LOGINTiga hari berlalu dalam sekejap mata. Vila mewah milik keluarga Toretto itu kini kembali sunyi, meninggalkan kenangan manis yang tak terlupakan bagi rekan-rekan kampus Rosella. Setelah sesi perpisahan yang haru, di mana Ane, Lizzy, Tom, dan Hardan menangis sesenggukan dalam pelukan Rosella, bus eksekutif jemputan Toretto pun membawa mereka pergi."Jangan lupakan kami ya Rose?" Ane menangis memeluk sahabatnya. "Tidak mungki Ane." Sahut Rosella. "Sahabat selamanya ya Rose." Sambung Hardan."Iya kalian the best pokoknya." Mereka naik ke bus yang sudah Toretto siapkan, Ane dan Lizzy melambaikan tangan. "Kami pulang Rose." teriak mereka. Rosella berdiri mematung di halaman vila, matanya sembab karena terus menangis. Dia masih melambaikan tangan meskipun bus itu sudah menghilang di balik tikungan jalan, menyisakan kesedihan mendalam di hatinya karena harus berpisah dengan orang-orang yang telah berjuang bersamanya selama masa kuliah."Sudah, jangan sedih," suara berat Leon memecah ke
Adrian membawa Rosella ke dalam ruang kerja pribadi Toretto, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Tanpa membuang waktu, dia menyapu semua berkas di atas meja hingga berantakan ke lantai, lalu mendudukkan tubuh lemas Rosella di atas meja yang dingin itu. "Tuan Adrian..." cicit Rosella tertahan saat jubah tidurnya dibuka paksa hingga terlepas dari bahu. Adrian tidak menjawab. Sisi dosennya yang kaku menguap sepenuhnya, digantikan oleh gairah Toretto yang terbakar cemburu. Dia melepaskan kacamata dan kancing kemejanya dengan terburu-buru, lalu langsung meraup bibir Rosella dalam ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh dengan lumatan kasar."Aku menginginkanmu Rose." Bisiknya lalu turun ke bawah. "Saya juga Tuan." Nyatanya sentuhan Adrian kembali mampu membuat tubuhnya bersemangat kembali, kelelahan setelah berperang dengan Leon tak menyurutkan semangat bercinta dengan Adrian. Dengan gerakan liar kini jubah Rosella sudah berpindah tempat menampilkan dada ranum dan padat wanita itu. "Ug
Sorak-sorai teman-temannya perlahan memudar seiring dengan malam yang semakin larut. Begitu pesta kolam renang usai, Leon Toretto tidak membuang waktu. Leon, dengan tatapan yang sudah berubah gelap dan posesif, langsung menarik pinggang Rosella sebelum gadis itu sempat berpamitan dengan lebih dari sekadar lambaian tangan."Kami duluan," ucap Leon dingin pada kedua adiknya, sebuah perintah mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Adrian dan Lucas hanya bisa menyeringai, memberikan ruang bagi sang kakak untuk mengeksekusi haknya malam ini.Tanpa mempedulikan protes malu-malu Rosella, Leon menggendongnya menuju kamar utama di lantai atas. Begitu pintu kayu tertutup dan terkunci rapat, Leon mengempaskan tubuh Rosella ke atas ranjang king size yang empuk."Kamu tahu, Rose?" suara Leon berat, merendah saat dia merangkak naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Rosella di bawah kungkungannya. "Aku sebenarnya tak suka dengan teman pria mu." Rosella terengah, menatap mata Leon yang berkilat la
Rosella menggeleng sambil memijat pelipisnya, seharusnya dia sadar kalau hal ini akan terjadi. "Selalu saja begini."Setelah pembagian kunci kamar vila masing-masing, teman-teman Rosella langsung heboh secara berbisik begitu trio Toretto tidak berada di dekat mereka. Ane dan Lizzy dengan tidak sabar langsung menarik Rosella ke sudut ruangan besar itu."Rose, gila ya! Toretto bersaudara posesifnya level dewa!" goda Ane dengan mata berbinar iri. "Kita dikasih vila kastil gratis begini, plus duit sewa kita diganti dua kali lipat cuma karena mereka tidak mau kehilangan sedetik pun waktu untuk mengawasimu!""Iya, Rose! Lihat tuh teman-teman cowok kita, langsung auto jaga jarak aman dua meter dari kamu. Mereka tidak mau berakhir jadi 'pasien' Dokter Lucas, mendapat 'nilai E abadi' dari Pak Dosen Adrian atau diblaklist dari Industri oleh CEO Leon," timpal Lizzy tertawa pelan.Malam harinya, setelah makan malam mewah kelas bintang lima yang disiapkan oleh koki pribadi Leon, suasana vila s
Singkat cerita, hari yang dinantikan pun tiba. Rosella telah resmi dinyatakan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan setelah melewati drama revisi maut yang melelahkan. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, Rosella dan teman-teman seangkatannya berencana mengadakan pesta kelulusan sekaligus perpisahan di sebuah vila yang sudah mereka sewa dan siapkan jauh-jauh hari. Bagi Rosella, ini adalah momen penting karena setelah ini mereka akan menempuh jalan hidup masing-masing dan saling berpisah. Namun, kendala besar langsung menghadang tepat di depan pintu mansion. "Tidak. Aku tidak mengizinkanmu pergi ke vila antah-berantah itu hanya bersama teman-teman kampusmu, Rose," ucap Leon tegas, suaranya bariton dan tidak menerima bantahan saat mereka berkumpul di ruang keluarga. "Aku juga tidak setuju, Sayang," timpal Lucas, yang biasanya santai, kini melipat tangan di dada dengan wajah serius. "Vila yang kalian sewa itu berada di area yang cukup terpencil. Bagaimana kalau terjadi sesuatu
"Walah Walah matilah aku, baru saja diterjang tanpa ampun oleh Dosen dan kini dokter ini berdiri di hadapanku meminta jatah." Lucas terkekeh renyah melihat wajah pucat dan lemas Rosella. Tanpa membuang waktu, dia membukakan pintu mobil dari dalam. "Masuk, Sayang. Sebelum Singa Utama kita menyadari kalau dia sudah dikelabui." Mau tidak mau, Rosella melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaganya. Begitu pintu tertutup, Lucas langsung mengunci mobil dan menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan kota menuju klinik medis pribadinya yang terletak di kawasan eksklusif. Di dalam mobil, Rosella mencoba merayu Lucas dengan sisa tenaganya, berharap sang dokter berhati lembut. "Tuan Lucas... tolonglah, badanku benar-benar remuk. Tuan Adrian tadi benar-benar tidak memberi ampun di ruangannya. Bisakah jatah Tuan ditunda besok saja?" pinta Rosella dengan mata berkaca-kaca manja. Lucas melirik Rosella sekilas. Seringai tipisnya semakin melebar saat netranya menangkap sedikit tanda kemera







