Share

BAB 78

Author: Rainina
last update Last Updated: 2026-01-04 09:10:09

Davian terdiam untuk beberapa saat, menatap bosnya dengan wajah datar yang terlatih sempurna sebelum akhirnya memberikan jawaban.

"Maaf, Tuan. Belum ada hasil."

Victor menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, sebuah desahan kasar lolos dari bibirnya. Ia memijat pangkal hidungnya dengan kuat, berusaha menghalau rasa sakit yang mendadak berdenyut hebat di kepalanya akibat jawaban itu.

"Tidak satu petunjuk pun?" tanya Victor dengan nada tidak percaya. "Kota ini penuh dengan kamera pengawas, Davian. Bagaimana mungkin seseorang menghilang begitu saja?"

"Nihil, Tuan," jawab Davian yakin, tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya. "Sepertinya dia benar-benar menghindar."

Victor menggeram frustrasi. "Cari dia lebih teliti. Gunakan semua koneksi yang kita punya. Aku tidak mau mendengar kata 'tidak' lagi."

"Baik, Tuan."

Davian berbalik badan menuju pintu keluar. Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti. Pria itu menoleh sedikit, menatap Victor dari balik bahunya.

"Jik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fi Tri
thor... sudah bolak balik sy cek.. kmrn libur update... hari ini janji update dobel lho ya.. hehe...
goodnovel comment avatar
Fi Tri
thor.. kok blm update lagi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 88

    Evelyn mengurung dirinya di kamar tamu rumah ibunya, menolak untuk melangkah keluar selangkahpun dari kamar itu.Evelyn sudah muak. Ia tidak sudi melihat wajah ayah tirinya. Pria itu selalu bersikap sok berkuasa, menatap Evelyn dari balik kacamatanya seolah-olah Evelyn adalah hama yang harus dibasmi.Tadi pagi, pria itu kembali menceramahinya. Mengatakan bahwa Evelyn tidak memiliki pengendalian diri, bahwa ia hanyalah anak manja yang tidak tahu aturan. Kata-kata itu tajam dan merendahkan. Namun yang paling menyakitkan bagi Evelyn bukanlah hinaan ayah tirinya, melainkan reaksi ibunya.Ibunya tidak mengatakan apa-apa. Wanita itu hanya menatap mereka, mengaduk tehnya dalam diam, membiarkan suaminya merendahkan putri kandungnya sendiri.Evelyn membenci mereka semua. Ia juga tidak ingin bertemu Theo, ia tidak tahu kapan pria itu ada atau tidak ada di rumah ini.Drrt... Drrt...Ponsel Evelyn bergetar di atas nakas. Untuk kesekian kalinya dalam satu jam terakhir.Layar itu menyala menampilk

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 87

    Adriana terbangun saat matahari mulai tinggi dan mengganggu pandangannya. Tangannya secara refleks meraba sisi tempat tidur di sebelahnya. Kosong.Bukan hanya kosong, sprei sutra di sisi itu terasa dingin dan licin, tanpa ada satu pun kerutan bekas tindihan tubuh. Victor sepertinya tidak tidur di sana. Pria itu bahkan tidak menyentuh sisi ranjang itu semalaman, membiarkan Adriana menguasai ranjang itu sendirian.Adriana menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan perasaan campur aduk.Tok. Tok.Lamunannya buyar saat suara ketukan halus terdengar, disusul pintu kamar yang terbuka perlahan. Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah masuk, membawa nampan berisi sarapan.“Permisi, Nona,” ucap pelayan itu sopan, namun matanya tidak berani menatap langsung ke arah wajah lebam Adriana. Ia meletakkan nampan itu di atas meja nakas. “Tuan meminta saya membawakan sarapan dan obat pereda nyeri untuk Anda.”Adriana hanya mengangguk pelan, matanya terpaku pada namp

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 86

    Victor membawa Adriana masuk ke dalam kamar tidur utama, ruangan luas bernuansa abu-abu gelap dan maskulin yang selama ini hanya bisa Adriana bayangkan.Ia mendudukkan Adriana dengan hati-hati di tepi ranjang berukuran king size, seolah wanita itu adalah barang pecah belah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Victor berjalan menuju lemari di sudut ruangan dan kembali dengan sebuah kotak P3K lengkap di tangannya.Lampu kamar yang temaram menyembunyikan sebagian ekspresi Victor, namun Adriana bisa merasakan ketegangan yang menguar dari tubuh pria itu.Victor menarik sebuah kursi mendekat ke tepi ranjang, lalu duduk tepat di hadapan Adriana. "Ini akan sedikit perih," gumam Victor pelan, suaranya terdengar berat namun lembut.Kapas basah itu menyentuh sudut bibir Adriana yang sobek."Sshhh..." Adriana mendesis refleks, tubuhnya sedikit tersentak mundur."Maaf," ujar Victor cepat. Tangannya berhenti di udara sejenak, membiarkan Adriana mengatur napas, sebelum kembali menyentuh luka itu de

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 85

    Awalnya, Adriana mengira mobil yang dikendarai Victor tu akan melaju menuju pusat kota, kembali ke gedung apartemen mewah tempat penthouse Victor berada.Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya. Setelah lelah menangis dan meronta hanya untuk diabaikan oleh Victor, akhirnya Adriana memilih diam. Tubuhnya terasa remuk, dan rasa perih di wajahnya berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Adriana menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, membiarkan dirinya pasrah.Namun, ketika mobil mulai melambat dan berbelok tajam, mata Adriana terbuka.Pemandangan diluar jendela membuatnya seketika menegakkan tubuhnya. Rasa kantuk dan lelahnya lenyap, digantikan oleh rasa ketakutan yang muncul begitu saja.Mereka tidak berada di basement gedung pencakar langit yang dikenali Adriana.Di hadapannya, sebuah gerbang besi raksasa perlahan terbuka secara otomatis. Adriana mengenali tempat ini. Ia pernah ke sini untuk mengambil dokumen atas perintah Victor.Ini kediaman keluarga Sterling.Tidak, ba

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 84

    Adriana memalingkan wajahnya, tidak sanggup menahan tatapan intens pria itu lebih lama lagi. Rasa perih di pipinya tidak sebanding dengan rasa malu yang membakar dadanya. Ia benci saat ada orang yang melihatnya dalam kondisi seperti ini.“Kumohon... pergilah.”“Tidak.” Victor menjawab dengan cepat. Tangannya masih mengurung Adriana, menolak memberinya ruang untuk pergi.Adriana tertawa kecil, ia menatap pria itu dengan tatapan menantang.“Berhenti bertingkah bodoh, kau terlihat konyol,” desis Adriana. “Reaksimu terlalu berlebihan untuk seorang pria yang hanya menginginkan tubuhku.”Wajah Victor menegang. Ada kilatan penyesalan di matanya, ia ingin membantah tuduhan itu.“Aku tidak…”“Kau sudah memperjelas semuanya waktu itu, Victor,” potong Adriana. Ia sudah tidak peduli lagi untuk bersikap sopan. Untuk apa ia menjaga tata krama pada orang yang sedang berusaha ia usir? Ia lelah, ia merasa bersalah. Ia juga benci dengan fakta berurusan dengan pra itu telah menariknya ke lubang neraka

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 83

    “Aku bilang, buka pintunya Adriana.”Suara Victor terdengar rendah, namun mampu membuat Adriana merasa tidak berdaya. Ia mengabaikan bentakan Adriana, mengabaikan pengakuan wanita itu tentang memanfaatkan dirinya.Bagi Victor saat ini, semua kata-kata itu tidak ada artinya dibandingkan dengan lebam yang terlihat jelas di wajah wanita itu.“Pergi! Apa kau bodoh?!” jerit Adriana dari balik pintu, suaranya pecah karena air mata yang mulai jatuh.Rahang Victor mengeras. Kesabarannya tidak cukup untuk terus membujuk wanita itu membuka pintunya secara baik-baik.Ia tidak menjawab. Sebaliknya, Victor mundur selangkah, lalu menghentakkan bahunya ke daun pintu dengan sekuat tenaga.BRAK!Adriana terlonjak mundur karena hentakan tubuh Victor di pintunya. Pria ini gila. Batinnya.BRAK!Victor menghantamkan tubuhnya sekali lagi, Kayu tua yang menahan rantai itu di pintu itu kalah begitu saja. Rantai pengaman yang sudah berkarat itu terlepas dari kusennya, terpental ke lantai dengan suara denting

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status