Beranda / Romansa / Takdir Yang Tertukar Istri Kedua / Bab 3: Posisi yang Tak Lebih dari Sekadar Bayangan

Share

Bab 3: Posisi yang Tak Lebih dari Sekadar Bayangan

Penulis: Aprilia queen
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 16:23:36

Rasa takut mulai merayap di hatinya saat ia membayangkan posisi yang tak lebih dari sekadar bayangan.

Suara benturan keras dari arah koridor depan membuat jantung Alya seakan-akan melompat keluar dari rongga dadanya yang sesak.

Gadis itu segera menghapus air matanya dengan kasar ketika pintu kamar sempitnya dibuka secara paksa oleh sosok yang sangat ia takuti.

Seorang wanita cantik dengan pakaian sutra berwarna merah menyala berdiri dengan anggun namun memancarkan aura permusuhan.

Ia menatap Alya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan yang sangat menghina seolah-olah sedang melihat noda yang menjijikkan.

Wanita itu adalah Siska yaitu istri sah Gibran yang selama ini menjadi penguasa tunggal di dalam istana emas keluarga Rakabuming.

"Jadi kau adalah wanita murahan yang dibeli suamiku untuk memberikan kami keturunan?" tanya Siska dengan nada suara yang sangat tajam.

Alya berdiri dengan kaki yang bergetar hebat sambil menundukkan pandangannya ke arah lantai marmer yang dingin serta mengkilap.

Ia meremas jemarinya sendiri hingga buku kukunya memutih karena rasa tidak nyaman yang sangat luar biasa menyiksa batinnya saat itu.

Kehadiran Siska memberikan tekanan yang jauh lebih berat daripada tamparan Nyonya Ratna yang ia terima beberapa saat yang lalu.

"Benar, Nyonya Siska," jawab Alya dengan suara yang nyaris tidak terdengar sama sekali karena rasa sesak.

Siska melangkah masuk ke dalam kamar yang sempit itu sambil menutup hidungnya dengan sapu tangan kecil yang terbuat dari bahan mahal.

Ia menatap sekeliling ruangan dengan ekspresi jijik seakan-akan sedang berada di dalam sebuah gudang tua yang penuh dengan debu serta kotoran.

Langkahnya yang pelan namun pasti membuat Alya merasa semakin terpojok ke dinding ruangan yang terasa sangat sunyi serta mencekam.

"Dengar baik-baik, jangan pernah berharap Gibran akan menyentuhmu dengan sedikit pun rasa cinta di dalam hatinya," bisik Siska tepat di telinga Alya.

"Kau di sini hanya untuk menjadi mesin pengeram saja serta setelah anak itu lahir maka kau akan segera menghilang selamanya."

Alya merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat mendengar perkataan yang sangat kejam serta tidak berperikemanusiaan dari wanita cantik tersebut.

Ia ingin sekali berteriak bahwa ia juga manusia yang memiliki perasaan serta harga diri yang utuh sebagai seorang wanita sejati.

Namun bayangan surat hutang ayahnya kembali muncul di pelupuk mata serta mengunci rapat bibirnya yang sudah terasa sangat kelu serta kaku.

"Kenapa Anda begitu yakin saya akan menuruti semua keinginan jahat Anda?" tanya Alya dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan.

Siska tertawa kecil yaitu sebuah tawa yang terdengar sangat merdu namun mengandung racun yang sangat menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Ia meraih dagu Alya secara paksa serta mencengkeramnya dengan kuku-kukunya yang panjang hingga gadis itu merintih kesakitan yang sangat hebat.

Cengkeraman itu terasa sangat menyengat seolah-olah ingin menanamkan rasa takut yang permanen ke dalam jiwa Alya yang sudah mulai rapuh.

"Karena aku memegang nyawa adikmu yang saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit," ancam Siska dengan tatapan mata membunuh.

"Satu langkah salah yang kau buat maka tabung oksigen untuk adik kesayanganmu akan segera kucabut tanpa ada rasa ampun sedikit pun."

Alya terkesiap serta seketika merasa dunianya runtuh berkeping-keping di bawah kaki Siska yang beralas sepatu kulit yang sangat mahal.

Ia tidak menyangka bahwa wanita di depannya telah menyelidiki seluruh kehidupannya hingga ke bagian yang paling tersembunyi serta paling pribadi sekali.

Rasa putus asa mulai menguasai seluruh hatinya membuat ia merasa benar-benar terjebak dalam sangkar emas yang sangat mematikan bagi jiwanya.

Siska melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar hingga Alya kembali terhuyung ke arah ranjang kecil yang sudah mulai lapuk dimakan usia.

Ia merapikan tatanan rambutnya di depan cermin kecil yang buram sambil tersenyum penuh kemenangan serta rasa puas yang sangat nyata sekali.

Wanita itu kemudian berjalan keluar kamar dengan langkah yang sangat ringan seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah percakapan santai yang sangat menyenangkan.

Alya jatuh terduduk di lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak serta terasa sangat menyakitkan karena tekanan batin yang hebat.

Ia menyadari bahwa mulai detik ini hidupnya bukan lagi miliknya sendiri melainkan milik para penguasa rumah yang memiliki hati sangat keras.

Setiap napas yang ia hirup sekarang adalah hutang yang harus ia bayar dengan penderitaan yang tiada akhir selama ia berada di sini.

Pintu kamar itu kembali terkunci dari luar meninggalkan Alya dalam kegelapan yang sepi serta dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang.

Gadis itu hanya bisa memeluk lututnya sendiri sambil menatap lubang ventilasi kecil yang memperlihatkan langit malam yang tidak berbintang sama sekali.

Ia merasa seperti sepotong kayu yang hanyut di tengah lautan luas tanpa tahu ke mana arah arus akan membawa menyimpang jauh.

Keheningan malam itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki pria yang berat serta berwibawa yang berhenti tepat di depan pintunya.

Alya menahan napasnya ketika melihat bayangan seseorang dari celah bawah pintu yang terlihat sangat besar serta sangat mengintimidasi keberaniannya lagi.

Ia tahu siapa pria itu karena bau harum kayu cendana yang khas segera memenuhi indera penciumannya meski terhalang oleh pintu kayu jati.

Gibran masuk tanpa mengetuk pintu sama sekali serta menatap Alya yang masih terduduk di lantai dengan pandangan yang sangat dingin serta datar.

Ia tidak mengucapkan kata-kata penghiburan melainkan melemparkan sebuah gaun tidur berbahan sutra tipis tepat ke arah wajah Alya yang masih basah.

Alya menangkap kain yang sangat lembut itu dengan tangan yang gemetar serta mata yang menatap Gibran dengan penuh tanda tanya yang besar.

"Ganti pakaianmu sekarang juga serta jangan biarkan aku menunggu lebih dari lima menit di kamar utama," perintah Gibran dengan tegas.

"Tugas pertamamu sebagai istri kedua dimulai malam ini serta aku tidak menerima alasan apa pun untuk sebuah penolakan dari mulutmu itu."

Alya terpaku di tempatnya berdiri sementara Gibran sudah berbalik pergi tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari wanita yang baru saja ia beli.

Gadis itu menatap gaun tidur di tangannya dengan perasaan hina yang sangat mendalam seolah-olah kain itu adalah kain kafan bagi harga dirinya.

Ia tahu bahwa malam ini akan menjadi awal dari kehancurannya sebagai seorang manusia yang merdeka di bawah atap istana yang angkuh.

Tangisan bisu Alya pecah di tengah malam yang panjang tanpa ada seorang pun yang datang untuk memberikan sedikit saja kata penghiburan tulus.

Ia harus kuat demi adiknya yang tidak bersalah serta harus belajar menghadapi kemunafikan yang disembunyikan di balik wajah cantik semua orang kaya.

Alya berjanji dalam hati bahwa suatu saat nanti ia akan membongkar semua kepalsuan yang terjadi di dalam rumah besar yang sangat angkuh ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 130: Penyelamatan Nekat Tanpa Bantuan Prajurit

    Penyelamatan nekat tanpa bantuan prajurit itu berakhir dengan dentuman dahsyat yang menggetarkan permukaan tanah hutan terlarang saat mulut gua runtuh sepenuhnya tertelan bumi.Alya terjerembap di atas hamparan lumut basah dengan napas memburu serta jemari yang gemetar hebat meraba tanah seolah memastikan dirinya masih berpijak di alam kehidupan.Di sekelilingnya, belasan anak anak menteri yang baru saja diselamatkan menangis histeris sambil memeluk satu sama lain di bawah naungan pepohonan raksasa yang tampak seperti raksasa diam.Ratu muda itu mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang terkoyak batu tajam demi menghitung jumlah nyawa kecil yang berhasil ia tarik keluar dari cengkeraman maut.Maya merangkak mendekati Alya dengan wajah yang kotor oleh jelaga hitam namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa besar karena mereka semua selamat.Ia segera memeriksa kondisi fisik Alya yang tampak sangat mengenaskan dengan jubah kebesaran yang kini robek di beberapa bagian akib

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 129: Jejak Kaki yang Mengarah ke Hutan Terlarang

    Jejak kaki yang mengarah ke hutan terlarang itu mendadak menghilang di balik dinding tebing terjal tepat saat ujung anak panah musuh nyaris menyentuh permukaan kulit leher Alya yang seputih pualam.Alya tidak berkedip sedikit pun meskipun deru napas pria bertopeng di hadapannya terasa begitu panas dan penuh dengan aroma tembakau yang sangat menyengat indra penciumannya.Di belakangnya, Maya serta para pengawal setia sudah berlutut dengan tangan terikat sementara hutan yang semula hanya berbisik kini mendadak riuh oleh tawa mengejek dari lusinan bayangan hitam yang muncul dari balik pepohonan raksasa.Keadaan berbalik menjadi sebuah mimpi buruk yang sangat nyata karena Sang Ratu kini benar benar terjebak di wilayah tak bertuan tanpa membawa satu pun pasukan bantuan dari istana."Katakan padaku di mana kalian menyembunyikan putra putri menteri itu sebelum kesabaranku benar benar habis!" seru Alya dengan nada suara yang tetap berwibawa meski jemarinya bergetar hebat."Anda masih mencoba

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 128: Konspirasi Penculikan di Taman Kanak Kanak

    Konspirasi penculikan di taman kanak kanak itu terungkap saat matahari baru saja menyembul dari ufuk timur dan menyinari teras istana yang biasanya riuh oleh tawa putra putri para bangsawan.Alya berdiri mematung di ambang pintu besar dengan wajah pucat pasi ketika melihat taman bermain yang biasanya penuh warna kini hanya menyisakan sepatu kecil yang tergeletak sepi di atas rumput embun.Tidak ada satu pun suara bocah yang terdengar melainkan hanya desiran angin yang membawa aroma kecemasan luar biasa menyelimuti seluruh kompleks pendidikan khusus anak anak tersebut.Jantung Sang Ratu berdegup kencang seolah olah ingin melompat keluar dari dadanya saat menyadari bahwa seluruh anak menteri penting telah menghilang tanpa menyisakan jejak sedikit pun.Maya berlari menghampiri Alya dengan napas yang terengah hingga ia hampir saja tersungkur di atas lantai marmer yang dingin.Wajah asisten setia itu tampak kacau dengan bekas air mata yang belum kering sepenuhnya dari pipinya yang biasanya

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 127: Tangisan Bayi di Tengah Suasana Mencekam

    Tangisan bayi di tengah suasana mencekam itu menyayat keheningan ruang bawah tanah istana yang selama berabad abad hanya dihuni oleh debu serta aroma apek gandum tua.Alya melangkah dengan sangat hati hati sementara jemarinya meraba dinding batu yang terasa dingin sekaligus lembap akibat rembesan air tanah yang tidak pernah mengering.Jantungnya berdegup kencang seirama dengan suara tangis yang semakin jelas terdengar saat ia melewati deretan peti kayu besar yang tertata rapi di sudut ruangan paling gelap.Ia mengangkat lentera tembaga di tangannya lebih tinggi guna memastikan bahwa apa yang ia dengar bukanlah sekadar tipuan indra atau ilusi yang diciptakan oleh rasa takutnya sendiri.Pemandangan di hadapannya mendadak membuat napas Alya tertahan di tenggorokan karena ia melihat sebuah keranjang anyaman kecil terletak di atas tumpukan karung goni.Di dalam keranjang tersebut tampak seorang bayi mungil yang sedang meronta ronta dengan wajah memerah karena terus berteriak tanpa ada yang

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 126: Keputusan Sulit demi Stabilitas Keamanan

    Keputusan sulit demi stabilitas keamanan menghantam kesadaran Alya saat ia menatap gulungan peta militer yang terbentang di atas meja jati dengan tangan yang masih gemetar hebat.Berita mengenai mundurnya Gibran dari komando tertinggi telah menyebar luas ke penjuru ibu kota secepat kobaran api yang melahap jerami kering di tengah musim kemarau.Menteri Pertahanan yang baru saja ditunjuk berdiri dengan wajah pucat sambil meremas ujung seragam kebesarannya karena ia menyadari beban yang kini berpindah ke pundaknya yang tidak sekuat milik Sang Panglima.Suasana di dalam ruang rapat mendadak menjadi sangat dingin hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu godam yang menghakimi setiap keraguan dalam hati Sang Ratu.Alya memaksakan diri untuk duduk tegak meskipun jiwanya terasa sedang tercabik cabik oleh rasa bersalah yang amat mendalam kepada suaminya sendiri.Ia melihat bayangan Larasati yang tersenyum sinis di balik tirai koridor seolah olah wanita itu telah berhasil

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 125: Cemburu yang Menjadi Senjata Bagi Lawan

    Cemburu yang menjadi senjata bagi lawan meledak seketika saat Alya menemukan seuntai kalung perak tergeletak di atas meja kerja suaminya dengan inisial nama yang sangat asing.Benda berkilau itu seolah membakar sepasang matanya hingga ia merasa sesak napas karena menyadari bahwa Gibran telah menyimpan sesuatu yang sangat rahasia darinya.Di ambang pintu, Larasati berdiri tegak dengan senyum kemenangan yang tipis namun sangat tajam seakan dia baru saja berhasil menancapkan duri tepat ke dalam jantung sang penguasa.Keheningan ruangan tersebut mendadak terasa begitu menyesakkan karena setiap sudut istana seolah olah kini sedang berbisik mengenai pengkhianatan yang sedang direncanakan secara rapi.Alya meremas jemarinya kuat guna menahan getaran hebat yang mulai merayap naik dari ujung kakinya menuju seluruh persendian tubuh yang mendadak terasa sangat lemah.Ia menoleh ke arah jendela besar di mana Gibran sedang terlihat bercengkrama akrab dengan beberapa tetua adat di taman belakang ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status