MasukTapi Rhea tak senang atas pujian itu. Dia memandang Benjamin tanpa gentar lagi. "Aku tak akan tersanjung atau berterimakasih," jawabnya ketus.
Benjamin balik menatapnya dari cermin kaca lekat-lekat, "Aku mengatakan sesuai dengan apa yang ku lihat. Senang atau tidaknya itu pilihanmu."Rhea menjadi geram, selalu saja pria ini tak mau kalah darinya dan terus membalas kalimatnya.
"Mendandani ku dengan rapi kau akan membawaku kemana?" tanya Rhea yang jauh tampak stabil."Mm, kau ingin bermain menebak?! jika kau benar aku akan mengabulkan satu permintaanmu dan jika salah kau tak bisa menolak kemanapun ku bawa?" Benjamin menawarkan sesuatu."Lucu sekali! Kau pikir aku akan percaya. Benar atau salah bukankah itu menjadi keputusanmu."Dahi Benjamin berkerut, sedetik kemudian dia tertawa. “Rupanya kau tidak bodoh. Aku suka.”
Lalu perhatian Benjamin tertuju ke perut datar Rhea, dia menyentuh lembut perut Rhea.
Rhea mencengkeram erat tangan yang lebih besar darinya itu. Berhasil membuat Benjamin berhenti mengelus perut Rhea.
"Aku tak mengizinkanmu menyentuhku sembarang!!” ucap Rhea marah.
Benjamin tampak tenang menghadapi kemarahan dan kebencian yang ditunjukan secara terang-terangan. Dia menjawab, “Aku sudah menyentuh dan melihat semuanya.”
Rhea menepis kesal tangan pria yang tak sopan menyentuhnya itu. Dan kalimatnya itu membuat Rhea kian membencinya. “Berhenti mengingatkan kejadian itu!”
“Aku sangat membenci itu.” Rhea bangkit dari duduknya, dia memperotes. “Itu terjadi karena ulahmu. Menculikku dan menjamahku dengan paksa. Apa yang bisa dibanggakan dari tindakan pengecut tak terpuji itu huh?!”
“Aku hanya ingin pergi dari tempat ini. Jika kau berpikir aku tak berterimakasih padamu yang membantuku sejauh ini! Kau salah besar, karena kau yang membuatku berada dititik ini.” ucap lantang Rhea sembari menunjuk tepat wajah Benjamin dengan amarah menggebu.
Tapi pria yang berdiri dengan tegap ini hanya menatap kearahnya dengan mata hitam legamnya. Kemudian dia sedikit menunduk, tangannya meraih pinggang Rhea membuat tubuh mereka menempel.
Rhea mendongak menatap wajah Benjamin yang sangat dekat dengannya. Matanya tak menunjukan ketakutan lagi, sebaliknya rasanya dia tengah menunjukan bahwa dia tak akan kalah darinya.
Situasi yang tampak serius, Rhea bahkan kebingungan untuk memperotes lagi. Kepalanya menjadi membeku. Meski dia membenci pria ini, namun secara sadar dia mengakui pesona yang luar biasa dari pria ini.
Lalu Benjamin tiba-tiba saja memeluknya erat-erat, dia berkata dengan lirih. “Tidakkah kau lelah terus menerus berusaha melarikan diri dariku?! Tidakkah kau bisa tenang dan tetap berada disisiku saja. Ya, aku tahu perbuatanku hari kemarin padamu tak terpuji dan pegecut, jadi biarkan aku menebusnya.”
Rhea sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, dia pula tak tahu harus menjawab apa.
Terlepas pria ini bersungguh dengan kalimatnya atau hanya permainan kata untuk menahannya. Namun, perkataanya terasa menyentuh hati dan terdengar tulus.
“Aku tidak mempercayaimu!” kalimat itu spontan keluar dari mulut Rhea, mungkin karena dia merasa masih waspada pada pria ini.
“Aku akan membuatmu mempercayaiku, namun perlahan.” ucap Benjamin berusaha menyakinkan.
Rhea tak menjawab. Entahlah, dia tak yakin mengenai kepercayaan. Bahkan untuk sedikit berharap dia tak berani lagi. Dia selalu dipatahkan dengan ekspetasi bahwa suatu hari kesedihannya akan lenyap dengan didekap oleh kebahagiaan tak terputus.
Terngiang kalimat mendiang Ibunya didetik akhir hidupnya. Kala air mata tak henti menetes disela mata Rhea, Ibunya menghibur dengan berkata. “Kesalahan seorang jangan membuatmu membenci semuanya. Tidak semua pria jahat, kebetulan Ibu salah memilih. Ibu selalu yakin putri Ibu akan menemukan pria yang cintanya lebih besar dan tak ada tangis menyesakkan yang menghantui dimalam hari.” bahkan dipenghujung hidupnya dia tak menyalahkan penuh suaminya. Bukankah hati Ibunya begitu lapang?
Tapi Rhea berbeda, dia tak selapang hati Ibunya. Dia pula tak percaya bahwa seorang pria akan memberikan hati dan cinta lebih besar untuk wanitanya. Dia tak ingin hal sama menimpanya karena seorang pria. Tapi sungguh sial, dia berakhir terperangkap bahkan dengan pria yang tidak dia kenal.
“Apa kau sudah memutuskan mengenai bayinya?” tanya Benjamin.
Rhea terperanjat, “Ah! Aku akan melahirkannya.” jawabnya.
Seketika Benjamin memeluknya lebih erat, rasanya dia sangat senang mendengar itu.
Sedikit perdebatan tadi dan Rhea tak bisa memilih, mau tak mau mengikuti kemana dia akan dibawa. Jikapun dia menolak, pria ini tak akan mendengarkannya.
Bukan rumah sakit, bukan juga kediaman Dominic, melainkan Kantor Catatan Sipil. Tentu saja Rhea bertanya-tanya dalam benak mengapa mereka kemari?
Seperti kata Benjamin sebelumnya. “Bukankah dia ingin melihat janin dalam perutnya? harusnya mereka menemui dokter.” Rhea tak mengerti.
“Nyonya silahkan tanda tangan.”
Ucap petugas wanita itu memecahkan lamunan Rhea. Ya, sekarang dia sudah berhadapan tepat dengan petugas yang tampak mengurus berkas-berkas dan sesekali menekan-nekan keyboard komputernya.
Rhea menatap Benjamin meminta penjelasan, namun Benjamin hanya menaikkan alisnya dan meminta agar Rhea segera menandatangani kertas berisi namanya itu.
Seketika Rhea membelalak, sekarang dia mengerti Benjamin berniat mendaftarkan pernikahan.
“Aku menolak!”
“Kau bahkan tak mendiskusikannya pada ku dulu. Apa kau pikir aku sudah pasti menyetujuinya?!” Rhea tampak naik pitam. Benjamin selalu bersikap seenaknya padanya.
“Kau mengira aku akan memohon agar kau tanggung jawab? Aku tak butuh itu! Aku memang memutuskan melahirkan anak ini tapi sedikitpun tak terbesit keinginan untuk menikah dan hidup denganmu!!” ucap Rhea pelan namun penuh penekanan dan amarah.
Seklibat Rhea melihat sorot mata tajam Benjamin yang rasanya siap menekan siapapun yang berani menolaknya. Sedetik kemudian tatapannya berubah sedikit lebih tenang. Rasanya dia berupaya menekan diri agar tak menunjukan sikap mengendalikan seseorang.
“Ah! Aku lupa berada diranah pria itu.” Rhea mengepal kuat jemarinya.
Benjamin tersenyum kecil, Dia berbisik. “Pencatatan pernikahan akan membawa akibat untuk anak kita dan pemenuhan hak-hak dasarnya dengan jelas. Maka kita mulai dari mendaftarkan pernikahan. Kau memang tak menginginkannya, namun tindakan egois itu akan merugikan. Lalu, tidakkah kau berpikir akan dipandang buruk berada satu atap dirumah pria tanpa status jelas.” bisiknya.
Benjamin memang tampak memberikan solusi. Tapi, itu tindakan liciknya untuk menahan Rhea dan membuat Rhea merasa bahwa dia telah terikat lebih erat dengan Benjamin. Baik pemikiran Rhea karena anaknya atau nanti selepas mereka sah berstatus suami-istri. Dia akan sulit lepas darinya.
Rhea tampak berpikir sejenak. “Itu benar.” gumamnya.
Terlebih jika Ayah dan Lili tahu bahwa dia dibawa oleh pria asing tanpa status jelas. Maka mereka akan terus mencemoohnya. Lalu ketika dia memutuskan melahirkan anaknya maka dia harus siap terus berurusan dengan Benjamin yang merupakan Ayah dari anak yang dikandungnya.
Rhea mengusap wajahnya kasar. Dia benci situasi Dimana tak memiliki pilihan.
Petugas wanita tampak binggung dengan dua pasangan yang tampak belum siap. Terlebih wanitanya tampak tak menyetujui rencana ini.
“Tuan dan Nyonya, maaf menyela. Jika salah satu pihak berkeberatan maka kalian bisa datang dihari lain sampai kalian berdua sudah memantapkan hati. Pernikahan bukanlah perkara mudah. Perlu keyakinan dan persetujuan keduanya.” ucapnya dengan penuh kehati-hatian agar tak menyinggung.
“Ah! Itu sedikit kesalahpahaman dan sayangku ini telah menyetujuinya, bukankah begitu?” Benjamin memandang Rhea lekat.
Kata ‘sayang’ yang diucapkan Benjamin membuat Rhea bergidik.
Rhea menghela napas, rasanya sangat berat untuk menyetujui ucapan Benjamin. Lalu dia mengangguk sebagai jawaban setujunya.
Pada akhirnya Rhea menandatangani surat pendaftaran pernikahan itu.
Rhea menoleh kearah Benjamin. “Mendaftarkan pernikahan bukankah memerlukan informasi kedua belah pihak. Bagaimana kau dengan cepat mendapatkan informasi tentang ku? Dan tidak mungkin kau membawaku tanpa tau identitasku? Jadi siapa kau sebenarnya?!”
Benjamin menutup mulut Rhea pelan. Tentu saja berbicara dihadapan petugas seperti ini akan menimbulakan kecurigaan. “Stt! Jangan berbicara seperti itu disini.”
Benjamin lantas membawa Rhea menjauh dari tempat itu. Meski sedikit merasa aneh, namun petugas itu memilih tak memikirkannya lagi. Pertengkaran adalah hal wajar bagi pasangan yang akan menikah.
Rhea melepas cepat tangan Benjamin yang mendekap mulutnya. Dia menatapnya lekat meminta jawaban.
Senyum seringai menakutkan khas Benjamin terukir dibibirnya. “Kau pikir aku hanya membawa wanita kerumahku tanpa tau siapa wanitaku?"
"Aku tidak sembarang menyentuh wanita dan bahkan aku memilihnya dengan hati-hati." Benjamin menarik lengan Rhea, menariknya kedalam pelukannya. Lalu tangannya menyentuh dagu lancip wanitanya, perlahan dia mengecupnya dengan lembut.
Mata Rhea membulat, dia terkejut dengan tindakan berani Benjamin.
Jantungnya berdegup lebih kencang.
Rhea sadar ini bukanlah hal baik. Berlama-lama berurusan dengan pria ini akan membuatnya terseret kejurang curam.
Benjamin tak bisa sepenuhnya menikmati rasa bahagianya. Banyak hal menantinya. Esok hari, dia sudah ada dimakam itu—berdiri seorang diri. Tanahnya masih basah, nisan itu baru dipasang. Semua dia urus sendiri.Tak ada pelayat. Tak ada doa. Hanya diam menekan dada. "Setidaknya, aku harap kau tenang di sana!" ucapnya. Tak ada air mata yang menetes, wajahnya hanya datar. "Aku ingat tak mengundangmu!" kata Benjamin kemudian. Tepat disampingnya Sicilia berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Benjamin tampak menurunkan kewaspadaanya."Dia Tuanku." jawabnya singkat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?!" tanya Benjamin tanpa menoleh. "... aku datang hanya untuk melihat liang terakhir pria yang penuh derita," Sicilia menepuk pelan pundak Benjamin. "Hanya itu?" kini Benjamin menoleh, memberikan tatapan tak percaya. Sicilia tersenyum kecil, lantas menaburkan bunga di atas makam basah itu. "Aku adalah saksi hidup kisah orang tuamu..."Dia melanjutkan, "Aku teman dekat Ibumu, juga orang kep
Kini di ruangan itu Benjamin seorang diri. Pikirannya melayang, segala hal buruk terjadi bersamaan. Kekhawatirannya tentang Rhea kian menjadi, bersamaan dengan perasaanya yang terasa hampa. Tak lama pintu berderit, nenek Rhea masuk dengan bingung. "Mengapa kau ada disini?" tanyanya. "Bising apa yang terjadi? aku tidak menemukan putraku juga Vareli?!" Benjamin menoleh, wajah yang penuh derita itu berubah menghangat. Dia berpura-pura tak terjadi apapun. Dia menghampiri sang nenek, menyentuh tangan wanita tua itu dengan lembut. "Nenek, aku datang untuk memberi kabar Rhea telah melahirkan seorang putra." Nenek tampak terkejut, kemudian lega. Agak lama nenek tak mengatakan apapun, dia hanya menyentuh wajah Benjamin dengan lembut. "Kau tidak baik-baik saja? pakaianmu begitu lusuh, kotor, dan terdapat noda darah! Jangan menipuku...?!" Saat itu lah Benjamin tak mampu menahan air matanya lagi. Beban yang terlalu lama menumpuk meluap begitu saja. Tak sekalipun kehangata
Dengan perasaan puas Vareli membuka ruangan suaminya, dimana segala cap dan hak kekuasaan ada disana. Senyum yang sempat merekah indah mendadak lenyap, tat kala melihat Benjamin duduk santai di kursi dengan kaki menyilang di atas meja. "Aap-" belum sempat Vareli berteriak, seseorang telah membekap mulutnya dari samping. Pintu tertutup rapat. Dengan kasar, tubuhnya dipaksa merosot hingga berlutut di lantai. Benjamin menopang wajahnya sembari menatap ke arah Vareli tajam. "Aku sudah memperingati, jangan menganggu!" ucapnya dingin.Dengan wajah kebingungan, dan takut Vareli mencoba memberontak dari dekapan bawahan Benjamin, yang jelas mustahil."Orang bodoh!" kata Benjamin, "Sejak tau Lili bergabung dengan Charles kediaman Dominic ada dalam pengawasan ku." dia menyeringai. "Benar kan Ayah mertua," Pintu berderit, Vareli segera menoleh kebelakang, dan Hendra berjalan masuk dengan tegap, dan hidup. Lalu Charles dan Lili sudah tertangkap oleh bawahan Benjamin lainnya. Kini Benjami
Di dalam sebuah gudang tua yang lembab. Charles dan Lili bersembunyi didalamya. Jauh dari lokasi perseteruan dengan rombongan Benjamin sebelumnya. Lili menatap Charles penuh keputusasaan—pria yang terengah-engah akibat luka tembakan serta pukulan yang sempat menghantamnya. "Kenapa begini!" Lili mengacak kasar rambutnya. Dia dengan kasar menarik kerah jaket Charles, "Aku tidak ingin MATI. Kau berjanji padaku bahwa posisi Benjamin akan kau gantikan!""Aku bergabung dengan mu sebab, ingin melihat kehancuran Rhea, bukan sebaliknya?!" teriaknya lantang.Tapi Charles bahkan tak bergeming hanya napas berat yang susah payah ia tenangkan. Dengan kesal Lili memukul dada Charles. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat menggenggam jaketnya sendiri. Ia berkali-kali menoleh ke pintu, ke jendela, ke sudut-sudut gelap ruangan. Menduga-duga bawahan Benjamin pasti akan segera menemukan mereka."Kita harus pergi lagi," ucap Lili terbata. "Benjamin tidak akan berhenti. Sekarang dia memimpin dua
Langkah Benjamin terhenti tepat, disisi inkubator. Tangannya gemetar saat menyentuh tepiannya. Bayi itu mengeliat pelan, mengecap bibir mungilnya. Saat tangannya dengan lembut menyentuh jemari bayinya, Jantung Benjamin berdesir. Sesuatu yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Makhluk kecil yang tampak tak berdaya dengan tangan dan kaki mungilnya, dan kenyataan bahwa ia adalah darah dagingnya. "Bayi anda sangat sehat, jangan khawatir pak." ucap seorang perawat yang berjaga. "Anda ingin mencoba mengendongnya?" Benjamin terdiam, hanya menatap bayinya lekat-lekat sementara tangannya mengepal kuat. Kemudian dia berkata tanpa menoleh, "Bayinya terlalu rapuh, dia akan hancur dalam sentuhanku." Perawat itu tersenyum kecil, seolah sering melihat seorang ayah baru yang mengalami ketakutan serupa. "Perasaan itu wajar. Tidak apa-apa. Saya bantu pak," Benjamin tak memberi respon—tidak menolak, tetapi tidak juga menyetujui. Matanya terfokus pada bayi itu, Perawat dengan per
Saat pintu dibuka, bau antiseptik langsung menyergap, ruangan putih itu terasa terlalu tenang untuk hatinya yang campur aduk. Di sana—Rhea terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak begitu pucat. Mesin monitor berdetak stabil namun pelan, jarum infus menembus kulit tangannya yang dingin. Benjamin berhenti tepat di sisi ranjang, memandang Rhea tanpa ekpresi—namun sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan. Perlahan ia membungkukkan tubuh, jemarinya terulur mengelus lembut kepala Rhea seolah takut menyakitinya. Lalu, dengan hati-hati, bibirnya menyentuh kening Rhea dalam sebuah kecupan singkat. "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Tolong, jangan tinggalkan aku." Hening menyambutnya. Tidak ada respons. Tidak ada gerakan. Mata Rhea tetap terpejam, seolah dunia belum memanggilnya kembali. Kriet... Pintu terbuka, sontak tatapan Benjamin menajam—seolah siap menerkam siapa pun yang masuk tanpa izin.







