Se connecterMenjelang pukul tujuh malam, Yudha berpamitan.Zyandru mengantarnya hingga pintu utama.Sementara Vimala tetap berada di ruang keluarga setelah suaminya memintanya beristirahat.Sebelum masuk ke mobil, Yudha menghentikan langkah.“Pak Zyandru.”“Iya, Pak?”“Ada satu hal yang ingin saya sampaikan.”Zyandru memperhatikan wajah pengacara tersebut.“Silakan.”Yudha menoleh sekilas ke arah pintu rumah.Kemudian kembali berbicara dengan suara lebih pelan.“Saya mengenal almarhum Pak Wisnutama cukup lama.”Zyandru mengangguk.“Saya tahu.”“Beliau memang orang yang keras dalam pekerjaan. Tapi kalau sudah menyangkut Vimala, sikapnya bisa sangat berbeda.”Senyum kecil muncul di wajah Zyandru.“Iya. Mala sering cerita.”Yudha menghela napas.“Karena itu, saya cukup terkejut ketika membaca catatan tadi.”“Kenapa?”“Almarhum tidak terbiasa menuliskan kekhawatiran pribadi secara terang-terangan.”
Beberapa menit kemudian, suasana ruang keluarga mulai sedikit lebih tenang.Vimala baru saja menghabiskan setengah gelas air putih yang diberikan suaminya.Zyandru tetap duduk di sampingnya, sementara Yudha kembali merapikan beberapa dokumen.“Pak Yudha, untuk sementara saya ingin seluruh dokumen ini ditangani secara hati-hati.”“Tentu, Pak.”“Jangan sampai informasi yang belum jelas justru menimbulkan persoalan baru.”Yudha mengangguk.“Saya juga berpikir demikian.”Zyandru memperhatikan map cokelat di atas meja.“Apakah pihak yang menangani perkara Burhan dan Robi sudah mengetahui temuan ini?”“Belum. Saya ingin memperlihatkannya kepada Vimala terlebih dahulu karena ini merupakan catatan pribadi almarhum.”“Baik.”“Setelah ini, saya akan berkoordinasi dengan tim hukum yang menangani perkara tersebut. Kita perlu memastikan dokumen yang relevan diserahkan melalui prosedur yang benar.”Zyandru mengangguk.“Saya akan minta bagian legal MG Group membantu menyiapkan dokumen
“Jika sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Burhan dan Robi mendekati Mala.”Zyandru membaca kalimat itu sekali lagi.Kemudian mengangkat wajah, menatap Yudha yang duduk di hadapannya.Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.Keheningan memenuhi ruang keluarga yang beberapa menit lalu masih terasa begitu nyaman.Vimala duduk mematung.Kedua matanya terpaku pada lembar kertas yang kini berada dalam genggaman suaminya. Seolah dengan terus menatapnya, ia bisa menemukan penjelasan mengenai alasan sang ayah menuliskan peringatan tersebut.Namun semakin lama ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan.Mengapa Papa menulis pesan seperti itu?Apa yang sebenarnya terjadi?Dan mengapa nama dua orang yang dahulu begitu dekat dengan keluarganya justru menjadi orang-orang yang harus dijauhinya?“Om Yudha….”Suara Vimala akhirnya memecah keheningan.Yudha mengangkat wajah.“Iya, Mala?”“Papa benar-benar menulis ini?”Yudha mengangguk perlahan.“
Percakapan diawali dengan menanyakan kabar serta perkembangan kehamilan Vimala.Namun setelah Bi Tina meninggalkan ruangan, Yudha membuka tas dokumennya.“Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa kajian mengenai kemungkinan penggabungan MG Group dan AG Group masih berada pada tahap awal.”Vimala mengangguk.“Iya, Om.”“Kami belum bisa memberikan rekomendasi sebelum mempelajari seluruh dokumen yang diperlukan.”Zyandru ikut mengangguk.“Saya mengerti.”Yudha kemudian mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat tua.“Namun dalam proses pemeriksaan arsip tersebut, ada sesuatu yang menurut saya perlu diketahui Vimala.”Vimala memperhatikan map itu.“Ini yang Om maksud tadi?”“Iya, Mala.”Yudha meletakkannya di atas meja.“Map ini ditemukan di antara beberapa dokumen pribadi almarhum pak Wisnutama yang masih tersimpan di ruang arsip lama.”Zyandru mengernyit.“Kenapa baru ditemukan sekarang?”“Karena selama ini berkas tersebut tidak termasuk dalam dokumen yang diperlukan unt
MG Group.Zyandru baru saja menandatangani dokumen ketika ponselnya bergetar.Melihat nama istrinya, senyum di bibir pria itu seketika muncul.Ia menjawab panggilan.“Halo, Cinta.”“Sayang…”Zyandru langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari suara Vimala.“Iya?”“Kamu lagi sibuk?”“Enggak. Kenapa?”Vimala terdiam sebentar.“Zyan, nanti sore kamu bisa pulang lebih cepat?”Zyandru melirik jam mahal di pergelangan tangan.“Jam berapa?”“Jam empat.”“Bisa.”Vimala mengembuskan napas lega.“Makasih, Sayang.”Zyandru meletakkan pena.“Mala … Ada apa?”Vimala menggigit bibir.“Om Yudha mau datang ke rumah.”Zyandru mengernyit.“Pak Yudha pengacara?”“Iya.”“Urusan apa?”Vimala menarik napas perlahan.“Awalnya tentang rencana penggabungan perusahaan.”Zyandru terdiam.Kemudian tersenyum kecil.“Oh, yang pernah kita obrolin itu?”“Iya.”“Memangnya kamu benar-benar mau menggabungkan MG Group dengan AG Group bagian aku?”Vimala menunduk.“Sebetulnya aku su
Di kediaman Zyandru.Menjelang pukul sebelas siang.Vimala baru selesai menikmati buah potong ketika Tina datang membawa sebuah kotak berwarna putih.“Non Mala.”Vimala menoleh dari sofa.“Iya, Bi?”“Ini ada kiriman dari butik.”Vimala mengernyit.“Butik?”“Iya, Non. Katanya pesanan pak Zyandru.”Vimala tampak bahagia.“Ya ampun, apalagi ini?”Bi Tina ikut tersenyum.Sejak beberapa minggu terakhir, hampir setiap hari ada saja barang yang dikirim ke rumah.Mulai dari perlengkapan bayi.Pakaian.Selimut.Hingga berbagai benda yang bahkan belum diketahui kegunaannya oleh Vimala.Perempuan itu membuka kotak tersebut.Dan seketika senyumnya kian melebar.Di dalamnya terdapat sepasang sepatu bayi berwarna putih dengan detail biru muda.Ukurannya begitu kecil.Vimala mengambil salah satunya.“Ya ampun …”Ia tertawa pelan.“Lucu banget!”Bi Tina mendekat.“Kecil sekali ya Non.”Vimala mengangguk.“Iya, Bi.”Ia meletakkan sepatu mungil itu di atas telapak tanganny







