MasukAsap hitam membubung tinggi dari sisa-sisa kapal perang musuh yang kini tak lebih dari onggokan besi rongsokan. Bau karat, daging terbakar, dan aroma tajam sihir yang menguap memenuhi udara Wilderheim yang baru saja dibersihkan dari invasi.Padang rumput yang dulu hijau kini berubah warna menjadi merah pekat, menjadi saksi bisu betapa mengerikannya kemarahan lima raja yang melindungi sarang mereka.Lucian berdiri di tengah tumpukan jasad musuh, pedang Moon-Eater miliknya masih meneteskan darah ungu gelap. Ia menyapu rambutnya yang basah oleh peluh dan darah ke belakang, matanya yang merah perlahan kembali ke warna emas yang tajam.“Habisi sisanya. Jangan biarkan satu pun dari mereka membawa kabar kembali ke kaisar mereka tentang koordinat istana ini,” perintah Lucian dengan suara serak yang penuh otoritas.Vrax menghantamkan kakinya ke tanah, membenamkan sisa-sisa meriam musuh ke dalam perut bumi. “Tanah ini telah memakan terlalu banyak nyawa hari ini. Aku tidak akan membiarkan bangka
Udara di medan tempur Wilderheim tidak lagi berbau belerang, melainkan aroma tajam dari energi elemental murni yang mendidih. Lucian, sang Raja Serigala, mengeluarkan raungan yang membuat gendang telinga pasukan musuh pecah. Tubuhnya diselimuti api merah yang pekat, dan dalam sekejap, ia melesat bagaikan komet maut ke arah barisan infanteri zirah hitam.“Kalian menyentuh gerbang rumahku dengan tangan kotor kalian!” teriak Lucian sambil menebaskan Moon-Eater. Sekali ayun, sepuluh prajurit musuh hancur menjadi abu, bahkan sebelum mereka sempat mengangkat perisai. “Setiap tetes darah rakyatku akan dibayar dengan seluruh garis keturunan kalian!”Di langit, Malphas bukan lagi seorang raja yang anggun, melainkan malaikat maut. Ia melipat sayap peraknya, menukik tajam menembus hujan peluru meriam musuh yang kini terasa lamban baginya. Di ujung jarinya, terkumpul tombak-tombak cahaya yang berderit karena tegangan tinggi.“Langit Wilderheim tidak menerima sampah seperti kalian!” seru Malphas.
Di kedalaman Gua Kristal Abadi, tubuh Elara bukan lagi sekadar daging dan darah. Ia telah bertransformasi menjadi bejana bagi kekuatan yang melampaui logika manusia.Rambut peraknya melayang-layang liar, dipenuhi percikan listrik statis, sementara mawar di dadanya berpendar begitu terang hingga mengalahkan pilar-pilar kristal di sekelilingnya.“Sekarang... saatnya,” bisik Elara, suaranya bergema dengan gema lima nada yang menyatu.Di dalam rahimnya, kelima benih itu berhenti bergejolak. Mereka tidak lagi saling sikut memperebutkan ruang, melainkan saling menautkan energi dalam sebuah pusaran spiral yang sempurna.Elara merentangkan tangannya, merasakan panas yang membakar sekaligus kesejukan yang menenangkan mengalir dari pusat tubuhnya menuju ujung jemarinya.“Berikan masa depan ini pada mereka,” bisik Elara dengan penuh pemujaan. “Jangan biarkan ayah kalian jatuh. Tunjukkan pada dunia bahwa kalian adalah penguasa sejati Wilderheim!”Seketika, sebuah ledakan cahaya pelangi meledak da
Bau belerang dan besi yang terbakar memenuhi udara di atas benteng utama Wilderheim. Di langit, Malphas mengepakkan sayap peraknya dengan liar, menebas leher monster-monster mekanik yang terus bermunculan dari retakan dimensi.Namun, gerakannya tidak lagi secepat biasanya. Setiap kali ia mengeluarkan kilat perak dari tangannya, moncong-moncong meriam musuh di bawah seolah menghisap petir itu sebelum sempat menyentuh target.“Sialan! Mereka memakan sihirku!” raung Malphas, napasnya tersengal saat ia meluncur turun untuk menghindari tembakan proyektil merah yang mengejarnya.Di daratan, kekacauan jauh lebih mengerikan. Pasukan musuh yang mengenakan baju zirah hitam legam merangsek masuk, menghancurkan perancah-perancah kayu dari bangunan yang sedang dalam tahap pembangunan kembali.Mereka tidak sekadar menyerang; mereka menghancurkan harapan. Sebuah perpustakaan baru yang setengah jadi diratakan dengan tanah oleh hantaman gada raksasa seorang tentara bayaran.“Hentikan! Itu milik rakyat
Dinginnya dinding Gua Kristal Abadi mulai merayap masuk ke dalam tulang, namun panas yang menjalar dari rahim Elara jauh lebih mendominasi.Di sekelilingnya, pilar-pilar cahaya alami dari kristal mentah berpendar secara ritmis, seolah-olah seluruh gua ini adalah organ tubuh yang ikut bernapas bersamanya.Elara duduk bersila di tengah altar, memejamkan mata rapat-rapat hingga kegelapan di balik kelopak matanya berubah menjadi ruang kosong yang luas.“Aku tidak bisa hanya duduk di sini sementara mereka diperas sampai kering,” bisik Elara pada kesunyian.Ia mulai mengatur napas, menarik kesadarannya jauh ke dalam pusat tubuhnya. Di sana, di dalam rahim yang bercahaya, Elara melihat lima pendaran energi yang melayang-layang dalam cairan ketuban keemasan. Mereka bukan lagi sekadar janin; mereka adalah entitas kecil yang memiliki ego elemental yang kuat.“Anak-anakku... dengarkan aku,” panggil Elara dalam batinnya. Suaranya bergema di alam bawah sadar, lembut namun penuh otoritas seorang ib
Langit Wilderheim yang biasanya dihiasi pendaran aurora kini tertutup oleh awan jelaga yang dimuntahkan dari moncong meriam kapal-kapal besi negeri seberang.Ledakan pertama menghantam menara pengawas di distrik timur, mengirimkan puing-puing batu yang baru saja selesai disusun minggu lalu ke udara.Kepanikan meledak di jalanan bawah; rakyat klan manusia dan klan binatang berlarian mencari perlindungan, namun di tengah kekacauan itu, kedisiplinan para Raja tetap tegak berdiri.Lucian, dengan otot bahu yang masih memerah akibat pergulatan di ranjang tadi, kini sudah terbungkus jubah kulit serigala perangnya. Ia berdiri di garda terdepan, menghunuskan pedang Moon-Eater miliknya ke arah cakrawala yang membara.“Vrax! Jaga dinding sektor tiga! Jangan biarkan meriam mereka membidik perumahan rakyat!” teriak Lucian, suaranya mengalahkan gemuruh ledakan.Vrax menghantamkan tinjunya ke tanah, seketika dinding batu raksasa mencuat dari bumi, menciptakan barikade tambahan. “Aku tidak akan membi
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui pintu yang hancur, menyinari pemandangan dekadensi di dalam kamar megah itu. Elara terbangun di tengah tumpukan tubuh kekar yang masih terlelap karena kelelahan.Dia menarik sehelai jubah sutra hitam milik Zhen yang tergeletak di lantai, melilitkannya ke
Suasana di lorong privat istana mendadak mencekam. Lucian, Malphas, Kaelath, dan Zhen berdiri di depan pintu kayu ek raksasa milik Vrax yang terkunci rapat.Indra pendengaran mereka yang tajam menangkap suara desahan Elara yang pecah dan erangan berat sang Harimau dari balik dinding.Amarah dan kec
Vrax tidak lagi berjalan; dia menyeret Elara dengan satu tangan besar yang mengunci pergelangan tangannya, sementara tangan lainnya merangkul pinggang Elara dengan kekuatan yang hampir mematahkan tulang.“Vrax, pelan sedikit! Kau menyakitiku!” seru Elara, kakinya tersandung-sandur mencoba mengimban
Aula utama Istana Peradaban malam itu tidak lagi terasa seperti bangunan batu yang dingin. Ribuan obor yang terpasang di pilar-pilar raksasa menciptakan atmosfer keemasan yang kental.Wangi daging panggang, nektar bunga, dan feromon ribuan beastman dari berbagai klan menyatu, menciptakan gairah yan







