เข้าสู่ระบบKeesokan paginya, Adriana sibuk membongkar kotak kardus yang sebelumnya diserahkan Davian pada kepala pelayan di ruang tamu kediaman Sterling.Tidak ada yang kurang. Semua barang penting miliknya berada di sana, tertata cukup rapi, kecuali beberapa pakaian lusuh yang sepertinya dianggap Davian tidak layak masuk ke rumah mewah ini.Semua terlihat aman, kecuali satu hal. Ponselnya tidak ada di sana.Adriana membongkar kotak itu sekali lagi, membalik tumpukan baju, meraba bagian dasar kotak dengan panik, tapi tetap tidak menemukannya."Apa ada yang kurang?"Suara berat itu membuat Adriana menoleh cepat. Victor muncul di ruang tamu, sudah rapi dengan setelan kerjanya yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Ia terlihat segar, dan siap berangkat bekerja."Di mana ponselku?" tanya Adriana langsung dengan nada kesal, tanpa basa-basi.Jika benda itu tidak ada di kotak dan tidak ada di tasnya, maka jawabannya hanya satu. Benda itu ada pada Victor.Tanpa membantah, pria itu merogoh saku ja
Adriana membeku, tubuhnya kaku dalam dekapan pria itu. Kalimat Victor barusan berdengung di telinganya, menimbulkan ribuan pertanyaan yang menakutkan.Apa yang harus kulakukan padamu?Apa maksudnya? Apakah karena Adriana telah mengacaukan segalanya? Apakah Victor menyesal telah membawanya masuk ke dalam kehidupannya yang rumit, atau apakah pria itu sedang bergulat dengan fakta bahwa ia mulai peduli pada wanita yang seharusnya hanya menjadi sekadar "hiburan"?Adriana menimbang sesaat, ingin mengatakan sesuatu. Namun, sebelum satu kata pun keluar, Victor mengecup puncak kepala Adriana. Lalu perlahan, napasnya yang tadi berat kini berubah menjadi lebih tenang. Dada bidang yang menempel di tubuh Adriana naik turun dengan lembut. Dia benar-benar sudah tidur.Dalam kegelapan kamar itu, tangan Adriana terangkat dengan ragu. Jari-jarinya ragu selama beberapa detik, bimbang antara mendorong pria itu menjauh atau membiarkan dirinya tetap berada dalam rengkuhan pria itu.Tapi kehangatan tubuh V
Suasana di kamar tidur utama penthouse itu hening, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan. Adriana tersentak bangun, matanya menyapu sekeliling ruangan yang remang-remang, namun rasa hangat yang memeluknya tadi sudah menghilang.Victor sudah tidak ada di sampingnya. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong dan begitu dingin di bawah telapak tangannya. Kepanikan seketika menjalar di dada Adriana, membuat rasa kantuknya hilang begitu saja.Kemana perginya pria itu?Pikiran buruk langsung membanjiri kepala Adriana. Ketakutan terbesar Adriana bukan ditinggal sendirian, melainkan apa yang mungkin dilakukan Victor saat ia lengah. Bagaimana jika Victor menghubungi Julian saat ini juga?"Tidak, tidak..." bisik Adriana lirih. Ia memaksakan kakinya yang masih terasa lemas untuk turun dari ranjang besar itu.Ia berlari kecil menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara gemerisik samar dari arah Walk in Closet yang terhubung langsung ke kamar mandi.Pintu closet itu sed
Mata Adriana membelalak lebar mendengar ancaman itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak."Kau tidak akan berani." desisnya, namun suaranya terdengar tidak yakin bahkan di telinganya sendiri.Victor menatapnya datar, alisnya terangkat sedikit dengan angkuh, menantang keraguan wanita itu. "Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak akan berani?"Adriana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Benar. Atas dasar apa ia meragukan Victor?Secara logika, Keluarga Sterling lebih kaya dan berpengaruh dibandingkan Keluarga Vance. Julian hanyalah seorang 'pewaris' yang masih bermain-main dengan uang ayahnya, sementara Victor adalah sang 'pemilik' takhta. Tapi... logika itu tidak bisa menghapus bayangan mengerikan tentang Julian Vance.Adriana teringat tatapan mata pria itu. Tatapan gelap, obsesif, dan tidak waras yang membuatnya merinding hingga ke tulang. Ia teringat bagaimana Julian memaksanya memilih, dan kekerasan yang pria itu tunjukkan saat menyeretnya paksa
Theo melangkah maju perlahan, mengikis jarak di antara mereka hingga Evelyn harus mendongak untuk menatap wajahnya."Pikirkan baik-baik, Evelyn," bisik Theo. "Kenapa kau harus memohon seperti pengemis agar diizinkan pulang, padahal kau bisa membalikkan keadaan? Kau bisa membuat mereka sendiri yang memohon agar kau angkat kaki dari rumah ini."Evelyn menatap pria itu dengan curiga. Instingnya mengatakan bahwa ide yang keluar dari kepala Theo tidak mungkin sesuatu yang waras. "Katakan dengan jelas," tuntutnya tajam. "Jangan berbelit-belit."Theo tersenyum miring, lalu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Evelyn."Tidurlah denganku." ucapnya Theo tanpa keraguan sedikitpun.Mata Evelyn membelalak lebar, namun Theo tidak memberinya kesempatan untuk memotong. "Kita buat skenario kecil. Kita pastikan seseorang 'menemukan' kita di ranjang yang sama, dalam keadaan yang... tidak pantas. Dan aku yakin, saat itu juga, ibumu yang terhormat tidak akan punya pilihan selain mengus
Victor sama sekali tidak membuang waktu saat ia kembali dari kantornya. Ia duduk di sofa yang menghadap tepi ranjang, menatap ke arah Adriana yang duduk di sana.Pria itu menatap Adriana lamat-lamat. Matanya menelusuri wajah wanita itu, mencari sisa-sisa ketakutan dari kejadian kemarin, namun yang ia temukan hanyalah ekspresi kesal yang ditahan."Kelihatannya kau sudah beristirahat dengan cukup," ujar Victor, suaranya berat namun tenang.Adriana memalingkan wajah, enggan menatap mata pria itu. "Ya. Tentu saja. Bagaimana aku bisa lelah kalau seseorang membuatku tidak bisa melangkah keluar satu langkah pun dari rumah ini?"Victor hanya mendengus pelan menanggapi nada sarkastis itu. "Aku melakukannya demi kebaikanmu, A







