LOGINMentari baru saja menembus tirai tipis yang membingkai jendela ruang makan utama kediaman keluarga Gunadhya.
Suasana pagi itu terasa tenang. Di atas meja makan yang terbuat dari marmer putih sepanjang hampir lima meter, berbagai hidangan tersaji rapi. Roti panggang, omelet keju, salad sayuran segar, bubur ayam, hingga secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap hangat. Namun berbeda dari biasanya, tak ada percakapan ringan yang mengisi pagi itu. Kama Gunadhya menatap layar tablet di tangannya dengan dahi berkerut. Berita ekonomi yang baru terbit beberapa menit lalu memenuhi halaman depan hampir seluruh media nasional. Satu judul mencuri perhatiannya. Presiden Direktur MG Group, Wisnutama Natamanggala, Meninggal Dunia Akibat Serangan Jantung. Kama mengembuskan napas panjang. Ia meletakkan tabletnya perlahan. Di hadapannya, bunda Arshavina menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Wajah perempuan anggun itu ikut berubah muram saat melihat ekspresi sang suami. “Ada berita buruk, Yah?” tanyanya pelan. Ayah Kama mengangguk kecil. “Wisnu.” Bunda Arshavina menghentikan gerakannya. “Wisnutama Natamanggala?” Bunda tahu siapa yang dimaksud, nama pria itu sering menjadi topik pembicaraan makan malam ketika Davanka berkunjung. Ayah Kama mengangguk lagi. “Kenapa sama dia?” Suara bunda meninggi. “Dia… meninggal.” Setelah ayah Kama menjawab demikian, cangkir porselen di tangan bunda hampir terlepas. “Ya Tuhan … ampuni dosa-dosanya ….” Ucapan lirih itu keluar begitu saja. Tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat. Zyandru memasuki ruang makan dengan kemeja putih yang lengan bajunya masih tergulung hingga siku. Rambutnya sedikit basah, menandakan ia baru selesai mandi. “Selamat pagi.” “Pagi,” jawab kedua orang tuanya hampir bersamaan. Zyandru duduk di kursinya. Pandangannya bergantian menatap wajah ayah Kama dan bunda Arshavina. “Ada apa?” Kedua alisnya terangkat, bingung. Ayah Kama mendorong tablet di atas meja hingga berhenti tepat di depan putranya. “Baca lah.” Zyandru melirik sekilas. Hanya dalam hitungan detik, sorot matanya berubah. “Pak Wisnutama?” Ayah Kama mengangguk. “Meninggal tadi malam.” Ruangan kembali sunyi. Zyandru mengenal nama itu sejak kecil. Mereka memang tumbuh sebagai dua keluarga konglomerat yang selalu berada di jalur persaingan. Setiap tender besar. Setiap proyek pemerintah. Setiap kerja sama internasional. Nama AG Group dan MG Group hampir selalu berdiri berdampingan sebagai dua pesaing terkuat. Hingga persaingan itu berubah menjadi permusuhan pribadi. Meskipun jika mereka bertemu di suatu acara maupun pesta, ayah Kama dan pak Wisnutama tetap saling menghormati. “Serangan jantung,” gumam Zyandru pelan. “Ketika sedang rapat direksi, katanya begitu.” Zyandru menyandarkan punggungnya ke kursi. Beberapa detik ia hanya menatap kosong ke arah jendela. “Wah sayang sekali … terlalu cepat beliau pergi.” Zyandru bergumam. Bunda Arshavina ikut menghela napas. “Kasihan putrinya.” Kalimat sederhana itu membuat tatapan Zyandru kembali terangkat. “Siapa putrinya? Bunda kenal?” “Iya. Dulu Bunda sama ayah pernah datang ke baby showernya … dulu MG Group belum jadi saingan AG Group.” “Anak itu sekarang sendirian.” Ayah Kama bergumam setelah menyesap kopinya. Tak ada lagi yang berbicara. Pelayan datang menyajikan sarapan, dan mereka mulai menikmatinya. Mencoba melupakan yang pergi karena hidup harus tetap berjalan. Apalagi sekarang berkurang satu saingan AG Group. Ayah Kama kembali menyeruput kopinya kemudian berkata, “Sebelum ke kantor nanti .…” Ia menatap putranya. “…kita ke rumah duka.” Zyandru langsung mengangkat wajah. “Ah Ayah aja.” Ayah Kama berdecak.”Maksudmu?” “Enggak perlu berdua.” Kama mengernyit. “Kenapa?” Zyandru mengangkat bahu. “Mereka saingan bisnis kita, Yah … ngapain kita datang? Nanti disangka merayakan kematiannya.” “Mereka sedang berduka. Masa kita enggak datang untuk mengucapkan belasungkawa.” Ayah berkata bijak. “Tapi enggak semua orang berpikir seperti itu.” Zyandru memotong roti panggangnya perlahan. “Sejak kapan keluarga kita mikirin omongan orang.” Ayah membalas. Bunda Arshavina memandang putranya. “Ayah benar, meski saingan tapi bukan berarti kita enggak memiliki empati.” Zyandru merotasi bola matanya malas. “Kita datang bukan sebagai pesaing.” Kama meletakkan cangkir kopinya. “Tapi sebagai sesama manusia.” Tatapan beliau berubah jauh lebih lembut. “Persaingan bisnis berhenti ketika salah satu pihak mengembuskan napas terakhir.” Kalimat itu membuat Zyandru terdiam. “Bagaimanapun…” lanjut Kama, “Ayah mengenal Wisnu lebih dari tiga puluh tahun. Kami memang sering berbeda kepentingan. Sering berebut proyek. Sering saling mengalahkan. Tapi sesungguhnya Ayah tidak pernah membenci dia.” Bunda Arshavina mengangguk pelan. “Karena Ayah lebih sering menang tender.” Zyandru nyaris menyemburkan tawa. “Dan dia pasti tidak akan melakukan hal yang sama kalau ini yang terjadi sama Ayah.” “Ah … sok nyaho kamu.” Ayah Kama bangkit dari kursinya. “Ayo kita berangkat bersama.” Zyandru tahu kalau ayahnya sudah mengatakan “bersama”, berarti keputusan itu tidak akan berubah. Ia hanya mengangguk kecil. “Oke deh.” *** Rumah duka keluarga Natamanggala telah dipenuhi kendaraan mewah sejak pagi. Mobil-mobil berpelat khusus berjajar memenuhi halaman. Karangan bunga memenuhi hampir seluruh sisi pagar. Ucapan belasungkawa datang dari berbagai perusahaan nasional maupun internasional. Para wartawan berdiri di luar gerbang, namun tak seorang pun diizinkan masuk. Begitu mobil keluarga Gunadhya memasuki halaman, suasana berubah nyaris seketika. Beberapa petinggi MG Group yang sedang berbincang langsung menghentikan percakapan mereka. Tatapan mereka mengikuti langkah Kama dan Zyandru tanpa berkedip. “Itu Pak Kama.” “Kenapa beliau datang?” “AG Group?” “Serius?” Bisik-bisik pelan mulai terdengar. Sebagian memandang penuh curiga. Sebagian lagi tampak kebingungan. Zyandru menangkap semua tatapan itu. Ia sudah menduganya sejak tadi. Di mata mereka… Kedatangan keluarga Gunadhya mungkin tampak seperti seekor singa yang datang memastikan lawannya benar-benar telah tumbang. Padahal tidak. Ayah Kama tetap melangkah tenang. Tak sedikit pun berubah. Seolah tatapan-tatapan itu tak pernah ada. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berjas hitam berjalan menghampiri. Siapa lagi kalau bukan Burhan. Tangan kanan almarhum Wisnutama. Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding terakhir kali ayah Kama bertemu dengannya beberapa bulan lalu. Namun senyum sopan tetap tersungging di bibirnya. “Pak Kama….” Burhan mengulurkan tangan. “Terima kasih sudah datang.” Kama menyambut uluran tangan itu erat. “Saya turut berduka. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.” “Aamiin.” Burhan mengangguk. Sorot matanya kemudian berpindah kepada Zyandru. “Mas Zyandru.” “Turut berduka cita, Pak Burhan.” “Terima kasih.” Burhan mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah untuk melihat jenazah Wisnutama untuk yang terakhir kali. “Silakan.” “Non@ Vimala masih menemani almarhum.” Kama mengangguk pelan. Begitu memasuki ruang utama rumah duka, aroma bunga lili langsung memenuhi indra penciuman. Puluhan pelayat duduk memenuhi ruangan. Sebagian membaca doa. Sebagian hanya diam. Di ujung ruangan, sebuah peti jenazah dikelilingi rangkaian bunga putih. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya Zyandru melihat perempuan bernama Vimala Rinayu Amadhea. Bukan melalui majalah bisnis. Bukan pula dari media sosial yang sering menampilkan kehidupannya sebagai putri konglomerat. Melainkan dalam keadaan paling rapuh yang pernah ia saksikan. Gadis itu berlutut di samping peti. Kedua lengannya memeluk tubuh sang ayah yang telah terbujur kaku. Wajahnya nyaris tenggelam di dada Wisnutama. Tangisnya tak lagi meledak seperti semalam. Yang tersisa hanyalah isak-isak lirih yang terdengar begitu menyayat. Sesekali bahunya bergetar hebat. Seorang wanita paruh baya berseragam sederhana mengusap punggungnya penuh kasih sayang. Namun Vimala tetap tak melepaskan pelukannya. Seolah jika ia mengendurkan sedikit saja pelukan itu maka ayahnya akan benar-benar pergi untuk selamanya. Zyandru terpaku. Selama ini media selalu menggambarkan Vimala sebagai gadis sosialita. Manja. Suka berpesta. Gemar berbelanja. Hidup bergelimang kemewahan. Namun perempuan yang kini berada di hadapannya sama sekali berbeda. Tak ada riasan sempurna. Tak ada senyum angkuh. Tak ada sorot mata penuh percaya diri. Yang ada hanyalah seorang anak perempuan yang kehilangan satu-satunya tempat pulang. Entah mengapa dada Zyandru ikut terasa sesak. Ia tahu kisah keluarga itu. Ibu Vimala meninggal beberapa bulan setelah melahirkannya. Sejak saat itu Wisnutama memilih hidup sendiri. Tak pernah menikah lagi. Tak pernah menghadirkan ibu baru untuk putrinya. Seluruh hidupnya hanya berputar pada satu hal. Membesarkan Vimala. Kini, pria itu telah tiada. Dan perempuan yang sedang menangis di hadapan peti jenazah itu resmi menjadi yatim piatu. Tanpa sadar, Zyandru mengembuskan napas panjang. Sejak mengenal nama Vimala Rinayu Amadhea, ia tidak melihat seorang pewaris konglomerat. Kini Zyandru hanya melihat seorang anak yang kehilangan seluruh dunianya.Menjelang sore, keadaan tidak membaik.Makanan yang dicoba masuk kembali keluar.Air pun hanya bisa diminum sedikit demi sedikit.Mual datang berulang.Tubuh Vimala semakin lemah.Tekanan psikologis yang berat bukan penyebab penyakit Crohn’s-nya, tetapi pada kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih, stres, kurang makan, dan muntah berulang membuat keadaannya jauh lebih sulit.Perawat beberapa kali berkomunikasi dengan tante Zara.Setelah penilaian kondisi, instruksi medis, dan memastikan tanda-tanda yang harus segera dirujuk ke rumah sakit, cairan intravena akhirnya diberikan karena Vimala kesulitan mempertahankan asupan oral.Jarum masuk ke pembuluh darah tangannya.Vimala memalingkan wajah.Bi Tina duduk di samping ranjang.“Non…”“Aku capek, Bi.”“Tidur saja.”Vimala menutup mata.Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.Ada terlalu banyak suara di dalam kepalanya.Ucapan Ratu.Penjelasan
Ratu menarik napas.“Masih ada satu hal.”Davin nyaris ingin tertawa.Sepertinya hari-hari belakangan selalu dipenuhi kalimat masih ada satu hal yang kemudian membuka masalah baru.Zyandru menatap Ratu. “Apa?”Ratu tampak ragu sejenak. “Beasiswa aku.”Ekspresi Zyandru seketika berubah.Davin mengerutkan kening.Ratu tersenyum tipis. “Vimala cerita.”Zyandru mengerjap dengan sering.“Katanya dia pernah dengar pembicaraan kamu sama Ryley di Lembang.”Zyandru menunduk.“Jadi benar?”“Iya.”Ratu mengembuskan napas perlahan.“Kenapa?”“Karena kamu pantas mendapatkan itu.”“Terima kasih.” Dua kata itu terdengar sederhana.Namun membawa bertahun-tahun perjalanan di belakangnya.Zyandru tidak segera menjawab.“Tapi .…” Ratu belum selesai.Zyandru hampir tersenyum. “Tentu ada tapinya.”Ratu mengangkat dagu.“Aku tetap mau kamu tahu kalau aku bukan lulus karena kamu.”“Iya…
Ratu memang sudah berada di proyek ketika Zyandru tiba.Helm keselamatan putih menutupi sebagian rambutnya yang diikat rendah.Kemeja berwarna biru muda dipadukan dengan celana bahan gelap dan safety vest.Di tangannya terdapat tablet berisi beberapa catatan teknis.Tidak ada kecanggungan berlebihan ketika pandangan mereka bertemu.“Pagi, Pak Zyandru.”“Pagi, Bu Ratu.”Davin yang berjalan di samping Zyandru menahan senyum kecil.Mereka memang selalu proesional,Seolah-olah tidak pernah ada urusan hati yang belum selesai. Pertemuan pagi berlangsung di ruang koordinasi proyek.Pak Arief hadir bersama tim construction management, project control, perwakilan MEP, serta dua orang dari perusahaan Ratu.Tidak ada pembahasan personal maupun tatapan yang terlalu lama.Mereka membicarakan progres pekerjaan, penyelesaian discrepancy utility relocation, revisi sequencing, dan beberapa pekerjaan yang harus dikunci sebelum fase berikutnya berjalan.Zyandru bahkan beberapa kali menyer
Pagi itu terasa hampa bagi Zyandru.Tidak ada percakapan yang menyelesaikan pertengkaran semalam.Tidak ada pelukan hangat.Tidak ada pula jawaban atas pertanyaan terakhir Vimala.Ketika cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, Zyandru sudah terjaga sejak beberapa menit lalu.Ia berbaring telentang dengan satu tangan di bawah kepala, menatap langit-langit kamar.Di sampingnya, Vimala berbaring membelakangi.Napasnya teratur.Terlalu teratur.Zyandru tahu istrinya sudah bangun.Sama seperti Vimala yang tahu kalau Zyandru belum benar-benar bisa tidur lelap semalaman.Namun mereka sama-sama tidak mengatakan apa-apa.Semangkuk bubur di atas nakas hanya berkurang beberapa sendok. Obat yang semalam diletakkannya di sana memang sudah diminum, tetapi makanan yang masuk ke tubuh Vimala tetap jauh dari cukup.Zyandru memiringkan tubuh.Menatap punggung perempuan itu.“Mala.”Tidak ada jawaban.“Sayang?”Sang istri masih tidak sudi menyahut. Zyandru mengembuskan napas pe
“Investasi mantan kamu salah sasaran, Sayang.” Ratu kembali tertawa. Bagas mengangkat kedua tangan. “Aku cuma berharap kalau nanti kita nikah, dia enggak minta pengembalian dana CSR.” “Kalau diminta gimana?” “Aku cicil deh.” “Berapa lama?” “Seumur hidup. Bunganya aku bayar pakai kesetiaan.” Ratu terdiam sejenak. Kemudian senyumnya berubah lembut. “Gombal.” “Engineering Manager juga boleh gombal dooonk.” Bagas menyenggol bahunya. “Tapi serius….” “Hm?” “Kamu percaya cerita Vimala?” Ratu menatap kotak makanan di hadapannya. “Aku enggak tahu juga ya.” “Kenapa?” “Karena dia bilang dengar sendiri percakapan Zyan sama Ryley waktu ulang tahun kak Luna di Lembang.” Bagas mengangguk pelan. “Berarti ada dasar ceritanya.” “Iya.” Ratu mengusap ujung sendok. “Aku cuma…”
Di sebuah apartemen kawasan Jakarta Selatan, Ratu sedang duduk bersila di sofa ketika Bagas datang membawa dua kantong makanan.“Permisi. Layanan pengantaran makanan khusus perempuan galak.”Ratu mengangkat wajah.“Siapa yang galak?”“Yang hari ini bikin satu gedung kantor heboh.”Ratu membeku.Bagas berhenti tersenyum. “Eh.”Ia meletakkan kantong makanan di meja.“Berarti bener?”Ratu memejamkan mata.“Kamu udah dengar?”“Hanya sebagian. Tadi sekuriti loby kasih tahu aku katanya gini, ‘Mas … tadi ceweknya dilabrak istri orang.” “Oh ya?” Ratu tergelak merasa lucu.Bagas duduk di sampingnya.“Ayo cerita.”Ratu mengembuskan napas berat.“Vimala datang ke kantor tadi pagi.”“Waw… seru ini.”Ratu tersenyum kecut. “Dia ada di lobi waktu kebetulan aku lagi ada urusan di sana, terus langsung nuduh aku pelakor.”Wajah Bagas berubah. “Di depan banyak orang?”Ratu mengangguk. “Aku ajak bicara







