Home / Romansa / Takdir Yang Tertukar Istri Kedua / Bab 2: Sambutan Dingin di Balik Gerbang Istana Emas

Share

Bab 2: Sambutan Dingin di Balik Gerbang Istana Emas

last update Last Updated: 2025-12-16 13:18:06

Sambutan dingin di balik gerbang istana emas itu pun dimulai dengan sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di pipi Alya.

Kepala Alya terhempas ke samping hingga helaian rambut panjangnya menutupi wajah yang kini terasa sangat panas serta berdenyut hebat.

Suara tamparan itu menggema di teras rumah yang luas serta sanggup membekukan sisa keberanian yang ia miliki malam ini.

Nyonya Ratna berdiri dengan sangat angkuh sambil mengusap telapak tangannya menggunakan sehelai kain sutra yang sangat halus.

Matanya yang tajam menatap Alya dengan pancaran kebencian yang sangat mendalam seakan-akan sedang melihat noda yang menjijikkan.

Ia mendengus kasar lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap yang sangat mengintimidasi serta sangat menakutkan.

"Jangan pernah berani menginjakkan kaki di lantai marmer rumahku dengan wajah memelas seperti itu!" bentak Nyonya Ratna dengan suara tinggi.

"Kau hanyalah barang sewaan yang dibeli putraku untuk memperbaiki nama baik keluarga besar Rakabuming yang sempat ternoda."

Alya mencoba berdiri tegak meski kedua kakinya terasa sangat lemas serta bergetar hebat karena rasa terkejut yang luar biasa.

Ia memegangi pipinya yang mulai membengkak sambil menatap ujung sepatu kulit milik Gibran yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.

Pria itu hanya diam membisu dengan wajah yang sangat datar seolah-olah penganiayaan di depan matanya adalah hal yang sangat wajar.

"Kenapa Anda begitu kejam kepada saya, Nyonya? Saya hanya mengikuti perintah Tuan Gibran," bisik Alya dengan suara yang parau.

Nyonya Ratna tertawa sinis hingga suara tawanya memantul di antara pilar-pilar putih yang menjulang tinggi serta terlihat sangat kokoh.

Ia melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Alya yang tampak sangat pucat serta penuh ketakutan.

Hawa dingin yang keluar dari tatapan wanita tua itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan yang baru saja mendarat di pipi Alya.

"Berhenti menyebut namaku dengan bibir kotor yang berasal dari keluarga penjudi itu!" teriak Nyonya Ratna tepat di depan wajah Alya.

"Tugasmu di sini hanyalah menjadi alat pengeram serta setelah kau memberikan apa yang kami mau maka kau akan segera dibuang."

Gibran akhirnya bergerak perlahan serta menyentuh bahu ibunya dengan gerakan yang sangat sopan namun tetap terlihat sangat berwibawa.

Ia tidak menoleh ke arah Alya sedikit pun melainkan hanya menatap pintu besar yang terbuka lebar di hadapan mereka semua sekarang.

Pria itu memberikan isyarat agar perdebatan yang sangat memuakkan ini segera diakhiri karena malam sudah semakin larut serta mencekam.

"Ibu, biarkan dia masuk sekarang karena aku tidak ingin ada pelayan yang mulai membicarakan hal memalukan ini," ucap Gibran dingin.

Alya melangkah masuk ke dalam rumah yang dipenuhi oleh perabotan antik serta lampu kristal yang sangat mewah serta sangat menyilaukan.

Meskipun tempat itu terlihat sangat indah namun Alya merasa seolah-olah sedang berjalan masuk ke dalam sebuah penjara yang sangat gelap.

Setiap langkah kakinya di atas lantai marmer yang mengkilap terasa sangat berat seperti sedang membawa beban batu yang sangat besar sekali.

Seorang pelayan tua segera menghampiri Alya serta menuntunnya menuju sebuah ruangan kecil yang terletak di bagian paling belakang rumah tersebut.

Kamar itu sangat berbeda dengan kemewahan ruang tamu karena hanya berisi sebuah ranjang kayu tua serta sebuah lemari pakaian kusam.

Alya terduduk di pinggir ranjang sambil memeluk dirinya sendiri serta menangisi nasibnya yang kini benar-benar telah berubah menjadi sangat tragis.

Ia baru menyadari bahwa di dalam rumah ini dirinya tidak akan pernah memiliki hak untuk bersuara atau sekadar melakukan pembelaan diri.

Setiap penghuni di istana emas ini memandangnya sebagai benda mati yang hanya berfungsi untuk memenuhi keinginan egois keluarga besar tersebut.

Luka di pipinya mungkin akan segera sembuh namun luka di hatinya baru saja dimulai serta akan terus bertambah parah setiap harinya.

Siska yang merupakan istri sah Gibran tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar dengan senyuman yang sangat manis namun terasa sangat beracun.

Wanita cantik itu membawa sebuah kotak kecil berwarna perak serta meletakkannya dengan kasar di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk.

Tatapan matanya tidak menunjukkan simpati melainkan rasa puas melihat Alya yang tampak sangat hancur serta tidak berdaya di hadapannya sekarang.

"Jangan menangis, sayang, air mata murahanmu itu tidak akan bisa membeli sedikit pun rasa iba dari penghuni rumah ini," ucap Siska.

"Gunakan obat ini untuk pipimu karena besok pagi kau harus mulai melayani kebutuhan rumah tangga selayaknya pelayan yang paling rendah."

Alya menatap kotak obat itu dengan perasaan yang sangat hancur berkeping-keping seolah-olah harga dirinya sedang dipermainkan oleh semua orang di sana.

Ia ingin sekali berteriak serta melemparkan kotak itu kembali ke arah wajah Siska yang tampak sangat puas di balik riasannya.

Namun ancaman maut terhadap ayahnya kembali terngiang di dalam telinganya membuat Alya hanya bisa menelan bulat-bulat semua rasa pahit tersebut.

"Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya Siska, saya akan ingat semua aturan di rumah ini," sahut Alya sambil menahan gejolak amarahnya.

Siska mendengus bangga lalu segera berbalik pergi meninggalkan aroma parfum mahal yang kini terasa sangat menyesakkan bagi paru-paru milik Alya.

Kamar sempit itu kembali menjadi sunyi serta hanya menyisakan suara detak jam dinding yang terdengar sangat lambat serta sangat membosankan sekali.

Alya merebahkan tubuhnya yang sangat lelah di atas kasur yang keras sambil menatap langit-langit kamar yang tampak sangat kusam serta berdebu.

Ia tidak pernah menyangka bahwa pengorbanannya demi keluarga justru akan membawanya ke dalam pusaran penderitaan yang sangat kejam serta sangat tidak berujung.

Malam itu ia bersumpah di dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja meski badai terus menerjang hidupnya.

Namun untuk saat ini ia hanya bisa pasrah serta menerima kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah seorang asing yang tidak pernah diinginkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 10: Satu Alasan Kuat untuk Tetap Bernapas

    Satu alasan kuat untuk tetap bernapas seketika terasa direnggut dari paru-paru Alya saat ia melihat ayahnya terbaring tidak berdaya di bawah ancaman dua pria berbadan tegap.Kejutan pahit itu menyambutnya tepat saat ia baru saja menginjakkan kaki di pelataran rumah sakit dengan harapan bisa memberikan sedikit penghiburan bagi sang ayah.Alya terpaku di ambang pintu ruang perawatan sambil menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar hebat guna menahan teriakan yang hampir meledak.Ayahnya yang sudah renta tampak sangat pucat dengan selang pernapasan yang hampir terlepas karena guncangan kasar pada kerah bajunya.Dua pria itu tidak mempedulikan bunyi alat pemantau jantung yang berbunyi sangat nyaring serta sangat memekakkan telinga di dalam ruangan yang sempit tersebut.Alya segera berlari maju serta mencoba memisahkan para penagih hutang itu dari tubuh ayahnya yang sudah sangat lemah serta ringkih sekali."Hentikan semua ini, saya mohon jangan sakiti ayah saya yang sedang kritis!" jeri

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 9: Asing di Mata Suami Sendiri

    Asing di mata suami sendiri adalah kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat oleh Alya saat Gibran melemparkan map berisi dokumen hasil pemeriksaan kesehatan ke atas meja makan.Kertas-kertas itu tersebar berantakan di dekat piring porselen yang masih berisi hidangan sarapan yang belum sempat tersentuh sama sekali.Gibran menatap Alya dengan sorot mata yang begitu tajam serta sangat menusuk seakan-akan sedang menguliti setiap rahasia yang tersimpan di dalam sel terkecil tubuh wanita tersebut.Alya terperanjat serta melepaskan sendok perak yang sedang ia pegang hingga menimbulkan bunyi dentingan nyaring yang memecah kesunyian ruangan yang sangat luas itu.Jantungnya berdebar kencang sekali sementara tangannya yang masih terbalut kasa putih kini mulai berkeringat dingin karena merasa terintimidasi secara mendadak.Ia menatap lembaran kertas yang penuh dengan istilah medis tersebut tanpa berani untuk menyentuhnya meski hanya dengan ujung jemari tangannya saja."Apa maksud dari semua

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 8: Tangisan Bisu di Tengah Malam yang Panjang

    Tangisan bisu di tengah malam yang panjang itu akhirnya pecah saat Alya menemukan setumpuk pakaian lamanya telah dibakar menjadi abu di halaman belakang rumah.Asap hitam yang pekat membumbung tinggi di bawah siraman cahaya bulan yang pucat seolah-olah menertawakan kemalangan nasib yang menimpanya.Alya berlutut di atas rumput yang basah oleh embun sambil mencoba menyelamatkan sisa kain yang belum habis dilalap si jago merah.Siska berdiri tidak jauh dari perapian tersebut sambil memegang sebuah tongkat kayu untuk mengaduk abu yang masih membara dengan sangat puas.Wajah cantiknya terlihat sangat menyeramkan karena pantulan api yang menari-nari di dalam manik matanya yang penuh dengan kebencian mendalam.Ia mendengus bangga saat melihat kehancuran di wajah Alya yang tampak sangat terpukul karena kehilangan harta terakhir dari masa lalunya yang sederhana."Kenapa Anda begitu tega membakar semua kenangan yang saya miliki, Nyonya Siska?" tanya Alya dengan suara yang tersedak oleh isak ta

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 7: Kewajiban Semu di Balik Pintu Kamar Utama

    Kewajiban semu di balik pintu kamar utama dimulai saat Gibran mendorong tubuh Alya dengan kasar hingga ia terjerembap di atas ranjang yang sangat empuk. Alya merasakan jantungnya berdegup kencang seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya yang terasa sangat sesak serta sempit. Lampu gantung kristal yang mewah di langit-langit kamar memantulkan cahaya yang sangat menyilaukan mata Alya yang kini sudah mulai berkaca-kaca. Gibran berdiri tegak di samping tempat tidur sambil melepaskan kancing kemeja mahalnya satu demi satu dengan gerakan yang sangat mekanis. Wajahnya tampak sangat datar serta tidak menunjukkan sedikit pun rasa kemanusiaan atau rasa belas kasihan terhadap wanita yang ada di hadapannya. Ia menatap Alya dengan pandangan yang sangat dingin serta sangat meremehkan seolah-olah Alya hanyalah barang dagangan yang baru saja ia beli dari pasar gelap. "Jangan pernah berpikir bahwa aku akan memperlakukanmu dengan lembut seperti seorang istri yang sesungguhnya," ucap

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 6: Harga Diri yang Terinjak di Bawah Kaki

    Harga diri yang terinjak di bawah kaki terasa jauh lebih menyakitkan daripada luka robek yang menganga di telapak tangan Alya.Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik namun suasana di ruang makan utama sudah terasa sangat mencekam serta begitu menyesakkan.Alya berdiri mematung di sudut ruangan dengan pakaian pelayan yang diberikan secara paksa oleh Nyonya Ratna sesaat setelah fajar menyingsing.Di atas meja kayu jati yang sangat panjang itu telah tersaji berbagai macam hidangan mewah yang mengeluarkan uap panas serta aroma menggoda.Gibran duduk di ujung meja sambil membaca koran bisnis dengan wajah yang sangat datar serta tampak sangat tidak acuh pada sekitarnya.Sementara itu Siska duduk di samping suaminya sambil menikmati sepotong roti panggang dengan gerakan yang sangat anggun sekaligus penuh keangkuhan."Kenapa kau hanya berdiri di sana seperti patung pemujaan yang tidak berguna, Alya?" tanya Siska tanpa menoleh sedikit pun."Cepat tuangkan kopi panas ini ke cangkir suamiku ser

  • Takdir Yang Tertukar Istri Kedua   Bab 5: Noda Merah di Atas Lantai Marmer

    Bab 5: Noda Merah di Atas Lantai MarmerNoda merah di atas lantai marmer itu merembes perlahan di antara pecahan porselen yang berserakan.Alya meringis menahan perih saat butiran debu dapur mulai menyentuh luka robek yang cukup dalam di telapak tangannya.Cairan hangat yang kental terus mengalir serta mengotori kemewahan lantai dapur yang semula putih bersih tanpa celah sedikit pun.Siska berdiri tidak jauh dari sana sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang sangat dingin.Tidak ada sedikit pun niat dari wanita itu untuk mengulurkan tangan atau sekadar memanggil pelayan guna membantu Alya yang malang.Ia justru tersenyum tipis seolah-olah sedang menikmati pemandangan penderitaan yang sedang tersaji tepat di depan matanya saat ini."Lihatlah betapa cerobohnya kau, Alya Kirana," ucap Siska dengan nada bicara yang sangat meremehkan."Piring-piring itu jauh lebih mahal daripada harga dirimu yang sudah kau gadaikan demi hutang judi ayahmu yang tidak tahu diri itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status