Share

What?!

Author: Babytiran
last update Last Updated: 2024-02-08 23:13:03

Rhea yang tampak mengabaikannya membuat Benjamin sedikit kesal. Apa yang dipikirkan oleh wanita didepannya ditengah dia yang sedang mencumbunya? Lantas Benjamin mengigit bibir Rhea.

“Ah! au…” rintih Rhea, menatap Benjamin yang kian melumat bibirnya.

Benjamin mengusap lembut bibir Rhea dengan jemarinya, tangannya menyentuh dagunya. Dia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. “Ya, harusnya kau menatapku seperti ini bukan malah mengalihkan pikiran dan pandanganmu.”

“Yaampun mereka tampak membara.” ucap seseorang yang berpapasan dengan pasangan yang penuh gairah, mereka tampak terkejut.

“Stt! itu tanda cinta, karena baru mendaftarkan pernikahan.” timpal yang lainnya dengan terkekeh.

Rhea tersadar mereka masih berada didepan gedung kantor catatan sipil dan banyak orang berlalu lalang dan melihat mereka bercumbu. Bagaimana bisa Benjamin melakukan hal memalukan itu disini.

Bergegas Rhea menjauh dari Benjamin. Tangannya mengusap kasar bibir yang baru dicumbu Benjamin.

Rhea marah, kesal, dan malu. Semua bercampur menjadi tak tertahankan. Dia berjalan dan meninggalkan Benjamin disana.

Rhea menyentuh bibirnya, dia terus berjalan sembari mengomel marah. “Berapa kali dia mencuri bibirku. Mencium seenaknya bak miliknya.” wajahnya memerah penuh emosi.

Mata Rhea berkaca-kaca. Kejadian sebelumnya dia bahkan belum memaafkan pria sialan itu dan sekarang pria itu terus berusaha melangkah melewati batas.

“Dia sangat kelewatan dengan terus menerus menginginkan lebih!!” Rhea tak tahu bagaiman menghadapi pria sialan itu.

“Mengapa aku harus setuju menandatangani pendaftaran pernikahan?! Huh, aku memang bodoh.” Rhea tampak putus asa.

Benjamin menyentuh bibirnya yang baru saja mencumbu bibir Rhea. Wajahnya merona, harusnya dia tak berekspresi malu-malu seperti ini.

Benjamin menyibak rambutnya. “Sialan! Mengapa dia begitu manis.”

Benjamin dengan perasaan yang bahkan tak dia pahami. Dia memang tertarik dengan Rhea, memastikan keamanan dan kenyamananya. Namun perasaan penuh kenyamanan dan kesenangan ini rasanya berbeda.

“Ini aneh.”  Benjamin menyentuh dadanya yang berdegup menggebu-gebu. “Seumur hidup aku tak pernah mengalami hal ini.” Dia mencengkeram kuat dadanya.

Senyum manis tak mampu Benjamin sembunyikan dari bibirnya. Dia menenangkan perasaanya yang dibuat kacau oleh Rhea. Dia lantas bergegas mengejar Rhea yang mulai menjauh.

Langkah kaki yang lebar membuat Benjamin dengan cepat menyusul Rhea.

Benjamin lantas menarik lengan Rhea. “Kau meninggalkanku setelah mengacaukan ku!”

“Huh?!” dahi Rhea mengernyit.

Rhea mendongak menatap wajah Benjamin. Anehnya wajahnya bersemu merah.

Rhea ingin mencerca pria ini. Namun, dia mengurungkan niatannya itu. Tampaknya kondisi Benjamin tampak tak baik.

Harusnya dia tak mempedulikan apapun mengenai Benjamin, namun sebagai seseorang yang memiliki hati nurani dia membuka mulutnya. “Mm, ka-kau tengah sakit?” tanyanya.

“Sakit? Aku?!” Benjamin menunjuk dirinya sedikit terkejut.

Rhea menatap Benjamin kian lekat, menunjukan bahwa kalimatnya ditunjukan memang untuk Benjamin.

“Tentu tidak.” jawab Benjamin.

“Lalu mengapa wajahmu memerah?” tanya Rhea ragu.

Benjamin menyentuh wajahnya. Lalu dia sedikit menunduk menatap Rhea yang mendongak kearahnya. “Ini karena mu. Tidakkah kau sadar hatiku kau porak-porandakan dengan pesonamu.”

“What?! Itu tidak masuk akal.” ucap Rhea cepat.

“Kau selalu menyangkal hal yang mungkin.” Benjamin kembali menunjukan ketenangan sikap dan menekan kegundahan hati yang disebabkan oleh Rhea.

“Ya! Karena hal-hal yang mendadak ini sungguh tak masuk akal.” jawab Rhea lirih sembari memalingkan wajahnya.

Rhea masih sulit menerima kenyataan, terkadang dia berharap ini hanyalah mimpi dan suatu saat akan terbangun.

Namun, dia tak pernah terbangun. Karena ini kenyataan dalam hidupnya.

Kemudian suasana menjadi canggung. Selama perjalanan keduanya lebih banyak diam.

Beberapa menit menyusuri jalanan, Benjamin menghentikan mobilnya disebuah gedung indah.

Rhea menoleh kearah Benjamin. Dia ingin bertanya namun kembali memilih menutup rapat mulutnya.

Benjamin tahu bahwa Rhea orang yang sangat penasaran kemana dia akan dibawa. Dia juga tahu bahwa Rhea ingin menanyakannya namun berakhir mengurungkan niatnya karena situasi canggung tadi.

Benjamin menyeringai. “Rupanya dia bisa tak berontak.”

Pintu tiba-tiba dibuka oleh seorang pria. Pria bertubuh tinggi besar dengan jas hitam yang dikenakannya, juga tak lepas dari kaca mata hitam. Dia tampak menakutkan, meski bersikap sopan.

Tentu saja jantung Rhea hampir copot karena kemunculan pria itu secara mengejutkan.

Benjamin terkekeh. “Jangan takut orang-orang ini bawahanku.”

Perhatian Rhea kemudian tertuju ke kaca mobil depan. Ada beberapa orang-orang seperti pria itu, rasanya lebih dari sepuluh berdiri didepan dengan rapi, beberapa berkemeja hitam adapula yang menggenakan batik. Rasanya mereka tengah menyambut kedatangan orang penting.

“Jadi apa semua ini?” Rhea bergidik.

“Kau akan melakukan apa padaku huh?!” ketakutan kembali menjalar menuhi dirinya, dia bahkan terlihat panik. Entah mengapa pikirannya dipenuhi hal-hal negatif.

“Tenanglah.” suruh Benjamin.

“Bagaimana bisa aku tenang!” Rhea tampak kacau.

“Mereka semua orang-orangku yang kelak tak akan menyakitimu.” Benjamin menyakinkan lagi.

Rhea berusaha mengatur napasnya yang tak stabil, dia menatap Benjamin dan ya dia berusaha percaya.

Lalu Benjamin keluar lebih dulu dari mobil, dia meminta pria yang membuka mobil tadi kembali ketempatnya.

Sekarang Benjaminlah yang membukakan pintu untuk Rhea, dia mengulurkan tangannya. Tentunya agar Rhea tetap percaya bahwa disini dia tak berniat buruk dan hal-hal negatif dalam pikirannya tak akan terjadi.

Ragu-ragu Rhea meraih tangan Benjamin. Lalu pria-pria besar itu menyambut Benjamin dengan sopan.

“Selamat datang.” sapa mereka.

“Kami telah menyiapkan hal yang anda minta.”

“Ini sedikit mendadak namun kami berhasil mendapatkan tempat.” Kata salah satu dari mereka.

Lalu perhatian mereka tertuju kearah Rhea, mereka menyambutnya dengan ramah.

“Ah! Jadi wanita cantik ini.”

“Selamat datang Nyonya.” sapa mereka ramah.

Rhea tak mengerti dengan situasi ini. Namun, dia hanya menyunggingkan bibirnya.

Kemudian mereka masuk kedalam gedung dengan Benjamin yang menggengam erat tangan Rhea.

Saat masuk kedalam gedung Rhea dikejutkan dengan tampilan dekorasi simple namun indah didalamnya.

“Ah! Pasangan pengantin kami akhirnya tiba.” ucap seorang pria dengan rambut pajang sebahu yang terikat.

Wajah pria itu tampak berbeda dari orang-orang bertubuh besar, wajahnya jauh lebih lembut.

“Hai, cantik.” sapanya pada Rhea sembari mengamatinya.

"Rupanya wanita yang meluluhkan seorang Benjamin adalah nona ini."

Benjamin menatap pria itu tajam. “Hentikan Charles! jangan menggodanya.” Tekan Benjamin.

Pria yang dipanggil Charles itu menaikkan bahunya dan dengan mudah menurut. “Mm, baiklah.”

Charles Blanco adalah tangan kanan Benjamin yang memiliki tugas membantu mengurus permasalahan internal maupun eksternal organisasi. Dia pria yang lebih mementingkan organisasi dari apapun.

Charles pria yang sedikit humoris, namun disisi lain dia pria kejam yang tak berbeda dengan Benjamin.

Charles tak suka ikut campur yang bukan urusannya. Namun, jika Benjamin yang meminta, dia tak akan pernah menolak karena dia tau konsekuensi nya.

"Sebentar! pengantin apa maksudnya itu?!" tanya Rhea yang tampak bingung.

Benjamin dan Charles saling menatap dan kemudian saling memberi anggukan, yang kian membuat Rhea kebingungan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Tanggung jawabnya

    Langkah Benjamin terhenti tepat, disisi inkubator. Tangannya gemetar saat menyentuh tepiannya. Bayi itu mengeliat pelan, mengecap bibir mungilnya. Saat tangannya dengan lembut menyentuh jemari bayinya, Jantung Benjamin berdesir. Sesuatu yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Makhluk kecil yang tampak tak berdaya dengan tangan dan kaki mungilnya, dan kenyataan bahwa ia adalah darah dagingnya. "Bayi anda sangat sehat, jangan khawatir pak." ucap seorang perawat yang berjaga. "Anda ingin mencoba mengendongnya?" Benjamin terdiam, hanya menatap bayinya lekat-lekat sementara tangannya mengepal kuat. Kemudian dia berkata tanpa menoleh, "Bayinya terlalu rapuh, dia akan hancur dalam sentuhanku." Perawat itu tersenyum kecil, seolah sering melihat seorang ayah baru yang mengalami ketakutan serupa. "Perasaan itu wajar. Tidak apa-apa. Saya bantu pak," Benjamin tak memberi respon—tidak menolak, tetapi tidak juga menyetujui. Matanya terfokus pada bayi itu, Perawat dengan per

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Daniel dan kisahnya

    Saat pintu dibuka, bau antiseptik langsung menyergap, ruangan putih itu terasa terlalu tenang untuk hatinya yang campur aduk. Di sana—Rhea terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak begitu pucat. Mesin monitor berdetak stabil namun pelan, jarum infus menembus kulit tangannya yang dingin. Benjamin berhenti tepat di sisi ranjang, memandang Rhea tanpa ekpresi—namun sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan. Perlahan ia membungkukkan tubuh, jemarinya terulur mengelus lembut kepala Rhea seolah takut menyakitinya. Lalu, dengan hati-hati, bibirnya menyentuh kening Rhea dalam sebuah kecupan singkat. "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Tolong, jangan tinggalkan aku." Hening menyambutnya. Tidak ada respons. Tidak ada gerakan. Mata Rhea tetap terpejam, seolah dunia belum memanggilnya kembali. Kriet... Pintu terbuka, sontak tatapan Benjamin menajam—seolah siap menerkam siapa pun yang masuk tanpa izin.

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Beep! Beep!

    Benjamin duduk di kursi panjang depan ruang bersalin, tangannya terkatup, menyangga dagu yang menunduk dalam. Wajahnya pucat, menegang, seolah setiap detik yang berlalu adalah siksaan. Dari balik pintu kaca, samar-samar ia bisa melihat tim medis berlalu-lalang, bersiap dengan peralatan steril. Rhea baru saja dipindahkan dari IGD~infus masih menancap di tangannya, wajahnya begitu lemah. Setiap kali tubuhnya bergerak, Benjamin ikut menahan napas. Takut gerakan itu akan terhenti. Jantungnya berdetak tak karuan. Dalam kepalanya, dia terus saja berdoa~berharap semua berjalan dengan lancar. "Tindakan sesar akan segera dilakukan," suara salah satu perawat memberi kabar singkat, tapi bagi Benjamin, kalimat itu seperti kabar perang. "Tolong... selamatkan keduanya," ucap Benjamin suaranya serak namun tegas. Dia menatap pintu ruangan bersalin yang kini tertutup rapat. Tangannya mengepal di pangkuan, menggigil. Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, Daniel telah melewati masa kriti

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Lahirnya pemimpin baru

    Mata Benjamin melirik ke arah Rhea—penasaran bagaimana reaksinya setelah mendengar kisah buruknya. Cerita dirinya yang terlahir dari hubungan penuh polemik.Tapi kemudian mata Benjamin membelalak—tatapan istrinya sayup, tangannya menggepal kuat. Ditengah dia mengandung besar, dia masih berusaha tetap berdiri kuat ditengah badai ketengangan. Benjamin menunduk perlahan, lututnya menyentuh tanah berdebu yang dingin. Dihadapan Kartel dia tunduk untuk pertama kalinya. "Kau menang." katanya."Lakukan tujuanmu. Bawa aku—bayangan ketakutanmu." "Istriku tengah mengandung besar." suara Benjamin berat, nyaris serak. "Dia hanya seseorang yang aku seret paksa dalam hidupku. Dia tak tahu apapun, tak tahu masalaluku." Benjamin menatap lurus ke arah Kartel—pandangan mata yang selalu tegas kini retak oleh rasa putus asa.Rhea berusaha meronta, air matanya jatuh. Hanya karena untuknya pria yang selalu keras ini sampai menyerahkan harga dirinya.Kartel menjambak kasar rambut Benjamin~memaksanya mend

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Ayah dan Anak penuh Intrik

    Asap tipis masih mengepul di sepanjang jalan ketika rombongan Benjamin akhirnya tiba di titik pelacak. Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua di pinggir kota~tampak seperti gudang yang lama ditinggalkan. Benjamin turun cepat. Pertempuran sengit semalam membuatnya lebih waspada. Pelacak di tangannya masih menyala... tapi titiknya bergerak. BRAK!!Suara benturan keras memecah keheningan, menambah ketegangan. Dari kejauhan, terdengar "DOR! DOR!"~ dua tembakan beruntun yang menggetarkan udara.Segera Benjamin kembali masuk ke dalam mobil. Rombongannya melaju cepat ke arah sumber suara.Dua tembakan ke udara adalah tanda peringatan darurat dari Daniel. Cara menembak dan suara itu, Benjamin sangat yakin itu peringatan dari Daniel. Bahwa dia tengah berhadapan langsung dengan rombongan lawan~peringatan itu juga sebagai tanda keyakinan Daniel bahwa Benjamin berada tak jauh dari lokasinya. Setelah menabrak mobil lawan hingga terguling dan melepaskan tembakan, Daniel dengan gagah bera

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Si penghianat

    Sepanjang waktu Rhea terjaga, hingga malam berganti pagi. Dia takut jika terlelap hal yang lebih buruk menanti. Bahkan napan berisi makanan disebelahnya tak tersentuh. Brak!Duak!Beberapa kali pintu dihantam sesuatu dari luar. Membuat situasi terasa mencekam. Rhea menegang jantungnya berdegub tak karuan. Lalu kemudian senyap.Tak lama kemudian pintu terbuka.Seorang wanita tiba-tiba melompat masuk. Muncul seperti bayangan dengan wajah serius. Alat pemukul digengamannya, sedangkan di punggungnya, senapan terikat rapi. Rambut terkepang dua, gayanya nyentrik, dan glamor, namun masih terkesan imut.Kini mata wanita itu tertuju pada Rhea yang duduk didekat sudut ruangan."Tada aku datang." ucapnya cengegesan. Rhea hanya berkedip beberapa kali, terheran dengan wanita itu. Kesan serius dan menegangkan wanita itu langsung berubah. Dia tampak cukup konyol.Masih bingung siapa dia, wanita itu malah mendekatinya. Wanita itu menunduk mengamati perut Rhea lekat-lekat. "Wau... perutnya benar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status