”Vimala menggeleng pelan. “Enggak tahu….” “Tapi badan aku kok rasanya enggak enak.” “Terus….” Tangannya perlahan berpindah memegang perut. “Perut aku juga enggak nyaman.”Ucapan itu langsung membuat tante Zara A dan Zyandru saling pandang detik berikutnya Zyandru menoleh menatap Vimala. “Perut?”“Iya, perut aku engg
Menjelang siang, seluruh rombongan meninggalkan Kantor Urusan Agama.Sebuah restoran fine dining yang telah dipesan khusus oleh Yudha menjadi tujuan berikutnya.Suasana restoran cukup tenang karena satu area memang sengaja ditutup untuk acara keluarga.Meja panjang telah ditata rapi.Di bagian tengah duduk Zyandru dan Vimala sebagai pengantin baru.Di sisi kanan mereka ada ayah Kama dan bunda Arshavina.Sedangkan Davanka, Zevanya, Kanaya, Ryley, Kaluna, Satria, Arkana, Zara, Bi Tina, pak Yudha, Burhan, dan Robi menempati kursi lainnya.Di sisi lain ada ketiga sahabat Vimala.Hanya satu orang yang tidak ikut.Ghazanvar.“Aduh… aku ada meeting sama investor jam satu. Kalau enggak datang, nanti bisa dipecat sama kakek,” kata pria itu sebelum memisahkan diri.“Tapi nanti kita ketemu lagi ya Bang!” serunya sebelum benar-benar berpamitan.“Kamu itu kerjanya sedikit, alasannya banyak,” sahut tante Zara.“Mami… tolong jangan b
Suasana kembali hangat dan penuh tawa serta siulan.Satu per satu keluarga mulai mengucapkan selamat.Fotografer resmi KUA segera mengatur posisi.“Pengantin dulu.”Cekrek.“Pegang buku nikah.”Cekrek.“Saling pandang.”Cekrek.Tapi Vimala malah menjulurkan lidahnya dan Zyandru tertawa, momen itu diabadikan begitu natural dan sempurna.“Senyum sedikit, Kak.”Vimala berusaha tersenyum.Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Sesekali pandangannya kosong.Mungkin kembali mengingat Wisnutama.Mengingat mendiang mamanya.Zyandru menangkap perubahan kecil itu.Tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tangan Vimala lebih erat.Membuat Vimala kembali menoleh kepada Zyandru, sorot matanya tidak marah seperti tadi, lebih lembut, lebih teduh.Zyandru tersenyum, tatapannya seolah berkata, “Aku di sini.”“Foto keluarga Natamanggala,” kata sang photographer.Pak Yudha berdiri di samping Vimala.Bi Tina ikut bergabung.Burhan segera melangkah. “Ayo Robi.”“Iy
Tangis Vimala perlahan mulai mereda.Meski begitu, kedua matanya masih sembab.Zyandru belum langsung melepaskan pelukannya.Ia membiarkan istrinya mengatur napas lebih dulu.Zyandru memang begitu, hatinya lembut.Terlepas cinta atau tidak dan pernikahan ini untuk sementara atau selamanya, dia merasa prihatin dengan kondisi Vimala yang menikah tanpa dihadiri kedua orang tuanya.Barulah setelah Vimala mengangguk pelan, pria itu mengusap lembut sudut mata istrinya menggunakan ibu jari. “Sudah nangisnya?”Vimala mengangguk kecil. “Iya….” Kepalanya menunduk.“Yakiiin?”“Iyaaaa.”“Tadi nangisnya jelek.” Zyandru menggoda Vimala.Refleks Vimala mendelik. “Apa sih, orang lagi sedih jugaaa….”“Nah gini donk.” Zyandru tersenyum tipis. “Baru aku percaya kalau kamu beneran sudah baikan.”Beberapa orang di sekitar mereka ikut tersenyum melihat tingkah pasangan pengantin baru itu.Penghulu kemudian kembali membuka suara.“Kalau begitu kita lanjutkan prosesi penyematan cincin.”Ghaza







