Share

Bab 143

Penulis: Hisa NK
last update Tanggal publikasi: 2026-08-20 16:36:16

"Ketik saja namaku… Nagendra," bisiknya pelan, cukup hanya terdengar oleh Aurelia.

Jemari Aurelia menyentuh jemari Nagendra saat menerima kembali ponselnya. Sentuhan singkat itu mengirimkan getaran hangat yang membuat Aurelia makin terpikat. Gadis konglomerat itu tersenyum manis, menyimpan ponselnya dengan kepuasan yang terpancar jelas di wajah cantiknya.

"Oke, Nagendra… nanti malam aku telepon," bisik Aurelia penuh arti, sebelum kembali memasang wajah formal saat Koh Asun keluar membawa kotak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 264

    Satria menatap lebih lama ke arah balkon, di mana Nagendra sedang tertawa pelan karena Aurelia memukul dadanya. Liana menyandarkan kepala di bahu suami, jari-jarinya mengusap punggung tangan Satria yang masih bertumpu di pinggangnya.“Melepas mereka…” ulang Liana pelan. “Kedengarannya mudah diucapkan. Tapi mendengar Nagendra berdiri di ruang rapat hari ini, lalu melihatnya seperti itu di balkon… rasanya campur aduk.”Satria menghela napas pelan. “Dia sudah bukan anak kecil yang dulu harus kita tahan setiap kali energi Yin dan Yang nya mengamuk.”Liana tersenyum tipis. “Kamu bangga?”“Ya.” Satria tidak menyangkal. “Tapi bangga tidak menghilangkan rasa, ada bagian dari rumah ini yang sebentar lagi akan pindah ke tangan orang lain.”Liana mengangkat wajah, menatap rahang tegas suami yang masih tajam meski waktu terus berjalan. “Bukan pindah. Hanya bertambah. Aurelia sudah lama jadi bagian dari rumah ini. Dua bulan lagi hanya membuatnya resmi.”Satria menoleh, menatap istrinya. Mata merek

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 263

    Nagendra meneguk, lalu mengangguk lebih dalam. “Baik.”Satria keluar. Larasati langsung menyusul di belakangnya. Di koridor, para staf dan pengawal yang berpapasan otomatis menunduk lebih dalam. Tidak ada yang berani berbicara terlalu keras. Kehadiran Satria masih sama seperti dulu—menekan, menenangkan, dan membuat siapa pun yang berdiri di dekatnya merasa bahwa langit-langit gedung ini ada yang menopangnya.***Di dalam ruang rapat besar beberapa menit kemudian, ketika Satria masuk, seluruh kepala klan dan dewan direksi berdiri, menunduk hormat. Satria berjalan ke ujung meja. Ia menatap satu per satu wajah yang hadir, lalu berbicara dengan suara yang tenang.“Duduk.”Semua orang duduk serentak.Satria tetap berdiri. “Hari ini kita tidak akan membahas kemungkinan. Kita membahas keputusan. Akuisisi di Kalimantan dilanjutkan sesuai angka yang sudah saya setujui minggu lalu. Siapa yang masih ragu, sampaikan sekarang. Setelah rapat ini selesai, tidak ada ruang untuk negosiasi ulang.”Rua

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 262

    Pagi datang dengan cahaya yang lembut menyusup lewat celah tirai.Nagendra terbangun lebih dulu. Aurelia masih tertidur di lengannya, wajah tersembunyi di dada, napas teratur. Rambutnya berantakan, bibir sedikit bengkak, dan di leher serta bahu terlihat beberapa jejak kemerahan yang ditinggalkan semalam. Nagendra mengusap punggung wanita itu pelan, menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan pagi menenangkan sisa adrenalin dari pertarungan kemarin.Dua bulan lagi.Ia masih sulit percaya. Setelah bertahun-tahun penuh darah, residual, dan ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang, akhirnya mereka sampai di titik ini. Tidak ada lagi pintu yang harus ditutup. Tidak ada lagi benih yang harus dibakar. Hanya pernikahan, dan hidup yang menunggu di depan.Aurelia menggeliat pelan, mata masih terpejam. “Sudah pagi…?” suaranya parau.“Belum,” jawab Nagendra rendah. Ia mengecup puncak kepala Aurelia. “Tidur lagi. Badanmu masih lelah.”Aurelia menggeleng kecil, lalu mengangkat wajah, men

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 261

    Aurelia menggigit bibir. “Kamu nggak lelah setelah berperang seharian?”“Lelah,” jawab Nagendra rendah. “Tapi lebih lapar.” Ia mencium Aurelia dalam, lidah masuk perlahan, sementara pinggulnya mulai bergerak lagi—lambat, dalam, sengaja menggesek setiap inci. “Boleh?”Aurelia menjawab dengan mengangkat pinggulnya, menerima. “Boleh… pelan dulu.”Nagendra menurut. Ia keluar hampir seluruhnya, lalu masuk lagi sangat lambat, menikmati bagaimana Aurelia meremasnya. Satu tangan meraih kaki Aurelia dan menekannya ke dada wanita itu, membuka lebih lebar. Sudutnya langsung berubah menjadi lebih dalam.Aurelia mengerang panjang. “Nagendra… ahh, dalam banget…”“Suka?” tanya Nagendra di telinga Aurelia, suaranya serak.“Suka… terus…”Nagendra mulai mempercepat sedikit. Setiap hentakan dalam, basah, dan terukur. Ia menunduk, menghisap leher Aurelia, meninggalkan jejak kemerahan baru. Tangan bebasnya meremas payudara Aurelia, ibu jari memainkan puting yang sudah mengeras.“Kamu sempit sekali malam i

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 260

    Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Satria Wisesa sedang meneliti laporan akhir yang diserahkan oleh Ratu Pramudya dan Vanya Cedric di atas meja kayu jati."Seluruh sisa aset Aliansi di sektor energi dan pertambangan di luar pulau sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Himawan Group, Satria," lapor Ratu Pramudya dengan suara tegas nan profesional. "Tidak ada lagi celah hukum atau finansial yang bisa digunakan pihak luar untuk menggugat posisi kita."Vanya menambahkan sambil mengetuk layar tablet taktisnya. "Sistem pemantauan Netrakwaskitan digital yang terintegrasi dengan satelit juga sudah aktif penuh 24 jam. Jaringan perimeter Jakarta kini steril dari segala frekuensi ghaib asing."Satria mengangguk puas. Ia melipat berkas tersebut dan menatap ketiga wanita andalannya itu dengan sorot mata berwibawa. "Bagus. Pertahankan tingkat pengawasan ini. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, terutama menjelang persiapan pernikahan Nagendra dan Aurelia bulan depan.""Baik, Satria. Kami ak

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 259

    Satria dan Nagendra melangkah berdampingan meninggalkan ruangan basement B3 yang kini telah berubah menjadi reruntuhan hangus. Larasati berjalan tepat di belakang mereka, memastikan area tersebut sepenuhnya steril sebelum tim medis dan unit pembersih padepokan tiba.Saat pintu lift utama terbuka di lantai dasar, suasana lobi Mansion Himawan menyambut mereka dengan ketenangan yang kontras. Sisa-sisa debu ghaib sama sekali tidak mencemari udara di atas berkat sistem pertahanan ghaib berlapis yang dipasang Vanya."Den Satria," suara Vanya terdengar menyambut dari ruang kontrol utama melalui pengeras suara internal. "Tim medis sudah mengamankan subjek di basement. Kondisi tubuhnya stabil, meskipun simpul sarafnya sempat terbakar habis oleh sisa energi purba Sangkala. Kami sedang memproses pembersihan memori dan identitasnya untuk melacak siapa dalang lokal yang menanam jimat-jimat itu."Satria mengangguk tegas sembari berjalan melintasi pualam lobi. "Bagus, Vanya. Cari tahu siapa pun yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status