공유

Bab 223

작가: Hisa NK
last update 게시일: 2026-09-22 22:19:54

Pagi datang terlalu cepat.

Nagendra sudah terbangun lebih dulu. Ia berbaring miring, menatap Aurelia yang masih tertidur di lengannya. Rambut gadis itu berantakan di bantal, jejak kemerahan di leher dan bahu masih samar terlihat. Napasnya tenang. Untuk beberapa menit, Nagendra hanya diam, menghafal wajah itu seolah takut besok sudah tidak bisa lagi.

Aurelia membuka matanya pelan. Ia menatap Nagendra tanpa langsung bicara.

“Jam berapa?” suaranya serak.

“Hampir enam.” Nagendra mengusap pelipisnya
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 223

    Pagi datang terlalu cepat.Nagendra sudah terbangun lebih dulu. Ia berbaring miring, menatap Aurelia yang masih tertidur di lengannya. Rambut gadis itu berantakan di bantal, jejak kemerahan di leher dan bahu masih samar terlihat. Napasnya tenang. Untuk beberapa menit, Nagendra hanya diam, menghafal wajah itu seolah takut besok sudah tidak bisa lagi.Aurelia membuka matanya pelan. Ia menatap Nagendra tanpa langsung bicara.“Jam berapa?” suaranya serak.“Hampir enam.” Nagendra mengusap pelipisnya dengan ibu jari. “Pesawat lo jam sembilan.”Aurelia mengangguk, lalu duduk. Seprei terpelosot, memperlihatkan punggung telanjangnya. Ia meraih handuk di kursi, berdiri, dan masuk ke kamar mandi tanpa banyak kata. Suara air mengalir. Nagendra duduk di tepi ranjang, mengusap wajah dengan kedua tangan.Belum lama Aurelia masuk kamar mandi, ketukan terdengar di pintu. Nagendra berdiri, memakai celana panjang dengan cepat, lalu membuka pintu.Seorang kurir berdiri di luar dengan dua paket. “Pesanan

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 222

    “Buka,” titah Nagendra.Aurelia menoleh. “Apa?”“Gaunnya.” Nagendra mendorong tubuh gadis itu dari pintu, berjalan mendekat. Suaranya rendah, berat, memenuhi ruang yang sunyi. “Gue nggak mau lihat lo pakai baju yang lo pilih buat malam ini… buat orang lain.”Aurelia terdiam. Lalu, perlahan, ia mengulurkan tangan ke belakang. Suara resleting turun terdengar jelas di tengah keheningan kamar. Gaun hitam itu meluncur pelan di kulitnya, kain dingin bergesekan dengan pinggang dan paha, lalu menumpuk di lantai dengan bunyi lembut. Udara AC langsung menyentuh kulit telanjangnya. Payudaranya mengeras, putingnya mengeras karena suhu. Ia berdiri hanya dengan celana dalam hitam tipis yang sudah sedikit basah di tengah, kainnya menempel lengket.Nagendra menatapnya lama. Matanya bergerak lambat, dari wajah Aurelia yang memerah, turun ke dada yang naik-turun cepat, ke pinggang, lalu ke noda basah di celana dalam. Bau parfum Aurelia yang sudah pudar bercampur dengan aroma kulit hangat dan sesuatu ya

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 221

    "Lepas, Nagendra!" Bibir gadis itu masih basah, sedikit bengkak, napasnya pendek.“Besok pagi?” Aurelia mengangguk.Nagendra menarik napas dalam. Tangannya yang menahan pergelangan Aurelia akhirnya longgar. Ia melepaskan gadis itu, tapi tubuhnya tidak mundur. Lututnya masih terselip di antara paha Aurelia, menahannya di dinding. Ia bisa merasakan getaran halus di tubuh gadis itu.“Lo mau pergi tanpa gue tahu lebih jauh,” ujarnya. Suaranya rendah, hampir tenggelam di bass musik. "Bukan gitu, Nagendra... aku jelasin semuanya."Nagendra mengangkat tangan, menyentuh rahang Aurelia. Ibu jarinya mengusap bibir bawah gadis itu yang masih basah. “Gue hampir mati semalam. Pagi-paginya lo bilang mau pergi. Gue kira lo butuh ruang. Ternyata...”Dari belakang, Raka masih menghalangi pria yang tadi bersama Aurelia. Pria itu gelisah, tapi tidak berani melangkah. Raka menoleh. “Nagendra. Orang mulai perhatiin.”Nagendra tidak menoleh. Matanya tetap pada Aurelia. “Malam ini, lo di sini. Temenin gue

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 220

    Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati sahabatnya, lalu mengangguk pelan. “Gue ngerti.”“Lo ngerti?”“Lo hampir mati semalam. Lo baru aja tarik diri dari Naga Merah. Terus pagi-paginya cewek yang lo suka bilang mau pergi. Kalau lo gak butuh napas sebentar, baru aneh.” Raka menegakkan tubuhnya meski meringis. “Gue ikut.”Nagendra langsung menggeleng. “Jangan. Badan lo masih lemah. Adik lo masih di sini.”“Adik gue udah stabil. Dokter bilang dia bisa ditinggal beberapa jam.” Raka menatap Nagendra serius. “Lo bilang gue sodara. Sodara gak ninggalin sodaranya keluar sendirian pas lagi berantakan. Gue ikut. Titik.”Nagendra masih mau menolak, tapi Raka sudah mengambil jaket yang tergantung di kursi. “Gue gak tanya. Gue paksa. Kalau lo ninggalin gue di sini, gue sendiri yang nyusul ke club itu.”Akhirnya Nagendra mengalah.***Mereka keluar diam-diam lewat pintu samping mansion, tanpa bilang siapa pun. Raka masih berjalan pelan, tapi tekadnya jelas. Nagendra menyetir sendiri, meni

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 219

    Nagendra mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, lalu masuk setelah diizinkan.Satria menutup dokumen di mejanya dan menunjuk kursi di depan. “Duduk.”Nagendra duduk. Bahunya masih kaku, tapi wajahnya sudah tidak seganas tadi pagi.Satria mengamati putranya cukup lama. “Kamu tidak pergi ke kamar.”“Tidak bisa tidur,” jawab Nagendra singkat.Satria mengangguk pelan. Ia berdiri, mengambil dua gelas, menuangkan air, lalu meletakkan satu di depan Nagendra. “Minum. Aura kamu masih berisik.”Nagendra menerima gelas itu, tapi tidak langsung meminumnya. Ia menatap permukaan air yang bergetar tipis. “Ayah, kalau suatu hari kekuatan ini berubah jadi sesuatu yang aku sendiri tidak kenali, apa yang harus kulakukan?”Satria duduk kembali. “Kamu sudah merasakannya?”Nagendra mengangguk. “Bukan seperti semalam. Sekarang kayak ada yang nunggu di balik setiap napas.”Satria terdiam sejenak. “Itu wajar. Darah yang baru saja kamu taklukkan tidak akan diam begitu saja. Dia akan mencari celah—marah, sedih, le

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 218

    "Kita sudah menang!” tegas Satria. “Naga Merah terlempar. Kekuasaan Faksi Himawan jadi lebih kuat. Tapi kemenangan kita belum selesai. Sangkala sedang mengubah medan perang.”Ratu menatap sang penguasa. “Jadi keputusanmu apa, Satria?”Satria mengangkat pandangan. “Kita tidak akan memaksa Aurelia. Tapi kita juga tidak akan membiarkan keluarganya digertak tanpa balasan. Ratu, siapkan tekanan balik lewat jalur ekonomi dan hukum. Temukan perusahaan-perusahaan yang diam-diam masih berhubungan dengan Sangkala. Kita kerahkan pengaruh kita di sana.”“Dan Nagendra?” tanya Liana pelan.Satria menghela napas. “Aku akan bicara, tenang saja, Li. Dia harus mengerti kalau kekuatan yang baru saja dia rebut dari Ratih tidak hanya untuk melindungi satu orang. Tapi untuk menjaga seluruh tatanan.”Liana mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan kekhawatiran. Ia tahu, percakapan antara Satria dan Nagendra tidak akan mudah. Anak itu keras kepala sangat jauh berbeda dengan ayahnya. Tapi ia juga tahu,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status