Share

Pesta Kedua

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-08-24 08:32:11

Begitu duduk di dalam helikopter, Vimala langsung menyembulkan kepala lebih jauh dari selimut.

Wajahnya merah padam.

“Aku benci kamu.”

Zyandru memasang headset.

“Apa?”

“Aku bilang aku benci kamu!”

Zyandru membantu memasangkan headset untuk Vimala yang masih berada di pangkuannya.

“Kenapa?”

“Kamu bikin aku malu.”

“Siapa yang susah dibangunin?”

“Ya jangan digendong keluar kaya gini juga!”

“Kalau aku tunggu kamu bangun sendiri, pesta malam ini selesai duluan.”

“Aku capek itu salah siap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
virna putri
Vimala di Ratu kan banget sama Zyan.. klo ga cinta kebangetan.. Ratu yg dulu sdh terkubur di relung hati terdalam zyan.. menunggu moment ratu bertemu zyan..
goodnovel comment avatar
Ferinda Yanti
iya nunggu bnget bagian ketemu nya,, gak tau kenapa blm puas aja hatiku sebelum zyan ketemu ratu..
goodnovel comment avatar
JUANITA 88
disini harusnya ada ratu pas pestanya nnti
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Harus Memutuskan

    “Kalau ada perubahan struktur kepemimpinan sebesar itu, saya akan diskusikan dulu dengan istri saya.”Robi mendengus pelan. “Dia akan nurut sama lo.”Seluruh ruangan mendadak sunyi.Tatapan Zyandru perlahan berpindah.“Maaf?”Robi menegakkan tubuh. “Maksud saya, bu Vimala tentu akan mempertimbangkan pendapat Bapak sebagai suaminya.”Zyandru menatapnya cukup lama.Lalu tersenyum.Sangat tipis.“Bagus kalau Anda masih ingat saya suaminya.”Rahang Robi langsung mengeras.Beberapa orang tidak memahami makna kalimat tersebut.Burhan jelas memahami namun memilih diam.Belum selesai.Salah seorang komisaris yang sejak awal tidak banyak bicara tiba-tiba mengangkat tangan.“Saya justru punya pandangan berbeda.”Zyandru menoleh.“Silakan.”“Kenapa tidak digabung saja?”Beberapa orang langsung bereaksi.“Pak—”“Tunggu.” Komisaris tersebut mengangkat tangan. “Dengar dulu.” Ia kemudian menatap seluruh meja.“Selama puluhan tahun kita bersaing dengan AG Group.”“Betul.”“Dan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Menentukan Siapa Pimpinan MG Group

    Kedatangan Zyandru langsung menarik perhatian.Bukan karena dirinya baru pertama kali memasuki gedung tersebut melainkan sekarang statusnya berbeda.Suami dari pewaris tunggal MG Group.Pemegang kewenangan sementara untuk menjalankan perusahaan.Dan laki-laki dari keluarga yang selama puluhan tahun dikenal sebagai rival utama mereka.Begitu Zyandru memasuki lobby, beberapa kepala otomatis menoleh.“Selamat pagi, Pak.”“Pagi, Pak.”Zyandru membalas dengan anggukan singkat.Langkahnya tidak melambat.Bella mengikuti setengah langkah di belakang.Beberapa karyawan perempuan yang berada dekat area resepsionis saling melirik setelah pria itu lewat.“Gila, ganteng banget.”“Sayang udah nikah.”“Lo berani sama suaminya pewaris MG Group?”“Enggak berani. Cuma bilang sayang aja.”“Pestanya kemarin mewah banget.”“Gue lihat foto internalnya. Bu Vimala cantik banget.”Bisikan itu tidak sampai ke telinga Zyandru.Atau mungkin sampai tapi tentu saja tidak penting.Pintu lift ek

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Menghadiri Undangan dari MG Group

    Cahaya tipis menyusup dari sela-sela tirai presidential suite, jatuh samar ke lantai marmer dan sisi ranjang besar yang masih berantakan setelah malam panjang mereka.Zyandru berdiri di depan cermin.Kemeja putih.Setelan jas gelap.Jam tangan terpasang rapi.Rambutnya sudah tertata.Tidak ada sedikit pun tanda bahwa beberapa jam sebelumnya pria itu baru tidur menjelang dini hari setelah kembali menghabiskan malam sebagai pengantin baru bersama istrinya.Di belakangnya, seseorang masih terbungkus selimut sampai hanya menyisakan sebagian rambut panjang berantakan.Zyandru melirik jam.Pukul tujuh lewat sedikit.Ia berjalan mendekati ranjang.“Mala.”Tidak ada pergerakan.“Mala….”Selimut justru semakin naik menutupi kepala.Sudut bibir Zyandru terangkat.Tangannya menarik sedikit ujung selimut.“Bangun sebentar.”Dari balik sana terdengar gumaman tidak jelas.“Hmm….”“Aku mau berangkat.”Kepala Vimala akhirnya muncul.Hanya kepala.Matanya masih setengah tertutup

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Begitu Perhatian

    Hampir tiga jam Vimala benar-benar dimanjakan. Tubuhnya dipijat. Kulitnya dirawat. Wajahnya mendapat perawatan ringan. Ia berendam dalam air hangat cukup lama. Dan ketika semua selesai, rasa pegal yang sejak bangun tadi memenuhi tubuhnya jauh berkurang. Ia baru saja mengenakan robe ketika pintu suite kembali terbuka. Zyandru datang dengan seorang pelayan yang membawa sebuah troli makanan. Mata Vimala langsung berbinar. “Akhirnya nemu makanan!” Zyandru tertawa. “Bukan aku yang dikangenin ternyata.” “Aku lapar banget.” “Makanya makan yang banyak.” Vimala langsung duduk di kursi meja makan. Menu kali ini masih mengikuti aturan kesehatan yang diberikan Profesor Keller. Nasi. Ikan. Sup. Sayuran. Ada pula sedikit pasta yang dibuat ringan. Tidak ada makanan pedas.

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pesta Kedua

    Begitu duduk di dalam helikopter, Vimala langsung menyembulkan kepala lebih jauh dari selimut.Wajahnya merah padam.“Aku benci kamu.”Zyandru memasang headset.“Apa?”“Aku bilang aku benci kamu!”Zyandru membantu memasangkan headset untuk Vimala yang masih berada di pangkuannya.“Kenapa?”“Kamu bikin aku malu.”“Siapa yang susah dibangunin?”“Ya jangan digendong keluar kaya gini juga!”“Kalau aku tunggu kamu bangun sendiri, pesta malam ini selesai duluan.”“Aku capek itu salah siapa?”Zyandru menunduk.Kemudian tersenyum tengil.Vimala langsung menunjuk wajahnya.“Jangan senyum begitu!”“Kenapa?”“Karena penyebabnya kamu.”“Perasaan semalam kamu enggak protes… malah menikmati.”Mata Vimala langsung membesar.“Zyan!”“Apa?”“Diam.”Zyandru terkekeh.“Pokoknya malam ini kamu jangan macam-macam.”“Memangnya aku bilang mau?”“Wajah kamu.”“Kenapa sama wajah aku?”“Mesum.”Zyandru tertawa.Vimala masih belum selesai.“Terus sekarang rambut aku kayak sarang

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Dibungkus Bedcover

    “Mal….”Tidak ada respons.“Mala.”Tetap tidak ada jawaban.Zyandru berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan bertolak pinggang sambil menatap istrinya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berniat membuka mata.Sudah tiga kali ia mencoba membangunkan.Hasilnya nihil.Vimala justru semakin menggulung tubuh di dalam selimut.Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah. Satu pipinya menempel pada bantal, sementara napasnya masih begitu teratur seolah dunia boleh kiamat asalkan tidak mengganggu tidurnya pagi itu.Zyandru mengembuskan napas. “Sayang… bangun.”Vimala akhirnya bergerak sedikit.“Hm….”“Kita harus berangkat.”“Ke mana….”“Jakarta.”“Enggak mau.” Jawabannya begitu cepat meskipun matanya tetap tertutup.Zyandru nyaris tertawa.“Kenapa enggak mau?”“Aku capek.”“Tapi pesta kita malam ini.”“Batalin aja.” Vimala bergumam.Zyandru terkekeh. “Enak aja.”“Mala.”“Hmm.”“Bangun.”“Enggak.”Zyandru menatap wajah istrinya cukup lama.Sebe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status