Mag-log in“Bagaimana Anda bisa menampilkan karakter Azelia Everardo dengan begitu sempurna, Nona Chyara?” tanya seorang presenter kepada gadis yang tengah duduk di hadapannya. Chyara hanya tersenyum sambil menatap kamera yang menyorot wajahnya. Ia tampak tenang, seakan pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dijawab. “Aku pernah mengenal seseorang yang sangat mirip dengannya,” jawab Chyara. Senyumnya perlahan berubah tipis, menyimpan makna yang tak dapat dipahami oleh siapa pun di ruangan itu. “Jadi, kurasa aku hanya perlu mengingatnya.” Presenter itu tersenyum mendengar jawabannya. “Benar juga. Kami semua masih tidak menyangka sekaligus bersyukur karena Anda berhasil selamat dari kecelakaan mobil itu.” Ia memandang Chyara dengan kagum. “Kalau tidak, mungkin kami tidak akan bisa melihat akting luar biasa yang Anda tampilkan dalam drama ini.” Chyara menggeleng pelan sambil tertawa kecil. “Mungkin takdir sedikit merasa kasihan kepadaku sehingga aku diberi kesempatan untuk selamat.” I
Azelia akhirnya dijatuhi hukuman mati. Dengan berakhirnya eksekusi itu, semua peristiwa yang selama ini menghantui kehidupan Chyara seakan ikut berakhir bersamanya. Jalan cerita yang pernah ia baca di dalam novel telah berubah sepenuhnya, dan kehidupan yang kini ia jalani tidak lagi menyerupai takdir tragis yang seharusnya menantinya. Darian kini telah resmi diangkat sebagai Kaisar, sementara Chyara berdiri di sisinya sebagai Permaisuri Kekaisaran. Callister mewarisi gelar Marquess Everardo dan memimpin pasukan kekaisaran dengan wibawa. Sementara itu, Celvin dan Celvan telah menjadi dua jenderal muda yang disegani oleh banyak orang. Setiap kali ketiga kakaknya datang ke istana untuk melaporkan keadaan pasukan, mereka selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Chyara. Ketiganya tidak pernah berubah, masih memperlakukannya dengan penuh perhatian dan selalu memastikan dirinya baik-baik saja. Hal itu membuat Chyara semakin menyadari betapa berbedanya kehidupannya sekarang dengan ke
Mata Chyara membesar ketika melihat sihir milik Azelia melesat ke arahnya. Energi itu bergerak begitu cepat hingga tubuhnya tidak sempat bereaksi. Tanpa sadar, Chyara menutup kedua matanya dengan erat dan menunggu serangan itu menghantam tubuhnya. “Chyara!” Suara Darian terdengar dari kejauhan. Namun, beberapa detik berlalu dan rasa sakit yang ia tunggu tidak kunjung datang. Tidak ada benturan, tidak ada luka, bahkan tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang merasakan sentuhan sihir Azelia. “Kenapa kau takut, Chyara?” Tubuh Chyara seketika membeku. Suara itu terdengar begitu familiar hingga membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Ia mengenali suara tersebut dengan sangat baik, meskipun seharusnya pemilik suara itu tidak mungkin berada di hadapannya. “Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku akan melindungimu?” Perlahan, Chyara membuka kedua matanya. Pandangan yang semula tertutup mulai kembali jelas. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan punggung menghadap ke arahnya, sementar
“Apakah kau memiliki kata-kata terakhir?” Darian menatap tajam ke arah Azelia yang berlutut di hadapannya. Tidak ada sedikit pun belas kasihan dalam tatapan merahnya. Pedang besar di tangannya tetap terhunus, sementara seluruh halaman eksekusi perlahan menjadi sunyi menunggu jawaban Azelia. Azelia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Tatapannya bergerak ke arah Chyara yang duduk di kursi kekaisaran. Wajahnya perlahan dipenuhi kemarahan dan ketidakpuasan yang selama ini ia pendam. Akhirnya, Azelia tertawa kecil, tetapi suara tawanya terdengar pahit. “Kenapa?” Ia mengangkat wajahnya. “Kenapa kalian semua tidak pernah tertarik padaku?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kenapa semuanya hanya melihat Chyara? Kenapa?” Azelia menatapnya dengan mata yang mulai memerah. “Apa yang salah denganku?” Darian tertawa rendah, tawanya tidak terdengar hangat sedikit pun. Ia memandang Azelia seolah sedang mendengar pertanyaan yang sangat tidak masuk akal. Bahkan beberapa bangsawan yang mendengar p
“Itu dia! Perempuan iblis!” “Dasar pembunuh!” “Kau pantas mati!” “Matilah, pengkhianat!” “Habisi dia!” “Pengkhianat terkutuk!” Teriakan kebencian rakyat menggema tanpa henti di seluruh halaman eksekusi. Ribuan pasang mata tertuju pada sosok perempuan yang tengah diarak menuju panggung dengan kedua tangan terikat. Tidak ada satu pun simpati yang terlihat di wajah mereka, seolah seluruh kebencian yang ada di tempat itu hanya ditujukan kepada satu orang. Azelia dipaksa menaiki tangga panggung. Begitu tiba di tengah panggung, para pengawal mendorong tubuhnya hingga ia jatuh berlutut. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajah pucatnya, sementara kedua matanya tampak kosong setelah semalaman berada di dalam penjara. “Bunuh dia! Ternyata dia sama saja dengan ibunya!” Sebuah batu kecil dilemparkan ke arah Azelia. Benda itu menghantam bahunya sebelum disusul oleh lemparan lain. Sayuran busuk, lumpur, dan batu kecil mulai berjatuhan ke arah tubuhnya, membuat para pengawal harus
“Kenapa kau diam saja?”Darian menoleh ke arah Chyara setelah Azelia dibawa keluar dari kamar. Suasana kini kembali hening, hanya menyisakan pecahan guci dan noda darah yang masih terlihat di lantai. Namun, Chyara justru berdiri dengan tenang, seolah kejadian barusan bukan sesuatu yang cukup penting untuk dipermasalahkan.“Apa maksudmu?” tanya Chyara sambil meliriknya singkat.Darian mengerutkan kening. “Kenapa kau hanya diam saja ketika Azelia mengubah dirinya menjadi dirimu dan mengubahmu menjadi dirinya?”Chyara menatap Darian tanpa banyak perubahan ekspresi. “Apakah itu masalah?”“Tentu saja itu masalah!” Suara Darian terdengar lebih keras dari sebelumnya.Ia menatap Chyara dengan wajah serius, seolah tidak mengerti bagaimana gadis itu masih bisa bersikap begitu tenang. Rahangnya mengeras ketika membayangkan kemungkinan yang hampir saja terjadi.“Jika aku tidak menyadari pertukaran itu,” lanjutnya, “yang akan dibawa ke penjara dan dieksekusi mungkin adalah kau.”Chyara mengembusk







