Share

2. Bertemu Teman Lama

Author: Raffarania
last update Last Updated: 2025-10-08 11:23:37

Setelah menjemput Nayel dari sekolah, Kinanti dan Eliza memutuskan untuk mengajak Nayel pergi ke sebuah mall. Mereka bermaksud membeli perlengkapan rumah untuk rumah baru Aksa dan Eliza mereka memang masih pengantin baru. Kinanti tampak sangat bersemangat, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan membantu menantunya memilih perlengkapan rumah.

“Nayel, nanti Nenek beliin kamu juga makanan kesukaan ya,” ujar Kinanti sambil menggandeng tangan cucunya.

“Iya, Nek,” jawab Nayel seadanya.

Mereka berjalan menyusuri lorong mall yang cukup ramai. Kinanti sedang fokus membicarakan jenis sofa dengan Eliza ketika tiba-tiba bruk! Ia tidak sengaja menabrak seseorang. Tas belanja dan beberapa barang di tangan orang itu terjatuh berserakan.

“Astaga, maaf ya!” seru Kinanti refleks sambil berjongkok mengumpulkan barang yang jatuh.

Eliza ikut membantu. “Maaf, Bu. Tadi Ibu mertua saya tidak lihat jalan.”

Saat Kinanti mengangkat beberapa barang yang ia kumpulkan, ia tertegun.

“Loh… Amira?”

Wanita itu mendongak, sama terkejutnya melihat sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. “Kinanti? Ya ampun… apa kabar?”

Kinanti berdiri dan menyerahkan barang-barang tersebut. “Baik, baik. Kamu sendiri bagaimana? Sudah lama banget kita nggak ketemu.”

Amira tersenyum ramah. “Baik juga. Kebetulan banget ya bisa ketemu di sini.”

Serena yang berjalan sedikit di belakang Amira ikut menghampiri setelah melihat bundanya berhenti. “Bunda kenapa....oh, halo, Tante.” Ia memberi salam sopan pada Kinanti dan Eliza.

Amira pun segera memperkenalkan Serena kepada Kinanti dan Eliza. Sementara dua orang tua itu tenggelam dalam obrolan nostalgia yang panjang, Serena, Eliza, dan Nayel hanya duduk mendengarkan.

Karena Kinanti dan Amira tampaknya belum puas melepas rindu, akhirnya mereka sepakat pindah ke salah satu restoran di mall. Di sana, Kinanti semakin bersemangat bercerita, mulai dari masa muda hingga kehidupan rumah tangganya sekarang. Amira, yang sudah lama tidak bertemu, hanya bisa tersenyum mendengarkan celotehan sahabat lamanya itu.

Serena yang sedari tadi memperhatikan, hanya bisa meringis kecil. Ia melirik Eliza dan Nayel, merasa kasihan pada Eliza yang harus mendengarkan mertuanya bercerita tanpa henti. Namun perhatian Serena kemudian beralih pada sosok kecil di samping Eliza, Nayel.

Anak itu terlihat berbeda. Tidak ceria, pendiam, dan seolah memasang dinding tak terlihat.

Serena yakin ada sesuatu dengan anak itu. Anak yang pendiam bukan berarti mereka pemalu tapi juga bisa jadi ada beban dipikirannya.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Serena mendekat dan menyapa lembut, “Hai… tadi kita sudah kenalan, tapi boleh dong aku ulang lagi. Siapa namanya? Tante Lupa.”

Nayel mengangkat wajah sebentar dan menjawab dengan suara pelan, “Nayel.”

Jawaban yang singkat dan datar itu membuat Serena tersenyum kikuk, merasa seolah dicueki namun tetap mencoba ramah.

“Hai ganteng, umur kamu berapa?” tanyanya lagi basa-basi.

“7 tahun,” jawab Nayel tanpa ekspresi.

Serena terus berusaha mengajak Nayel berbicara dengan pertanyaan ringan. Namun respons yang ia dapatkan selalu singkat, dingin, dan minim ekspresi. Setiap kali Serena tersenyum, Nayel hanya menatapnya dengan wajah yang sulit diterjemahkan, seperti ada sesuatu yang berputar dalam benaknya. Eliza yang melihat itu hanya tersenyum meringis melihat keponakannya.

Dalam hati, Serena semakin yakin: Ada yang tidak baik-baik saja dengan anak ini.

Dari cara Nayel duduk, cara ia menunduk, hingga cara ia menjawab, semuanya menunjukkan tanda-tanda kurang percaya diri. Seolah ia terbiasa menahan kata-kata.

Sementara itu, Nayel diam-diam justru memperhatikan interaksi Serena dan Amira. Ada rasa hangat yang ia lihat, sebuah hubungan ibu dan anak yang tampak lembut, dekat, dan penuh tawa. Sesuatu yang jarang ia dapatkan.

Dalam pikirannya, Nayel membatin memberi harapan kecil: Andai keluarga aku seperti itu…

Bukan berarti keluarganya jahat. Kinanti, Samudra, Aksa dan Eliza sangat peduli padanya. Tapi mereka terlalu cerewet, terlalu sering memberi tekanan, membuat Nayel tidak nyaman. Dan satu hal yang paling ia sesalkan…

Ayahnya...

Arkan terlalu dingin, kaku, sibuk, dan tidak pernah benar-benar meluangkan waktu untuknya. Tidak pernah bermain, tidak pernah bertanya panjang lebar, bahkan jarang sekali memuji. Nayel merasa seperti hidup berdampingan dengan seorang asing.

Karena itu, melihat Serena yang hangat dan Amira yang perhatian… Untuk pertama kalinya Nayel merasa iri. Iri melihat keharmonisan keluarga orang lain.

*****

"Nayel?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    40. Manja

    Mendengar kabar bahwa anak kesayangan mereka jatuh sakit karena efek kehamilan, Amira dan Bastian tak menunda waktu. Dari luar kota, keduanya segera mengatur penerbangan untuk pulang. Kekhawatiran itu tak bisa ditutupi meski Serena sudah menikah, di mata mereka, ia tetap anak yang sama.Di apartemen, Serena sedang berbaring setengah duduk di sofa. Kepalanya bersandar di dada Arkan, lengannya melingkar erat di pinggang suaminya seolah takut ditinggal barang sedetik. Sejak tahu dirinya hamil, Serena berubah jauh lebih manja. Ia mudah lelah, mudah mual, dan yang paling kentara adalah tak mau jauh dari Arkan.Arkan membiarkan. Bahkan tangannya sejak tadi tak berhenti mengusap punggung Serena dengan gerakan pelan, menenangkan.“Nayel kapan pulang ya, Mas?” tanya Serena lirih, suaranya sedikit manja bercampur lelah.Arkan menunduk, mengecup pelipis istrinya.“Bentar lagi, sayang. Nanti dijemput sopirnya Ibu,” jawabnya lembut.Serena mengangguk kecil, tapi pelukannya justru mengencang.“Aku

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    39. Kinanti Datang

    Arkan terkejut saat suara bel apartemennya berbunyi bertubi-tubi pagi itu. Ia mengerjap, menoleh ke arah jam dinding—06.30 pagi.“Siapa sih sepagi ini…” gumamnya pelan.Dengan hati-hati, Arkan melepaskan pelukan Serena yang masih terlelap di sisinya. Ia bangkit perlahan, berjalan gontai menuju pintu, masih dengan sisa kantuk yang berat.Begitu pintu terbuka, matanya langsung membulat.“Ibu?”“Kak Eliza?”Dua sosok itu berdiri di depan pintu dengan wajah penuh antusias.“Loh, ngapain Ibu pagi-pagi ke sini?” tanya Arkan refleks.Kinanti tersenyum lebar. “Ibu mau ketemu Serena, kan kamu bilang kemarin dia lagi hamil. Ibu pengin lihat mantu Ibu.”Eliza ikut tersenyum. “Iya, Kan. Masa kami nunggu lama-lama?”Arkan belum sempat menjawab, ketika dari dalam apartemen terdengar suara pintu kamar terbuka disusul langkah tergesa.“Mas—”Belum selesai Serena memanggil, suara itu langsung berganti dengan bunyi muntah dari kamar mandi.Arkan refleks berbalik. “Serena!”Ia berlari kecil menyusul ist

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    38. Keluarga Tau

    Di kediaman keluarga Arkan, suasana sore berjalan seperti biasa. Mereka berkumpul di ruang keluarga, menikmati teh hangat sambil berbincang ringan obrolan yang tampak sederhana, namun menyimpan rasa penasaran.Samudra meletakkan cangkirnya, lalu menoleh pada anak sulungnya.“Arkan sudah dua hari nggak ke kantor. Kamu tahu kenapa, Aksa?” tanyanya.Aksa mengangkat bahu. “Nggak tahu, Yah. Arkan juga nggak ngabarin apa-apa. Tapi kata asistennya, kerjaan Arkan tetap jalan. Kayaknya dia kerja dari rumah.”Samudra mengernyit tipis. “Kerja dari rumah?” gumamnya.Kinan yang sejak tadi duduk di sisi lain sofa langsung menoleh. “Lho, Arkan nggak masuk kantor?”“Iya,” jawab Samudra. “Sudah dua hari. Kerjaannya memang tetap beres, tapi Ayah heran. Biasanya Arkan paling jarang absen ke kantor.”“Bener,” sambung Aksa. “Sejak dulu dia selalu datang paling pagi, pulang paling akhir.”Kinan terdiam sejenak, pikirannya mulai berkelana. “Apa jangan-jangan Serena kenapa-kenapa?”Samudra menatap Kinan, lal

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    37. Jadi Kakak

    Mobil Arkan berhenti tepat di depan gerbang sekolah Nayel. Jam pulang baru saja usai, anak-anak kecil berlarian keluar dengan wajah ceria, tas menggantung di punggung mereka. Serena masih duduk diam di kursi penumpang, tangannya tak lepas dari perutnya sendiri gerakan refleks yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya.“Kamu tunggu di sini ya,” ucap Arkan lembut. “Mas yang jemput Nayel.”Serena mengangguk. “Mas jangan lama-lama.”Arkan tersenyum kecil, lalu turun dari mobil. Tak lama, Nayel muncul dari balik gerbang, matanya langsung berbinar begitu melihat Arkan.“Papa!” teriaknya sambil berlari.Arkan berlutut dan membuka tangan. Tubuh kecil itu menabraknya dengan pelukan erat.“Papa jemput?” tanya Nayel antusias.“Iya. Mama juga ada,” jawab Arkan sambil mengusap kepala Nayel.Nayel langsung menoleh ke arah mobil. Begitu melihat Serena di dalam, ia melambai cepat. “Mama!”Serena turun perlahan dari mobil. Nayel menghampirinya, tapi kali ini langkahnya terhenti di depan Serena, seperti m

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    36. Kabar Bahagia

    Sudah satu bulan berlalu sejak liburan keluarga itu berakhir. Kehidupan kembali berjalan dengan ritme biasa. Arkan dengan pekerjaannya, Serena dengan toko dan rutinitas rumah, Nayel dengan hari-harinya yang riuh.Tak ada tanda apa pun. Sampai malam tadi...Semalam, ketika Arkan baru saja pulang dari kantor, ia langsung dikejutkan oleh kondisi Serena. Istrinya tertidur di ranjang dengan wajah pucat, keningnya basah oleh keringat dingin. Begitu Arkan menyentuh keningnya, panas samar langsung terasa.Lebih anehnya lagi, Serena begitu manja malam itu.Ia tidak mau melepaskan pelukan Arkan sedikit pun. Bahkan saat Arkan belum sempat mandi atau berganti pakaian kerja, Serena tetap memeluknya erat, seolah takut ia menghilang.Arkan sempat mengira Serena hanya kelelahan.Namun menjelang subuh, Arkan terbangun karena Serena tiba-tiba menghentakkan tangannya.“Mas…” suaranya parau.Belum sempat Arkan bertanya, Serena sudah bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Arkan langsung menyusul dan mend

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    35. Masih Liburan Nayel

    Setelah seminggu penuh berlibur, keluarga kecil Arkan akhirnya harus rela mengakhiri perjalanan mereka. Waktu berjalan terlalu cepat saat kebahagiaan terasa sederhana tertawa bersama, bermain salju, dan menikmati kebersamaan yang selama ini terasa tertunda.Satu minggu ke depan, Nayel sudah “dibooking” oleh Kinanti. Sang nenek ingin mengajak cucu kesayangannya berlibur, seperti kebiasaan mereka selama ini.Malam sebelum kepulangan, Arkan duduk di tepi tempat tidur hotel, memperhatikan Nayel yang tertidur pulas setelah seharian bermain. Serena berdiri di dekat jendela, menutup tirai perlahan.“Mas,” panggil Serena lembut.Arkan menoleh. “Hm?”“Nayel bakal seminggu sama ibu. Kamu nggak apa-apa?”Arkan tersenyum tipis. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal, tapi ia berusaha menutupinya.“Dulu… Nayel lebih sering pergi tanpa aku. Sekarang rasanya beda.”Serena mendekat, duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan suaminya erat.“Mas bukan kehilangan waktu. Mas cuma lagi belajar ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status