MasukAku sudah menjadi penyiar radio larut malam selama sepuluh tahun. Telepon terakhir sebelum program itu dihentikan adalah dengan seorang mahasiswi. "Halo, Bu Eirene, aku merasa sangat tersiksa. Aku jatuh cinta pada dosen universitasku sendiri. Meskipun dia sudah nikah, dia memperlakukanku dengan sangat spesial." "Waktu aku sakit, dia masak untukku. Waktu aku sedih, dia temani aku ngobrol sampai larut malam, ngajak aku jalan-jalan untuk tenangin pikiran ...." Setelah mendengarkannya dengan sabar, aku perlahan membuka mulut untuk menenangkan, "Memiliki perasaan kagum pada lawan jenis yang luar biasa itu sangat normal, tapi yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan kuliahmu." "Sebenarnya, waktu SMA aku juga pernah diam-diam menyukai guru magang. Sampai akhirnya bertemu suamiku, barulah aku tahu seperti apa cinta yang dewasa itu. Semoga di masa depan kamu juga bisa bertemu orang yang benar-benar tepat untukmu." Gadis itu tertawa pelan dengan nada yang sulit dimengerti. "Aku iri sekali padamu, istri dosenku."
Lihat lebih banyakSebulan kemudian, hasil keputusan dari pihak kampus keluar. Stevin sudah mengundurkan diri, jadi selain teguran resmi, dia tidak menerima hukuman yang berarti.Namun, ijazah Alice dicabut. Tanpa Stevin, dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun.Internet dipenuhi hujatan dan cacian terhadapnya, sementara Stevin juga menjauhinya seperti menjauhi wabah.Mentalnya benar-benar runtuh. Dia membuka siaran langsung di atap gedung firma hukum, semata-mata hanya agar Stevin melihatnya."Pak, aku cantik nggak pakai gaun pengantin begini? Kamu suka nggak? Kalau aku lompat, apa seumur hidup kamu nggak akan pernah melupakanku?"Kolom komentar dipenuhi orang-orang yang menyuruhnya lompat saja kalau memang mau, jangan cuma berpura-pura.Tak lama kemudian, siaran langsung itu diblokir.Saat itu, aku dan Stevin baru saja selesai mengurus perceraian dan keluar dari pengadilan negeri.Ketika kami sampai di lokasi, Alice sudah dibawa ke ambulans. Gedungnya terlalu tinggi. Kemungkinan besar dia sudah ti
Stevin berdiri dari balik meja dengan wajah muram.Kebetulan Alice masuk sambil membawa sepiring buah. Begitu melihat tatapannya, jantungnya langsung berdebar kencang."Ada apa? Masalah pekerjaan?"Stevin berjalan mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan penuh selidik."Alice, kamu tahu aku paling benci dibohongi. Aku cuma kasih satu kesempatan. Soal Eirene, itu ulahmu, 'kan? Kamu kenal orang yang menyebarkan rumor itu, benar?""Wanita yang memukuli Eirene di rumah sakit, para wartawan yang mewawancarainya, semua itu kamu yang atur, 'kan?"Ekspresi Alice membeku. Dia refleks menggeleng. "Mana mungkin aku .... Aku tahu masalah Bu Eirene memang bermula karena aku, itu salahku. Tapi soal yang lain aku benar-benar nggak tahu. Pak, tolong percaya padaku."Saat itu, bel pintu berbunyi. Alice segera berbalik membukakan pintu. Begitu melihat orang di luar, matanya langsung membelalak. Dia bertanya dengan suara rendah, "Gimana kamu menemukan tempat ini?"Jocelyn memasang ekspresi dingin dan l
Seminggu kemudian, aku pulang ke rumah. Stevin sudah menungguku.Aku berjalan mendekat tanpa mengatakan apa pun dan langsung menandatangani surat itu.Rumah menjadi milikku, mobil menjadi miliknya, harta dibagi rata. Dia bahkan menambahkan satu poin khusus, memberikan 1 miliar sekaligus biaya studiku ke luar negeri.Seolah-olah dengan begitu semua luka yang dia timbulkan padaku bisa ditebus."Rekamannya." Dia membuka ponselnya, lalu menghapusnya tepat di depanku. "Kamu tenang saja, aku nggak punya cadangan, juga nggak akan memulihkannya lagi. Ayahmu juga sudah janji padaku, nggak akan mengatakan hal itu kepada siapa pun lagi."Aku tertawa pelan, lalu mempersilakannya keluar dari rumahku.Dia berdiri dan menatapku dengan sorot mata suram. "Eirene, aku ingin dengar jawaban jujur darimu. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Nial? Atau biar kuubah pertanyaannya, kalian pernah tidur bersama? Anak itu anakku?"Aku merasa muak. "Pergi dari sini!"Dia juga ikut emosi. "Kenapa? Nggak berani jawab?
Di lorong rumah sakit, kami berpapasan dengan Stevin.Dia baru sadar, lalu langsung berhenti dan menoleh, bertanya dengan tidak percaya, "Nial?"Nial meliriknya dengan dingin, lalu terus berjalan ke depan."Nial, turunkan Eirene! Dia istriku, kamu nggak punya hak membawanya pergi!"Aku sampai tertawa mendengarnya, lalu berkata dengan lemah, "Pak Stevin, hukum mana yang mengatakan istri adalah milik suami? Memangnya suami boleh membatasi kebebasan istrinya?"Wajah Stevin langsung menjadi semakin masam.Aku memeluk leher Nial lebih erat dan berkata pelan, "Kita pergi.""Minggir."Kedua pria itu saling menatap beberapa detik. Dengan enggan, Stevin akhirnya menyingkir.Nial membawaku ke rumah sakit swasta dengan privasi yang sangat ketat. Setelah memeriksa, dokter mengatakan anakku sudah tidak ada.Aku mencengkeram pakaian Nial sambil menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil rapuh yang kehilangan rasa aman."Kak Nial ....""Sudah nggak apa-apa, aku ada di sini." Suara Nial juga tercekat.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.