Se connecterPukul enam sore.
Zyandru tiba di rumah ketika langit Jakarta mulai gelap. Begitu memasuki kamar utama, ia mendapati Vimala sedang duduk di depan meja rias. Perempuan itu baru selesai mengeringkan rambutnya. Ia mengenakan gaun rumah berwarna biru muda yang jatuh longgar hingga bawah lutut. Melihat suaminya melalui cermin, senyum langsung muncul di wajahnya. “Sayang!” Zyandru menghampiri. Kemudian menunduk dPukul enam sore. Zyandru tiba di rumah ketika langit Jakarta mulai gelap. Begitu memasuki kamar utama, ia mendapati Vimala sedang duduk di depan meja rias. Perempuan itu baru selesai mengeringkan rambutnya. Ia mengenakan gaun rumah berwarna biru muda yang jatuh longgar hingga bawah lutut. Melihat suaminya melalui cermin, senyum langsung muncul di wajahnya. “Sayang!” Zyandru menghampiri. Kemudian menunduk dan melingkarkan kedua tangan pada bahu istrinya dari belakang. “Hai, sayang.” Vimala mendongak. Zyandru mengecup bibirnya lalu mengusap pipi Vimala lembut. “Cantik banget.” Vimala tertawa kecil. “Apa sih baru pulang sudah gombal.” Zyandru tersenyum. “Memangnya salah muji istri sendiri?” “Enggak.” Zyandru kembali mengecup pipi istrinya. Vimala memegang kedua tangan yang melingk
Tidak sampai dua puluh menit kemudian, seorang perempuan memasuki ruang rapat.Usianya sekitar pertengahan empat puluhan.Rambutnya dipotong sebahu dan tertata rapi.Ia mengenakan blus putih dengan blazer berwarna abu-abu.“Selamat siang, Pak Zyandru.”Zyandru berdiri.“Siang, Bu Maya. Silakan duduk.”Perempuan itu tersenyum sopan.“Terima kasih, Pak.”Davin memperkenalkan Yudha dan menjelaskan secara singkat tujuan pertemuan tersebut.Maya tampak sedikit terkejut ketika mendengar nama Wisnutama disebut.Namun ia tetap duduk dengan tenang.“Bu Maya, kami sedang memeriksa beberapa dokumen lama milik almarhum Pak Wisnutama,” Yudha memulai.“Baik, Pak.”“Ada satu jadwal pertemuan yang ingin kami pastikan.”Maya mengangguk.“Pertemuan apa?”“Pertemuan almarhum dengan pak Burhan pada pagi hari sebelum beliau meninggal.”Wajah Maya berubah.Ia menatap Yudha.Kemudian beralih kepada Zyandru.“Pertemuan itu?”Zyandru menegakkan tubuh.“Ibu ingat?”Maya terdiam beberapa
Di kediaman Natamanggala, Vimala baru saja menyelesaikan makan siangnya ketika ponsel yang terletak di atas meja bergetar.Melihat nama suaminya, senyum langsung muncul di bibir perempuan itu.“Halo, Sayang.”“Hai, sayang.”“Sudah makan?”Zyandru tertawa kecil.“Baru mau.”“Lho, kok baru mau? Ini sudah siang.”“Iya, Sayang. Tadi ada telepon dari Pak Yudha.”Senyum Vimala perlahan menghilang.“Om Yudha?”“Iya.”“Ada apa?”Zyandru terdiam sebentar.“Beliau menemukan catatan lain milik Papa.”Vimala memperbaiki posisi duduknya.“Catatan apa?”“Jadwal pertemuan.”“Dengan siapa?”“Pak Burhan.”Vimala terdiam.Zyandru melanjutkan dengan tenang.“Pertemuan itu dijadwalkan pada pagi hari ketika Papa meninggal.”“Ya Tuhan….”“Sayang, dengarkan aku dulu.”“Iya.”“Kita belum tahu apakah pertemuan itu benar-benar berlangsung. Sekarang aku sama Pak Yudha sedang berusaha memastikannya.”Vimala menggigit bibir.“Papa mau ketemu Om Burhan sebelum rapat?”“Begitu yang tert
Ponsel masih dalam genggaman Zyandru ketika Yudha selesai membacakan kalimat terakhir yang ditulis Wisnutama dalam agenda pribadinya.Selesaikan sebelum rapat. Tidak bisa ditunda lagi.Laki-laki itu bersandar pada kursi kerjanya.Di hadapannya, beberapa dokumen yang harus ditandatangani masih terbuka. Namun sejak mendengar penjelasan Yudha, perhatiannya sama sekali tidak lagi tertuju pada pekerjaan.“Pak Yudha, berarti Om Wisnu memang menjadwalkan pertemuan dengan Burhan pada pagi hari sebelum beliau meninggal?”“Betul, Pak. Setidaknya itu yang tertulis dalam agenda pribadi beliau dan pertemuannya pukul delapan pagi.”Zyandru melirik jam di dinding.Hampir tengah hari.Di luar ruangannya, aktivitas MG Group berjalan seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang, telepon berdering, dan beberapa orang terlihat membawa berkas menuju ruang rapat.Tidak ada yang mengetahui bahwa di balik pintu ruang Presiden Direktur, sebuah percakapan sedang berlangsung mengenai sesuatu yang mungki
Kamis pagi. MG Group. Pukul sembilan lewat lima belas. Davin memasuki ruangan Zyandru sambil membawa dua cangkir kopi. “Pagi, Pak Direktur Utama.” Zyandru yang sedang membaca laporan mengangkat wajah. “Pagi.” Davin meletakkan salah satu cangkir di atas meja. Kemudian memperhatikan sahabatnya. “Lo kurang tidur?” Zyandru mengernyit. “Kenapa emang?” “Muka lo.” “Kenapa muka gue?” “Biasanya pagi-pagi sudah kelihatan ganteng. Sekarang agak berkurang.” Zyandru mendengus. “Kurang ajar.” Davin tertawa. “Bercanda, Bos.” Ia menarik kursi di depan meja. “Gimana pertemuan sama Pak Yudha kemarin?” Zyandru meletakkan dokumen. Wajahnya berubah serius. “Ada catatan pribadi Om Wisnu.” Davin mengangguk. “Tentang Burhan?” “Burhan sama Robi.”
Malam harinya.Pukul sembilan lewat tiga puluh.Vimala baru selesai membersihkan diri ketika keluar dari kamar mandi.Ia mengenakan piyama berbahan lembut berwarna krem.Rambut panjangnya dibiarkan tergerai.Zyandru yang sudah lebih dahulu berganti pakaian sedang duduk bersandar pada headboard sambil memeriksa sesuatu di ponselnya.Begitu melihat istrinya keluar, ia langsung meletakkan benda tersebut.“Sini, Sayang.”Vimala berjalan mendekat.Namun sebelum sempat naik ke ranjang, Zyandru sudah mengulurkan tangan untuk membantunya.“Aku masih bisa naik sendiri, Zyan.”“Aku tahu.”“Terus kenapa dibantu?”“Karena aku mau.”Vimala tertawa.“Jawabannya selalu begitu.”Zyandru tersenyum.“Memangnya salah?”“Enggak.”Vimala duduk di sampingnya.Laki-laki itu segera menarik selimut untuk menutupi kaki istrinya.Kemudian mengambil botol pelembap yang terletak di nakas.Vimala memperh







