LOGINWajah Jude seketika berubah. Ia sudah mendengar sebelumnya bahwa penginapan tersebut sedang diperiksa karena menerima banyak laporan mengenai perjudian dan perselingkuhan yang mulai meresahkan. “Ini benar-benar celaka!” Tanpa banyak berpikir, Jude segera mengenakan pakaiannya yang untungnya tidak sulit. Linira yang masih berada di kamar menatapnya dengan bingung. “Tuan Jude, tunggu aku!” “Tidak bisa. Aku harus pergi sekarang.” “Tapi aku belum selesai bersiap, tunggu sebentar!” Jude tidak menjawab, ia langsung keluar melalui pintu belakang yang biasa digunakan para tamu untuk menghindari perhatian. Linira pun membeku. “Tuan Jude!” Pria itu benar-benar pergi meninggalkannya sendirian. Linira menatap pakaian yang masih berantakan di sekelilingnya, tatapannya panik dan bingung. Mengenakan semuanya dengan cepat bukan perkara mudah. Beberapa bagian pakaiannya memiliki banyak lapisan dan pengikat yang cukup rumit. Sementara suara langkah para petugas semakin mende
“Ibu...” Linira menatap Ailin. “Apakah kita bunuh saja Suran dengan tangan kita sendiri menggunakan nama pelayan itu?” Ailin langsung melotot. “Jangan gila. Kau jangan pura-pura tidak tahu kalau orang-orang yang kita bayar sebelumnya terutama para pelayan di kediaman ini sudah bukan lagi orang-orang kita, semuanya berpihak pada Suran. Kalau kita membunuh dia, ataupun jika dia mati bukan karena kita, pada akhirnya kita yang akan celaka.” Linira membuang nafas kasarnya. “Aku sudah benar-benar muak menghadapi Suran. Belakangan ini dia makin sok jago, makin sombong hanya karena dia pewaris sah. Aku tidak mau mengalah terus, aku harus cepat singkirkan dia.” Ailin memijat pelipisnya. Dia sendiri juga merasakan yang sama, tapi sekarang mereka benar-benar tidak bisa banyak melakukan apa yang mereka inginkan. Langkah mereka seolah bisa ditebak oleh Suran, semuanya selalu berakhir gagal. Awalnya dia pikir karena Wulien, tapi ternyata Wulien juga hanya mengikuti semua yang dikatakan S
Malam itu, meja makan Kediaman Hideria dipenuhi berbagai hidangan yang sesuai selera Suran. Gadis itu duduk di tempat biasanya. Di sisi lain meja, Ailin dan Linira juga berada di sana, mau tidak mau ikut makan meski tidak selera. Keduanya terlihat tenang. Namun di balik wajah yang dibuat seolah tidak terjadi apa-apa, mereka menyembunyikan senyum yang penuh harapan. Malam ini seharusnya menjadi akhir hidup bagi Suran. Seorang pelayan baru berjalan mendekat sambil membawa hidangan utama. Tangannya sedikit gemetar. “Nona, hidangan malam sudah siap.” Suran menatap makanan tersebut, kemudian pandangannya berpindah kepada pelayan itu. Wajah wanita itu tampak pucat, keringat dingin terlihat di dahinya. Tentu sama karena gugup dan takut. Suran tersenyum lembut. “Letakkan di sini saja.” Pelayan itu pun menurut. Ailin menundukkan wajah agar senyumnya tidak terlihat, Linira bahkan sempat melirik sejenak pada ibunya. Mereka hanya perlu menunggu beberapa jam lagi, Suran
“Kau... kenapa? Apa ada yang terjadi?” yang Suran, tatapan matanya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar. Rey menghela nafasnya, mencoba untuk tersenyum meskipun Suran belum tentu akan menyadarinya. “Aku harus pergi,” jawab Rey, suaranya benar-benar berat seolah menggambarkan betapa seriusnya situasi yang sedang dihadapinya sekarang. “Pergi ke mana? Terjadi sesuatu? Butuh bantuan dari Hideria?” tanya Suran, semakin paham bagaimana harus bersikap. Rey sontak menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku akan menghadapi ini sendiri. Aku tidak bisa mengatakan apapun, tapi akan lebih baik kalau keluarganya Hideria tidak terlibat sedikitpun.” Mendengar itu, Suran pun terdiam. Tentu saja dia ingin bertanya lebih banyak lagi, lebih detail, tapi dia juga sadar tidak boleh melakukan itu. Rey tidak mau mengatakannya, lantas apa halnya memaksa untuk bicara? Suran mencengkram tangannya sendiri yang bertautan, menatap dengan tatapan yang mendalam. “Rey, pergilah jika itu diperlukan.
“Suran, aku bisa melihat kau sedang ingin menangis, walaupun bukan kepergian sampah itu yang ingin kau tangisi.” Suran menggigit bibir bawahnya, kali ini dia benar-benar ingin tidak bisa menahan tangisnya yang ingin pecah. “Sebenarnya... sebenarnya... tidak ada yang pernah memelukku seperti ini selain orang tuaku. Mereka terlalu tahu diri, tapi kenapa kau...” Suran tidak lagi sanggup melanjutkan ucapannya, tangisnya benar-benar pecah. Tubuh gadis itu bergetar, Rey pun sekalian mengeratkan pelukannya. Suran tahu ini tidak seharusnya, namun kali ini ia tidak menolak. Tubuhnya justru perlahan menjadi rileks di dalam pelukan itu. Entah mengapa, setelah sekian lama menahan semuanya ia akhirnya merasa aman. Air mata yang sejak tadi tertahan mulai jatuh. Tangis yang begitu dalam, jelas ada luka yang bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kesedihan itu entah dari mana asalnya, Rey juga tidak ingin bertanya. Ia hanya membiarkan Suran menangis sampai dia benar-benar bisa m
Luderin menutup matanya, air mata masih mengalir. “Suran, aku salah. Maaf... aku memang pantas dihukum. Aku harap kau hidup dengan baik, bahagia.” Bruk! Tangan Luderin jatuh ke tanah, tubuhnya benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama. Tangisan ibu Luderin pecah, tak lagi bisa ia tahan rasa sakitnya. “Luderin!” Tubuh putranya yang sejak tadi terbaring lemah akhirnya benar-benar tidak bergerak lagi, napasnya hilang sepenuhnya. Matanya telah tertutup untuk selamanya. “Luderin...!” Wanita itu mengguncang tubuh putranya dengan tangan gemetar, seolah masih berharap pria itu akan membuka mata meskipun lemah. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Tangisannya pun jadi semakin keras. “Kenapa kau membiarkan anakku mati, hah?!” Ia menoleh kepada Suran dengan tatapan penuh kebencian. “Kalau sejak awal kau mau menolongnya, dia tidak akan pernah jadi seperti ini!” “Ini semua salahmu!” Beberapa pelayan yang berada di sekitar langsung terdiam. Tidak







