Share

Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal
Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal
Penulis: Raffarania

1. Keluarga Atmaja

Penulis: Raffarania
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 10:04:33

Pagi hari di sebuah rumah mewah keluarga Atmaja, suara alarm yang cukup keras terdengar dari salah satu kamar. Bunyi itu membuat pemilik kamar terbangun dan melakukan peregangan ringan sebelum akhirnya mematikan alarm. Setelah bangun, ia segera menuju kamar putranya.

“Nayel, ayo bangun,” ucap Arkan pada anak semata wayangnya. Bocah itu segera bangun dari tidurnya ketika mendengar suara sang ayah. Mengerjapkan matanya pelan menyesuaikan cahaya matahari pagi.

“Ayo bangun, Nayel. Cepat siap-siap. Jangan lama. Kalau kamu lama, Papa nggak akan antar kamu ke sekolah,” tegas Arkan pada putranya.

Nayel pun bergegas mandi dan bersiap. Arkan memang tipe orang tua yang tegas, dan itu selalu ia terapkan pada Nayel. Hasilnya, Nayel tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Setelah selesai mandi dan bersiap, Nayel dan Arkan bergabung untuk sarapan bersama keluarga besar Atmaja.

“Kamu semalam lembur, kan? Pulang jam berapa?” tanya ibu Arkan, Kinanti.

Arkan menoleh sebentar. “Jam dua belas, Bu,” jawabnya singkat.

“Ibu mohon kamu mulai ngurangin lembur. Kasihan Nayel, dia hampir nggak ada waktu buat main sama ayahnya. Kamu sibuk terus,” ujar Kinanti dengan nada mengingatkan.

“Arkan bukannya nggak mau main sama Nayel, Bu. Lagi banyak kerjaan di kantor,” sangkal Arkan padahal sebenarnya memang benar Arkan menghindar dari Nayel.

“Itu alasan kamu dari dulu! Minimal kalau ada acara sekolah Nayel, kamu yang datang! Jangan apa-apa Ibu atau Eliza yang datang,” keluh Kinanti yang terlihat jengah dengan sikap anaknya yang selalu cuek.

“Arkan sudah bilang Bu, nanti biar asisten Arkan aja yang datang. Lagian Arkan juga sudah bilang ke Nayel, kalau ada apa-apa gurunya bisa hubungi Arkan langsung, ibu aja yang suka datang,” balas Arkan tak mau kalah.

“Terserah kamu, deh. Kalau kamu masih begini terus, mending kamu nikah lagi aja. Minimal ada istri yang ngurus kamu sama Nayel,” gerutu Kinanti.

Arkan terdiam, tak menanggapi lagi.

“Sudah, Bu. Masih pagi. Jangan bertengkar di depan makanan,” nasihat ayah Arkan, Samudra.

Aksa dan istrinya, Eliza, yang juga berada di meja makan hanya diam, tak ingin ikut campur.

Setelah sarapan, para laki-laki di rumah itu berpamitan untuk berangkat ke kantor masing-masing.

*****

Dalam perjalanan menuju sekolah, Arkan menatap anaknya melalui kaca spion.

“Nayel, kan Papa sudah bilang. Kalau ada apa-apa di sekolah, bilang sama Papa aja. Nggak usah bilang sama Nenek atau Tante Eliza,” omel Arkan.

“Maaf, Pa… Waktu itu memang harus ada perwakilan orang tua yang datang. Nayel mau bilang sama Papa, tapi Nayel nggak mau ganggu Papa. Papa pasti sibuk. Maaf ya, Pa,” jawab Nayel sungguh-sungguh.

Arkan terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.

“Papa maafkan. Tapi lain kali jangan gitu lagi, ya? Kalau memang mendesak dan harus ada orang tua yang datang, Papa bakal usahakan datang,” ucap Arkan dengan nada lebih lembut.

“Ya, Papa…” jawab Nayel pelan.

*****

Siang itu, sesuai janji dengan bundanya, Serena bersiap untuk pergi jalan-jalan ke mall.

“Na, jadi kan siang ini?” tanya Amira sambil memastikan rencana mereka.

“Ya ampun, Bunda… Serena ingat kok. Tapi temani Serena ke toko kue dulu sebentar, ya? Serena sudah terlanjur ada janji sama klien yang mau pesan untuk acara pernikahan. Nggak enak kalau tiba-tiba dibatalin,” pinta Serena hati-hati.

Amira menghela napas panjang. Ini hal yang paling tidak ia sukai dari putrinya, Serena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hampir tidak punya waktu untuknya. Kadang Amira menyesal hanya memiliki satu anak. Ia merasa kesepian, dan waktu bersama Serena selalu terasa begitu berharga namun jarang terjadi.

“Yaah… kamu mah selalu begitu," keluh Amira.

Amira akhirnya mengangguk. “Ya sudah, Bunda temani dulu. Tapi janji, sebentar aja.”

Serena mengangguk cepat. Ia tahu bundanya pasti sangat menantikan waktu berdua ini. Rasa bersalah menghampiri Serena di satu sisi ia tak ingin mengecewakan Bundanya, tapi di sisi lain ia juga tak bisa mengabaikan klien yang sudah berjanji lebih dulu.

Serena pun memeluk Amira hangat. “Maaf ya, Bun… Serena nggak enak sama klien. Tapi abis ini kita langsung ke mall, beneran.”

Amira membalas pelukan itu, meskipun hatinya masih sedikit sendu.

*****

Sesampainya di toko kue milik Serena, suasananya ramai dan harum aroma butter memenuhi ruangan.

“Bunda duduk di sini ya. Mau minum apa?” tanya Serena sambil merapikan apron yang ia ambil dari stafnya.

“Hot chocolate aja. Bunda tunggu di sini. Tapi ingat, jangan lama-lama,” pesan Amira.

“Iya, Bunda,” jawab Serena sebelum berjalan ke ruang meeting kecil di samping dapur.

Amira duduk sambil mengaduk minumannya. Matanya mengikuti Serena yang sibuk, berbicara, mengatur pesanan, dan memberikan instruksi pada staff. Hatinya bangga, putrinya hebat, pekerja keras, mandiri. Tapi bersamaan dengan itu, hatinya juga pedih… karena keberhasilan itu membuat Serena semakin jauh darinya.

Bunda cuma ingin waktu sama anak sendiri… itu saja, batinnya sedih.

Tak sampai lima menit, seorang pelayan datang menghampiri.

“Bu, mohon maaf ya… sepertinya Mbak Serena harus meeting agak lama. Kliennya datang tiga orang dan pesanannya banyak sekali,” ujar pelayan itu gugup, takut membuat Amira tersinggung.

Amira tersenyum kecut. “Oh… iya. Terima kasih informasinya.”

Ia memandang jendela, menunggu… dan menunggu.

Lima belas menit berlalu.

Kemudian dua puluh.

Lalu tiga puluh.

Satu jam kemudian.

Hatinya mulai menegang. Tangannya meremas gelas hot chocolate yang kini sudah hampir dingin.

Akhirnya Serena muncul tergesa-gesa, wajahnya lelah namun memaksakan senyuman.

“Bun, maaf ya. Tadi kliennya minta revisi konsep juga. Tapi sudah selesai kok. Ayo kita...”

Sebelum Serena sempat menyelesaikan kalimatnya, Amira berdiri perlahan.

“Serena…” suara Amira pelan namun tegas, “Bunda cuma minta satu hal hari ini. Waktu. Waktu dengan kamu.”

Serena terdiam. Wajahnya langsung berubah.

Amira melanjutkan, “Bunda tidak apa-apa menunggu. Tapi… setiap kamu bilang ‘sebentar’, selalu berubah jadi lebih lama. Kamu ingat nggak kapan terakhir kali kita jalan berdua tanpa kamu diganggu kerjaan?”

Serena terdiam. Ia benar-benar tidak bisa mengingat.

“Bun, maaf… Serena....”

“Bunda bukan marah,” potong Amira lembut tapi matanya berkaca-kaca. “Bunda cuma… rindu. Kamu anak Bunda satu-satunya.”

Serena mendekat dan menggenggam tangan ibunya erat.

“Maafin Serena… Bunda benar. Mulai hari ini Serena bakal atur ulang jadwal. Kita ke mall sekarang, janji. Ponsel Serena pun dimatikan,” ucapnya sambil mematikan HP tepat di depan Amira.

Amira tersenyum kecil, akhirnya merasa diperhatikan.

“Begitu dong… ayo, sebelum Bunda tambah tua,” candanya mencoba mencairkan suasana.

Serena tertawa dan memeluk ibunya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka akhirnya melangkah keluar toko, tanpa gangguan apa pun.

*****

"Lho.... Amira?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    47. Pulang

    Sekarang Arkan tengah berada dalam perjalanan pulang. Sebenarnya masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan, namun semuanya masih bisa dikerjakan dari rumah. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk pulang lebih awal agar bisa segera menyusul Serena di rumah sakit.Di dalam mobil, Arkan duduk diam menatap jalanan yang melaju cepat di balik kaca jendela. Ponselnya sesekali ia genggam, seolah berharap ada pesan baru masuk dari Amira atau Serena.“Pak, kita estimasi sampai bandara satu jam lagi,” lapor Dewa dari kursi depan.“Percepat sebisa mungkin,” jawab Arkan singkat. “Kalau ada rapat susulan, pindahkan ke online.”“Siap, Pak.”Arkan menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Bayangan wajah Serena yang pucat di rumah sakit terus terlintas di benaknya. Perasaan bersalah perlahan menggerogoti dadanya, seharusnya ia ada di sana sejak awal.Ponselnya bergetar.Pesan dari Amira.“Arkan sekarang Serena udah diruang rawat, dia sudah agak mendingan. Jangan panik, y

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    46. Rumah Sakit

    “Malam, Ar. Maaf Bunda ganggu kamu,” pesan dari Amira masuk ke ponsel Arkan.Arkan yang baru saja berdiri dari kursinya langsung menghentikan langkah. Alisnya berkerut, firasat tak enak kembali menyeruak sejak membaca kalimat pembuka pesan itu.“Bunda cuma mau ngabarin kalau Serena dibawa ke rumah sakit. Tadi perutnya sempat kram. Tapi kamu jangan khawatir, kata dokter kondisinya nggak apa-apa. Hanya saja Serena harus dirawat beberapa hari di sini untuk observasi.”Tangan Arkan sedikit gemetar saat menggenggam ponsel. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan beberapa detik.Dirawat. Rumah sakit.Kata-kata itu berputar di kepalanya.Ia langsung menekan tombol panggil tanpa berpikir panjang.“Bun,” suaranya terdengar lebih berat dari biasanya saat panggilan tersambung. “Serena gimana sekarang?”“Tenang, Nak,” jawab Amira dari seberang, berusaha menenangkan meski suaranya terdengar lelah. “Serena sudah lebih enakan. Cuma kram karena kecapekan. Dokter bilang masih aman. Kamu jangan khawati

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    45. Kram

    “Sayang, maaf baru ngabarin. Tadi aku sibuk banget meeting. Kamu udah tidur belum?” pesan Arkan masuk ke ponsel Serena.Serena yang sejak tadi masih terjaga langsung bangun dari posisi rebahnya. Ia meraih ponsel di meja samping ranjang, matanya menelusuri nama Arkan di layar dengan perasaan lega yang tak bisa ia sembunyikan."Belum tidur, Mas. Baru mau merem," balas Serena cepat.Tak sampai semenit, balasan Arkan kembali masuk."Mas lega. Dari tadi kepikiran kamu terus. Kamu gimana? Ada mual atau sakit?"Serena tersenyum kecil sambil mengusap perutnya. "Aku baik. Adek juga anteng. Nayel udah tidur dari tadi, Bunda juga udah tidur sama Ayah."Arkan membayangkan suasana apartemen itu hangat, tenang, seperti biasanya. Dadanya sedikit mengendur."Syukurlah. Jangan begadang ya. Kamu harus istirahat."Serena mengetik pelan. "Iya, Mas. Mas sendiri udah makan?""Udah. Jangan khawatir. Kamu tidur ya, Sayang. Besok Mas kabarin lagi."Serena menatap layar beberapa detik sebelum membalas. "Mas ju

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    44. Sehari Tanpa Arkan

    Serena tersenyum lembut melihat Nayel kembali ke apartemen setelah puas bermain di taman bersama Amira. “Gimana, sayang? Senang main sama Oma di taman?” tanya Serena sambil membuka kedua tangannya. Nayel langsung berlari kecil dan memeluknya erat. “Senang, Mama. Tadi Nayel juga dibelikan es krim sama Oma,” jawabnya dengan wajah ceria. Serena tertawa kecil. “Wah, enak dong. Udah bilang terima kasih belum sama Oma?” “Sudah, Mama,” jawab Nayel mantap, lalu melirik ke arah Amira yang baru keluar dari dapur. Amira tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. “Habis main langsung nempel ke Mama,” godanya pelan. Serena mengusap rambut Nayel lembut. “Habis main pasti capek. Sekarang cuci tangan dulu, ya.” Nayel mengangguk patuh dan berlari ke kamar mandi. Amira kembali ke dapur, membuka kulkas dan mengecek beberapa bahan. “Ser, makan siang mau makan apa?” tanyanya sambil menoleh. “Apa aja, Bun,” jawab Serena santai. “Tapi nanti aku mau dibikinin puding sama Bunda.” Amira t

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    43. Ke Luar Kota

    Usia kandungan Serena kini memasuki tujuh bulan. Selama masa itu, Arkan hampir tak pernah jauh darinya. Semua urusan luar kota maupun luar negeri selalu ia batalkan atau limpahkan pada asistennya kecuali jika memang benar-benar tak bisa diwakilkan.Dan hari ini, adalah salah satu hari yang tak bisa ia hindari.Arkan merapikan tas kerjanya sambil sesekali melirik Serena yang duduk di sofa, tangan kecilnya mengusap perut yang semakin membesar.“Sayang, Mas ke luar kota cuma tiga hari,” ujar Arkan lembut. “Kamu mau nginep di rumah Bunda atau di rumah Ibu?”Serena langsung mendongak. Bibirnya mengerucut, matanya memelas.“Gak mau… aku mau ikut Mas ke luar kota,” rengeknya pelan.Sejak hamil, Serena memang jauh lebih manja. Dan Arkan selalu kalah kecuali soal ini.Arkan mendekat, berlutut di hadapannya. “Gak bisa, sayang. Perjalanannya jauh, nanti kamu capek. Kamu kan lagi hamil besar.”Serena hendak membantah, tapi Arkan lebih dulu menambahkan senjata pamungkasnya.“Terus Nayel gimana? Ka

  • Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal    42. Ngidam

    “Halo, Mas,” ucap Serena lembut melalui telepon seluler yang tersambung dengan Arkan yang hari itu sudah mulai kembali masuk kantor.“Iya, sayang. Kenapa?” tanya Arkan dari seberang, suara bising kantor samar terdengar di belakangnya.“Nanti pulang dari kantor, aku nitip kue putu boleh?” tanya Serena pelan, nadanya sedikit ragu.Arkan terkekeh kecil. “Boleh dong. Tumben, nih… ngidam lagi, ya?”“Hehehe… kayaknya iya, deh, Mas,” jawab Serena sambil tersenyum sendiri.“Putu yang biasa atau yang gula aren banyak?” tanya Arkan sigap.Serena tertawa kecil. “Yang gula arennya sampai bleber.”“Siap,” jawab Arkan tanpa ragu. “Ada lagi yang kamu pengin?”Serena berpikir sejenak. “Minumnya teh anget aja. Jangan lupa ya, Mas.”“Nggak mungkin lupa,” jawab Arkan lembut. “Kamu di rumah aja. Jangan ke mana-mana.”Serena mendengus pelan. “Iya, Pak Polisi.”Arkan tertawa. “Mas serius. Kalau capek, istirahat.”“Iya,” jawab Serena lebih lembut. “Makasih, Mas.”Telepon ditutup. Serena meletakkan ponselnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status