LOGINKeesokan harinya, seperti biasa, pagi-pagi Nayel diantar oleh Arkan ke sekolah.
“Nayel, nanti Papa yang jemput kamu. Jangan kemana-mana sebelum Papa atau Om Kenzo datang. Mengerti?” ucap Arkan dengan nada tegas. “Baik, Papa,” jawab Nayel pelan. Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya percakapan singkat dan seperlunya. Nayel menatap keluar jendela, matanya mengikuti pepohonan dan toko-toko yang dilewatinya. Sementara itu Arkan fokus menyetir tanpa banyak bicara. Sebenarnya Arkan sudah diberi tahu oleh Kinanti sejak semalam bahwa ia tidak bisa menjemput Nayel hari ini karena ada urusan penting dengan teman arisannya. Karena itu, Arkan tak punya pilihan lain selain meluangkan waktu menjemput anaknya sendiri. Meski begitu, sikapnya tetap saja kaku. Tidak ada obrolan ringan, tidak ada tanya kabar, bahkan tidak bertanya tentang PR atau kegiatan Nayel hari ini. Hanya keheningan panjang yang mengisi ruang mobil. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Arkan menoleh sedikit. “Nayel, jangan lupa… kalau ada apa-apa langsung bilang Papa.” Nayel mengangguk. “Iya, Papa.” “Papa pergi dulu.” “Daa…” Nayel mengangkat tangannya kecil-kecil sebelum berlari masuk ke sekolah. Arkan menghela napas pelan lalu melajukan mobilnya pergi. ***** Pagi itu di dalam kelas, suasana cukup riuh. Teman-teman Nayel sedang bercerita tentang acara keluarga masing-masing. Nayel masuk dengan langkah pelan dan langsung duduk di bangku yang berada di sisi jendela, tempat favoritnya karena ia bisa melihat halaman sekolah. Seperti biasa, ia tidak ikut nimbrung. Ia hanya membuka buku gambar dan menunduk. Tak lama kemudian, Bu Citra menghampirinya. “Nayel, kamu sudah sarapan?” tanya Bu Citra lembut. Nayel mengangguk kecil. “Sudah, Bu.” Bu Citra tersenyum. “Bagus. Hari ini kita ada latihan untuk acara sekolah minggu depan, ya. Nanti kamu ikut juga.” “A… apa harus, Bu?” Nayel menunduk, jari-jarinya saling meremas. “Iya dong. Semua anak ikut. Tidak apa-apa, kamu bisa kok,” ucap Bu Citra sambil mengusap lembut kepala Nayel. Bu Citra tahu anak itu pemalu, tapi ia juga yakin Nayel hanya butuh sedikit dorongan. ***** Waktu berlalu cepat. Kini Nayel duduk sendirian di pojok kantin. Ia tidak membeli apa-apa, hanya membuka bekal roti yang sudah disiapkan oleh Kinanti tadi pagi, lengkap dengan susu kotak di dalam tasnya. Ia makan sambil memperhatikan sekeliling. Meja-meja lain penuh dengan anak-anak yang bercanda, bercerita, atau saling menyuapi jajanan mereka. Kantin riuh oleh suara tawa kecil dan piring yang beradu. Hanya Nayel yang duduk sendiri di sudut. Tapi itu memang keputusannya. Ia tidak pernah mau terlalu dekat dengan siapa pun di sekolah. Yang ia tahu, rutinitasnya hanyalah belajar, pulang, les, tidur, lalu kembali ke sekolah untuk belajar lagi dan begitu seterusnya. Tidak ada ruang untuk berteman, tidak ada keberanian untuk memulai. Ia mengerti bahwa ia berbeda, tetapi ia tidak tahu bagaimana menjadi seperti anak-anak lain. Sambil menggigit roti pelan, Nayel menunduk… berharap waktu istirahat cepat berlalu. ***** Serena sedang dalam perjalanan pulang setelah bertemu dengan teman lamanya. Hari ini jalanan cukup macet, membuat kepalanya terasa pening. Ia menyandarkan tubuhnya ke jok mobil sambil menghembuskan napas panjang. Di tengah rasa jenuhnya, pandangannya terpaku pada sesuatu di depan gerbang sebuah sekolah dasar yang sedang sepi. Serena memperhatikan lebih jelas, dan jantungnya berdebar pelan. Itu Nayel. Anak yang baru beberapa hari lalu ia temui di mall bersama Kinanti dan Eliza. Anak yang membuat hatinya tergerak karena terlihat terlalu pendiam dan seperti menyimpan sesuatu. Nayel berdiri sendirian, ditemani seorang satpam sekolah. Gerbang sudah setengah tertutup, menandakan proses belajar sudah lama selesai. Serena melirik jam di dashboard mobil. Ini sudah lewat jam pulang sekolah. “Kok dia masih di sana?” gumam Serena, kini benar-benar memperlambat mobilnya. Ia melihat Nayel menatap tanah, memegang tali tasnya erat-erat. Tidak ada orang dewasa lain di sekitar. Serena yakin di dalam sekolah sudah tidak ada murid lain, bahkan guru-guru pun mungkin sudah pulang. Tanpa pikir panjang, Serena menepikan mobil lalu keluar dan menghampiri satpam sekolah. “Misi, Pak… itu anak yang berdiri di sana, Nayel, ya?” tanya Serena hati-hati. Satpam itu menoleh sedikit terkejut melihat Serena. “Iya, Bu. Ibu kenal?” “Sedikit. Kenal dari neneknya,” jawab Serena jujur. “Kenapa Nayel masih di sini? Apa belum dijemput?” Satpam menghela napas. “Kelihatannya begitu, Bu. Tadi katanya ayahnya yang mau jemput, tapi sampai sekarang belum datang. Biasanya sih neneknya yang jemput, tapi hari ini katanya tidak bisa.” Serena mengangguk pelan, dadanya terasa sesak melihat anak itu sendirian. Ia menatap Nayel yang menunggu tanpa suara, tidak rewel, tidak bertanya, hanya berdiri diam seolah sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Terbiasa menunggu sendirian? Anak sekecil ini? Serena menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang mengusik perasaannya, campuran iba, kasihan, dan entah kenapa… marah pada orang tua anak itu. Ia melangkah mendekati Nayel. “Nayel?” panggil Serena pelan. Anak itu menoleh, mata cokelatnya tampak lelah. Namun ketika melihat Serena, ia sedikit melebarkan mata, kaget, tapi tidak menjauh. “Tante?” ucapnya pelan. Serena tersenyum lembut. “Kamu belum dijemput?” Nayel menunduk, jari-jarinya meremas tali tas. “Belum. Papa… bilang mau jemput.” “Sudah lama kamu nunggu?” tanya Serena lagi. Nayel tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, cukup kecil sampai Serena hampir tidak melihatnya. Melihat itu, hati Serena benar-benar mencelos. Ada sesuatu pada anak ini yang membuatnya ingin meraih dan melindungi. “Kalau kamu mau… Tante tungguin, ya? Sampai Papa kamu datang,” ucapnya pelan. Nayel mengangkat wajah, ragu-ragu. “Enggak… enggak apa-apa?” “Enggak apa-apa. Tante kebetulan lewat,” Serena tersenyum hangat. “Boleh Tante duduk di sini bareng kamu?” Nayel mengangguk lagi, kali ini sedikit lebih jelas. Serena lalu duduk di bangku dekat gerbang, Nayel duduk di sebelahnya. Satpam kembali berjaga, membiarkan mereka berdua berbincang. “Mau minum?” Serena membuka botol air mineral dari tasnya. Nayel menggeleng. “Tadi udah minum.” Serena tersenyum tipis, memperhatikan wajah anak itu yang tampak pucat dan kelelahan. Dalam hati Serena tahu, anak ini bukan hanya lelah menunggu. Dia lelah… secara emosional. Di antara keheningan itu, Serena bertanya lembut, “Nayel… Papa kamu sering telat jemput?” Nayel tidak langsung menjawab. Ia menggoyangkan kakinya pelan, menunduk lagi, dan berkata lirih, nyaris seperti bisikan, “Papa sibuk…” Serena merasakan sesuatu di dadanya seperti ditarik. Sibuk, kata yang paling sering menjadi alasan, tapi paling sering juga melukai. ***** “Pak, maaf… biar Nayel saya yang antar pulang saja, ya. Nanti saya hubungi neneknya,” ucap Serena lembut, tak tega melihat anak kecil itu duduk kelelahan di depan gerbang sekolah. Satpam itu mengangguk pelan. “Baik, Bu. Kalau begitu boleh saya tahu nama Ibu siapa? Biar nanti kalau ayahnya datang, saya bisa konfirmasi.” “Nama saya Serena,” jawabnya sambil tersenyum ramah. “Baik, Bu Serena. Tidak apa-apa, antar saja Nayel pulang. Saya juga kasihan, dari tadi dia sendirian di sini.” Serena menunduk sedikit ke arah Nayel. ***** “Naya, ikut pulang sama Tante, ya?”Mendengar kabar bahwa anak kesayangan mereka jatuh sakit karena efek kehamilan, Amira dan Bastian tak menunda waktu. Dari luar kota, keduanya segera mengatur penerbangan untuk pulang. Kekhawatiran itu tak bisa ditutupi meski Serena sudah menikah, di mata mereka, ia tetap anak yang sama.Di apartemen, Serena sedang berbaring setengah duduk di sofa. Kepalanya bersandar di dada Arkan, lengannya melingkar erat di pinggang suaminya seolah takut ditinggal barang sedetik. Sejak tahu dirinya hamil, Serena berubah jauh lebih manja. Ia mudah lelah, mudah mual, dan yang paling kentara adalah tak mau jauh dari Arkan.Arkan membiarkan. Bahkan tangannya sejak tadi tak berhenti mengusap punggung Serena dengan gerakan pelan, menenangkan.“Nayel kapan pulang ya, Mas?” tanya Serena lirih, suaranya sedikit manja bercampur lelah.Arkan menunduk, mengecup pelipis istrinya.“Bentar lagi, sayang. Nanti dijemput sopirnya Ibu,” jawabnya lembut.Serena mengangguk kecil, tapi pelukannya justru mengencang.“Aku
Arkan terkejut saat suara bel apartemennya berbunyi bertubi-tubi pagi itu. Ia mengerjap, menoleh ke arah jam dinding—06.30 pagi.“Siapa sih sepagi ini…” gumamnya pelan.Dengan hati-hati, Arkan melepaskan pelukan Serena yang masih terlelap di sisinya. Ia bangkit perlahan, berjalan gontai menuju pintu, masih dengan sisa kantuk yang berat.Begitu pintu terbuka, matanya langsung membulat.“Ibu?”“Kak Eliza?”Dua sosok itu berdiri di depan pintu dengan wajah penuh antusias.“Loh, ngapain Ibu pagi-pagi ke sini?” tanya Arkan refleks.Kinanti tersenyum lebar. “Ibu mau ketemu Serena, kan kamu bilang kemarin dia lagi hamil. Ibu pengin lihat mantu Ibu.”Eliza ikut tersenyum. “Iya, Kan. Masa kami nunggu lama-lama?”Arkan belum sempat menjawab, ketika dari dalam apartemen terdengar suara pintu kamar terbuka disusul langkah tergesa.“Mas—”Belum selesai Serena memanggil, suara itu langsung berganti dengan bunyi muntah dari kamar mandi.Arkan refleks berbalik. “Serena!”Ia berlari kecil menyusul ist
Di kediaman keluarga Arkan, suasana sore berjalan seperti biasa. Mereka berkumpul di ruang keluarga, menikmati teh hangat sambil berbincang ringan obrolan yang tampak sederhana, namun menyimpan rasa penasaran.Samudra meletakkan cangkirnya, lalu menoleh pada anak sulungnya.“Arkan sudah dua hari nggak ke kantor. Kamu tahu kenapa, Aksa?” tanyanya.Aksa mengangkat bahu. “Nggak tahu, Yah. Arkan juga nggak ngabarin apa-apa. Tapi kata asistennya, kerjaan Arkan tetap jalan. Kayaknya dia kerja dari rumah.”Samudra mengernyit tipis. “Kerja dari rumah?” gumamnya.Kinan yang sejak tadi duduk di sisi lain sofa langsung menoleh. “Lho, Arkan nggak masuk kantor?”“Iya,” jawab Samudra. “Sudah dua hari. Kerjaannya memang tetap beres, tapi Ayah heran. Biasanya Arkan paling jarang absen ke kantor.”“Bener,” sambung Aksa. “Sejak dulu dia selalu datang paling pagi, pulang paling akhir.”Kinan terdiam sejenak, pikirannya mulai berkelana. “Apa jangan-jangan Serena kenapa-kenapa?”Samudra menatap Kinan, lal
Mobil Arkan berhenti tepat di depan gerbang sekolah Nayel. Jam pulang baru saja usai, anak-anak kecil berlarian keluar dengan wajah ceria, tas menggantung di punggung mereka. Serena masih duduk diam di kursi penumpang, tangannya tak lepas dari perutnya sendiri gerakan refleks yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya.“Kamu tunggu di sini ya,” ucap Arkan lembut. “Mas yang jemput Nayel.”Serena mengangguk. “Mas jangan lama-lama.”Arkan tersenyum kecil, lalu turun dari mobil. Tak lama, Nayel muncul dari balik gerbang, matanya langsung berbinar begitu melihat Arkan.“Papa!” teriaknya sambil berlari.Arkan berlutut dan membuka tangan. Tubuh kecil itu menabraknya dengan pelukan erat.“Papa jemput?” tanya Nayel antusias.“Iya. Mama juga ada,” jawab Arkan sambil mengusap kepala Nayel.Nayel langsung menoleh ke arah mobil. Begitu melihat Serena di dalam, ia melambai cepat. “Mama!”Serena turun perlahan dari mobil. Nayel menghampirinya, tapi kali ini langkahnya terhenti di depan Serena, seperti m
Sudah satu bulan berlalu sejak liburan keluarga itu berakhir. Kehidupan kembali berjalan dengan ritme biasa. Arkan dengan pekerjaannya, Serena dengan toko dan rutinitas rumah, Nayel dengan hari-harinya yang riuh.Tak ada tanda apa pun. Sampai malam tadi...Semalam, ketika Arkan baru saja pulang dari kantor, ia langsung dikejutkan oleh kondisi Serena. Istrinya tertidur di ranjang dengan wajah pucat, keningnya basah oleh keringat dingin. Begitu Arkan menyentuh keningnya, panas samar langsung terasa.Lebih anehnya lagi, Serena begitu manja malam itu.Ia tidak mau melepaskan pelukan Arkan sedikit pun. Bahkan saat Arkan belum sempat mandi atau berganti pakaian kerja, Serena tetap memeluknya erat, seolah takut ia menghilang.Arkan sempat mengira Serena hanya kelelahan.Namun menjelang subuh, Arkan terbangun karena Serena tiba-tiba menghentakkan tangannya.“Mas…” suaranya parau.Belum sempat Arkan bertanya, Serena sudah bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Arkan langsung menyusul dan mend
Setelah seminggu penuh berlibur, keluarga kecil Arkan akhirnya harus rela mengakhiri perjalanan mereka. Waktu berjalan terlalu cepat saat kebahagiaan terasa sederhana tertawa bersama, bermain salju, dan menikmati kebersamaan yang selama ini terasa tertunda.Satu minggu ke depan, Nayel sudah “dibooking” oleh Kinanti. Sang nenek ingin mengajak cucu kesayangannya berlibur, seperti kebiasaan mereka selama ini.Malam sebelum kepulangan, Arkan duduk di tepi tempat tidur hotel, memperhatikan Nayel yang tertidur pulas setelah seharian bermain. Serena berdiri di dekat jendela, menutup tirai perlahan.“Mas,” panggil Serena lembut.Arkan menoleh. “Hm?”“Nayel bakal seminggu sama ibu. Kamu nggak apa-apa?”Arkan tersenyum tipis. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal, tapi ia berusaha menutupinya.“Dulu… Nayel lebih sering pergi tanpa aku. Sekarang rasanya beda.”Serena mendekat, duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan suaminya erat.“Mas bukan kehilangan waktu. Mas cuma lagi belajar ber







