Beranda / Romansa / Takdir Tidak Pernah Keliru / Kepergian Singan Terkuat

Share

Kepergian Singan Terkuat

Penulis: Erna Azura
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 15:04:52

Mentari baru saja menembus tirai tipis yang membingkai jendela ruang makan utama kediaman keluarga Gunadhya.

Suasana pagi itu terasa tenang.

Di atas meja makan yang terbuat dari marmer putih sepanjang hampir lima meter, berbagai hidangan tersaji rapi. Roti panggang, omelet keju, salad sayuran segar, bubur ayam, hingga secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap hangat.

Namun berbeda dari biasanya, tak ada percakapan ringan yang mengisi pagi itu.

Kama Gunadhya menatap layar tablet di tangannya dengan dahi berkerut. Berita ekonomi yang baru terbit beberapa menit lalu memenuhi halaman depan hampir seluruh media nasional.

Satu judul mencuri perhatiannya.

Presiden Direktur MG Group, Wisnutama Natamanggala, Meninggal Dunia Akibat Serangan Jantung.

Kama mengembuskan napas panjang.

Ia meletakkan tabletnya perlahan.

Di hadapannya, bunda Arshavina menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Wajah perempuan anggun itu ikut berubah muram saat melihat ekspresi sang suami.

“Ada berita buruk, Yah?” tanyanya pelan.

Ayah Kama mengangguk kecil.

“Wisnu.”

Bunda Arshavina menghentikan gerakannya. “Wisnutama Natamanggala?”

Bunda tahu siapa yang dimaksud, nama pria itu sering menjadi topik pembicaraan makan malam ketika Davanka berkunjung.

Ayah Kama mengangguk lagi.

“Kenapa sama dia?” Suara bunda meninggi.

“Dia… meninggal.”

Setelah ayah Kama menjawab demikian, cangkir porselen di tangan bunda hampir terlepas.

“Ya Tuhan … ampuni dosa-dosanya ….”

Ucapan lirih itu keluar begitu saja.

Tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat.

Zyandru memasuki ruang makan dengan kemeja putih yang lengan bajunya masih tergulung hingga siku. Rambutnya sedikit basah, menandakan ia baru selesai mandi.

“Selamat pagi.”

“Pagi,” jawab kedua orang tuanya hampir bersamaan.

Zyandru duduk di kursinya.

Pandangannya bergantian menatap wajah ayah Kama dan bunda Arshavina.

“Ada apa?” Kedua alisnya terangkat, bingung.

Ayah Kama mendorong tablet di atas meja hingga berhenti tepat di depan putranya.

“Baca lah.”

Zyandru melirik sekilas.

Hanya dalam hitungan detik, sorot matanya berubah. “Pak Wisnutama?”

Ayah Kama mengangguk. “Meninggal tadi malam.”

Ruangan kembali sunyi.

Zyandru mengenal nama itu sejak kecil.

Mereka memang tumbuh sebagai dua keluarga konglomerat yang selalu berada di jalur persaingan.

Setiap tender besar.

Setiap proyek pemerintah.

Setiap kerja sama internasional.

Nama AG Group dan MG Group hampir selalu berdiri berdampingan sebagai dua pesaing terkuat.

Hingga persaingan itu berubah menjadi permusuhan pribadi.

Meskipun jika mereka bertemu di suatu acara maupun pesta, ayah Kama dan pak Wisnutama tetap saling menghormati.

“Serangan jantung,” gumam Zyandru pelan.

“Ketika sedang rapat direksi, katanya begitu.”

Zyandru menyandarkan punggungnya ke kursi.

Beberapa detik ia hanya menatap kosong ke arah jendela.

“Wah sayang sekali … terlalu cepat beliau pergi.” Zyandru bergumam.

Bunda Arshavina ikut menghela napas. “Kasihan putrinya.”

Kalimat sederhana itu membuat tatapan Zyandru kembali terangkat.

“Siapa putrinya? Bunda kenal?”

“Iya. Dulu Bunda sama ayah pernah datang ke baby showernya … dulu MG Group belum jadi saingan AG Group.”

“Anak itu sekarang sendirian.” Ayah Kama bergumam setelah menyesap kopinya.

Tak ada lagi yang berbicara.

Pelayan datang menyajikan sarapan, dan mereka mulai menikmatinya.

Mencoba melupakan yang pergi karena hidup harus tetap berjalan. Apalagi sekarang berkurang satu saingan AG Group.

Ayah Kama kembali menyeruput kopinya kemudian berkata, “Sebelum ke kantor nanti .…” Ia menatap putranya. “…kita ke rumah duka.”

Zyandru langsung mengangkat wajah. “Ah Ayah aja.”

Ayah Kama berdecak.”Maksudmu?”

“Enggak perlu berdua.”

Kama mengernyit. “Kenapa?”

Zyandru mengangkat bahu. “Mereka saingan bisnis kita, Yah … ngapain kita datang? Nanti disangka merayakan kematiannya.”

“Mereka sedang berduka. Masa kita enggak datang untuk mengucapkan belasungkawa.” Ayah berkata bijak.

“Tapi enggak semua orang berpikir seperti itu.” Zyandru memotong roti panggangnya perlahan.

“Sejak kapan keluarga kita mikirin omongan orang.” Ayah membalas.

Bunda Arshavina memandang putranya. “Ayah benar, meski saingan tapi bukan berarti kita enggak memiliki empati.”

Zyandru merotasi bola matanya malas.

“Kita datang bukan sebagai pesaing.” Kama meletakkan cangkir kopinya. “Tapi sebagai sesama manusia.” Tatapan beliau berubah jauh lebih lembut.

“Persaingan bisnis berhenti ketika salah satu pihak mengembuskan napas terakhir.” Kalimat itu membuat Zyandru terdiam.

“Bagaimanapun…” lanjut Kama, “Ayah mengenal Wisnu lebih dari tiga puluh tahun. Kami memang sering berbeda kepentingan. Sering berebut proyek. Sering saling mengalahkan. Tapi sesungguhnya Ayah tidak pernah membenci dia.”

Bunda Arshavina mengangguk pelan. “Karena Ayah lebih sering menang tender.”

Zyandru nyaris menyemburkan tawa. “Dan dia pasti tidak akan melakukan hal yang sama kalau ini yang terjadi sama Ayah.”

“Ah … sok nyaho kamu.” Ayah Kama bangkit dari kursinya. “Ayo kita berangkat bersama.”

Zyandru tahu kalau ayahnya sudah mengatakan “bersama”, berarti keputusan itu tidak akan berubah.

Ia hanya mengangguk kecil. “Oke deh.”

***

Rumah duka keluarga Natamanggala telah dipenuhi kendaraan mewah sejak pagi.

Mobil-mobil berpelat khusus berjajar memenuhi halaman.

Karangan bunga memenuhi hampir seluruh sisi pagar.

Ucapan belasungkawa datang dari berbagai perusahaan nasional maupun internasional.

Para wartawan berdiri di luar gerbang, namun tak seorang pun diizinkan masuk.

Begitu mobil keluarga Gunadhya memasuki halaman, suasana berubah nyaris seketika.

Beberapa petinggi MG Group yang sedang berbincang langsung menghentikan percakapan mereka.

Tatapan mereka mengikuti langkah Kama dan Zyandru tanpa berkedip.

“Itu Pak Kama.”

“Kenapa beliau datang?”

“AG Group?”

“Serius?”

Bisik-bisik pelan mulai terdengar.

Sebagian memandang penuh curiga.

Sebagian lagi tampak kebingungan.

Zyandru menangkap semua tatapan itu.

Ia sudah menduganya sejak tadi.

Di mata mereka…

Kedatangan keluarga Gunadhya mungkin tampak seperti seekor singa yang datang memastikan lawannya benar-benar telah tumbang.

Padahal tidak.

Ayah Kama tetap melangkah tenang.

Tak sedikit pun berubah.

Seolah tatapan-tatapan itu tak pernah ada.

Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berjas hitam berjalan menghampiri.

Siapa lagi kalau bukan Burhan. Tangan kanan almarhum Wisnutama.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding terakhir kali ayah Kama bertemu dengannya beberapa bulan lalu.

Namun senyum sopan tetap tersungging di bibirnya.

“Pak Kama….” Burhan mengulurkan tangan. “Terima kasih sudah datang.”

Kama menyambut uluran tangan itu erat. “Saya turut berduka. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”

“Aamiin.” Burhan mengangguk.

Sorot matanya kemudian berpindah kepada Zyandru.

“Mas Zyandru.”

“Turut berduka cita, Pak Burhan.”

“Terima kasih.”

Burhan mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah untuk melihat jenazah Wisnutama untuk yang terakhir kali.

“Silakan.”

“Non@ Vimala masih menemani almarhum.”

Kama mengangguk pelan.

Begitu memasuki ruang utama rumah duka, aroma bunga lili langsung memenuhi indra penciuman.

Puluhan pelayat duduk memenuhi ruangan.

Sebagian membaca doa.

Sebagian hanya diam.

Di ujung ruangan, sebuah peti jenazah dikelilingi rangkaian bunga putih.

Dan di sanalah, untuk pertama kalinya Zyandru melihat perempuan bernama Vimala Rinayu Amadhea.

Bukan melalui majalah bisnis.

Bukan pula dari media sosial yang sering menampilkan kehidupannya sebagai putri konglomerat.

Melainkan dalam keadaan paling rapuh yang pernah ia saksikan.

Gadis itu berlutut di samping peti.

Kedua lengannya memeluk tubuh sang ayah yang telah terbujur kaku.

Wajahnya nyaris tenggelam di dada Wisnutama.

Tangisnya tak lagi meledak seperti semalam.

Yang tersisa hanyalah isak-isak lirih yang terdengar begitu menyayat.

Sesekali bahunya bergetar hebat.

Seorang wanita paruh baya berseragam sederhana mengusap punggungnya penuh kasih sayang.

Namun Vimala tetap tak melepaskan pelukannya.

Seolah jika ia mengendurkan sedikit saja pelukan itu maka ayahnya akan benar-benar pergi untuk selamanya.

Zyandru terpaku.

Selama ini media selalu menggambarkan Vimala sebagai gadis sosialita.

Manja.

Suka berpesta.

Gemar berbelanja.

Hidup bergelimang kemewahan.

Namun perempuan yang kini berada di hadapannya sama sekali berbeda.

Tak ada riasan sempurna.

Tak ada senyum angkuh.

Tak ada sorot mata penuh percaya diri.

Yang ada hanyalah seorang anak perempuan yang kehilangan satu-satunya tempat pulang.

Entah mengapa dada Zyandru ikut terasa sesak.

Ia tahu kisah keluarga itu.

Ibu Vimala meninggal beberapa bulan setelah melahirkannya.

Sejak saat itu Wisnutama memilih hidup sendiri.

Tak pernah menikah lagi.

Tak pernah menghadirkan ibu baru untuk putrinya.

Seluruh hidupnya hanya berputar pada satu hal.

Membesarkan Vimala.

Kini, pria itu telah tiada.

Dan perempuan yang sedang menangis di hadapan peti jenazah itu resmi menjadi yatim piatu.

Tanpa sadar, Zyandru mengembuskan napas panjang.

Sejak mengenal nama Vimala Rinayu Amadhea, ia tidak melihat seorang pewaris konglomerat.

Kini Zyandru hanya melihat seorang anak yang kehilangan seluruh dunianya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
jadi Zyandru akhirnya menikah sama Vimala kah?g jadi sama Ratu?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Harus Memutuskan

    “Kalau ada perubahan struktur kepemimpinan sebesar itu, saya akan diskusikan dulu dengan istri saya.”Robi mendengus pelan. “Dia akan nurut sama lo.”Seluruh ruangan mendadak sunyi.Tatapan Zyandru perlahan berpindah.“Maaf?”Robi menegakkan tubuh. “Maksud saya, bu Vimala tentu akan mempertimbangkan pendapat Bapak sebagai suaminya.”Zyandru menatapnya cukup lama.Lalu tersenyum.Sangat tipis.“Bagus kalau Anda masih ingat saya suaminya.”Rahang Robi langsung mengeras.Beberapa orang tidak memahami makna kalimat tersebut.Burhan jelas memahami namun memilih diam.Belum selesai.Salah seorang komisaris yang sejak awal tidak banyak bicara tiba-tiba mengangkat tangan.“Saya justru punya pandangan berbeda.”Zyandru menoleh.“Silakan.”“Kenapa tidak digabung saja?”Beberapa orang langsung bereaksi.“Pak—”“Tunggu.” Komisaris tersebut mengangkat tangan. “Dengar dulu.” Ia kemudian menatap seluruh meja.“Selama puluhan tahun kita bersaing dengan AG Group.”“Betul.”“Dan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Menentukan Siapa Pimpinan MG Group

    Kedatangan Zyandru langsung menarik perhatian.Bukan karena dirinya baru pertama kali memasuki gedung tersebut melainkan sekarang statusnya berbeda.Suami dari pewaris tunggal MG Group.Pemegang kewenangan sementara untuk menjalankan perusahaan.Dan laki-laki dari keluarga yang selama puluhan tahun dikenal sebagai rival utama mereka.Begitu Zyandru memasuki lobby, beberapa kepala otomatis menoleh.“Selamat pagi, Pak.”“Pagi, Pak.”Zyandru membalas dengan anggukan singkat.Langkahnya tidak melambat.Bella mengikuti setengah langkah di belakang.Beberapa karyawan perempuan yang berada dekat area resepsionis saling melirik setelah pria itu lewat.“Gila, ganteng banget.”“Sayang udah nikah.”“Lo berani sama suaminya pewaris MG Group?”“Enggak berani. Cuma bilang sayang aja.”“Pestanya kemarin mewah banget.”“Gue lihat foto internalnya. Bu Vimala cantik banget.”Bisikan itu tidak sampai ke telinga Zyandru.Atau mungkin sampai tapi tentu saja tidak penting.Pintu lift ek

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Menghadiri Undangan dari MG Group

    Cahaya tipis menyusup dari sela-sela tirai presidential suite, jatuh samar ke lantai marmer dan sisi ranjang besar yang masih berantakan setelah malam panjang mereka.Zyandru berdiri di depan cermin.Kemeja putih.Setelan jas gelap.Jam tangan terpasang rapi.Rambutnya sudah tertata.Tidak ada sedikit pun tanda bahwa beberapa jam sebelumnya pria itu baru tidur menjelang dini hari setelah kembali menghabiskan malam sebagai pengantin baru bersama istrinya.Di belakangnya, seseorang masih terbungkus selimut sampai hanya menyisakan sebagian rambut panjang berantakan.Zyandru melirik jam.Pukul tujuh lewat sedikit.Ia berjalan mendekati ranjang.“Mala.”Tidak ada pergerakan.“Mala….”Selimut justru semakin naik menutupi kepala.Sudut bibir Zyandru terangkat.Tangannya menarik sedikit ujung selimut.“Bangun sebentar.”Dari balik sana terdengar gumaman tidak jelas.“Hmm….”“Aku mau berangkat.”Kepala Vimala akhirnya muncul.Hanya kepala.Matanya masih setengah tertutup

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Begitu Perhatian

    Hampir tiga jam Vimala benar-benar dimanjakan. Tubuhnya dipijat. Kulitnya dirawat. Wajahnya mendapat perawatan ringan. Ia berendam dalam air hangat cukup lama. Dan ketika semua selesai, rasa pegal yang sejak bangun tadi memenuhi tubuhnya jauh berkurang. Ia baru saja mengenakan robe ketika pintu suite kembali terbuka. Zyandru datang dengan seorang pelayan yang membawa sebuah troli makanan. Mata Vimala langsung berbinar. “Akhirnya nemu makanan!” Zyandru tertawa. “Bukan aku yang dikangenin ternyata.” “Aku lapar banget.” “Makanya makan yang banyak.” Vimala langsung duduk di kursi meja makan. Menu kali ini masih mengikuti aturan kesehatan yang diberikan Profesor Keller. Nasi. Ikan. Sup. Sayuran. Ada pula sedikit pasta yang dibuat ringan. Tidak ada makanan pedas.

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pesta Kedua

    Begitu duduk di dalam helikopter, Vimala langsung menyembulkan kepala lebih jauh dari selimut.Wajahnya merah padam.“Aku benci kamu.”Zyandru memasang headset.“Apa?”“Aku bilang aku benci kamu!”Zyandru membantu memasangkan headset untuk Vimala yang masih berada di pangkuannya.“Kenapa?”“Kamu bikin aku malu.”“Siapa yang susah dibangunin?”“Ya jangan digendong keluar kaya gini juga!”“Kalau aku tunggu kamu bangun sendiri, pesta malam ini selesai duluan.”“Aku capek itu salah siapa?”Zyandru menunduk.Kemudian tersenyum tengil.Vimala langsung menunjuk wajahnya.“Jangan senyum begitu!”“Kenapa?”“Karena penyebabnya kamu.”“Perasaan semalam kamu enggak protes… malah menikmati.”Mata Vimala langsung membesar.“Zyan!”“Apa?”“Diam.”Zyandru terkekeh.“Pokoknya malam ini kamu jangan macam-macam.”“Memangnya aku bilang mau?”“Wajah kamu.”“Kenapa sama wajah aku?”“Mesum.”Zyandru tertawa.Vimala masih belum selesai.“Terus sekarang rambut aku kayak sarang

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Dibungkus Bedcover

    “Mal….”Tidak ada respons.“Mala.”Tetap tidak ada jawaban.Zyandru berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan bertolak pinggang sambil menatap istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berniat membuka mata.Sudah tiga kali ia mencoba membangunkan.Hasilnya nihil.Vimala justru semakin menggulung tubuh di dalam selimut.Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah. Satu pipinya menempel pada bantal, sementara napasnya masih begitu teratur seolah dunia boleh kiamat asalkan tidak mengganggu tidurnya pagi itu.Zyandru mengembuskan napas. “Sayang… bangun.”Vimala akhirnya bergerak sedikit.“Hm….”“Kita harus berangkat.”“Ke mana….”“Jakarta.”“Enggak mau.” Jawabannya begitu cepat meskipun matanya tetap tertutup.Zyandru nyaris tertawa.“Kenapa enggak mau?”“Aku capek.”“Tapi pesta kita malam ini.”“Batalin aja.” Vimala bergumam.Zyandru terkekeh. “Enak aja.”“Mala.”“Hmm.”“Bangun.”“Enggak.”Zyandru menatap wajah istrinya cukup lama.Sebe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status