Mag-log inHari ini adalah hari jadi kampus, semua mahasiswa, dosen dan lainnya sibuk untuk acara yang akan digelar. Rosella dan Ane duduk di bangku koridor, menatap persiapan acara. “Nanti kekasih kamu mengisi acara Rose.” Goda Ane sambil tertawa. “Memangnya kenapa?” Sahut Rosella malas. “Ya kan senang gitu kekasihnya datang ke kampus ngisi acara.” Wanita itu ngomong sendiri. Sementara Rosella hanya diam seolah tak menggubris ucapan Ane. Tadi pagi Rosella menemani Leon mandi, tak hanya mandi dia digempur sekalian di kamar mandi, setelah itu Rosella keluar, Lucas menarik tangan Rosella, pria yang selalu lembut tapi entah kenapa pagi itu menjadi sedikit liar, dan dia dijadikan tempat pembuangan benih oleh dokter tampan itu. Tak selesai disitu, setelah Leon dan Lucas berangkat, Adrian meminta Rosella naik ke perpustakaan untuk mengambil buku, tapi disana dia malah mendapatkan serangan dadakan. Melayani 3 pria sekaligus pagi ini, benar-benar membuat Rosella tak bertenaga. “Aku lelah, aku ma
Leon dan Adrian saling pandang, duet? Kalau soal proyek atau ilmu bisnis mereka ahlinya tapi kalau duet? Tantangan itu tergantung di udara ruangan karaoke yang lampu warna-warninya terus berputar tidak peduli dengan drama yang sedang terjadi.Lucas yang dari tadi duduk di sofa menonton semuanya dengan sangat tenang tiba-tiba berdiri, mengambil mikrofon dari tangan Adrian."CEO dan dosen mana bisa menyanyi." Ujarnya. Leon menatap adik bungsunya geram, “Memangnya Dokter spesialis bisa?” Leon meragukan. "Aku bisa." Lucas menoleh ke Leon dan Adrian lalu ke Rosella. "Ayo kita duet.” Rosella menatapnya sebentar lalu mengangguk.Lucas memilih lagu di layar, salah satu lagu yang Rosella pilih tadi tapi belum sempat dinyanyikan, dan begitu intro-nya muncul Rosella menatap Lucas dengan sedikit terkejut.Lagu yang sama persis dengan yang ingin dia nyanyikan.Lucas menatap layar, menunggu bagiannya, dan ketika liriknya muncul suara yang keluar dari pria itu membuat seluruh ruangan berhenti b
Saat mereka masuk, seorang pria rambut klimis dengan senyum profesional mendatangi mereka. “Tuan-tuan Toretto.” Dia menunduk. Leon melewati pria itu lalu duduk di sofa, matanya menyapu bersih tempat karaoke itu, sedang mencari keberadaan Rosella dan kelompoknya. “Kalian akan karaoke?” Pria itu menyusul. Rama maju kemudian menunjukkan sebuah data lewat ponselnya. "Toretto Group baru saja mengakuisisi tempat ini." Katanya."Efektif malam ini." Sambung Rama. Manajer menatap data-data itu lalu menatap Leon dan kembali lagi ke dokumen. "Ba-baik." Suaranya keluar sedikit tidak stabil. "Selamat datang, Tuan Toretto. Ada yang bisa kami bantu?""Anak-anak kuliahan tadi booking ruang nomor berapa?" Tanyanya. Manajer menoleh ke resepsionis yang langsung memeriksa layarnya."Ruang nomor tujuh, Tuan."Leon mengangguk ke Rama.Mereka semua berjalan ke lorong, melewati beberapa pintu dengan suara lagu yang bocor dari celah-celahnya, kemudian berhenti di depan pintu bertanda angka tujuh.Dari
Rosella memasukkan milik Lucas ke dalam mulutnya, membuat Lucas semakin mengerang hebat.“Sayang.” Matanya menatap Rosella yang asik memakan miliknya. Pria itu mencengkram sprei tak tahan ketika Rosella semakin dalam menelan barangnya. Puas dengan itu Rosella melepas lingerie nya, dan langsung menyatukan milik mereka. Uuhhhh suara itu keluar bersamaan. Dia condong ke depan, meminta Lucas memakan benda kenyalnya. Saat Lucas menikmati dadanya, Rosella tak kuasa, dia merasakan sesuatu yang benar-benar melayang. Malam itu Rosella memberikan segalanya, memimpin dengan cara yang sudah sangat dikuasai, dan Lucas di bawahnya tidak bisa menyembunyikan bahwa malam ini berbeda dari semua malam sebelumnya.Pria yang biasanya paling terkontrol dari ketiganya malam itu kehilangan semua kendalinya satu per satu, dan Rosella yang melihat itu merasa seperti mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.“Sayang aku akan sampai.” Bisik Lucas. “Aku juga.” Sahut Rosella. Wanita itu ambruk di atas Luc
Pagi berikutnya Adrian dan Leon turun lebih awal dari biasanya.Leon ada rapat jam delapan, Adrian ada kelas pertama yang tidak bisa digeser lagi setelah kemarin absen. Keduanya sarapan dengan cepat, lalu pamit. Rosella dan Lucas sarapan berdua.Suasananya berbeda dari meja makan yang biasanya penuh empat orang, lebih sunyi tapi tidak canggung.Lucas dengan omelette-nya dan Rosella dengan roti selai stroberi yang sudah menjadi rutinitas paginya."Bagaimana kondisinya?" Tanya Lucas tanpa basa-basi."Jauh lebih baik dari kemarin." Rosella menjawab jujur.Lucas mengangguk, kembali ke makanannya.Mereka mengobrol tentang hal-hal kecil, tentang tanaman yang minggu ini harus dipanen, tentang jadwal kuliah Rosella yang semakin padat menjelang akhir semester, tentang ibu Rosella di Swiss yang kabar terakhirnya membaik.Rosella turun dari kursinya untuk membereskan piring."Biarkan." Lucas sudah berdiri duluan, mengambil kedua piring.Rosella menatapnya. "Tuan dokter yang membereskan piring k
Malam itu mereka keluar, Rosella berjalan di sisi Leon dengan jarak yang sudah kembali normal, tidak jauh seperti tadi siang, dan ada sesuatu yang berbeda dari cara mereka berjalan berdampingan malam ini, lebih ringan, lebih manusia.Leon membawanya ke kawasan pertokoan di distrik barat yang lebih sepi dari pusat kota, barisan toko dengan lampu kuning di etalasenya, beberapa kafe yang masih ramai di jam seperti ini.Mereka berhenti di depan satu toko buku. Rosella menatap etalase jendela yang penuh dengan punggung-punggung buku dalam berbagai warna, lalu menatap Leon."Masuk." Kata Leon."Tuan tidak perlu…"Leon tidak menggubris memang begitulah Rosella selalu menolak, dia sudah mendorong pintu masuk, mau nggak mau Rosella mengikutinya ke dalam.Aromanya langsung menyambut, kertas dan tinta dan kayu, aroma yang selalu membuat Rosella merasa seperti berada di tempat yang benar."Cari yang kamu mau, sebanyak apapun itu.” Kata Leon. Rosella melihat ke rak-rak tinggi di sekelilingnya.D
Rosella menggeleng pelan, tangannya mencengkeram bahu Lucas dengan erat. "Saya takut."Lucas tertawa lembut mendengar jawaban jujur itu. Tangannya berhenti bergerak, menatap wajah Rosella yang memerah dengan tatapan penuh kelembutan."Takut kenapa, sayang?" tanyanya sambil mengusap pipi Rosella den
Di kantornya yang mewah, Leon duduk di kursi besarnya sambil menatap layar ponsel dengan senyum tipis yang tidak biasa terlihat di wajahnya.Foto Rosella yang dia ambil diam-diam pagi tadi terpampang di layar. Gadis itu sedang tersenyum sambil menuangkan kopi, wajahnya berseri dengan kebahagiaan ya
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"







