Share

Bab 77

Penulis: Frands
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-25 15:59:40

“Jangan bodoh, Indah. Langit sudah gelap seperti ini. Kita bisa jatuh atau tersesat,” jawab Kuncoro dengan datar, menolak untuk digerakkan.

“Lebih baik tersesat daripada harus menonton orang lain mati tanpa melakukan apapun!” balas Indah, matanya berapi-api. “Jika kau tidak mau membantu, setidaknya jangan jadi penghalang yang tidak berguna!”

Sementara itu, Ambarani dengan cepat mengobrak-abrik semak-semak di sekitar tempat istirahat, matanya tajam mencari bentuk daun yang dikenalnya. Tangannya tergores duri dan dahan, tapi dia tidak peduli. Setiap detik berarti bagi Wirya.

Dari sungai, erangan Wirya semakin memilukan, memecah kesunyian malam yang semakin pekat.

Indah akhirnya menarik tangan Kuncoro dengan paksa. “Aku harus pergi mencari daun itu! Kau harus ikut!”

Kuncoro mendorongnya dengan kasar. “Lepaskan! Ini bukan urusanku!”

Tepat pada saat ketegangan memuncak, Indah menarik napas dalam-dalam. Dia melepaskan genggamannya pada lengan Kuncoro, tetapi matanya masih menatapnya dengan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tawanan yang Menawan   Bab 85

    Ambarani berdiri. “Aku yang akan menemaninya sebentar.”Dia keluar gua dan menemukan Wirya duduk di batu besar tak jauh dari mulut gua, menatap bulan purnama yang mulai naik di langit malam.“Tempat ini cukup untuk ‘udara segar’,” ucap Ambarani, duduk di samping Wirya.Wirya tidak menoleh, tetap menatap bulan. “Aku membuat kesalahan. Mengatakan hal yang tidak pantas pada Indah.”Ambarani mengangguk pelan. “Kita semua pernah melakukannya. Yang penting adalah kau menyadarinya.” Dia berhenti sejenak. “Indah itu gadis yang baik dan tulus, tapi mungkin dia juga punya luka lama. Kau harus berhati-hati dengan kata-katamu.”“Aku tahu,” bisik Wirya. “Aku hanya... tidak mengerti perasaan orang lain.”Ambarani menepuk bahunya. “Jangan terburu-buru. Fokuslah pada ritual besok. Setelah kita menemukan Joko Loyo, mungkin banyak hal akan menjadi lebih jelas.”Mereka duduk dalam keheningan beberapa saat, ditemani cahaya bulan dan suara air terjun yang tak pernah berhenti.Wirya terdiam sejenak, menat

  • Tawanan yang Menawan   Bab 84

    “Kau hanya apa?” potong Indah, matanya menyala. “Menghakimiku? Atau mungkin merendahkanku seperti pria lain di desa yang selalu berbisik di belakangku?”Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Kuncoro adalah teman. Hanya teman. Dia selalu melindungiku, sejak kami masih kecil. Dia pernah melihatku diganggu anak-anak lain dan sejak saat itu dia selalu ada untukku. Tanpa pamrih. Tanpa pernah sekalipun melecehkan atau mengharapkan sesuatu dariku.”Indah menatap Wirya dengan tajam, napasnya masih sedikit tersengal akibat emosi. “Jadi tidak. Aku tidak pernah tidur dengannya. Dan dia tidak pernah memintanya. Dan kau tidak berhak menganggapnya rendah seperti itu.”Wirya terdiam, merasa sangat malu. Dia melihat keteguhan dalam mata Indah dan menyadari betapa kelirunya prasangkanya. “Aku... benar-benar minta maaf, Indah. Aku salah. Aku tidak seharusnya—““Tidak,” Indah memotong, suaranya lebih lembut sekarang. “Kau memang tidak seharusnya. Tapi sekarang kau tahu. Dan jangan ulangi l

  • Tawanan yang Menawan   Bab 83

    Mereka mendekati dengan hati-hati. Setelah menyibakkan semak-semak, mereka menemukan sebuah tangga tali yang cukup kuat, terbuat dari anyaman rotan yang masih dalam kondisi baik, terjuntai dari atas tebing hingga ke bawah.“Tangga!” seru Indah, terkejut. “Siapa yang memasang ini?”Wirya memeriksa talinya. “Sepertinya ini masih kuat.” Dia melihat ke bawah. “Ini akan memudahkan kita untuk naik turun. Tidak perlu memanjat dengan berisiko lagi.”Akhirnya mereka menuruni tangga tali yang mereka temukan hingga sampai di bawah air terjun.Di luar, udara sore terasa segar. Indah memimpin jalan menyusuri tepi sungai, matanya awas mencari ranting kering dan tanda-tanda hewan buruan.“Maaf tentang Kuncoro,” ucap Indah setelah mereka cukup jauh dari gua. “Dia memang bisa sangat menyebalkan.”Wirya menghela napas. “Tidak apa. Aku mengerti dia tidak menyukaiku sejak awal kami bertemu.” Dia memunguti beberapa ranting kering. “Terkadang aku merasa dia punya alasan untuk itu.”Indah berhenti, menat

  • Tawanan yang Menawan   Bab 82

    “Sudah kuduga!” gerutu Kuncoro, suaranya bergema di ruang kecil itu. “Tempat ini cuma omong kosong warga di desaku! Apanya yang Siung Mampet? Lebih tepatnya Siung Kosong! Kita mempertaruhkan nyawa memanjat tebing untuk ini?”Ambarani mengabaikannya. Matanya yang tajam menyisir setiap inci dinding batu, mengetuk-ngetuk permukaannya dengan gagang goloknya. Suara yang dihasilkan padat di mana-mana—tidak ada ruang hampa di baliknya.“Tidak ada,” bisiknya akhirnya, wajahnya kecewa namun masih berusaha tenang. “Tidak ada jalan. Mungkin kita salah tempat.”Wirya mendekati dinding belakang, tangannya meraba permukaan batu yang kasar. “Atau mungkin... kita salah menafsirkan petunjuknya. Di balik air terjun tidak selalu berarti di dalam gua.”Indah yang juga berdiri di salah satu sudut gua, pandangannya tertarik pada sebuah sudut gelap di balik tonjolan batu. Tiba-tiba Indah mengambil obor dari tangan Ambarani."Tunggu," bisiknya, mendekati sudut itu. Obor diacungkannya lebih dekat.Di sana, h

  • Tawanan yang Menawan   Bab 81

    Tiba-tiba, suara gerakan kasar memecah ketegangan yang nyaris tak tertahankan antara Indah dan Wirya.“Demi langit, pagi yang dingin sekali,” gerutu Kuncoro dengan suara serak, duduk dari tempat tidurnya dan mengusap-usap matanya yang masih berat. Dia meregangkan badan, tulang-tulangnya berderak.Ambarani juga sudah bangun, duduk tegak dengan mata waspada seperti biasa. Dia langsung menyapu pandangannya ke sekeliling perkemahan, memastikan tidak ada ancaman, sebelum akhirnya matanya tertuju pada Indah dan Wirya.Dia melihat posisi Wirya yang setengah duduk dengan canggung, tangan dengan jelas menutupi pangkuannya. Dia melihat wajah Indah yang merah padam dan pandangannya yang menghindari kontak. Sebuah alis Ambarani terangkat, memahami bahwa dia telah mengganggu sesuatu.“Sudah pagi,” ucap Ambarani, suaranya sengaja dibuat datar dan normal, memberi mereka kesempatan untuk menata diri. “Kita harus segera berangkat. Masih jauh perjalanan kita.”Wirya cepat-cepat berdiri, berbalik membel

  • Tawanan yang Menawan   Bab 80

    “I-Indah?” suara serak Wirya, hampir tak terdengar.Kebingungan menyapanya saat pertama kali ia melihat langit yang berwarna jingga pucat, lalu pandangannya turun dan bertemu dengan mata Indah yang masih basah oleh sisa-sisa mimpi buruk dan air mata.Dia menyadari posisinya—kepalanya terletak di pangkuan Indah. Sebuah kehangatan dan rasa malu menyergapnya sekaligus.Dia mencoba untuk duduk, tetapi sebuah rasa pusing membuatnya terjatuh kembali.“Jangan buru-buru,” bisik Indah, suaranya lembut namun masih bergetar halus. Tangannya dengan refleks menahan bahu Wirya. “Lara Waktu baru saja mereda. Kau masih lemah.”Wirya mengangguk pelan, matanya menatap Indah dengan penuh rasa terima kasih dan sesal. “Aku... terima kasih. Untuk semuanya. Dan... maaf.” Napasnya masih pendek. “Maaf telah merepotkanmu semalam. Aku tidak seharusnya—“"Tidak," potong Indah cepat, menggelengkan kepala. "Tidak perlu meminta maaf untuk itu. Aku... aku... senang bisa membantumu." Dia berusaha tersenyum, tapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status